
“Kina..”
“Ki...naa..”
“Ki...Ki...N...NA.”
Suara wanita memanggilnya dari kejauhan memasuki pendengaran Kina, gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, bingung.
Seolah baru saja terbangun, Kina tak sadar mengapa dia berada di sini.
Kina berada di tengah padang ilalang, di bawah sinar matahari yang terik menusuk kulit, tidak ada siapa pun di sekitarnya, sejauh mata memandang, hanya ilalang yang bergoyang-goyang ditiup angin.
Gadis itu melangkah menerobos ilalang, namun langkahnya terhenti ketika melihat kedua tangannya.
Tunggu, kenapa tanganku mengecil?
Tangan mungil itu ia gerak-gerakan, matanya melirik baju yang di pakainya. Ia memakai gaun hitam tanpa lengan dan sandal jepit yang menghiasi kaki mungilnya.
Ini, kenapa aku mengecil?
Kina kebingungan, lalu melangkah cepat menerobos ilalang, kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan, di tengah kebingungan itu Kina tiba-tiba merasa ketakutan, jantungnya berdegup kencang, napasnya tersengal. Sayup-sayup suara wanita itu terdengar, Kina berlari menuju suara itu, namun suara itu hilang timbul, membuatnya berputar-putar di tempat yang sama.
“Ki..ki...na...”
Suara bergema, Kina menghentikan langkahnya, rambutnya telah basah oleh keringat, bahunya naik turun karena napasnya, tubuh kecilnya kelelahan.
Ia menengok ke kanan dan ke kiri, masih sama, hamparan padang ilalang. Ia sering mendengar cerita pendaki gunung yang tersesat dan berputar di tempat yang sama, dan hal ini mungkin terjadi padanya.
Di mana aku?
Apa yang terjadi?
Mimpikah?
“KINA!”
Ia terlonjak kaget, jatuh terduduk dengan tubuh gemetar, suara itu serasa berteriak di depan wajahnya, jantungnya berdetak sangat cepat, napasnya terputus-putus, tubuhnya mulai menggigil.
Mendongak mencari pemilik suara itu, kini tubuh mungilnya telah sepenuhnya tenggelam di tengah ilalang.
Kina diam, berusaha menenangkan dirinya, yang ketakutan setengah mati. Suara wanita itu kembali menghilang, menyisakan suara rumpun ilalang yang saling bergesekan tertiup angin.
Kina bangkit berdiri, melangkah pelan-pelan, menerobos ilalang sekali lagi, lama sekali, sampai-sampai kakinya terasa sakit, mencoba mempercepat langkahnya, antara tidak sabar dan ketakutan, berlari sebisa ia mengayunkan kakinya.
Lama berlari sampai kakinya terasa pincang dan tubuhnya jatuh tersandung batang kayu keras yang melintang di antara rumpun ilalang.
Kina mau tak mau menangis, sesegukan seorang diri, lalu bangkit cepat dan menoleh ke belakang mencari keberadaan batang kayu tersebut, ia berpikir mungkin bisa berdiri di atasnya dan melihat lebih tinggi.
Batang kayu itu berwarna hitam, tidak besar, tidak panjang juga, bentuknya lurus seperti,
MAYAT?!
__ADS_1
Itu bukan batang kayu.
Itu adalah mayat yang telah membusuk, dipenuhi belatung dan lalat serta bau menusuk hidung. Kina melihat kaki mungilnya yang tersandung tadi, langsung mual dan muntah.
Berlari menjauh, namun terjatuh, merasakan seluruh tubuhnya gemetar dan lemas, terduduk dengan air mata yang mengalir deras.
Mimpi macam apa ini?!
Ada seseorang yang mati membusuk di hadapanku!
Kina menggigil, susah payah merangkak, menjauhi mayat tersebut. Hingga kepalanya tersandung kaki seseorang yang ada di depannya.
Dia adalah Eda, dengan tubuh yang sama kecilnya dengan dirinya, memakai kacamata yang biasa tersampir di lehernya.
“Sstt.. Nanti ketahuan.” Eda menutup matanya dengan kedua tangannya, membawanya menjauh dengan hati-hati.
Apa-apaan ini?!
Kina bertanya-tanya namun tetap diam mengikuti Eda, mereka bersembunyi di antara rumpun-rumpun ilalang yang meninggi, menenggelamkan tubuh mungil mereka.
“Di mana bocah itu?”
“Seharusnya dia tidak ada di sini!”
Kina mendengar suara-suara warga desa saling bersahut-sahutan, mencari seorang bocah. Ia tidak dapat melihat, matanya masih ditutup erat oleh Eda.
Suara rumpun ilalang di terobos oleh orang banyak, riuh rendah saling memanggil.
“Biarkan saja! Dia bukan yang kita cari”
“Bocah itu harus di apa kan?”
“Gantung tubuhnya, gantung tubuhnya di atas pohon kariwaya!”
Kina tidak tahu siapa yang di maksud itu, tetapi mau tak mau ia menggigil ketakutan, tangan Eda yang menutup matanya pun ia rasakan gemetar.
“Cari terus!”
“Bocah itu tak akan bisa pergi jauh!”
“Cari!”
Teriakan demi teriakan bersahutan, seolah berlomba-lomba, Eda di sampingnya menghela napas lega, saat orang-orang itu menjauh, melepas tangannya dari Kina.
Kina mengintip dari celah rumpun ilalang, melihat orang-orang dari kejauhan, ia hampir memekik ketika melihat masing-masing ditangan mereka memegang senjata tajam.
Pisau, pedang, arit, tombak.
Apa mereka ingin membunuh bocah itu?
Siapa? Dan kenapa aku ada di sini?
__ADS_1
“Itu dia!” suara seseorang menunjuk ke arah Kina dan Eda, terperanjat, orang-orang itu langsung berbalik.
"Kita ketahuan!"
Eda dengan sigap membawa Kina berlari menjauh, lari pontang-panting, Kina menoleh ke belakang, orang-orang itu mengejarnya sambil mengacungkan senjata.
Bocah itu adalah aku?
Apa mereka ingin membunuhku?
Mengapa?
“Cepat lari!” Eda berteriak ketakutan, Kina mengikuti langkahnya dengan linglung.
“Bocah mau lari ke mana!?”
Eda tersandung, sebuah pisau menancap di kaki mungilnya, tak ayal darah segar langsung keluar, dengan mata merah penuh air mata dia berteriak, “PERGI! PERGI CEPAT! IBUMU SUDAH MENUNGGU DI UJUNG JALAN!”
Kina mematung tidak ingin melepaskan tangannya dari Eda, namun laki-laki itu mendorongnya, tak pedulikan rasa sakitnya,
“Cepat!”
"Aduh!" Sebuah pisau dilempar mengenai pelipisnya, Kina melihat sesosok laki-laki yng sangat ia kenal, ayahnya tengah memegang pisau yang sama dengan yang menancap di kaki Eda.
Ayahnya ingin membunuhnya?
“Pergi cepat! Kalau tidak kau akan mati!” Eda meraung, melempar sandalnya saking kesalnya, Kina dengan langkah gemetar lari tak tentu arah.
Mengapa mimpi ini terasa begitu nyata?
Ke mana aku?
“Kina!”
Suara wanita itu lagi, Kina mengikuti suara itu, orang-orang di belakangnya mengejar sambil berteriak-teriak. Di depan sana adalah jurang, dibawahnya mengalir air sungai yang deras dalam dan terjal, Kina menoleh ke belakang, menatap wajah ayahnya yang gusar, mempersiapkan diri untuk meloncat.
Tidak apa-apa ini hanya mimpi, setelah ini aku pasti terbangun.
Benar aku pasti bangun!
“Bocah sundal! Dia mau lompat!”
"Hentikan dia!"
Tanpa pikir panjang Kina melompat diiringi teriakan histeris orang-orang, tubuhnya melayang jatuh dengan suara berdebam di atas air, kepalanya mendadak sakit, terhempas batu, di dalam air, dengan pandangan buramnya, air sungai berubah perlahan-lahan menjadi merah, oleh darahnya sendiri.
Mengapa mimpi ini terasa nyata? Kina merasakan air masuk ke mulutnya, rasa sakit di kepala dan kakinya, tubuhnya yang melayang mengikuti arus.
Ia masih bisa melihat wajah sang ayah. Wajah itu bukan wajah yang biasa ia lihat, lebih dingin dan matanya penuh keinginan untuk membunuh, Itu sama sekali bukan ayah yang dia kenal, benar-benar orang yang berbeda.
Ayah.
__ADS_1