After I Die

After I Die
Semuanya baik-baik saja


__ADS_3

Asap hitam masih mengepul di langit, hawa panas masih terasa di udara, Kina tidak tahan berlama-lama di tempat ini, perutnya terasa mual dan hampir muntah. ia menarik Eda dan Dayuti menjauh ke sebuah pohon besar dan duduk di bawahnya.


“Sekarang apa?” Eda menghembuskan napasnya dengan kasar, mengibas-ngibaskan baju kaosnya karena gerah, Dayuti duduk tak jauh dari Kina, ia mendengus.


“Tentu saja teror berakhir, apa lagi?”


Eda menatap Dayuti dengan kening berkerut selama beberapa saat lalu ia mengangkat bahu, Kina memperhatikan asap yang membumbung tinggi di langit, ia menghela napas panjang.


“Aku ingin ke kota.” Kina berucap pelan, Dayuti langsung mendekat dengan penasaran.


“Untuk apa? Ayah dan Ibumu ada disini, aku dan Eda juga disini.”


Eda dan Kina berpandangan, mereka terdiam beberapa saat, Kina dalam hati membenarkan perkataan Dayuti, ayah dan ibunya tinggal dan hidup di desa ini sepanjang hidup mereka, tidak mudah untuk membawa mereka keluar dari tanah kelahirannya, dan juga apa mereka akan memberi izin jika Kina kembali ke kota sendirian?


Kina mulai ragu atas tekad hatinya tadi.


“Tetaplah disini, kita akan baik-baik saja mulai sekarang,” ucap Dayuti lagi sambil tersenyum, ia mengelus pundak Kina, gadis itu hanya balas tersenyum.


Kina menenggelamkan kepalanya ke lututnya, ia dilema, hati kecilnya seolah mengatakan semua tragedi ini belum berakhir, perasaannya tidak nyamn, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang salah, ia tidak tahu apa itu, hanya saja hatinya sejak tadi terus berdenyut-denyut nyeri, merasa sakit tanpa alasan yang tidak ia mengerti.


Jika mungkin semuanya akan baik-baik saja, ia tidak bisa menghadapi ibunya lagi, terlalu banyak yang wanita itu rahasiakan tentang kematian Nukas, ia tidak ingin mencari tahu, takut hatinya tidak bisa menerima kenyataan walau ia penasaran setengah mati, ayahnya juga ia tidak bisa menghadapinya lagi, sikapnya terlalu berubah, menjadi dingin dan kasar, rasa-rasanya seperti mereka bukan keluarganya.


Kina tersentak, menegakkan tubuhnya, matanya bertemu dengan sosok ayah dan ibunya yang berjalan beriringan dari kejauhan, ia membulatkan matanya, tak terasa air matanya berjatuhan.

__ADS_1


Sejak awal Kina memang tidak mengenali mereka, mungkin mereka memang memiliki ikatan darah, tapi bagi Kina ayah dan ibunya adalah orang asing, ia tidak memiliki kenangan sama sekali bersama mereka, kenangannya hanya seputar kehidupannya di kota bersama bibinya, ia juga tidak memiliki kenangan tinggal di tempat ini, semuanya memang terasa asing, setelah bibinya meninggal dan ibunya datang menjemputnya ke kota, Kina tidak yakin dengan yang namanya perasaan kasih sayang seorang ibu, wanita itu awalnya selalu bersikap keras padanya, memakinya tiap hari, namun sekarang wanita itu terlihat lemah dan rapuh, apa ada sesuatu yang telah ia lewatkan tentang perubahan ibunya?


Alisnya saling bertaut, Kina berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatannya, walau pun ia berusaha keras, tidak ada satu pun ingatannya tentang ibunya di masa lalu, kosong.


Ia teringat mimpinya di padang ilalang bersama Eda, hanya itu satu-satunya ingatan yang dimilikinya dengan orang yang ada di desa ini, namun padang ilalang itu bukanlah tempat yang ada di desa ini.


“Kina, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.” Eda mendekat dan ikut berjongkok di depan Kina yang memandang kosong dirinya, ia memegang lengan Kina, mengguncangnya dengan cemas.


“Eda,” kata Kina sambil memegangi tangan Eda di lengannya, ia kembali mengingat kejadian malam tadi di rumah Nenek Niba.


“Apa yang malam tadi, mimpi?”


Dayuti menatap Eda dan Kina bergantian dengan raut wajah penasaran.


Kina terhenyak, mengusap jejak air matanya di pipinya, ia tidak menduga jika kata-kata itu keluar dari mulut Eda, memang semua itu terlalu nyata untuk dikatakan mimpi, tapi yang menjadi pertanyaan mengapa mereka terbangun tiba-tiba berada di tempat tidur?


Dayuti melihat keduanya terdiam dan terjebak dalam pikiran masing-masing, ia mengangguk paham.


“Kalian diselamatkan oleh Ni Lewun.”


Kina langsung menoleh. “Apa maksudmu?”


“Entah aku boleh mengatakan ini atau tidak,” lanjut Dayuti dengan berbisik pelan Eda dan Kina merapat kearahnya, suasana sekitar mereka tidak ramai, hanya ada beberapa warga desa yang pulang dari ritual pembersihan desa.

__ADS_1


“Ibumu melaporkan kau menghilang kemarin, kalian tidak hilang selama satu malam, tapi dua malam.” Dayuti menggigit bibirnya, raut wajahnya cemas seolah ia mengatakan hal yang dilarang. “Ritual itu seharusnya tidak dilaksanakan di pagi hari, seharus saat senja. Tapi kalian menghilang, warga desa mencari kalian ke segala penjuru kemudian Ni Lewun melihat kalian terjebak di sana karena ulah Nenek Niba maka mereka mempercepat ritualnya untuk menghentikan segala kemungkaran sesat itu. Jika kalian terlalu lama disana … mungkin … kalian akan mati.”


“Jadi … maksudmu … aku dan Eda terjebak di alam lain?”


Dayuti menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak mengiyakan dan tidak memberi sanggahan, mereka bertiga terperangkap dalam pikiran masing-masing.


“Pokoknya kalian tidak usah cemas, Ni Lewun menyelamatkan kita semua hari ini.”


Kina mengangguk-angguk, walau ia merasa sedikit meragukan cerita Dayuti, tapi ia dan Eda tidak bisa mempercayai apa pun selai cerita Dayuti, ia mendongak melihat Dayuti berdiri dan meregangkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk.


“Bagaimana kalau hari ini kita bersantai? Ke rumahku yuk, masak-masak.” Dayuti menarik lengan Kina, Eda buru-buru menjauh dari mereka berdua, ia malas terperangkap dalam kegiatan perempuan.


“Kalian saja, aku ingin berbicara dengan Ni Lewun,” ucapnya sambil melangkah menjauh.


Kina berdiri dan melepas pegangan tangan Dayuti dari lengannya, meringis karena luka yang didapat dari ayahnya.


“Nanti saja, aku ingin mandi dan beristirahat,” ucapnya sambil tersenyum, ia merasakan tubuhnya benar-benar lengket dan kotor, apa lagi ia mendengar terjebak dua hari di alam lain, ia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri, saat ini yang diperlukannya adalah mandi dan berdiam diri, bukan mengisi perutnya.


Dayuti menatapnya dengan pandangan tidak rela, ia mengangguk dan melambaikan tangannya. “Oke, aku tidak memaksamu.”


Kina membalas lambaian tangan Dayuti, ia dengan pelan melangkah berjalan menuju rumahnya, beberapa warga berpapasan dengannya, menatapnya sebentar dan berlalu, Kina tidak terlalu memedulikannya, kepalanya pusing, terlalu banyak yang ia pikirkan, ia memang membutuhkan mandi dan tidur saat ini.


Tanpa diketahui ole Kina setiap langkah-langkah kakinya diikuti seseorang, mengawasi gerakannya dengan awas dari kejauhan dan bersembunyi di balik pohon kariwaya pinggir jalan, mata itu memicing ketika Kina sampai ke rumahnya, jari-jemarinya menggaruk kulit pohon dengan keras, giginya gemerutuk.

__ADS_1


“Mati … mati … mati …”


__ADS_2