
Jika malam ini dilewati Kina dengan penuh ketakutan dan teror akan sosok Narsih, mayat yang mati membengkak di sumur, maka Nukas justru sebaliknya.
Nukas entah mengapa merasa sedih, ia tidak ingat kapan saat pertama kali menginjakkan kaki ke desa ini, ia juga kesulitan mengingat wajah ibunya, sehari-hari yang kerap ditemuinya adalah Nenek Niba dan Bu Mursa.
Dulu ia sering bertanya kepada Bu Mursa di mana ibunya tetapi wanita itu hanya berkata ibunya pergi ke kota untuk mencari uang agar ia dapat makan enak dan punya baju sesuai ukurannya.
Nukas sebagai anak yang baru berusia lima tahun tentu saja mendambakan itu. Di desa Damung tidak banyak anak-anak, tetapi beberapa anak-anak yang dia temui tidak mau berteman dengannya. Nukas pikir mungkin karena tubuhnya yang penuh luka dan bajunya yang kumal dan kebesaran.
Jadi ia lebih memilih bermain sendiri, atau sesekali menemui kakak cantik yang baru datang dari kota. Nukas berharap kakak itu tahu tentang ibunya.
Tapi belakangan Nukas tahu kalau kakak dari kota itu tidak tahu apa-apa, kakak itu justru sering terlihat linglung dan bingung.
Tidak adanya sosok ibu dalam kehidupan sehari-hari Nukas membuatnya terbiasa, ia tidak merengek mencari perhatian, cukup diam dan patuh saja.
Beberapa hari yang lalu dari balik jendelanya, ia melihat wanita asing duduk di pinggir sumur, Bu Mursa bilang orang itu adalah ibunya. Ia sudah memanggil bu Mursa ibu, maka wanita itu seharusnya dipanggil mama? Ia ingin memanggil wanita itu mama.
Lalu hari ini tadi orang-orang bilang mamanya telah mati bunuh diri. Mendengar itu tentu saja perasaannya hancur. Kenapa mamanya tidak menemuinya sebelum pergi bunuh diri?
Nukas juga tidak mengerti, ketika senja datang ia dibawa ke rumah Pak Mursa dan Bu Mursa, meninggalkan Nenek Niba di rumah kayu yang besar itu seorang diri.
Siapa yang akan merawat nenek malam ini?
Ia dibawa makan oleh pasangan itu, bahkan disuapi oleh Bu Mursa, kepalanya dielus-elus penuh kasih, benar-benar dimanjakan.
Wanita ini terlihat berbeda, dulu jangankan mengelus kepalanya, ia sering dicambuk dan dipukul jika ketahuan berbuat salah atau tidak sengaja berbicara. Wanita itu selalu bilang suara seperti kodok di rawa yang jelek, ia benci mendengar suaranya.
Ya, Bu Mursa lah penyebab Nukas selalu bertingkah seperti orang bisu dan juga penyebab luka-luka memar di sepanjang punggung kecilnya.
“Makan yang banyak sayang.” Bu Mursa menyuapinya lagi, Nukas menatapnya takut-takut.
“Sayang kenapa tidak bicara?” suara halus dan lembut, sangat berbeda dari yang biasanya, kasar dan ketus.
__ADS_1
Nukas menunduk, memundurkan tubuhnya, berusaha menjauh tetapi wanita itu menariknya duduk di pangkuannya. Bu Mursa yang ia ingat tidak akan bersikap seperti ini kecuali di depan orang lain.
Tapi disini tidak ada siapa-siapa, di dapur dengan cahaya lilin yang temaram, di depan meja berisi makanan, hanya ada mereka berdua. Pak Mursa telah pergi ke kamarnya beberapa menit yang lalu.
Apakah wanita ini sedang mengujinya?
Di kepalanya terbayang-bayang akan dipukuli dan dicambuk seperti biasa, ia tidak berani bersikap lancang, jadi Nukas menolak suapan terakhir dari nasi tersebut, matanya menatap lekat-lekat wanita yang memangkunya.
Satu hal yang terlintas di benak Nukas, wanita yang di hadapannya ini bukan Bu Mursa. Wajahnya memang sama persis, suaranya sama, hanya saja lebih lembut dan halus, tubuhnya pun sama, tetapi jika dipandangi lama-lama mata itu berbeda, Bu Mursa memiliki warna mata coklat terang, bukan hitam pekat.
Siapa wanita ini?
Nukas mencoba bangkit dari pangkuan wanita itu dengan gemetar, wanita itu menangkap tangan Nukas dan menarik tubuh mungilnya dalam satu kali sentakan. Bocah itu meringis, genggaman kuat itu tepat berada di luka yang baru saja diperbannya tadi pagi.
“Sayang sakit sekali ya?” Wanita itu mengambil tangan Nukas dan meniup-niup perban yang mulai berdarah itu. Nukas tidak terbiasa dengan perlakuan itu membuat hatinya menjadi sedikit hangat.
“Berani sekali wanita sundal itu memukulimu!” Katanya sambil menggeram, menarik pakaian kumal Nukas ke atas, berdecak saat melihat sekujur tubuh bocah itu penuh dengan bekas luka dan memar. Nukas kaget dengan perubahan wanita itu, ia langsung menangis antara ketakutan, sakit dan bingung.
Mama? mama tidak jadi mati?
Nukas tertegun, memandang wanita itu tidak percaya.
“M...ma..?”
Wanita itu tersenyum lembut, “Ya sayang, coba bilang mama.”
Nukas diam dan berpikir sejenak, takut suaranya jelek seperti kodok, tetapi wanita ini bukan Bu Mursa, apakah wanita ini adalah mamanya?
Mamanya benar-benar datang?
“Mama?” Nukas bersuara pelan, menatap wanita itu takut-takut. Biasanya bu Mursa akan memukulnya jika mendengar suaranya.
__ADS_1
Di luar dugaannya wanita itu memeluknya dengan lembut.
“Iya sayang, ini mama.”
Mama? Wanita ini benar-benar mamanya!
Nukas merasa senang sekali, matanya berbinar-binar, walau ia tidak ingat seperti apa mamanya tapi ia yakin wanita ini adalah mamanya. Mamanya yang menyayanginya, datang menjemputnya, ia tidak akan dipukuli Bu Mursa lagi, mamanya akan melindunginya.
Tanpa pikir panjang ia membalas pelukan wanita itu.
“Tenang sayang, mama ada di sini, tidak ke mana-mana.”
“Mama disini?”
“Ya. Mama di sini bersama Nukas kesayangan mama.”
Wanita itu menciuminya penuh kasih, memeluknya erat-erat, untuk pertama kalinya Nukas menangis keras, terharu meluapkan perasaan rindu yang membuncah.
“Jangan menangis sayang.” Mama menciuminya lagi, menghapus jejak air mata Nukas di pipinya, seolah candu, mendekapnya lali menggendongnya, menyampaikan perasaan rindu yang tak tertahankan selama bertahun-tahun, bersenandung dengan penuh haru dan sukacita.
"Mama sangat menyayangi Nukas," ucap wanita itu lagi, perasaan bahagia Nukas hampir tak terbendung, "Apa Nukas rindu mama?" Nukas mengangguk, tiba-tiba ia teringat Bu Mursa.
"Ibu? di mana ibu?" ia bertanya gelisah, takut ketahuan berbicara, tapi di sini ada mamanya, sudah pasti ia tidak akan dipukul kan?
"Ibu sedang tidur, Nukas tidak usah takut karena mama sudah ada di sini." seolah mengerti kekhawatiran Nukas, wanita itu menjawab sambil membawa Nukas ke atas kasur.
"Ibu tidur?" Nukas bertanya memastikan.
"Ya. Ibu sedang tidur dengan nyenyak jadi sayang jangan berisik." wanita itu menempelkan jari telunjuknya ke bibir Nukas, bocah itu menyentuh rambut panjang wanita itu, ia mengangguk-angguk membenarkan. membuat wanita itu berpikir Nukas setuju, namun Nukas sebenarnya bertanya-tanya dalam hati.
Tidur? Apa ibu tidur di sumur?
__ADS_1