
“Anak setan! baru satu hari sudah berkelahi!? sudah bodoh, lambat, tidak bisa apa-apa pula. Mau jadi apa kau ?! tukang cuci piring?!”
Ibunya melempar surat yang di bawa Kina dari sekolah tepat di wajahnya, ayahnya duduk di teras tak berkata apa pun, membiarkan sang istri meluapkan amarahnya kepada sang anak
“Ci Dawi!"
Ibunya berteriak memanggil wanita renta yang bekerja sebagai tukang cuci piring di warung mereka, wanita itu datang dengan tergopoh-gopoh setengah pakaiannya basah, tangannya menggenggam serbet.
“Mulai sekarang biarkan Kina yang cuci piring ! Ci pindah masak"
“Tapi.. Kina masih kecil buk, bagaimana kalau piringnya pecah”
Wanita itu berkata dengan lirih, ia tidak tega menatap Kina yang terus menunduk sedari tadi, cucian piring setiap hari selalu menggunung, ia yakin tangan halus kecil itu tidak akan sanggup
“Justru anak setan ini harus di ajar”
Ibunya berdiri meninggalkan Kina bersama Ci Dawi, Kina mengangkat kepalanya dengan wajah merah menahan tangis, ia mengambil serbet dari tangan Ci Dawi dan berjalan menuju tempat pencucian piring, disana setumpuk piring kotor tengah menunggunya, ia menarik napas panjang
Anak setan tidak boleh lemah!
Ia terus menggosok piring tersebut dengan gerakan pelan, bukan karena dia malas atau teliti, hanya saja pikiran Kina kadang tidak pada tempatnya, pikirannya melayang-layang mengingat kejadian di sekolah tadi, membuat hatinya kesal
Hampir empat jam ia mencuci piring yang menumpuk, para pelanggan warung mereka sudah mulai berkurang ketika senja telah menjelang, Kina merenggangkan tangannya, melepaskan sarung tangan dan celemek di bajunya, di letakannya di samping, berjalan menuju keluar, dapat dilihatnya Ci Dawi tengah menyapu lantai dan merapikan kursi plastik di dekat meja, Ibunya sedang berberes di dapur, sedangkan ayahnya tengah menghitung sesuatu dengan kalkulator di depannya
Ia duduk di kursi, mendengar siaran radio yang di letakan di atas, tangannya bergerak merapikan serbet di meja, takut kalau ibunya akan menegur dirinya tidak melakukan apa pun
Ibunya keluar dari dapur dengan rantang kecil di tangan kanannya, di letakannya di atas meja, tak lama datang seorang bocah laki-laki memakai baju kebesaran lusuh dengan berlari-lari. Matanya bulat bersih, rambutnya sedikit berantakan, kulitnya putih bersih
“Aduh Nukas jangan lari-lari“
Ci Dawi mengikuti bocah itu masuk ke dalam mendekati ibunya yang tengah membungkus rantang dengan kain, Wanita itu tersenyum saat Nukas menyerahkan selembar uang, ia mengusap kepalanya pelan dan memberikan permen kepada Nukas, membuat bocah itu tertawa senang, Kina terdiam saat melihat itu, ia tidak pernah melihat ibunya selembut itu kepada orang lain, bahkan ibunya tidak pernah mengusap kepalanya kalau di ingat-ingat
Bocah itu mengambil rantang dengan hati-hati, permen yang tadi di berikan ibu Kina telah masuk ke dalam mulutnya, ia menyalami tangan ibu kina, ayahnya dan Ci Dawi, kemudian berjalan menuju ke arah Kina, mengulurkan tangannya
Kina sedikit kikuk di salami tiba-tiba, ia sedikit penasaran karena sebelumnya tidak pernah melihat Nukas di kampungnya
__ADS_1
“Anak siapa kamu?"
Namun anak itu malah menyengir lebar dan merentangkan tangannya, memeluknya sambil bergumam tidak jelas, ia menatap ibunya dengan pandangan bertanya
“Dia anak pak Mursa, sana antar pulang, sudah hampir malam ini, kasihan sendirian”
“Aku tidak tahu kalau bu Mursa punya anak lak-laki”
“Bukan anak bu Mursa, anak yang lainnya”
Wanita itu menyahut singkat, ia meninggalkan Kina menuju dapur, Kina terdiam, ternyata gosip itu benar, pak Mursa punya istri kedua di kota dan ini adalah anak dari istri keduanya
Ia bangkit berdiri, menggandeng tangan Nukas keluar, Bocah itu bersenandung riang, sesekali ia berlari kecil mendahului Kina untuk sekedar mengambil batu kemudian melemparkannya ke kolam di pinggiran jalan
“Kakak siapa namanya?“
Untuk pertama kalinya, Nukas buka suara, sedari tadi ia hanya mengangguk, menggeleng dan tertawa, suaranya sangat kekanakan
“Kina”
“Kak Nana”
“Kau mau ke sana?”
Kina berharap Nukas hanya iseng menunjuk ke sana, namun ia salah justru bocah itu mengangguk-angguk dan menarik tangannya ke sana
“Kita tidak boleh ke sana, nanti bu Mursa marah“
Rumah itu adalah rumah nenek Niba, seorang wanita tua yang umurnya hampir seabad dan tidak memiliki sanak saudara, sehingga pak Mursa dan ibu Mursa yang merawatnya, ia sangat renta, tubuhnya tidak dapat bergerak lagi, sehingga Kina hampir tidak pernah melihat wanita tua itu keluar rumah sekalipun
Ia ingat dulu bersama teman-temannya bermain petak umpet di halaman nenek Niba, ibu Mursa datang bak orang kesetanan sambil memegang sapu lidi mengusir mereka pergi, hal itu selalu terjadi jika ada yang bermain di halaman nenek Niba, sejak saat itu tidak pernah ada seorang anak pun yang berani menginjakkan kaki di halaman rumah tersebut
Nukas berlari naik ke teras depan, Kina mengikutinya ke belakang dengan gugup, ia melirik ke sekitar takut-takut kalau ibu Mursa memergokinya sambil membawa sapu, namun tidak ada siapa pun, hanya sayup-sayup suara angin senja yang terdengar.
Dilihatnya bocah itu mengambil kunci di pot bunga, memutar kuncinya dengan cekatan, seperti sudah terbiasa melakukannya
__ADS_1
“Kak nana masuk yuk"
Ia membuka pintu lebar-lebar, Kina sedikit terkejut saat masuk ke dalam rumah tersebut, dalam bayangannya, di dalam rumah itu di penuhi debu dan sampah di mana-mana, tapi ternyata di dalamnya sangat bersih dan rapi, barang – barang di dalam rumah memang terlihat tua, namun sepertinya masih terlihat dapat digunakan
Tunggu, ada yang aneh
Kina tidak sempat berpikir banyak saat melihat tubuh mungil Nukas bergerak mengambil rantang tersebut dan membawanya ke meja makan, membukanya dan mengambil sendok, Kina berpikir Nukas akan memakannya, namun ia membawa rantang dan sendok itu ke sebuah kamar
Kina mengikuti di belakang tanpa suara, terlihat seorang wanita tua tengah terbaring di ranjang, rambutnya yang memutih terurai, tubuhnya sangat kurus, seperti kulit yang membungkus tulang, napasnya sangat pelan, wanita tua itu adalah nenek Niba
Nukas mengangkat kepala wanita itu kemudian menyangganya dengan bantal, sekali lagi kesan gerakan yang di lakukan oleh Nukas sangat cekatan seperti kegiatan yang biasa ia lakukan setiap hari
“Nenek makan ya"
Nukas menyendokkan nasi dalam rantang itu dan menyuapi wanita renta itu dengan penuh telaten, wanita itu matanya kosong, penglihatannya mungkin telah pudar karena usia, Kina ikut duduk di samping Nukas, ia penasaran hubungan Nukas dengan nenek Niba
“Nukas sayang sekali sama nenek ya?"
“Iya, soalnya nenek tidak ada yang sayang"
Sahut Nukas tanpa menoleh, wanita itu mengunyah bubur yang dimakannya dengan pelan, sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Kina di sana
“Wah, Nukas anak baik. Mamanya dimana?"
Nukas terdiam sebentar, lalu menatap Kina dengan pandangan gusar
"Mama lagi tidur kak Nana"
Kina mengangguk diam, mungkinkah Nukas dan mamanya tinggal di sini? mungkin bu Mursa tidak ingin tinggal serumah dengan istri kedua pak Mursa sehingga mereka tinggal di sini, mengingat Nukas yang terlihat sangat kenal tempat dan nenek Niba
“Di kamar ya? kamar mama di mana?"
Kina bertanya lagi, ia penasaran dengan wajah istri kedua pak Mursa tersebut, mungkin ia bisa bertemu dengan ibunya Nukas untuk sekedar bertegur sapa
Nukas menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya bergerak gelisah ke sana kemari seolah takut ada yang mendengar atau melihat keberadaan Kina disini. Ia menunjuk ke arah jendela, yang di beri teralis besi di luar terlihat sebuah sumur tua lengkap dengan katrol di atasnya
__ADS_1
“Disana. Mama tidur disana “
*