
Kina menghela napas panjang, ia merapikan tumpukan tisu yang telah dilipatnya kemudian bergegas masuk ke dalam rumah, mengingat malam telah menjemput, ia harus menutup semua jendela dan pintu di rumah kemudian menyalakan lampu minyak di setiap sudut ruangan
Lampu minyak terakhir ia nyalakan di kamarnya, matanya tak sengaja menangkap sebuah buku hijau muda milik Dayuti yang ia bawa di sekolah, sepertinya ia tidak sengaja membawanya pulang. Ia menghela napas panjang, baru ingat jika ada pekerjaan rumah kimia yang harus di kumpulkan besok
“Sepertinya aku harus mengembalikannya”
Kina mengambil jaket di lemarinya dan membawa buku itu, jam dinding di atas pintu menunjukkan angka tujuh, belum terlalu larut
Ia membuka pintu kamarnya setelah sebelumnya memadamkan lampu minyak di kamarnya, memperhatikan sekeliling, Ibu dan ayahnya biasanya ada di dapur, menyiapkan bumbu untuk warung besok, ia mengendap-endap, mencoba menyelinap keluar
Pintu tertutup pelan saat Kina telah berada di luar, suasana desanya memang sangat sunyi di malam hari, tidak tersentuh listrik karena letaknya jauh di pelosok, di balik gunung dan dikelilingi hutan rawa sehingga desanya selalu terasa dingin dan lembab, satu-satunya penerangan hanyalah lampu minyak di setiap rumah warganya
Kina mengeratkan jaketnya, udara malam ini terasa lebih dingin, mungkin hanya perasaan Kina saja, karena ia sangat jarang keluar saat malam menjelang. Sebenarnya ada sebuah peraturan jam malam di desa Warsa, tidak boleh keluar rumah saat matahari terbenam sampai matahari terbit, tapi Kina tidak terlalu memedulikannya, ia tidak sekolot para tetua desa
Ia mempercepat langkahnya, untungnya malam ini bulan tengah bulat sempurna, sehingga ia bisa melihat jalan berbatu tanpa takut tersandung
Dari kejauhan dilihatnya seorang bapak-bapak berjalan seorang diri sambil menenteng kantong plastik, langkahnya cepat, sepertinya sedang terburu-buru
Kina berpapasan dengan bapak itu, wajahnya tidak terlihat jelas karena bapak itu menunduk, namun ia mencium bau busuk yang menyengat, Kina menoleh dan melirik kantung plastik itu, ada tetesan air yang keluar disana, jatuh di sepanjang jalan, warnanya hitam
Kina mempercepat langkahnya, ia merasakan firasat buruk, jantungnya mulai berdebar dan ia berkeringat dingin, dilihatnya sekali lagi ke belakang bapak itu terus berjalan tanpa memedulikan Kina
Kantung plastik di tangannya itu tiba-tiba robek, menimbulkan bunyi hempasan air yang keras, sesuatu menggumpal berwarna hitam keluar dari plastik itu bergerak menggeliat, bapak menghentikan langkahnya dan terdiam, menatap ke arah Kina dengan mata yang tajam
“A..n..ak..Ku…”
Ia berucap dengan suara rendah dan lirih, gumpalan hitam itu menggeliat makin menjadi, seperti cacing yang di siram garam
Apa-apaan itu?!
Jantungnya berhenti, dan napasnya tercekat, dengan gemetar Kina langsung berlari tunggang langgang menuju rumah Dayuti, ia tidak berani menoleh ke belakang, ia sangat ketakutan, dapat di dengarnya suara kecipak air dan langkah kaki mengikutinya
Ya Tuhan, itu apa?!
__ADS_1
Rumah Dayuti di depannya, ia segera menggedornya dan berteriak memanggil Dayuti, seorang wanita membuka pintu dan segera menariknya masuk ke rumah, dengan cepat ia mengunci pintu, suara kecipak air masih terdengar di sekitar rumah Dayuti, wanita itu mengisyaratkan agar Kina tidak membuka suara
Dayuti muncul dari kamarnya membawa lilin, ia menyuruh Kina duduk di kursi rotan
“Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?“
Dayuti mulai mencercanya dengan pertanyaan, Kina menyerahkan buku hijau muda itu dari balik jaketnya, Dayuti berdecak
“Seharusnya kau tidak keluar rumah, bukankah ada hukum desa yang melarangnya?“
Wanita itu, kakaknya Dayuti yang bernama Sayuti memberi Kina minum yang disambut cepat oleh Kina, sedikit tersedak karena napasnya masih tersengal
“Peraturan itu? Hukum desa?“
“Ya, yang mana lagi, kau jadi bertemu mereka“
“Yang tadi itu apa?“
Kina meraih tangan Dayuti dengan gemetar, Dayuti mendudukkan dirinya di dekat Kina.
Kina menggeleng, Dayuti melirik Sayuti yang masih mengintip di balik tirai jendela
Suasana malam yang sunyi mulai di ramaikan suara burung hantu dan gagak dari kejauhan, suara langkah – langkah kaki diseret terdengar dari luar rumah
Dayuti menempelkan telunjuknya ke bibirnya, Kina menahan napasnya saat Dayuti meniup satu-satunya penerangan di rumah ini, ruangan menjadi gelap gulita
Suara langkah terseret itu makin dekat, memasuki teras rumah, berhenti di depan pintu
Sayuti menyuruh mereka mendekat dan mengintip di jendela, tampak banyak sekali orang-orang lalu lalang seolah-olah malam itu adalah siang, mereka terlihat normal layaknya manusia hanya saja langkahnya terseok-seok, bentuk tubuhnya tidak simetris, terlihat seperti patah tulang namun masih bisa berjalan, cairan hitam menetes-netes dari tubuhnya, menimbulkan tetesan hitam di sepanjang jalan, Kina menutup mulutnya, kaget, bapak-bapak yang membawa kantung plastik tadi masih berdiri di depan pintu rumah Dayuti sambil menggendong gumpalan hitam
“A..na…k..k..uu”
“Ap”
__ADS_1
Ia di bekap oleh Dayuti, menyuruh agar Kina tidak bersuara. Sayuti menutup rapat kembali tirai jendela. Mereka saling tatap bertiga, bergerak sepelan mungkin menjauhi pintu, menuju kamar, menutup pintu kamar rapat-rapat dan saling bersembunyi di balik selimut
Suara langkah kaki terseret itu masih terdengar, seperti mengelilingi rumah berputar-putar
Makin lama makin terdengar jelas, Kina menutup matanya rapat-rapat, dalam gelap, ia mendengar Sayuti dan Dayuti membaca doa-doa dengan lirih, tangannya mencengkeram erat lengan Dayuti, ia sangat ketakutan
Mereka tak bergerak sedikit pun sampai beberapa saat, hingga suara lonceng yang terletak di tengah desa terdengar menggaung dari kejauhan
Bersamaan dengan bunyi tersebut, suara langkah kaki itu menghilang, Sayuti langsung menyalakan lilin yang didapatnya di meja nakas, Dayuti membantu Kina berdiri dan mendudukkannya di kasur
“Apa.. yang sebenarnya terjadi?"
"Mustahil kau tidak mengetahuinya“
Dayuti mengintip ke jendela, tubuhnya bermandikan keringat, Kina menatap tangannya yang masih gemetar dibalik selimut
Sayuti jatuh terduduk di pinggir kasur, tidak terlihat lagi sosok-sosok mengerikan tadi, ia menghela napas lega, lalu menatap Kina yang menggeleng pelan, mereka bertiga saling tatap, bingung
“Akan ku ceritakan, tapi tidak sekarang”
“Kau tidak tinggal di sini sebenarnya kan?”
“Ya. . beberapa waktu lalu aku sekolah dan tinggal bersama bibi di kota"
“Terlihat jelas sih”
Entah menyindir atau apa Dayuti duduk di dekat Kina
“Sepertinya kau harus menginap“ Kata Sayuti singkat sambil mengambil selimut di lemari, Kina hanya diam kebingungan
“Kenapa?"
Ia akui dirinya memang takut, tapi mengapa harus memutuskan menginap begitu cepat? ia sedikit khawatir dengan kemarahan ibunya
__ADS_1
“Karena mereka” Dayuti menunjuk ke arah luar, dalam kegelapan itu Kina masih melihat raut wajahnya yang cemas
“Mungkin saja mencarimu"