After I Die

After I Die
Mereka yang Mati


__ADS_3

Lonceng berdentang sekali, Kina menutup telinganya rapat-rapat, berdengung, cukup sekali seumur hidup baginya untuk mendengarkan lonceng dari jarak yang sangat dekat, tidak bisa ia bayangkan seperti apa rasanya menjadi Eda yang harus mendengarkannya hampir setiap hari.


Eda melepaskan tali, ia berdiri, menatap rumah-rumah warga desa, terlihat satu persatu warga mulai masuk dan menutup pintu rapat-rapat, dalam sekejap, desa Damung seperti desa mati, sunyi sepi.


“Biasanya aku akan segera pulang.” Eda tersenyum dan ikut berjongkok di samping Kina. Matanya menilik ke punggung gadis itu, sebuah bayangan hitam besar membayanginya, ia menelan ludah.


Kina tidak mengatakan apa-apa, matanya awas menatap rawa, penasaran setengah mati.


“Sebentar lagi.” Eda berucap dengan nada tertahan, langit jingga perlahan-lahan berubah menjadi gelap, angin dingin mulai bertiup lembut, cahaya samar lampu minyak terlihat menembus rumah-rumah warga yang tertutup rapat.


Kina menahan napas, jantungnya berdebar, ia memegang pinggiran papan dengan erat, melirik Eda di sampingnya yang menempelkan jari telunjuknya ke bibir, dan sebelah tangannya menunjuk ke sebuah rumah.


Suasana yang sunyi diiringi dengan angin dingin berhembus.


Kina mundur perlahan bersama Eda, ia menutup mulutnya, matanya terbelalak, seseorang berambut hitam panjang berjalan sambil membawa sesuatu di tangannya, ia berjalan melenggak-lenggok, rambutnya berkibar tertiup angin, sesuatu yang dibawanya cukup besar, terlihat mengepulkan asap tipis, itu sebuah sesajen!


Kina memandang Eda dengan alis terangkat, mencoba bertanya tanpa suara, Eda membalasnya dengan mengangkat bahu.


Sosok itu sama sekali tidak di kenalnya, bukan warga desa Damung, Kina yakin itu, dia orang asing, tidak ada wanita muda di desa ini yang memiliki rambut panjang menjuntai sampai ke tanah seperti itu, tubuhnya sangat mulus dan putih, seolah bersinar dari kejauhan.


Siapa pun bisa menyimpulkan jika wanita itu bukan wanita biasa yang memiliki kecantikan bak seorang dewi.


Kina dan Eda memperhatikan sosok itu yang berjalan menuju arah rawa, menghilang di balik rimbunnya pepohonan, mereka diam menunggu, langit telah sepenuhnya menjadi gelap, tidak ada suara yang terdengar, hanya detak jantung Kina yang berdegup kencang.


Mereka menunggu hampir satu jam, ketika hawa makin dingin, bunyi kecipak air mulai terdengar, semakin lama semakin dekat, Kina menutup mulutnya lagi, takut berteriak, ia merasakan tubuhnya gemetar.

__ADS_1


“Jangan bergerak, tetap diam.” Eda berbisik pelan, mencicit, wajahnya ikut pucat, mereka mundur, merapat ke arah lonceng, mengintip dengan sembunyi-sembunyi.


Kina menutup mulutnya rapat-rapat, takut ia kelepasan berteriak, tangannya gemetaran memegang ujung baju Eda.


Para mayat hidup dengan langkah terseok-seok muncul satu persatu dari arah rawa, mereka berjalan tidak tentu, secara acak berkeliling kampung, berputar-putar, dari satu rumah ke rumah lainnya, seolah-olah mencari sesuatu.


“Apa yang mereka cari?” Kina berbisik, ia awalnya menduga bahwa dirinya lah yang mereka cari, tetapi melihat tingkah mereka, Kina menjadi penasaran sekaligus bingung.


Ada sesuatu yang mereka cari, dan … dimana wanita berambut panjang itu? Setelah pergi ke danau dia menghilang.


“Mungkin … manusia yang hidup,” sahut Eda ragu-ragu, ia juga bingung menyimpulkannya, selama ini yang ia tahu, hanya mereka, para warga desa tidak boleh melanggar hukum desa tentang batas waktu, kalau tidak mereka yang akan menjadi salah satu dari bagian mayat hidup.


“Apa selama ini ada yang warga desa yang melanggar peraturan itu?”


Mayat hidup itu berjalan pelan, sesekali tersandung dan jatuh, meninggalkan genangan air di mana-mana, lalu bangkit lagi, berjalan dengan tubuh terhuyung-huyung.


“Eda?” Kina kembali berbisik, matanya masih mengawasi mayat hidup yang berseliweran di bawah.


Eda mengatup bibirnya rapat, matanya memanas, laki-laki dengan kantung plastik itu, adalah orang yang sangat ia kenal, terakhir kali ia mendengar laki-laki itu pamit kepadanya untuk membeli beras ke warung, di pagi hari di saat matahari bahkan belum setinggi pohon kelapa, laki-laki itu membuka pintu, pergi dan tidak pernah kembali pulang.


“Ayah ….”


Mayat hidup yang berjalan itu adalah ayahnya, orang yang sangat ia sayangi.


Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika ayahnya di kuburkan secara layak dua kali di pemakaman desa.

__ADS_1


Apa yang … tidak ... tidak … apa mungkin yang membongkar kuburan itu ayahnya sendiri? Ayahnya adalah pengikut aliran sesat?


“Eda?” Kina menoleh, merasakan tubuh di sampingnya menyusut ke lantai, Eda mengubur wajahnya ke lantai, meringkuk di samping Kina dengan air mata yang bersimbah, hatinya terlalu sakit menerima kenyataan, ia tidak bisa menerima fakta yang baru saja ia simpulkan di kepalanya sendiri.


“Ayah,” ucap Eda, Kina tidak bisa berbuat banyak, ia hanya diam, sembari memegang Eda erat-erat, ia tidak tahu apa yang ada di pikiran temannya saat ini, yang ia yakini keadaan mereka makin buruk jika mereka bersuara, ia hanya bisa menunggu Eda menenangkan dirinya sendiri sembari menahan rasa takut kuat-kuat.


Kina menggigit bibirnya, matanya kembali menatap ke bawah, ia tersentak dan segera merapat ke Eda, laki-laki kantung plastik yang sering mendatanginya berputar-putar di sekitar menara, bergumam-gumam.


“A … na … k …ku ….”


Kina menahan napas, ia mencoba tenang, sambil merapalkan bahwa dalam hati ia tidak terlihat dan ia aman, namun semua itu sia-sia, tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama, ia tetap gemetaran.


“Ayah,” ucap Eda lagi, ia menegakkan tubuhnya, menyeret ke pinggiran lantai menara, Kina mengikuti dengan takut, mencengkram erat-erat baju belakang Eda, ikut memandang ke bawah, wajahnya makin pucat.


Eda hendak menjulurkan tangannya ke bawah, segera di cegat Kina dengan menggenggamnya erat-erat, di bawah sana, lalki-laki dengan kantung plastik mendongak menatap mereka dengan sebelah matanya yang terjulur keluar, mereka saling tatap dan diam.


“Itu ayahku.” Eda terkekeh, antara menangis dan tertawa, Kina menoleh dengan kaget, menatap lagi ke bawah, laki-laki itu masih menatap mereka, tidak bergerak dari tempatnya sama sekali.


“Tidak ada …. “ Eda seolah tersadar dari emosinya, menarik napas panjang dan menarik Kina kembali merapat ke tengah, dekat lonceng, Kina mengerutkan alisnya bingung, laki-laki dengan kantung plastik itu tidak agresif mengejar Kina seperti biasa, ia hanya menatap Kina, jika benar laki-laki itu adalah ayahnya Eda, apa mungkin dia sedang melindungi Eda dan Kina? Apa mereka punya perasaan?


“Tidak ada warga desa yang melanggar peraturan,” gumam Eda, Kina menatap Eda. “Tidak pernah ada yang melanggar.”


Kina membelalakkan matanya, menatap ke arah bawah lagi, tanpa sadar air matanya jatuh ke pipinya, di bawah sana, ia melihat seorang wanita berambut ikal dengan tubuh membengkak dan berair tengah menggandeng seorang bocah laki-laki yang lehernya patah.


“Mereka dipaksa menjadi seperti itu, Kina aku benar ‘kan? Mereka tidak benar-benar bunuh diri.”

__ADS_1


Kina memejamkan matanya, bocah yang lehernya patah itu melambai dengan gerakan patah-patah, tanpa suara, ia sangat kenal mereka berdua, wanita berambut ikal dan bocah itu, ibu dan anak yang baru saja mati, Narsih dan Nukas.


__ADS_2