
Suara bising berlomba-lomba memasuki indera pendengaran Kina, gadis itu mengerang, meringkuk menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya, bunyi gedoran dan teriakan saling menyahut, Kina memejamkan matanya, lalu
bangkit duduk, kepalanya terasa pusing, pandangannya berkunang-kunang.
“Di mana aku?” Kina tersentak, menoleh ke kanan dan ke kiri, meraba rambutnya yang basah oleh keringat, ia terduduk di atas ranjangnya sendiri, tirai di jendela bergoyang tertiup angin, cahaya matahari masih malu-malu
masuk, udara dingin karena embun masih kentara terasa.
“Bukannya aku di rumah Nenek Niba?” Kina bertanya pada dirinya sendiri, ia berdiri dengan terhuyung-huyung, teriakan dari luar masih saling bersahutan, menambah riuhnya pagi.
Kina tidak mengerti dengan apa yang terjadi, memegangi kepalanya yang berdenyut, kejadian yang ia alami tadi pasti bukan mimpi, terlalu nyata untuk dianggap mimpi, ia meraba bajunya, masih sama persis dengan
yang di pakainya tadi malam, ia bertanya-tanya dengan bingung, apa ia salah lagi? Apa malam tadi itu mimpi?
Suara riuh terdengar lagi, ia melongokkan kepalanya keluar jendela, tampak beberapa warga keluar rumah dengan berbondong-bondong.
“Kina?!” Ibunya membuka pintu kamar, raut wajah khawatir kentara jelas terlihat di wajahnya, wanita itu menghela napas lega ketika melihat anak gadisnya berdiam di depan jendela yang terbuka lebar.
“Ibu, apa yang terjadi?”
Sang ibu, menggosok lengannya, dengan senyum paksa ia berucap,”Ritual pembersihan desa.”
Kina kembali melihat keluar, tampak beberapa pria dewasa membawa obor ditangannya, berjalan sambil berteriak-teriak. Ia tidak mau menerka, tapi semuanya terlalu terlihat jelas, warga akan membakar sesuatu.
“Aku ingin lihat.”
Ibu Kina tidak berkata apa-apa, mencoba melarang pun sepertinya percuma, anaknya sudah berubah, dia bukan sosok lemah yang bisa ia atur lagi, ia hanya diam tanpa suara ketika sang anak berlalu melewatinya.
__ADS_1
Kina melihat ayahnya yang baru saja turun dari teras rumah membawa obor yang menyala, raut ayahnya bukan seperti biasanya, Kina melirik ibunya yang berdiri sambil memegang pintu, wanita itu menggeleng dengan wajah
yang aneh.
“Di mana ritual pembersihan desa itu, Ayah?” Kina bertanya, berusaha mengimbangi langkah lebar sang ayah, ia semakin tidak mengenali ayah dan ibunya, sikap mereka berubah, raut wajahnya dingin, beberapa warga
berpapasan dengan mereka, mereka juga menunjukkan raut wajah yang sama, dengan tangan yang memegang obor.
Mereka berjalan sampai ke ujung desa, banyak warga desa yang berkumpul disana, di depan rumah Nenek Niba, Kina mendongak menatap sang ayah, lagi-lagi ayahnya mengabaikannya.
Di depan teras, nenek tua berambut putih duduk di kursi goyangnya, Ni Lewun berdiri tak jauh darinya, beberapa sajen berjejer di bawah kakinya, wanita itu tengah merapal beberapa kata yang asing, aroma dupa menguar, tampak beberapa warga menyembelih beberapa ayam hitam, kambing hitam, sapi hitam dan mengucurkan darahnya di sekitar Nenek Niba, beberapa bunga di lempar kesana disertai guyuran air.
Nenek Niba yang ia lihat tadi malam dan sekarang memiliki sorot mata yang sama, bibirnya bergerak pelan, matanya nyalang menatap warga dengan kilatan kebencian, tubuhnya diikat dengan tali dari ijuk sedemikian
rupa, Ni Lewun sesekali meninggikan suaranya.
serta ayahnya Eda adalah ulahnya, dia adalah ratu mayat hidup, orang yang mengendalikan mayat hidup, sang penganut ilmu hitam.
Ni Lewun berteriak lagi, kali ini wanita itu menggores lengannya dengan belati, mengucurkan daranya di sekitar Nenek Niba, wanita tua ringkih itu diam tak bergerak, seolah tidak berdaya dengan apa yang terjadi, tidak hanya itu, para warga ikut menggores lengan mereka, menjatuhkannya ke tanah, Kina tersentak, saat lengannya ditarik dan digores dengan pisau lipat oleh ayahnya.
Kina meringis, buru-buru menarik tangannya, beberapa tetes darah jatuh ke tanah, ia menatap ayahnya dengan sengit, hampir berniat menyerapahinya, namun mulutnya segera ditutup oleh seseorang.
Di belakang Kina Dayuti memeganginya sambil menggeleng, bibirnya terkatup rapat, lengan berdarahnya yang merangkul Kina bercucuran membasahi baju depan Kina, gadis itu tertegun, di belakang Kina juga ada Eda
dengan kondisi lengan yang sama, menatapnya sambil menempelkan telunjuknya di bibir, Kina menoleh lagi, ayahnya bergerak menggores lengan ibunya yang baru datang, wanita itu tidak berkata apa-apa, hanya menggigit bibir.
‘Sebenarnya apa yang telah terjadi?’
__ADS_1
Kemudian Ni Lewun berteriak lagi, wanita itu mundur dar teras Nenek Niba, para warga mulai mengelilingi rumah tua itu, mengacungkan obor tinggi-tinggi dan melemparnya ke setiap sudut rumah, api dengan cepat
menari-nari mewarnai pagi yang dingin itu.
Nenek Niba dilempari api, jatuh ke pangkuannya, api yang diisi minyak itu menyala dengan membara, melahap tubuh tua itu tanpa ampun, anehnya nenek Niba tidak bereaksi, menutup matanya dan diam, seolah tidak
merasakan betapa sakitnya kulitnya dijilat oleh api, bunyi gemerutuk kayu yang patah mulai berbunyi, kursi goyang yang menjadi satu-satunya penyangga itu patah satu demi satu hingga membuat tubuh wanita tua yang setengah gosong itu jatuh ke lantai, cahaya merah semakin berpendar diatas rumah tua itu, terasa panas dari waktu ke waktu, api semakin besar, sesekali memercikkan puing-puing kayu, aroma dagng terbakar mulai menguar diudara, membuat siapa pun menelan ludah, menahan kengerian di pagi yang dingin ini.
Kina mundur dan hampir terjatuh, menyaksikan seorang manusia terbakar hidup-hidup di depannya, tidak tahan ia setengah berlari dan muntah, Dayuti menyusulnya, mencoba menahan tubuhnya, menepuk-nepuk punggungnya.
“Tidak apa-apa, semuanya akan berakhir.” Dayuti berkata dengan lirih, tubuhnya berkeringat deras karena panas dan ngeri, Eda datang menyusul dengan kondisi yang sama, mereka bertiga saling tatap, lalu menoleh ke
belakang, di mana asap hitam membumbung tinggi menghiasi langit, para warga tak ada yang berbicara, mereka semua tetap diam menatap dengan dingin.
Kina tidak merasakan rasa apa-apa di hatinya, ia hanya merasa ngeri dan jijik bersamaan, ia menengadah menatap Eda yang berdiri di depannya, alis laki-laki itu bertaut, giginya gemerutuk menahan amarah.
“Aku tidak mengerti, kenapa harus hidup abadi?” Eda bergumam, ia kembali mengingat ayahnya dimana pria itu masih hidup dan tersenyum padanya, setiap pria itu pulang selalu membawa kantung plastik berisi
makanan untuk mereka berdua, tidak muluk-muluk, kadang hanya beberapa ubi rebus, jagung rebus atau buah yang dibelinya dari tetangga sekitar, ayahnya adalah pria baik-baik, hatinya lembut, ia bahkan tidak membiarkan tetangganya kesusahan, mengapa harus bernasib setragis ini? Menjadi tumbal nenek tua yang ingin hidup abadi, mengapa harus ayahnya? Hidup abadi selama-lamanya apa untungnya jika harus mengorbankannya nyawa orang lain.
“Dia pantas mendapatkannya.” Dayuti ikut bergumam, Kina berdiri dan memeluk Eda, ia merasakan kepahitan yang sama, seandainya saja, sejak awal ritual ini dilaksanakan sebelum banyak korban berjatuhan, bukankah Nukas akan tetap hidup? Bocah itu pasti akan datang setiap sore membeli nasi habang buatan ibunya, bukan?
Kina menggeram, matanya menatap tajam kobaran api yang meninggi, giginya gemerutuk, nenek tua itu benar-benar tidak tahu diuntung, Nukas merawatnya dan memberi makan setiap hari, tetapi yang didapat bocah polos
itu hanya kematian tragis, wanita tua itu pantas mendapatkannya, pembalasan dendam ini setimpal.
Kina sudah memutuskan, besok, ia harus pindah ke kota.
__ADS_1