After I Die

After I Die
Sang Ratu


__ADS_3

“Kita harus kabur!” Eda berbisik dengan napas tercekat, gerakan lambaian dari mayat Nukas mengundang mereka mendekat, mayat hidup di bawah satu persatu mulai berdatangan, mendekat.


Kina berkeringat dingin, dengan gemetar ia menggamit lengan Eda, laki-laki itu menyeretnya turun dengan langkah terburu, sesekali ia meringis karena kakinya luput menginjak tangga.


Itu sakit, tapi itu tidak sepadan dengan ketakutan yang menguasai tubuhnya.


Mereka sampai di bawah dengan langkah gemetar, Eda adalah yang bisa mengendalikan ketakutannya sedikit lebih baik daripada Kina, ia menarik temannya itu, berlari menerobos kerumunan mayat hidup, sesekali ia menepis tangan yang ingin menjangkaunya, tangan itu patah dan terlempar ke tanah.


Kina hanya melotot tanpa daya, jika dijelaskan situasi saat ini mungkin seperti flim zombie yang pernah di tontonnya di TV, bedanya mereka tidak menggigit, tapi mereka berusaha mencakar dan memukul Kina, dengan kukunya yang tajam serta tulang belulang yang mencuat dari tubuh mereka.


“Kina, lari!” Eda kembali menyeret Kina, bentuk mayat hidup lebih menyeramkan dan menjijikan dari zombie, tubuh mereka yang berair dan berbau busuk itu tanpa perasaan menusuk hidung, seperti bangkai yang diberi nyawa dan dipaksa berjalan, tidak menyenangkan untuk dilihat.


‘Nukas!” Kina memekik, sosok yang amat ia kenal menarik tangannya dengan lengan terkulai ke samping, mata bocah itu terbuka lebar seakan ingin keluar, lidahnya terjulur dengan mengenaskan.


“Lepaskan dia!” Eda menarik tangan Kina, ia tahu itu siapa, tapi walau bagaimana pun, mereka, ayahnya dan Nukas adalah orang yang sudah mati, mereka bukan manusia, bukan orang yang sama lagi, selain bentuk mereka yang mengerikan dan menjijikkan, siapa yang tahu apa yang akan mereka perbuat? Kemungkinan terburuk jika memang petuah Ni Lewun benar, ia dan Kina akan mati malam ini dan menjadi salah satu dari mereka.


Eda melirik Kina yang berlari di sampingnya dengan pandangan kosong, melirik ke belakang punggung temannya, bayangan hitam itu semakin membesar.


Ia menelan ludah, jika mereka mati malam ini, setidaknya mereka harus mati dengan layak, bukan karena mayat hidup yang mengejar mereka.


“Harus hidup,” gumam Kina di sela-sela napasnya yang tersenggal, “Kita harus pindah ke kota.”


Eda tidak berkata apa pun, terlalu sibuk mengatur napasnya, di tengah kekacauan ini sempat-sempatnya Kina membual pindah ke kota, seandainya saja tidak dalam posisi menakutkan seperti ini, Eda akan menertawakan harapan Kina, namun sekarang jangankan tertawa, berteriak ketakutan pun, membuat jantungnya seakan lepas dari tempatnya.

__ADS_1


Mereka berlari, berapa kali berpapasan dengan para mayat hidup, untungnya gerakan mereka lambat karena tubuh mereka yang tidak sempurna, mereka berhasil menghindar, namun sejauh apa pun melangkah mereka tetap bertemu mayat hidup di mana-mana, menghadang mereka dari segala penjuru.


“Kemana … kita?” Eda bertanya panik dan kemudian merasa konyol, lampu-lampu yang tadi bersinar di balik dinding rumah-rumah warga satu persatu mulai padam, menambah mencekam situasi, seolah tahu para mayat hidup sedang berburu, mereka diam dan memejamkan matanya di balik selimut, memilih acuh dan menyelamatkan dirinya masing-masing.


“Rumah!”


Kina menarik Eda, rambut pendeknya basah karena keringat, ia melihat satu titik cahaya dari kejauhan, mengambil kayu dan menghalau para mayat hidup, berlari dengan wajah pucat.


Eda mengikuti Kina, mereka sampai di ujung desa, rumah kayu besar yang berdiri dengan kokoh, rumah Nenek Niba.


“Tunggu … kenapa kita harus kemari,” ucap Eda menahan langkah Kina, dari balik jendela yang terbuka, sebuah cahaya lilin terlihat bergoyang-goyang, seakan mengundang mereka datang, dari sekian banyak rumah yang ada, mengapa harus ke rumah Nenek Niba? Kenapa tidak ke rumah Pak Mursa atau rumah Kina sendiri? Membayangkan masuk ke dalam saja sudah membuat Eda bergidik, tetapi ketika mendengar langkah kecipak air di belakang mereka, mau tak mau Eda mengikuti langkah Kina.


“Kina … kau tahu … dia … nenek …” Eda terbata, otaknya seakan tidak bisa merangkai kata lagi, Kina mengabaikan Eda, ia melangkah dengan mantap, mendorong pintu.


Mereka berdua saling tatap, menahan napas, pintu terbuka lebar, cahaya lilin di atas meja bergoyang tertiup angin karena udara yang masuk, mereka menoleh ke belakang para mayat hidup berdiri di halaman rumah nenek Niba, tidak bergerak naik ke teras, hanya memandangi mereka.


“Sudah kuduga.” Kina bergumam, menarik dengan cepat, menutup pintu.


Eda dengan cepat menutup jendela, mayat hidup di depan sana hanya melotot memandangi mereka, tidak bergerak, suasana menjadi sunyi dalam sekejap.


“Mereka tidak bisa kemari, karena kau ratunya ‘kan?” Kina menoleh, tak jauh dari mereka sesosok wanita berambut putih panjang tengah duduk di kursi goyang, tersenyum dengan wajah keriputnya.


“Nenek Niba?”

__ADS_1


Eda ikut menoleh, selama ini ia tidak berpikir akan menemui secara langsung sosok orang yang dikatakan abadi ini, menginjak rumah dan masuk ke dalamnya pun ia tidak berani.


Rumor yang beredar di desa Damung itu seolah menjadi sebuah kepercayaan yang harus di ukir di otak masing-masing warga. Nenek Niba adalah penganut aliran sesat yang tidak bisa mati, orang yang paling mungkin mempunyai keterkaitan dengan para mayat hidup.


“Katakan, Nenek. Kau membunuh Nukas?” Kina bertanya dengan suara getir, pikirannya tidak banyak, ia hanya menyambung-nyambungkan kepingan ingatan yang memenuhi kepalanya, perkataan Dayuti, perkataan Ibunya, Pak Mursa, dan Eda.


Satu-satunya orang yang paling bisa disalahkan oleh Kina selain para mayat hidup adalah Nenek Niba. Nukas tinggal di rumah Nenek Niba, Narsih tewas di sumur samping rumah nenek Niba, siapa lagi yang bisa menjadi tersangka utama selain nenek tua ini?


Lupakan dengan kondisi fisik yang tidak mungkin bergerak dari tempat tidur, sejak awal keberadaan nenek Niba tidak masuk di akal, terlebih lagi jika ia adalah penganut ilmu hitam, bukan hal mustahil segala sesuatu yang terjadi ini semua adalah ulah nenek tua ini.


“Apa yang kau inginkan sebenarnya? Mengapa harus membunuh Nukas?”


“Kina!”


Eda menelan ludah, mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, jika benar Nenek Niba adalah orang seperti Kina pikirkan, bukankah berarti mereka saat ini dalam bahaya? Terlebih lagi ia melihat bayangan hitam di belakang Kina semakin gelap dan besar.


Ia melirik Nenek Niba yang masih tetap tenang di kursi goyangnya, memandang mereka.


“Mengapa kau melakukan semua ini? Semua orang mati, apa mereka semua berubah menjadi mayat hidup?”


Kursi bergoyang pelan, Kina dan Eda berdiri dengan jantung berdebar, diluar sana para mayat hidup tetap diam tak bergerak, menatap mereka melalui celah-celah dinding yang terbuka.


Mereka diam menunggu jawaban.

__ADS_1


Nenek Niba menatap Kina lekat, membuka mulutnya dengan pelan. “Aku mau mati.”


__ADS_2