
Hari ini Kina datang terlalu awal di kelasnya, akibat dari peristiwa bersih-bersih di pagi hari, ia melihat sekeliling, Dayuti bahkan belum menampakkan batang hidungnya. Kina melirik ke arah luar jendela, langit terlihat mendung, sepertinya hujan akan segera turun. Kina mendesah, baru ingat jika ia tidak membawa payung.
Angin berembus menggoyangkan tirai tipis yang menutupi setengah jendela. Hiasan kecil yang tergantung di jendela bergoyang menimbulkan bunyi berdenting.
Eda datang dengan wajah datarnya, duduk tanpa kata di kursi paling belakang. Kina meliriknya, dan lagi ia baru sadar jika mereka berada di kelas yang sama.
Kina memperhatikan Eda secara terang-terangan, ia memperhatikan kacamata yang tergantung di kemeja abu-abunya, sembari mengingat pertemanannya dengan Eda di masa lalu, ia menghela napas panjang, tidak ingat apa-apa.
Dayuti bercerita secara singkat mengenai Eda kemarin. Eda adalah salah satu keturunan pendiri desa Damung, saat itu desa masih berupa hutan rawa dan banyak hal mistis di dalamnya, kemudian muncullah tiga orang yang membangun desa ini, konon katanya mereka memiliki kemampuan di luar nalar. Karena itulah Eda menggantikan tugas ayahnya sebagai penjaga menara lonceng, tugas itu adalah kewajiban yang sakral.
Melihat Eda sekali lagi, Kina berinisiatif mendekat dan duduk di depan laki-laki itu.
“Aku mengalami teror beberapa malam ini,” ucap Kina, ia yakin laki-laki di hadapannya tahu semua kejadian yang menimpanya. Eda berdecak malas.
“Beberapa waktu lalu aku diteror para mayat hidup.” Kina terus melanjutkan keluhannya pada Eda, satu persatu penghuni kelas mulai berdatangan.
“Aku bermimpi tersesat di padang ilalang denganmu, apa kita dulu pernah ke sana?” Tanya Kina pada Eda mengerutkan keningnya berpikir, namun ia menggeleng pelan.
“Malam tadi aku juga diteror hantu Narsih ... Eda kau tahu sesuatu bukan? Kau yang membunyikan lonceng, mereka muncul setelah suara lonceng .....” Kina berkata lirih. Eda mulai bergerak-gerak tidak nyaman.
Kina mengetuk-ngetukan jarinya di meja, menunggu jawaban Eda.
Tiba-tiba angin berembus kencang membuat suara dentingan hiasan di jendela menggila, tirai berkibar, buku-buku yang ada di atas meja beterbangan.
"BRAK!" Daun jendela yang tadinya terbuka lebar Kini tertutup membuat cahaya di ruangan kelas menjadi gelap, Arna menjerit kaget.
“Kunci jendelanya ...”
“Kunci jendelanya!” Eda berseru, Arna yang kebetulan dekat dengan jendela menutupnya dengan cepat.
Dayuti mendekat ke arah Kina dan memegang erat lengannya, mereka semua berkumpul di tengah ruang kelas, di sekitar Eda membentuk lingkaran saling menghadap jendela, bersikap waspada seolah sesuatu yang berbahaya akan segera datang.
“Ada apa?” Kina berbisik pada Dayuti, ia sepenuhnya tidak mengerti apa yang terjadi, Dayuti hanya menyahut suara sshh.
“Jangan bersuara,” ucap Eda, entah kenapa suasana menjadi tegang.
Suara kecipak air terdengar dari luar, Kina menahan napasnya, seingatnya tidak ada sungai di sekitar sini dan hujan belumlah turun.
Sekolah Kina hanyalah sebuah rumah kayu sederhana di pinggir hutan bambu, setiap angin bertiup, menimbulkan bunyi bambu yang saling bergesek.
__ADS_1
“Mereka datang ....”
Arna beringsut mundur, siluet bayangan terlihat melalui celah-celah dinding kayu, Eda menempelkan jari telunjuknya di bibir, Dayuti semakin menggenggam erat Kina, mereka berjongkok di antara kursi dan meja, bersembunyi.
Langit yang mendung semakin menggelap, seolah malam datang menjemput, suara langkah-langkah kaki dan kecipak air semakin ramai, persis teror yang dialaminya.
Apakah mereka mencarinya? Di siang hari?
“Itu ... mereka?”
Kina bergerak melihat ke celah dinding kayu, rasa takutnya seolah menguap, ia mulai terbiasa walau tangannya masih gemetar.
Mereka adalah orang yang sama, para mayat hidup yang menerornya!
Langkah terseok-seok, tubuh yang tidak simetris serta tetesan air yang keluar dari tubuh mereka.
Tidak salah lagi! Bagaimana mereka keluar disiang hari?
“Mayat hidup.” Eda ikut mengintip di samping Kina, “Kita aman selama tidak terlihat.”
“Aku tahu. Apa ... mereka mencariku?” gumam Kina dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Apa aku akan menjadi seperti mereka kalau tertangkap?”
“Aku juga penasaran akan hal itu," balas Eda tanpa perasaan. Tanpa mereka sadari mereka terlibat percakapan serius. Dayuti hanya diam melihat mereka berdua.
Mereka berdiam cukup lama, menyaksikan mayat hidup berlalu lalang di luar, hingga cahaya matahari perlahan-lahan bersinar, menerobos celah-celah dinding, barulah Eda menyuruh mereka membuka semua jendela dan pintu.
“Kalian pulanglah,” ucap Eda yang langsung disetujui teman-temannya, satu persatu mulai meninggalkan kelas, hanya tersisa Dayuti dan Kina.
“Aku penasaran.” Kina buka suara, berdiri di depan Eda, tak membiarkan teman masa kecilnya itu lewat.
“Mereka benar-benar pergi.” Dayuti melihat keluar jendela, tampak beberapa tanaman hias yang tersusun rapi patah dan terinjak, genangan air berwarna hitam terdapat di mana-mana.
“Aku tidak punya banyak waktu berbicara denganmu.”
“Sebentar saja.” Kina mencengkeram erat lengan Eda, menatapnya dengan pandangan memohon.
“Baiklah," ucap Eda pasrah, tak ingin berlama-lama, ia langsung pada intinya. "Kau tahu aku salah satu keturunan pendiri desa Damung.” Eda duduk kembali ke kursinya, Kina mengangguk pelan.
__ADS_1
“Ada tiga orang yang membangun desa ini, yang pertama mereka menyebutnya sebagai golongan putih, orang yang melindungi desa dengan membuat hukum desa. Menurutmu siapa mereka?”
“Ni Lewun.” Dayuti menyahut sambil mendekat. Kina mengingat wanita tua itu, pantas saja, ia seorang tabib desa yang sangat dihormati.
“Yang kedua, golongan abu-abu, itu keluargaku, kami bertugas mengawasi desa, penjaga menara lonceng."
“Dan sekarang tersisa kau,” kata Dayuti lagi.
“Yang terakhir, mereka menyebutnya golongan hitam, orang yang sesat, dia ....” Eda berkata dengan tidak yakin, "Nenek Niba."
“Apa maksudmu sesat?”
“Nenek Niba adalah kebalikan dari Ni Lewun, dia adalah seorang dukun penganut ilmu hitam,” sahut Dayuti pelan, Kina dalam hati membenarkan kisah mereka, sudah berapa kejanggalan ia temui ketika melihat nenek itu.
“Itu sudah menjadi rahasia umum bagi warga desa, para mayat hidup selalu dikaitkan dengannya.”
“Di masa lalu dia sama seperti Ni Lewun, mereka memiliki ilmu yang sama, hanya saja nenek Niba mempunyai banyak pengikut, dia menjadi terobsesi dengan ilmunya, mereka sering melakukan ritual dan menculik warga desa sebagai tumbal. Kekek buyutku dan Ni Lewun berusaha melakukan segala cara untuk menghentikan mereka.”
“Namun ilmu mereka terlalu kuat, membuat mereka tidak dapat mati, tetapi timbal baliknya adalah tubuh mereka dapat hancur, terutama saat siang hari, perlahan-lahan mereka menghilang dan hanya muncul sesekali di malam hari.”
“Nenek itu benar-benar abadi.”
“Dengan makin seringnya mereka muncul, pasti ada sesuatu yang membangkitkan mereka.”
“Sesuatu? Apa ada hubungannya dengan kematian Narsih dan Ayahmu?”
“Sepertinya mereka adalah tumbal untuk mempersiapkan sesuatu yang besar.”
“Apa itu artinya akan ada tumbal lain?”
“Kemungkinan besar seperti itu, mungkin saat ini Ni Lewun sedang memikirkan hal yang sama.” Eda bangkit dengan gusar, Kina masih belum melepasnya.
“Sesuatu yang seharusnya dilakukan sejak lama.” Eda diam sejenak, menatap langit yang cerah, “Ritual pembersihan.”
“Kalau begitu seharusnya kita pulang.” Dayuti memegang bahu Kina, mencegah gadis itu bertanya lebih lanjut.
“Ya pulanglah, aku akan menemui Ni Lewun.” Eda berjalan menjauh tanpa persetujuan Kina, namun baru beberapa langkah ia berhenti dan menatap Kina.
“Jaga dirimu, aku melihat bayangan kematian di belakangmu.” Setelah berkata hal tersebut ia benar-benar pergi.
__ADS_1