
“Anak nakal bangun!”
Suara teriakan ibunya adalah alarm yang harus Kina dengar setiap hari, namun hari ini sedikit berbeda, suara ibunya lebih tinggi dan melengking penuh amarah.
Hari masih pagi buta, matahari bahkan belum terlihat sepenuhnya, lampu-lampu masih menyala, udara masih dingin dan menusuk sampai ke tulang-tulang, ibunya sudah bangun dan marah-marah.
“Air dari mana ini?! Kamu main-main air?!”
Kina bangkit, entah tertidur atau pingsan karena teror malam tadi, sedikit linglung, merasakan dirinya basah dan terbaring di depan pintu yang tertutup rapat.
Pintu digedor oleh ibunya dengan tak sabar, Kina bangkit dan membuka pintu melihat seluruh lantai rumah basah, dari teras sampai ke kamar Kina, kasurnya juga basah oleh air berwarna kehitaman.
Hah, ini benar-benar terjadi?
“Bersihkan ini!”
Kina tak menjawab, bergegas mengambil kain pel beserta ember berisi air bersih.
Jadi yang tadi malam bukan mimpi? Narsih benar-benar mendatanginya?
Apa yang terjadi sebenarnya?
“AIR MANA YANG KAMU BAWA! LIHAT INI SUSAH DIBERSIHKAN!” kata ibunya murka. Lantai basah oleh air berwarna hitam menggumpal, seperti lumpur rawa, yang di bawa masuk dengan sengaja.
Hantu Narsih membawa air sumur bersamanya! Ini benar-benar menjijikkan.
“Aku.. tidak..” Kina terbata-bata, “Ini bukan ulahku, tadi malam Nar...”
“JANGAN BANYAK ALASAN!”
Lagi-lagi suara ibunya membuat telinganya berdengung, belum sempat ia menceritakan kejadian malam tadi ibunya sudah memotongnya. Kina melirik selimut dan bantalnya yang berada di tangan ibunya basah dengan noda hitam dan berbau busuk seperti bau tanaman mati yang lama terendam air.
“Uuh..” Kina menutup hidung jijik, Narsih benar-benar membawa air sumur bersamanya. Ibunya melenggang ke belakang sambil menggerutu.
__ADS_1
Ayahnya tidak terlihat, mungkin sedang sibuk di warung melayani para pelanggan yang kelaparan di pagi buta, di desa Damung warga terbiasa makan di pagi buta, sarapan sebelum turun ke ladang, di depan Kina hanya ibunya yang mondar-mandir sambil marah-marah, wanita itu seperti punya energi tambahan yang bisa meledak kapan saja untuk memarahi Kina.
Atau mungkin ibunya memang gemar memarahinya. Kina menjadi berpikir yang aneh-aneh.
Kina mengepel lantai berkali-kali, walau lantai itu bersih tetapi samar ia masih mencium bau busuk itu. meringis dalam hati, mengapa membersihkan ini begitu sulit?
Narsih sialan!
“Kamu ini suka sekali menambah pekerjaan ibu nak..nak,” keluh ibunya lagi dari belakang, suara air dituang ke baskom terdengar.
Kina mendengus, teriakan ibunya mengundang para tetangga datang karena penasaran. Tanpa ibunya bercerita pun para tetangga sudah mengerti apa yang terjadi.
Kina mendengar kasak-kusuk para tetangga, ia kesal bukan main, mereka yakin Kina bermain air rawa malam tadi, mereka percaya begitu saja? Bukankah ini gila? Ia sudah lima belas tahun, sudah dewasa, mana mungkin bermain-main air rawa lalu membawanya ke rumah.
Konyol.
Tidak, mungkin dirinyalah yang menjadi gila. Kina sudah merasa kehilangan kewarasan semakin lama ia tinggal di desa ini.
Semuanya benar-benar tidak masuk akal, teror, hukum desa, orang-orang yang mati bunuh diri dan para mayat hidup.
Tapi kalau ia pindah kembali ke kota, bagaimana ibunya? ayahnya? ia memang tidak dekat denga ibu atau ayah, tetapi bagaimana pun mereka adalah orang tua Kina, tidak mungkin ia pergi begitu saja.
Kina menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dari pemikiran gilanya.
“Ibu ini sudah tua dan lelah, malah mencuci lagi.” Ibunya kembali bersuara, mencuci dengan cepat, bunyi kain dikibas-kibas, tak lama ia sudah menjemur bantal dan selimut Kina, langsung masuk ke dalam, melihat gerakan lambat Kina mengepel, membuat wanita itu naik darah.
Anak ini benar-benar lambat!
“Lambat sekali kerjamu! Mengepel saja berjam-jam, ibu sudah lelah kau tambah-tambahi pekerjaan!”
Kina sudah tak tahan lagi untuk diam, dia menyahut, “Ini bukan ulahku.”
“Belajar berbudi, jangan menyusahkan orang tua, ini pekerjaan sepele masih saja mengandalkan orang tua.”
__ADS_1
“Ini benar-benar bukan ulahku!”
“Bukan ulahmu lalu siapa? Hantu penunggu sumur?!” Ibunya menghempas kain pel ke dalam ember, membuat air kotor itu menciprat ke lantai. Wajahnya merah padam, wanita itu benar-benar marah.
“Memang! Arwah Narsih gentayangan ke kamarku tadi malam!” Kina menyahut, menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, ia sudah cukup frustrasi dengan beberapa hari terakhir yang menimpanya.
Hening cukup lama setelah itu, Ibunya diam tak menjawab, sibuk mengepel lantai. Kina berpikir mungkin sang ibu tidak mendengar lagi, atau mungkin terlalu lelah, atau mungkin saja ibunya menganggapnya gila.
Ia putus asa, ketakutan dan sendirian, ia butuh perlindungan, tidak ada yang bisa Kina andalkan selama ibu dan ayahnya acuh terhadap Kina.
Sekali saja, aku ingin perhatian ibu, ibu yang bertanya khawatir, membelai dengan sayang. Bukan ibu yang gemar memaki setiap hari.
Kina membatin dalam hati dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah, antara sedih, kesal dan marah, menjadi satu.
Gadis itu melirik ibunya, melihat wanita itu masih sibuk mengepel tak beraksi apa-apa terhadap Kina.
“Malam tadi, lonceng berbunyi dua kali, Narsih datang membuka pintu dan menerorku dia berpikir aku anaknya.” Kina berbicara tanpa melihat wajah ibunya, berbalik memunggungi ibunya, tidak peduli apakah wanita itu mendengar atau tidak. Ia hanya ingin meluapkan perasaannya, ingin di dengar, itu saja.
“Bukan hanya malam tadi, malam-malam sebelumnya aku di teror mayat hidup,” Air matanya berjatuhan ke lantai, ia sangat takut.
“Aku takut.” Ucapnya sambil terisak, “Aku takut ibu.”
“Apa aku akan mati ibu?”
Ibunya diam mematung memandangi noda hitam pada kain pel, wajahnya menjadi pucat pasi.
Kina tak melihat raut wajah ibunya, tetap bercerita sambil saling memunggungi, ia mengeluarkan semua yang ada di pikirannya sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku, apa aku akan menjadi salah satu dari mereka ibu?" kina bertanya lagi, menghapus jejak air mata yang ada di lantai, memalukan sekali ia menangis di pagi buta.
Ibunya tidak menjawab, bertingkah seolah tidak mendengar, tetap mengepel lantai.
"Aku berbicara denganmu, mengapa kau bertingkah seperti itu?" Kina sudah habis akal, tidak peduli lagi dengan sopan santun yang selalu diajarkan mendiang bibinya, ia marah, sangat marah dan bingung.
__ADS_1
Ibunya beranjak meninggalkannya, dan lagi-lagi, Kina tak mendapatkan jawaban apa pun dari Ibunya.