
Kina kembali pulang ke rumah, suasana desa terlihat kacau, seperti diterpa badai, warga desa memilih diam di rumah dan mereka masih menutup rapat pintu, sesekali Kina melihat beberapa orang yang mengintip keluar.
Ibunya langsung membuka pintu ketika dia masuk, tak berkata apa-apa, sedangkan ayahnya duduk santai sambil mengupas buah mangga.
Bukankah ayahnya terlalu santai setelah melalui teror mayat hidup?
Kina melihat ibunya yang terlihat pucat, terlihat jelas ibunya masih ketakutan, matanya tidak fokus. Ia ingin berkata sesuatu, namun terhenti saat mendengar kegaduhan diluar.
"Ada apa?" Kina dan ibunya saling pandang, lalu beranjak.
“Nukas! Nukas menghilang!” suara panik Bu Yuni terdengar dari luar, Kina dan Ibunya bergegas keluar, para tetangga berkumpul di jalanan, ingin tahu.
“Nukas? Anak Pak Mursa?”
“Iya, yang ibunya kemarin mati!”
Tetangga sekitaran rumah Kina menjadi riuh, membahas kematian Narsih dan ayahnya Eda. seolah iitu berhubungan.
“Ayo kita cari dulu,” ucap Bu Yuni memimpin rombongan menuju ke rumah Pak Mursa. Kina memucat, tidak percaya, bukankah kemarin ia dibawa bersama Pak Mursa? Kenapa tiba-tiba menghilang? Apakah mayat hidup yang membawanya?
Kina kalut, cemas dengan keadaan Nukas, ia selalu mengingat luka di punggung bocsh malang itu. Kina hendak beranjak dari sana untuk mencari Nukas, tetapi Ibunya menangkap lengan Kina.
“Ibu?”
“Sudah terlambat. Dia telah menjadi tumbal berikutnya.”
“Jadi ibu tahu? Kenapa ibu diam saja?” Kina bertanya dengan getir, ibunya menatapnya dengan sedih, untuk pertama kalinya Kina melihat ekspresi ibunya yang sesedih ini, mata itu tampak rapuh dan putus asa.
Ada apa dengan mata itu? Berapa banyak yang ibunya tahu?
"Ibu sebenarnya tahu sesuatu 'kan?" Kina melirik ke arah rumah, sepertinya ayahnya masih duduk santai makan mangga di kursi.
“Nak ...” Ibunya memegangi bahunya dengan gemetar, matanya memerah menahan tangis.
“Kadang bersikap tidak tahu apa-apa ... bisa menyelamatkan hidupmu.”
__ADS_1
Kina menatap ibunya tidak percaya, bagaimana mungkin Kina menutup mata dengan hilangnya Nukas, dia sudah Kina anggap sebagai adiknya sendiri, ia tidak bisa diam saja, setidaknya ia harus memastikan Nukas benar-benar menghilang, bisa saja dia saat ini sedang tidur di kamar Nenek Niba kan?
Mengingat Nenek Niba, Kina jatuh terduduk, dia salah satu mayat hidup itu. Selama ini Nukas hidup dengannya? Bagaimana mungkin?
“Dengar Nak ... Ini semua diluar kuasa kita, cukup diam saja, jangan terlibat dengan mereka, kau harus tahu seberapa khawatirnya ibu mendengar kamu melihat mereka,” ucap Ibunya lirih, Kina menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak seperti Ibu,” kata Kina dengan air mata berurai, “Aku akan mencari Nukas!”
Ibunya masih memegang erat legan Kina, air matanya sudah berjatuhan, Kina baru pertama kali melihat ibunya menangis, merasakan sakit yang amat sangat dihatinya.
“Percuma saja ... Dia pasti sudah mati.”
“Aku tidak percaya ... Aku tidak percaya jika aku tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!”
Kina memberontak, melepas genggaman tangan ibunya, entah dapat keberanian dari mana, seolah lupa dengan sikap keras ibunya.
Kina berlari menuju rumah Pak Mursa tanpa menoleh ke belakang, melihat ibunya yang diam mematung.
Rumah Pak Mursa ramai oleh warga desa, mereka masih panik atas teror yang terjadi di siang bolong dan hilangnya Nukas membuat desa menjadi gempar.
“Kina!” Dayuti mendekati Kina secara buru-buru, Sayuti sang kakak mengikuti di belakangnya.
“Apa Nukas benar-benar menghilang?” Kina bertanya tanpa basa-basi, Dayuti membawanya ke pinggir, agak jauh dari kerumunan warga.
“Waktu langit gelap, Nukas berada di kamarnya, jadi Bu Mursa pikir ia tidur.”
Kina melihat kamar depan yang jendelanya terbuka lebar, “Saat Bu Mursa mencarinya, jendelanya sudah terbuka lebar dan Nukas menghilang.”
“Mereka membawanya?”
“Ya. Banyak genangan air berwarna hitam di mana-mana, mereka benar-benar mengelilingi desa!”
Genangan air itu terdapat di mana-mana, seperti ada hujan yang mengguyur, jalanan desa menjadi becek dan berlumpur.
“Apa rumah Nenek Niba sudah diperiksa? Mungkin saja dia tidur disana,” ucap Kina, matanya tidak fokus. Dayuti memegangi tangan Kina.
__ADS_1
“Bu Mursa sudah memeriksanya, hasilnya nihil.” Dayuti menarik napas panjang.
“Sebentar lagi mereka akan mengadakan pencarian, kita bisa bergabung.”
“Ya, aku harus menemukannya.” Kina mendengar itu, tetap tidak merasa tenang, ia sangat gelisah. Dayuti mengelus-ngelus punggung temannya itu, mencoba menenangkan.
Pak Mursa berusaha menenangkan dirinya dan warganya yang panik, Ni Lewun datang tak lama kemudian dituntun oleh Eda, suasana mendadak menjadi hening.
Dia sangat dihormati!
“Sanak saudara, aku memohon bantuan kalian dengan amat sangat. Nukas putraku menghilang,” kata Pak Mursa dengan penuh kerendahan hati, warga desa mulai riuh.
“Tolong ... Tolong temukan anakku ....” Bu Mursa menangis menyayat hati, beberapa wanita tengah menopang tubuhnya, menahannya jatuh terkulai ke tanah.
“Dia belum jauh, kita harus menemukannya sebelum senja.” Ni Lewun buka suara, “Kejadian hari ini pasti bukan kebetulan semata, untuk pertama kalinya mereka meneror di siang hari, pasti ada yang membangkitkan kekuatan mereka.”
“Apa kita aman?” tanya Sada, seperti biasa ia selalu bertanya.
“Ya, kita aman selama matahari bersinar. Bocah itu belum jauh, kita harus menemukannya segera.” Ni Lewun berkata, seolah hal itu mutlak, tidak ada satu pun yang protes, mereka justru bersiap-siap mencari Nukas.
Kina melihat Eda, dia diam saja. Warga desa mulai berkeliling, memanggil-manggil nama Nukas, memeriksa setiap sudut desa, namun nihil, Nukas tidak ditemukan di mana pun, bocah itu benar-benar menghilang tanpa jejak.
Kina duduk di bangku pinggir pematang sawah, Dayuti mendekat ke arahnya.
“Apa dia akan baik-baik saja?” Kina bertanya, walau ia tahu Dayuti pun tidak bisa menjawabnya.
“Aku takut ... aku takut kalau aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.” Kina menangis, ia teringat saat terakhir bersama dengan Nukas, mereka bahkan tidak bicara, Kina terlalu takut menyentuhnya akan menyakiti Nukas, seandainya dia tahu jika Nukas akan menghilang, ia akan menjaga Nukas, tidak akan melepaskannya.
Tapi sekarang Nukas menghilang, Kina merasakan penyesalan yang amat dalam.
Dayuti tidak berbicara, dia hanya diam dan mendengarkan semua keluh kesah Kina.
Pencarian Nukas masih terus dilakukan, tetapi harapan itu semakin kecil, semakin lama semakin Nukas menjauh dari desa.
“Dia sudah jauh,” ucap Ni Lewun, Bu Mursa menangis sejadi-jadinya, Pak Mursa hanya diam tertunduk, seolah merelakan Nukas.
__ADS_1
"Kita tidak bisa membiarkan lebih banyak korban berjatuhan. Secepatnya kita harus mengadakan ritual pembersihan desa!"