
Seperti biasanya, Nukas datang ke warung nasi habang sambil menenteng rantang di tangan mungilnya, wajahnya bersinar-sinar ketika melihat Kina meraih tangannya untuk diantar pulang, mereka berjalan berdampingan, seperti kakak dan adik.
Hari belum terlalu sore, Nukas datang lebih awal, mungkin bocah ini sudah mengetahui hukum desa yang diumumkan kemarin.
Nukas sesekali meloncat-loncat dari satu batu ke batu lainnya, memetik daun-daun lalu menghamburkannya di jalan setapak itu, sesekali ia terkikik, tenggelam dalam dunianya sendiri.
“Hei, mau ini tidak?” Kina mengambil jambu merah di pinggir jalan, mencoba menarik perhatian Nukas.
Mereka melalui jalan yang jarang digunakan warga desa, melintasi kebun buah dan bambu, serta sungai kecil.
Kina sengaja membawa Nukas ke jalan yang sunyi itu.
Mata bocah itu berbinar, mencoba mengambil jambu merah yang menggiurkan itu, tetapi Kina mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas, hingga bocah itu melompat-lompat.
Merasa usahanya sia-sia Nukas berhenti melompat, menatap Kina dengan wajah cemberut.
“Coba bilang, aku mau jambu” Ujar Kina masih dengan tangan terangkat, ia ingin memastikan apa yang bu Mursa ucapkan tempo hari lalu adalah kebohongan.
Atau mereka tidak pernah mendengar Nukas berbicara?
Kina selalu memperhatikan Nukas yang datang hampir setiap hari ke warung nasi habang ibunya, bocah itu tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun, hanya mengangguk, menggeleng dan tertawa, bertingkah seperti orang bisu.
Nukas diam sejenak, melirik ke kanan dan ke kiri, hanya ada pepohonan dan sungai di sekitar mereka.
“Nukas” Kina mendesak Nukas yang terlihat enggan.
“Nukas mau jambu” bocah itu berkata dengan pelan, matanya masih memandang jambu itu dengan berkaca-kaca, ingin menangis.
“Kau tidak bisu”
Kina berjongkok menyamakan tingginya dengan Nukas, buah jambu di tangannya disambar dengan cepat, bocah itu beranjak ke sungai, mencuci buah itu dan memakannya dengan riang.
Kenapa bu Mursa bilang dia tidak bisa bicara?
“kenapa Nukas tidak marah dibilang bisu? kan Nukas bisa bicara” Bocah itu tak menghiraukannya, Kina ikut duduk di sampingnya, di atas batu.
“Nukas, kalau orang bertanya harus dijawab”
“Nukas tidak boleh” Ujar bocah itu akhirnya, Kina semakin penasaran.
__ADS_1
“Kenapa tidak boleh?”
“Tidak boleh, pokoknya tidak boleh”
Jambu di tangannya telah habis dimakan, Nukas menjulurkan tangannya ke sungai mencuci tangan dan mulutnya.
“Siapa yang bilang tidak boleh?”
Nukas tidak menjawab membawa rantang yang sedari tadi di taruh di pinggir jalan, Kina mendengus, bocah ini berniat meninggalkannya.
“Nukas!” Kina menarik baju kebesaran yang di pakai Nukas, terlihat bekas luka memanjang di punggungnya, tanpa pikir panjang Kina langsung menyingkapnya.
“Apa ini!?”
Nukas diam dengan mata berkaca-kaca, benar-benar akan menangis.
“Nukas beritahu kakak siapa yang melakukan ini?” Kina memekik, hampir menangis karena ngeri, punggung bocah itu penuh dengan guratan bekas luka memanjang, seperti bekas lecutan cambuk.
siapa yang begitu kejam melakukan ini?!
Punggung kecil itu di penuhi luka lama dan baru, artinya Nukas tidak hanya dicambuk sekali dua kali, mungkin juga berkali-kali.
“Siapa?” Kina menatap Nukas yang sudah menangis tanpa suara, wajahnya pias, penuh air mata.
Kina terdiam, ragu, apa dia bisa menyelamatkan Nukas? Bagaimana pun ia adalah orang asing bagi Nukas, ia merasa tidak berhak mencampuri urusan keluarga orang lain, mungkin saja ini bentuk kedisiplinan pada Nukas.
“Apa dia orang yang sama? Yang melarang Nukas bicara?” Mengalihkan topik, ia menyentuh luka di punggug Nukas
Nukas menjerit tiba-tiba, merasa sakit, Kina tidak hanya menyentuh tetapi juga menekannya, ia ingin kabur tapi Kina menangkap dan merangkulnya erat.
“Siapa? Bu Mursa? Pak Mursa? Mama?” Kina tidak menyerah, bertanya dengan nada memaksa, di sini hanya ada mereka berdua, Kina tidak akan segan, bocah itu memberontak menangis tergugu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kalau bukan mereka siapa?
Nenek Niba?
Kina sejak awal merasa ada yang aneh pada nenek tua yang tidak bisa mati itu.
“Nenek?”
__ADS_1
Tapi bagaimana mungkin, ini adalah pertanyaan gila, mana mungkin nenek tua sekarat itu mencambuk Nukas?
Bagaimana jika sebaliknya? Nenek tua itu tidak benar-benar sekarat
Untungnya Nukas menggeleng, membuat berbagai spekulasi Kina menguap begitu saja, Kina tersadar saat tangannya menyentuh cairan hangat berwarna merah di punggung bocah itu.
Lukanya terbuka
“Maafkan aku” Kina tidak dapat lagi menahan rasa sedihnya, ia menangis tersedu-sedu sambil merangkul Nukas dengan erat, mereka saling menangis beberapa saat hingga Kina beranjak berdiri mengambil daun di pinggir sungai dan menumbuknya dengan batu, tanpa berkata-kata menempelkan daun itu di punggung Nukas.
“Ayo kakak antar pulang” Ujarnya lembut setelah melihat Nukas yang mulai tenang dan lukanya berhenti berdarah. Mereka berjalan bergandengan tak saling bicara, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sebenarnya beban berat apa yang ditanggung Nukas?
Kina tidak tahu apa-apa tentang Nukas selain dia anak dari istri kedua Pak Mursa, dia juga tidak tahu seperti apa rupa ibunya Nukas.
Seharusnya bukan hanya Kina saja yang mengetahui bekas luka itu, beberapa hari yang lalu bocah ini pingsan di depan rumahnya, orang tuanya membawa Nukas ke Ni Lewun.
Berarti mereka tahu, tetapi mengapa mereka diam saja? Bu Mursa yang menemani Nukas ke warung juga mestilah tahu hal ini.
Siapa? Siapa yang begitu kejam melakukan ini?
Kina berpikir keras hingga mereka sampai di halaman rumah Nenek Niba, Nukas tidak berkata-kata dan tidak juga menatapnya, bocah itu langsung mengambil kunci di pot, masuk dan menutup pintu dengan cepat.
Kina berdecak, mungkin bocah itu masih marah, ia berniat berbalik pulang, namun terhenti ketika mendengar bunyi barang pecah di dalam.
Apa Nukas dipukuli lagi?
Ragu-ragu Kina mendekat ke pintu, menempelkan telinganya, tak terdengar apa pun, ia memutar gagang pintu, tidak terkunci. Dengan pelan Kina membuka pintu, sambil menahan napas ia masuk dengan berjinjit
pelan. Ia tidak menemukan sesuatu yang aneh hingga kakinya berhenti di depan pintu dapur. Di sana Nukas duduk bersimpuh, mengumpulkan pecahan piring di depannya, Kina menghela napas lega, ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan, bocah itu pasti tidak sengaja menjatuhkannya.
“Sudah?”
Sebuah suara serak terdengar, Kina melihat Nukas mendongak sambil tersenyum, bocah itu bergerak menuju tempat sampah, Kina bersembunyi di balik lemari.
“Ayo tidur” Ujar suara serak itu lagi, Kina menduga itu adalah suara ibu Nukas.
Tunggu, mengapa ia sembunyi? Ia harus berbicara pada wanita itu tentang luka dipunggung Nukas.
__ADS_1
Suara tawa Nukas terdengar, Kina hendak keluar dari balik lemari namun urung ketika mendengar Nukas bersuara dengan riang.
“Ayo, Nenek”