
Kina membawa Eda masuk ke rumahnya melalui pintu belakang, ia mengendap-endap ke dapur, melongokkan kepalanya melalui pintu, jendela rumah tertutup rapat, sehingga cahaya tidak masuk ke dalam rumah, Kina mengerutkan keningnya ketika merasakan kakinya menyentuh sebuah cairan hangat di lantai.
“Sudah pulang, Nak?” Suara Ayahnya menyapanya, jendela tiba-tiba terbuka, Kina mematung dengan tubuh kaku, ayahnya entah sejak kapan berdiri di depannya sambil memegang pisau dapur yang berlumuran darah, matanya melotot ke arah Kina, bibirnya tersungging sebuah seringai yang mengerikan.
Apa yang ayahnya lakukan?
“BRAK!”
Kina tersentak, kepala ayahnya dipukul dengan kayu, ia mendapati ibunya berdiri dengan dadanya yang berlumuran darah, wanita itu terbatuk-batuk.
“Lari! Cepat lari dari sini! Pergi ke kota!” Ibunya menunjuk ke luar, Kina terhenyak, ayahnya bangkit dan mendorong istrinya jatuh ke lantai, ibunya jatuh dengan suara berdebam, ia menghunuskan pisau ke Kina, Eda segera menariknya, pisau itu tertancap di pintu.
“Ibu!”
“Kina, lari! Cepat lari sebelum kamu menjadi tumbal!” Wanita itu kembali berteriak dengan penampilannya yang menyedihkan, matanya merah dan memandangi anaknya dengan pilu, Ayahnya kembali menghunus pisau, Eda menyeret Kina dengan langkah terseok, pikiran Kina terasa kosong dan ia linglung.
Ayahnya berniat menghabisi nyawanya dengan sebuah pisau, tidak hanya itu, tapi ibunya juga.
“Kembali kau, anak laknat!” Sang Ayah berteriak, Kina tersentak sadar, ia berlari keluar dari rumah dan mengikuti Eda dengan penuh ketakutan, kakinya yang gemetar itu ia paksa melangkah lebar-lebar, mereka tidak tahu harus kemana lagi, selain lari ke kota.
Teriakan ayahnya rupanya mengundang warga lain, mereka datang dan ikut mengejar Kina dengan berbagai macam senjata, seolah mereka sedang memburu binatang buas yang masuk ke desa mereka.
Kina merasakan jantungnya hampir keluar dari mulutnya, ia lari menerobos hutan bersama Eda, napasnya terengah tidak ia hiraukan, ia tidak berani menoleh ke belakang, warga desa ramai-ramai mengejar mereka.
Kaki mereka menginjak perbatasan desa, jalan kecil menuju kota yang penuh rumput tinggi itu diterobos, Kina dan Eda terus berlari sampai suara warga desa tidak terdengar lagi di belakang mereka.
Kina membuka mulutnya, Eda membawanya ke tepi jembatan, hari sudah mulai petang, cahaya jingga dilangit mulai berpendar, mereka tidak bisa berlari lagi lebih jauh di dalam hutan, mungkin saja bahaya lain akan lebih dulu menyapa mereka.
__ADS_1
“Kita harus sembunyi.” Eda bersuara dengan wajah merahnya, mereka melintasi jembatan kecil itu dengan hati-hati, air beriak di bawahnya, Eda menoleh ke belakang, lalu mendesah pelan warga desa tidak mengejar mereka lagi saat ini, ia melirik air di bawah jembatan dan tertegun.
Bayangan hitam itu tidak hanya ada dibelakang Kina, tapi juga dibelakang dirinya, ia termenung.
“Eda, ada apa?”
“Tidak ada,” sahut Eda dengan bibir gemetar, dadanya berdesir ketakutan, ia menelan ludah. “Kita harus cepat.”
Kina mengangguk kaku, mereka sudah melintasi jembatan, di dekat pohon besar mereka melihat siluet perempuan duduk bersandar di bawah pohon. Kina dan Eda berhenti dengan waspada.
“Ini aku ….” Dayuti menoleh dan mendongak ke arah Kina, air matanya berderai di pipinya, tampaknya ia sudah lama menangis, matanya sembab dan merah.
“Dayuti? Apa yang terjadi?” Kina mendekat dan membantu Dayuti berdiri, gadis itu memeluk Kina sambil menangis terisak-isak.
“Kakakku … kakakku … sudah ….” Dayuti tidak mampu berkata apa-apa lagi ia menangis dengan keras.
Eda hanya diam di belakang dua gadis itu, ia menatap lekat Dayuti, keningnya berkerut dengan heran.
“Kita harus pergi dari sini,” ujar Dayuti dengan tergugu, bibir pucatnya bergetar. “Aku ingat jalannya.”
Kina melirik Eda, lalu mengangguk kaku. Mereka bertiga berjalan dengan pelan sambil menatap sekeliling dengan was-was, kaki-kaki mereka menginjak lumpur, sesekali tergores ranting dan semak belukar di sisi jalan, Kina mengerutkan keningnya ketika merasa jalan yang mereka lalui semakin berlumpur.
“Apa kau yakin kita di jalan yang benar?” Tanya Kina sambil menoleh pada Dayuti, gadis di sampingnya itu mendongak dan menoleh ke sana kemari, ia menghentikan langkahnya.
“Kina, maafkan aku.”
“ARGH!”
__ADS_1
Eda menjerit keras, dadanya ditikam sebuah pisau dari belakang, ia terbatuk-batuk, rasa sakit yang amat sangat mendera tepat di jantungnya, darah merembes tanpa kendali.
Dayuti menatap Kina dengan air mata berurai, Eda yang ada di belakang Kina tiba-tiba ambruk jatuh ke tanah. Kina menoleh, ia membelalakkan matanya, seorang wanita berdiri dengan pisau yang berlumuran darah, itu adalah Sayuti.
Eda merasakan napasnya terputus-putus, ia menatap Kina, bibirnya membuka dan menutup, mengisyaratkan agar Kina segera lari.
“Apa yang kau lakukan?” Kina jatuh terduduk dan memegangi tangan Eda, air matanya langsung jatuh tanpa kendali, ia mendongak menatap dua kakak beradik itu dengan pandangan nanar.
“Maafkan aku, aku ingin hidup.”
Dayuti menangis tersedu, ia membuang muka dari Kina, sedangkan Sayuti menatap dengan datar, ia terlihat tidak memiliki emosi sama sekali.
Eda terbatuk dan mengeluarkan darah, napasnya semakin pendek dan tubuhnya menjadi semakin dingin, semakin dekat dengan ajalnya, ia berada di pangkuan Kina saat ini, pandangannya mulai mengabur, ia melihat mayat lain tergantung di atas kepala mereka, itu adalah Arna yang beberapa jam lalu memberi mereka peringatan, seharusnya Eda mempercayai Arna.
Eda menutup matanya dengan pelan. Kina melihat mayat Arna, dayuti dan Sayuti bergantian, ia menangis dengan keras.
“Apa yang kalian inginkan? Kenapa membunuh begitu banyak orang?”
Sayuti menarik tangan Kina, memaksanya untuk berdiri, Eda jatuh ke tanah berlumpur dan tidak lagi bergerak, Kina menjerit dengan keras, ia tidak bisa menerima kenyataan jika teman yang paling ia percayai mati begitu saja di depannya, ia meraung dan meronta-ronta, teringat darah yang mengucur di dada ibunya, teringat dengan Nukas yang tergantung di pohon, ada berapa banyak orang terdekatnya yang mati dengan mengerikan?
Apa ia akan berakhir seperti mereka juga?
warga desa datang mengerumuni mereka dari segala penjuru, ia dibopong dengan kasar, tak peduli seberapa keras ia memberontak dan berteriak, tubuhnya dipegang dengan erat, ia dibawa kembali ke desa dengan tidak berdaya, telinganya berdengung dengan keras, kepalanya berdenyut sakit, ia merasakan tubuhnya dingin, rasa-rasanya ia tidak ingin lagi bernapas, semuanya terasa mengerikan.
Kina menutup matanya, ia mendengar sayup-sayup warga desa berbicara tentang bahasa yang ia tidak mengerti, ia hanya diam dan terus menangis, diam-diam menyesali keputusannya, seharusnya ia tidak pernah berniat untuk pulang ke desa kelahirannya, seharusnya ia tetap di kota saja, tidak apa tinggal sendiri, asal ia tidak bertemu dengan kegilaan ini.
Kini, nasi telah menjadi bubur, ia akan bernasib sama dengan Nukas, tidak apa. Setidaknya ia dapat mengenal Nukas selama hidupnya.
__ADS_1