After I Die

After I Die
Kepanikan di Tengah Hujan


__ADS_3

“Pak Mursa tewas!?” Suara melengking diiringi dengan bunyi pecahan kaca sontak terdengar, wanita itu jatuh terduduk di tanah, tangannya menggores pecahan-pecahan kaca, membuat luka menganga ditangannya.


“Bagaimana ini, Ni?!” Sada datang dengan napas terengah-engah, keringat bercampur air hujan membasahi tubuhnya, wajahnya sudah seputih kertas, warga desa berdatangan dengan cemas.


“Bukankah seharusnya tidak ada teror lagi, Ni?!” Barka ikut bersuara, laki-laki itu masih memikul keranjang buah, ia menatap Ni Lewun dengan sorot mata menuduh, antara tidak percaya dan kecewa.


Satu-satunya orang yang paling mereka percaya di desa ini adalah Ni Lewun, sang tabib desa. Kalau bukan Ni


Lewun kepada siapa lagi mereka meminta perlindungan?


Warga desa mulai ricuh di depan halaman Pak Mursa, ketakutan, mayat Pak Mursa telah diturunkan dan siap dikuburkan, hanya saja hujan yang makin deras membuat mereka terpaksa menundanya. Bu Mursa duduk di teras dengan pandangan mata kosong, tidak peduli dengan kasak-kusuk dinsekitarnya.


“Sudah, sudah.” Sada menenangkan warga seadanya, jika terus seperti ini bisa-bisa Ni Lewun akan jadi sasaran


amukan warga.


Ni Lewun dibantu berdiri oleh Sada, tangannya gemetar, wajahnya juga tak kalah pucatnya, ia duduk di teras


berdebu itu, menatap satu persatu warga desa yang melihatnya dengan cemas, mereka punya ketakutan yang sama, jika masih ada orang yang mati dengan cara mengenaskan seperti ini, berarti teror mayat hidup masih belum berakhir.


“Itu berarti, Nenek Niba bukan ratunya?” Seorang warga dengan payung hijau lebar berteriak dari belakang


kerumunan warga, perkataannya sontak membuat warga makin panik dan merasa bersalah.


“Kita membunuh orang yang tidak bersalah?!”


Sada yang berdiri di dekat Ni Lewun mendengus. “Belum tentu, Nenek tua itu abadi, mungkin saja ia sebenarnya


belum mati saat ritual kemarin!”


Warga mulai kasak-kusuk lagi, sebagian membenarkan ucapan Sada dan mendukung Ni Lewun, sebagian lagi mulai merasa tidak bisa lagi mempercayai Ni Lewun.


“Padahal beberapa malam ini kita aman-aman saja.”


“Benar, lonceng juga sudah tidak berbunyi lagi.”


Ni Lewun buru-buru mendongak dan menatap Sada, ia baru menyadari sesuatu yang sangat penting sekarang. “Eda! Cari Eda sekarang!”


Lonceng yang sangat vital di desa ini, tiga hari. Selama tiga hari tidak pernah ada lagi suara dentangan itu

__ADS_1


terdengar, sosok pemuda itu pun tidak terlihat lagi, warga dan Ni Lewun berpikir karena desa sudah aman maka tugas Eda berakhir.


Tanpa penjaga lonceng, desa tidak aman. Mayat hidup akan muncul begitu saja tanpa disadari siapa pun.


Sada mengerutkan keningnya bingung, ia ingin bertanya apa maksud dari perkataan Ni Lewun, namun melihat


wanita itu yang masih terlihat gemetaran dan pucat, ia mengurungkan niatnya, tanpa nasa-basi ia berlari menuju rumah sang penjaga lonceng.


“Kenapa Ni? Apa yang terjadi?” Warga bertanya dengan bingung.


Ni Lewun bangkit dan berdiri di teras, ia memegang tongkatnya dan menarik napas panjang, matanya menerawang ke langit, menatap menara lonceng yang berdiri kokoh di tengah desa.


“Jika penjaga lonceng menghilang,kita semua dalam bahaya.” Ni Lewun mengetuk-ngetukan tongkatnya, “Aku tidak


tahu jika dia sekuat itu, ritual kemarin gagal.”


Warga desa yang berkumpul di halaman Pak Mursa terhenyak kaget, tak ayal mereka menjadi semakin panik dan


ketakutan. Jika orang sehebat Ni Lewun saja bisa gagal, bagaimana dengan


mereka? Mereka akan menjadi mayat hidup cepat atau lambat.


“Kalau begitu, Ni. Kita tinggal mengurung diri sehabis senja seperti dulu lagi ‘kan?” Orang berpayung hijau di


Rinai hujan mulai memasuki pendengaran mereka, semakin lama semakin deras, namun tidak ada satu pun warga


yang berniat bergerak dari tempatnya, bagi mereka rasa gemetar dan menggigil akibat kedinginan ini tidak sebanding dengan rasa takut yang menjerat kehidupan mereka di desa ini.


“Masalahnya tidak sesederhana itu.” Ni Lewun terlihat berpikir keras, alisnya saling bertaut, tubuhnya


membungkuk dan ditopang satu-satunya tongkat penyangga.


Dayuti yang duduk tak jauh dari Bu Mursa menatap wanita itu, padahal ia yakin betul, jika ritual pembersihan


desa kemarin sukses, ia menyaksikan sendiri segala sesuatunya dari awal sampai akhir, dari api kecil itu membara dan melahap habis Nenek Niba sampai menjadi abu, orang itu sudah mati, tubuhnya pun telah tiada.


Apakah Ni Lewun melakukan kesalahan?


Suara langkah kaki berlari datang dari kejauhan, Sadasatang dengan tergopoh-gopoh, bajunya telah basah sepenuhnya, kaki-kaki gemetaran itu berdiri di hadapan Ni Lewun.

__ADS_1


“Bagaimana?” Ni Lewun tidak menunggu Sada menetralkan napasnya, ia langsung bertanya dengan harap-harap


cemas.


Sada menggeleng, para warga pun langsung terdiam.


“Katakan!”


Sada menelan ludah, ia menatap Ni Lewun. “Dia menghilang, seluruh rumahnya sama seperti disini … Banyak air hitam dimana-mana, membanjiri lantai.”


Ni Lewun kembali terduduk, tongkat bergulir ke lantai, mengusap wajahnya dengan kasar, ia mengerang dengan


putus asa.


Dayuti mendengar itu semua dengan tubuh yang semakin menggigil, Eda menghilang, jika Kina mengetahuinya, apa yang akan dia lakukan? Temannya itu sudah kepalang stres akibat tewasnya Nukas dan kini, Eda menghilang, besar kemungkinan temannya itu juga akan menjadi mayat ketika ditemukan.


Kina akan menggila.


Tidak, semua orang akan menjadi gila, ini sudah keberapa kali warga tewas dengan cara yang hampir sama, tewas


tergantung, tewas di dasar sumur dan danau, menunggu sampai berapa orang lagi yang akan mati? Cepat atau lambat tidak hanya Eda saja yang menjadi mayat, Kina dan ia sendiri akan tewas dengan mengenaskan seperti ini.


“Tidak apa, Ni. Tugas penjaga lonceng akan aku ambil alih,” ucap Sada setelah sekian lama ia berdiam


mendengarkan kasak-kusuk warga yang panik.


Ni Lewun menggeleng, tersenyum pahit. “Kamu tidak akan bisa memikul tanggung jawab itu.”


“Apa maksudmu, Ni?”


“Penjaga lonceng harus keturunan langsung tetua desa. Mereka bukan orang sembarangan.” Ni Lewun mendengus, Ia mengambil tongkat dan berdiri, mendekati Bu Mursa yang masih duduk sambil memeluk rantang nasi, ia menamparnya hingga wanita itu jatuh ke lantai.


“Kita harus mencari pengkhianatnya.” Wanita itu memandang satu persatu warga desa dengan sorot mata


dingin, membuat warga mulai bergidik ngeri. “Jika benar wanita tua itu bukan ratunya, itu berarti ia memiliki pengikut dan dia ada diantara kita.”


Semua orang saling pandang dan menelan ludah. Ni Lewun mengambil pisau yang selama ini tersimpan apik di belakang punggungnya, mengeluarkannya dari gagangnya.


Butiran-butiran hujan yang jatuh dari langit tidak menampakkan tanda-tanda berhenti, semakin deras, seolah

__ADS_1


mendukung perkataan sang tabib, air menggenang dan berlumpur, pepohonan yang mengelilingi desa bergoyang-goyang ditiup angin, seorang perempuan muda mengintip di balik pohon besar dengan tudung hitam, kukunya mencakar-cakar pohon, bibirnya yang hampir membiru itu terus bergumam-gumam.


“Bohong … bohong … wanita pembohong ….”


__ADS_2