After I Die

After I Die
Sebuah Peringatan Perpisahan


__ADS_3

Eda mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kina ia hanya mengangguk kaku, sedangkan Dayuti menyahut dengan semangat.


Matahari telah menampakkan diri sepenuhnya dari balik awan, suhu menjadi lebih hangat, mereka bertiga berjalan dengan waspada kembali ke desa, mengendap-endap dari satu tempat ke tempat lainya.


“Kenapa begitu sunyi?” Dayuti tidak tahan untuk bersuara ketika mereka menyaksikan seluruh pintu dan jendela tertutup rapat, tidak ada satu pun warga desa terlihat, bahkan di bawah lonceng sekalipun.


“Aku tidak tahu,” sahut Kina sambil berbisik, ia memperhatikan wajah gelisah Dayuti, keningya berkerut. “Ada apa?”


“Aku harus mencari kakakku.” Dayuti melirik Kina. “Aku harus ke rumah.”


Kina mengangguk pelan, ia melihat Dayuti langsung melesat menuju rumahnya, Eda yang berada di samping Kina berkata dengan pelan. “Apa kita akan ke rumahmu?”


Kina tidak menjawab, ia menyelinap dari satu rumah ke rumah lainnya, pikirannya berkecamuk, ibunya memasungnya mungkin memilki tujuan tertentu, mungkin saja ibunya sejak awal sudah tahu tentang tumbal Ni Lewun, ia tidak habis pikir, tapi darah lebih kental daripada air, ia tidak bisa membiarkan orang tuanya mati dengan cara yang mengerikan hanya untuk memuaskan hasrat hidup abadi seorang wanita tua, ia harus menyelamatkan orang tuanya segera.


Rumah demi rumah mereka lewati, Eda menarik tangan Kina dan menyuruhnya bersembunyi di kolong rumah yang penuh tumpukan kayu bakar.


“Ni, kita apakan Narsih ini?” Sada bergumam, ia menyeret seorang wanita dengan pandangan kosong, Kina dan Eda hanya bisa melihat kaki mereka, selain Sada, ada Ni Lewun, dan seorang wanita yang memiliki pakaian persis seperti yang biasa dipakai Ibu Mursa.


“Kita harus melakukan ritual kembali, beraninya wanita hina ini menipuku,” sahut Ni Lewun dengan saura dingin menusuk, ia berhenti dan menampar wanita yang diseret Sada.


Kina dan Eda saling pandang, bingung. Bukankah Narsih ibunya Nukas sudah tewas di sumur beberapa waktu yang lalu? Kenapa Bu Mursa di panggil Narsih?


“Apa boleh buat, Ni. Mereka kembar, bahkan Pak Mursa tidak sadar istrinya yang asli tewas di sumur.” Sada mendengus, badannya yang besar itu terlihat kesusahan membawa Narsih.


Kina menutup mulutnya, matanya melotot tidak percaya, jadi selama ini Narsih masih hidup? Dan yang telah tewas itu adalah Bu Mursa? Itu berarti selama ini Nukas bersama dengan ibu kandungnya sendiri?


“Ikat saja di pohon itu,” ucap Ni Lewun menunjuk sebuah pohon balangeran yang tinggi menjulang, tanpa banyak kata Sada melaksanakan perintah Ni Lewun. Ia mengikat Narsih dengan tali tambang dengan kuat, wanita


itu tidak memberontak, hanya memandang kosong sambil memegang rantang.

__ADS_1


“Kita harus segera menangkap calon tumbal  lainnya.”


“Siap, Ni!” Sada berseru, ia mengikuti langkah-langkah wanita itu dengan semangat, ketika mereka sudah berada cukup jauh, Kina dan Eda menghembuskan napas lega.


Mereka keluar dari kolong rumah dengan hati-hati, mendongak melihat rumah itu, ternyata mereka berada di rumah Ni Lewun, ia kemudian melirik Narsih yang menatapnya dengan melotot, wanita itu terkekeh.


“Anakku … anakku … Nursih sangat kejam …. Tidak … Ni Lewun kejam …. Pukuli …. Anakku dipukuli … “ Narsih menangis sesegukan, meronta-ronta dengan tubuhnya yang terikat kuat, air matanya bercucuran, rambutnya acak-acakan karena kepalanya ia hempas-hempaskan ke dinding. “Percuma cacat, dia tetap jadi tumbal … Nursih bodoh … anakku malang … mati ….”


Eda menarik tangan Kina, mereka tidak bisa berlama-lama di sini mendengarkan racauan orang yang sudah kehilangan kewarasannya, Kina menelan ludahnya, kakinya terasa berat untuk melangkah mengikuti Eda.


“Nukas … anak bodoh … sudah tahu … kenapa … tidak … lari?” Narsih meracau lagi, Kina menoleh dengan kening berkerut.


Percuma cacat? Apakah itu maksudnya Nukas yang berpura-pura bisu?


Kina menggelengkan kepalanya, lalu ia berhenti tiba-tiba. “Nukas pura-pura bisu, tubuhnya penuh bekas luka ….”


Eda kembali menyusul Kina, ia mendengar Kina bergumam-gumam tentang Nukas. “Ada apa?”


“Apa maksudmu?”


“Nursih, maksudku ... Bu Mursa selama ini memukulinya dan menyuruhnya bertingkah seperti orang bisu agar Nukas tidak menjadi tumbal. Dia berusaha melindungi Nukas.”


Eda menatap Kina dengan miris, ia tiba-tiba mengingat ayahnya, apakah laki-laki itu juga tahu sesuatu?


“Tapi dia tetap menjadi tumbal,” kata Eda  lirih, ia menarik napas panjang. “Kita tidak punya waktu banyak.”


Kina seolah tersadar dari lamunannya, segera mengangguk, mereka kembali berlari tanpa suara, melalui jalan kecil di belakang rumah, Eda tiba-tiba berhenti. Kina akan membuka mulutnya ketika melihat sesosok berjubah


lusuh menghadang mereka, ia dan Eda memasang sikap siaga.

__ADS_1


Sosok berjubah itu mengangkat tangan kanannya di depan dada, dengan gerakan perlahan ia mengangkat tudung jubahnya.


“Arna?” Kina berkata dengan heran, ia ingat teman sekelasnya ini, orang yang pertama kali mencari masalah dengannya, sejak hari itu Kina tidak pernah bertegus sapa lagi dengannya.


“Apa yang kau inginkan?” Eda bertanya dengan penuh selidik, ia berdiri di depan Kina, mencoba menlindungi temannya itu, ia tidak tahu Arna akan berada di pihak mana, mereka sama-sama calon tumbal yang diperlukan Ni


Lewun, tapi mengingat tempramen Arna yang buruk, serta ia memiliki ikatan darah dengan Ni Lewun mungkin saja saat ini ia berada di pihak Ni Lewun.


“Tenang saja,” ucap Arna pelan, suaranya serak seperti tidak minum berhari-hari, wajahnya kuyu dan rambutnya lepek. “Aku ingin mengajak kalian pergi dari sini.”


Kina dan Eda terdiam, Arna menunjukkan wajah serius, namun mereka sulit untuk mempercayai siapa pun saat ini.


“Aku tahu kalian tidak akan percaya denganku,” lanjut Arna lagi, ia menghela napas panjang dan melirik ke rumah-rumah yang tertutup rapat. “Mereka saat ini sedang memburu kita. Kuharap kalian selamat karena besok


adalah ritual terakhir.”


“Besok?”


“Ya. Tumbal yang tersisa akan segera dihabisi hari ini, hati-hatilah.” Arna menarik tudungnya, ia melangkah melewati Kina dan Eda, namun sebelum itu ia kembali menoleh dan menatap Kina lekat. “Aku minta maaf,


atas ucapan kasarku dulu.”


Kina diam, ia tidak tahu harus menjawab apa kepada Arna, terlalu banyak informasi yang ia dapat hari ini, yang ia pikirkan adalah menemui ibunya dulu baru melarikan diri dari desa ini bersama Eda.


“Ayo!” Eda menarik tangan Kina setelah merasa pembicaraan Arna selesai, namun Kina bergeming dari tempatnya. Eda menoleh dengan pandangan bertanya.


“Kuharap kita bertemu lagi,” ucap Kina sambil menelan ludah, ia tidak pernah merasa mengucapkan salam perpisahan semengerikan ini, saat ini nyawa mereka antara hidup atau mati.


Arna mengangguk kaku, tersenyum kecil, ia mendekat ke arah Kina dan meletakkan sesuatu di tangan Kina.

__ADS_1


“Hadiah dariku,” katanya, Kina menunduk dan melihat sebuah pisau dapur yang berkilat tertimpa sinar matahari, ia mendongak keheranan.


“Satu lagi, hati-hati …  dengan … Dayuti.”


__ADS_2