
Usai pulang dari pemakaman aktivitas desa masih sepi, warga lebih memilih meliburkan pekerjaannya hari ini dan berdiam di rumah, berkumpul dengan keluarga, Kina bahkan melupakan sekolahnya, di hari Selasa yang cerah mereka menghabiskan waktu di kamar masing-masing
Ibunya berteriak dari dapur menyuruhnya membantu kegiatan dapur, Kina menghembuskan napas kesal, beranjak dari kasurnya, menuju dapur
Dilihatnya sang ibu tengah memotong beberapa bahan rempah lalu memasukkannya ke dalam lesung kecil untuk di tumbuk
Kina mulai menumbuk dengan malas-malasan, ia tidak terlalu suka memasak
Melirik ibunya yang tengah mengupas beberapa terong lalu memotongnya kecil-kecil, memasukkannya ke dalam panci dan melirik Kina, Ibunya berdecak
“ANAK GADIS MANA YANG TIDAK BISA MASAK?! HANYA KAMU! MAU KASIH MAKAN APA SUAMI KAMU NANTI?“
Ibunya merebut lesung dan tumbukannya lalu menumbuk dengan cepat, langsung memasukkan rempah ke dalam panci yang telah diletakan di atas api yang menyala
Kina hanya diam menunduk, ia makin meragukan perasaan sayang ibunya jika dari hari ke hari yang ia terima selalu makian
Sang ayah muncul dari pintu belakang membawa beberapa bongkah umbi talas, meletakkannya di samping pintu dan masuk mengambil minum yang terletak di meja dapur
“Lihat anak kamu tuh! lambat sekali, menunggu di perintah baru bergerak!"
Ibunya bersuara nyaring tanpa melihatnya, asyik mengaduk masakan di panci
“Kamu tidak lihat cucian piring menumpuk di belakang! cuci piring sana!“ Lanjut ibunya, Kina menggigit bibirnya menahan tangisnya, hatinya teramat sakit mendengar semua perkataan ibunya, ia menatap sang ayah mencoba meminta pembelaan namun sang ayah hanya diam saja duduk di kursi, buru-buru ia keluar rumah menuju sumur di belakang rumah, terlihat banyak sekali piring yang menumpuk di sana, menumpuk sejak malam tadi
Kina mengatrol air dengan air mata berurai, merasa dirinya teramat sangat hina di mata sang ibu, segala yang ia lakukan terasa salah, apa yang salah justru semakin di besar besarkan oleh ibunya, ia merasa tidak punya kesempatan untuk membela dirinya, tidak berani melawan ataupun membalas perkataan ibunya, hanya bisa diam dan menahan rasa sakit di hatinya membuat lubang yang semakin hari semakin lubang itu semakin besar
Kina tidak terlalu terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, sejak ia tinggal bersama bibinya di kota, ekonomi keluarganya tidak baik-baik saja waktu itu, bibinya mempunyai toko di pasar, tidak besar memang tapi cukup untuk menghidupi Kina sampai sekolah SMP, membuat ia banyak menghabiskan waktu di pasar berdagang daripada di rumah, Kina hafal harga beras sampai sabun, tapi tidak bisa membedakan jahe dengan kunyit, dan ibunya selalu menggunakan kelemahannya untuk menyuruhnya
Piring-piring telah tercuci dengan bersih ketika sang ibu menata makanan di meja makan, Ayahnya telah duduk di kursi, hatinya sedikit hangat karena orang tuanya tidak meninggalkannya untuk makan lebih dulu
Mereka makan dengan diam, hanya sesekali ibunya mengomentari apa yang terjadi hari ini, ayahnya hanya menanggapi dengan gumaman
“YA AMPUN NUKAASS!!"
Suara teriakan bu Yuni, tetangga sebelah terdengar, Kina dan orang tuanya saling pandang, bergegas keluar rumah, di halaman rumah mereka, Nukas tergeletak tak sadarkan diri
“Astaga ini kenapa bu?”
Ibunya berseru panik dengan berlari, bahkan melupakan sandal jepitnya
__ADS_1
“Dia tiba-tiba saja pingsan waktu saya tanya mau ke mana!“
“aduh kasihan sekali kamu naak"
Ibunya berkata dengan lemah lembut, diikuti dengan Bu Yuni yang memijat-mijat kakinya Nukas
Ayah Kina mengendong Nukas ke teras, Kina bergegas mengambil air putih dan menyerahkannya pada ibunya, Bu Yuni masih berteriak-teriak membuat tetangga yang lain berdatangan dengan penasaran
“Dia demam, sebaiknya kita bawa ke Ni Lewun!“
Ayahnya langsung berdiri, membuat Kina keheranan sang ayah adalah orang yang sama pasifnya dengan dirinya, selalu menunggu perintah
Ibunya mengambil dompet dan bergegas mengikuti suaminya, ia melirik sebentar ke arah Kina
“Kamu diam di rumah dan cuci piring!"
Wanita itu berkata dingin, ke mana perkataan lemah lembut tadi? situasi yang membuat bingung
Mereka pergi bergerombol menuju rumah Ni Lewun di tengah desa, Kina hanya menatap kepergian mereka dengan banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya
Salah satunya
Kina semakin ragu
*
Petang telah datang menjemput, Kina berkali-kali mengintip dari balik jendela rumah kayu miliknya, sejak siang tadi keadaan sekitar rumahnya sangat sunyi, seolah tidak ada satu orang pun yang berada disana kecuali Kina, hanya suara anak ayam dari kandang belakang rumahnya yang terdengar
Ayah dan ibunya belum juga pulang bahkan Bu Yuni yang biasanya berisik meneriaki anak-anaknya untuk mandi pun tidak terdengar
Kina hanya mendesah pelan, sebenarnya ia sedikit khawatir dan penasaran apa yang terjadi pada Nukas, tapi ia mencoba berpikir positif, tubuhnya bergerak menutup semua jendela dan pintu kemudian menyalakan lampu di sudut ruangan, duduk diam di ruang tengah, tidak melakukan apa pun, hanya diam memandangi lampu minyak
Malam benar-benar datang saat ia sendirian, orang tuanya tak juga pulang, Kina lelah menunggu, ia beranjak mematikan lampu tiap sudut ruangan dan menuju kamarnya
Sedikit mengintip lagi melalui celah kayu di jendela kamarnya, suasana di luar benar-benar gelap, tak terlihat cahaya dari lampu minyak dari rumah tetangga terdekatnya, ia sedikit was-was, apalagi kemarin ia mengalami kejadian yang sangat aneh, bagaimana jika malam ini ia mengalaminya lagi? Apa laki-laki dengan kantong plastik hitam itu akan datang menemuinya?
Kina dengan berbagai spekulasi buruk mulai menggigil ketakutan, meniup lampu minyak satu-satunya penerangan di rumah ini dan menyembunyikan dirinya di balik selimut, tubuhnya berkeringat dingin, ia tidak mendengar suara apa pun kecuali napasnya sendiri, keadaan di luar sana sangat sunyi dan mencekam
Entah berapa lama ia bersembunyi, matanya telah terkantuk-kantuk, ia pikir dapat melalui malam ini dengan tidur
__ADS_1
DENG…
DENG….
Mata Kina terbuka lebar, tangannya bergerak mengeratkan selimut di tubuhnya, merapat ke dinding, tubuhnya gemetaran, suara lonceng di tengah desa berdentang dua kali, Kina Ingat betul kemarin malam ia juga mendengar suara lonceng tersebut satu kali, dan mengapa malam ini menjadi dua kali?
Pertanda burukkah? apakah orang – orang di malam itu akan mendatanginya?
Ia ketakutan setengah mati
Siapa yang memukul lonceng malam-malam seperti ini?
Ia ingat dulu Bibinya pernah bercerita mengenai lonceng tua di tengah desa, letaknya di atas menara bambu yang tinggi, lonceng itu sudah ada sejak awal desa ini di bentuk, dibuat agar para warga lebih mudah mengawasi ladang dan sawah mereka yang jauh di balik hutan. Dulu sangat rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan
Tapi cerita itu sudah lama sekali, dan sekarang hampir tidak pernah ada lagi kebakaran hutan ataupun lahan di desanya.
Rasa panas di balik selimut tidak ia hiraukan, keringat yang membanjiri tubuhnya, napasnya tertahan ketika mendengar suara ketukan pintu dengan tempo lambat terdengar di depan pintu rumahnya
TOK…
TOK…
TOK..
Hanya tiga kali ketukan namun cukup membuat bulu kuduk merinding, suara gumaman seorang laki-laki di depan pintu terdengar, suara laki-laki kantong plastik kemarin!
Kina menutup kepalanya dengan bantal, mencegah suara gumaman lirih itu masuk ke pendengarannya, namun hal itu sia-sia, bantal miliknya terlalu tipis hanya berisi beberapa kapuk di campur kain perca sisa menjahit pakaian ibunya, ia menangis ketakutan, suara langkah kaki terseret terdengar di samping rumahnya, bukan hanya satu tapi ada banyak, suara kantong plastik yang berisi air yang jatuh juga terdengar, suasana di sekeliling rumahnya sangat ramai, seolah ada pertemuan, gumaman-gumaman itu terdengar tidak hanya suara laki-laki kantong plastik namun beberapa orang, bahkan wanita
Mereka bukan manusia!
Kina yakin hal itu ketika mendengar suara dinding kamarnya yang digaruk oleh kuku dari luar
Kapan orang tuanya pulang?!
Ia sungguh ketakutan!
Merapalkan berbagai doa yang ia pelajari saat di bangku sekolah dasar membuat Kina sedikit tenang. Ia melafalkan doa yang sama berkali-kali hingga mulutnya terasa kering, ia menangis tanpa suara
Entah berapa lama ia bertahan dalam posisi tersebut sayup-sayup gumaman itu menghilang, di gantikan dengan cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah-celah dinding, Kina tersentak segera ia buka selimutnya dan melempar bantalnya dengan napas tersengal-sengal, tubuhnya basah oleh keringat, wajahnya pucat dengan lingkaran hitam di matanya
__ADS_1
Malam tadi benar-benar teror!