After I Die

After I Die
Menara Lonceng


__ADS_3

Kina tidak bisa tidur.


Ini sudah hari ketiga sejak kematian Nukas, ia enggan melakukan apa pun, gadis itu hanya mengurung diri di kamarnya, ibunya juga tidak banyak berkomentar, tidak protes sama sekali, ia tidak marah, hanya sesekali mengetuk pintu kamarnya untuk menyuruhnya makan.


Di dalam kepalanya pikirannya bercabang-cabang. Sejak awal ia datang ke desa ini tidak ada hal yang masuk akal di desa ini, hukum desa sangat aneh, warga desa bahkan tidak terkesan melawan, hanya patuh saja seolah hal itu adalah kewajiban mutlak yang harus ditaati, hal ini benar-benar membingungkan.


Ia tidak bisa tinggal di tempat semacam ini, lebih baik tinggal di kota bersama preman pasar yang suka memalak dagangannya.


Ibunya, ia juga bingung, sikapnya berubah-ubah sekarang, yang tadinya selalu memakinya kini terlihat lemah lembut, bukannya oa tidak senang akan perubahan itu, hanya saja itu aneh. Dan ayahnya yang biasanya pasif akan segala hal, kini terlihat acuh saja, seolah perihal Kina yang mengurung diri di kamar bukan masalah besar.


“Kina ….” Terdengar bisikan lirih dari jendela Kina yang tertutup, hari masihlah siang, sinar matahari menembus ventilasi di atas jendela, Kina menoleh, berdecak malas.


“Kina!” Suara itu terdengar lebih keras kali ini, Kina menoleh lagi, dengan malas ia bangkit dan membuka jendela kamarnya.


“Eda? Apa yang kau lakukan?” Kina bertanya dengan kening berkerut, di bawah jendelanya Eda mendongak menatapnya, laki-laki itu melambai kepadanya, menyuruhnya turun.


Kina menggeleng pelan, ia tahu laki-laki itu ingin menghiburnya atas kematian Nukas, tapi ia sedang tidak ingin melakukan apa pun, ia malas.


Eda mengerang, menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang di sekitar rumah Kina, di sekitarnya hanya ada pohon pisang dan pohon mangga.


“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” ucap Eda hati-hati, alisnya saling bertaut. “Di menara.”


Mendengar kata menara Kina terdiam, jiwa penasarannya bangkit, ia ingin berucap tapi jari telunjuk Eda menempel ke bibir, mengisyaratkan agar Kina diam.


Suara langkah kaki berderak dari atas lantai rumah, berjalan menuju kamar Kina.

__ADS_1


“Nak? Kau sedang berbicara dengan siapa?” suara ayahnya terdengar dari luar, Kina membeku dengan gugup ia menoleh kearah pintu, ia menghela napas lega ketika pintu kamarnya masih terkunci dengan rapat.


“Aku hanya bermimpi tentang Nukas,” sahut Kina sambil berusaha menetralkan detak jantungnya, Eda yang masih di bawah hanya mengelus dadanya, entah kenapa mereka berdua takut tanpa alasan.


“Makanan ada di atas meja, makanlah.” Ayahnya berucap lagi, terdengar memerintah.


Kina menelan ludah, ia buru-buru menyahut. “Iya, Ayah.”


Mereka saling diam selama beberapa menit hingga Kina memastikan sang ayah benar-benar menjauhi pintu kamarnya, Eda melambaikan tangannya menyuruhnya turun.


Kina mengambil jaketnya, tidak ada salahnya ia mengikuti Eda, lagi pula berdiam diri meratapi nasib di kamarnya tidak akan membuatnya tenang, ia harus mencari jawaban atas semua yang terjadi.


Kina menumpuk bantal dan menutupinya dengan selimut, dengan hati-hati Kina melompati jendela, kemudian menutupnya dengan amat pelan.


“Ayo kita pergi.”


Menara lonceng tetap berdiri dengan angkuh seperti biasa, ini pertama kalinya Kina memperhatikan menara itu dengan jarak yang sangat dekat, menara itu terbuat dari bambu, tingginya sekitar lima meter, ada tangga yang di pasang ala kadarnya di sepanjang tiang penyangga ke atas, sebuah rumah kecil tanpa dinding di atas berisi sebuah lonceng tua yang berkarat, Eda mengisyaratkan agar Kina mengikutinya menaiki tangga.


Tangga itu berderit ketika kakinya menginjaknya, Kina bergidik, takut menengok ke bawah, dengan pelan ia mengikuti Eda ke atas.


Tidak sampai lima menit mereka sudah ada di atas, Kina dan Eda duduk di dekat lonceng.


“Apa yang kita lakukan?” Kina akhirnya bertanya setelah sekian lama melihat-lihat, dari atas sini ia dapat melihat segala penjuru desa, termasuk pemakaman desa yang letaknya paling ujung.


“Kita menunggu.” Eda menyahut, meluruskan kakinya, Kina menatapnya dengan pandangan bertanya, beribu-ribu pertanyaan muncul di benaknya seketika.

__ADS_1


“Apa kita menunggu mereka?” Tebak Kina.


Eda mengangguk diam. Kina menahan napas, mereka akan menunggu kemunculan para mayat hidup, tiga jam lagi akan masuk batas waktu hukum desa, ia merasakan darah berdesir, antara takut dan penasaran yang semakin menjadi-jadi.


“Aku sudah menunggu mereka sejak beberapa hari terakhir,” ucap Eda pelan, matanya menerawang ke arah rawa yang terletak tak jauh dari makam, rawa itu tidaklah luas, airnya berwarna kehitaman, di pinggir-pinggirnya terdapat tanaman semak perdu, pohon-pohon kecil di sekitarnya dan rumput ilalang panjang bergoyang tertiup angin. “Mereka muncul dari sana.”


“Rawa? Itu mungkin menjelaskan mengapa mereka selalu meninggalkan jejak genangan air di mana-mana.”


Eda mengangguk pelan, keningnya berkerut. “Tapi ada yang aneh di belakang mereka.”


“Apa itu? Apa ada sosok yang mengendalikan mereka?”


“Sepertinya kau akan mengerti jika melihatnya secara langsung, aku tidak berani menyimpulkannya sekarang. Mari kita tunggu.”


Kina diam, ia menyetujui ucapan Eda. Selama mereka tidak terlihat oleh para mayat hidup itu, mereka akan aman, mereka hanya harus diam dan bersembunyi sambil mengamati apa yang terjadi, Kina sangat penasaran apa tujuan para mayat hidup itu meneror desa dan siapa dalang dibalik ini semua.


Angin masih bertiup sepoi-sepoi, menara lonceng ini hanya ditutupi oleh atap rumbia, tidak terlalu panas ketika tertimpa sinar matahari yang terik, cukup untuk merasakan teduh dan melindungi sinar matahari yang menyengat dari balik bayangannya.


Kina menerawang jauh lagi, matanya mengikuti alur jalan desa yang terbuat dari tanah, berkelok-kelok memutari desa, namun jalan yang di perbatasan menuju kota tertutupi rumput liar, seolah jalan itu sangat jarang di lalui warga.


Kota itu, apa warga tidak pernah ada niat untuk pergi? Dia ingat ketika ia dijemput ibunya dari kota, mereka menaiki mobil bak terbuka sampai jalan raya, setelah itu mereka naik motor ojek dengan medan terjal sampai di dareah hutan lebat, lalu setelah itu mereka berjalan kaki hampir seharian menuju desa ini.


Desa ini sangat terkebelakang dan terpencil.


“Eda.” Kina menoleh dan memeluk lututnya sendiri, rahangnya mengeras, mulutnya terkatup rapat. “Setelah ini selesai, ayo kita pindah ke kota.”

__ADS_1


Eda diam sesaat, ia sebatang kara di desa ini, pergi sekarang pun bukan masalah besar untuknya, namun Kina masih memiliki orang tua, apa temannya ini akan pergi tanpa mereka?


Tapi melihat wajah Kina yang menatap lurus ke jalanan yang mengarah ke kota Eda mengurungkan niatnya, ia menghela napas panjang dan menyahut. “Oke.”


__ADS_2