After I Die

After I Die
Kematian Kedua


__ADS_3

“Nak, antarkan Nukas pulang ke rumah, “ ucap Ayah Kina membuat Kina yang sedari tadi melipat serbet tersentak kaget, ia melamun, mengingat mimpinya malam tadi, seolah mimpi itu adalah hal yang nyata, Kina masih merasakan sesak di dadanya karena air sungai dan rasa sakit menyakitkan pada kepalanya karena terhempas di batu.


Kina melirik Ayahnya yang berbicara dengan ibunya, mereka memang tidak semesra pasangan lain, tidak dekat, tapi tidak jauh, semuanya terlihat biasa saja, tidak ada yang aneh.


Ibunya masih suka memakinya, ayahnya yang pasif dan tidak pernah membela apa pun untuknya, serta Kina yang selalu dicap lambat. Semuanya normal.


Itu pasti hanya bunga tidur, Kina terlalu memikirkan banyak hal.


Ayahnya tidak mungkin punya niat membunuhnya, semakin mengingat-ingat mimpi itu, kepalanya makin sakit.


Kina melipat serbet terakhirnya, dan beranjak menuju Nukas yang telah menunggunya dengan rantang di tangannya.


“Ingat langsung pulang!” Ibunya berteriak dari dapur, Kina hanya berdecak malas, namun dalam hati ia mengiyakan ucapan ibunya, untuk tidak melanggar hukum desa.


Ia tidak ingin bertemu mayat hidup dan rumah adalah tempat paling aman dari mereka.


Kina dan Nukas bergandengan tangan berjalan dalam diam. Sesekali Kina menyapa warga desa yang berpapasan dengan mereka.


Setelah Nukas menangis di hadapannya, Kina tidak berani menyentuh bocah itu sembarangan, takut ada luka baru di tubuhnya, ia juga tidak berani bertanya tentang hal itu, tidak juga menuntut Nukas untuk berbicara padanya.


Ia tidak ingin Nukas menjauhinya, bagaimana pun bocah ini sudah ia anggap adiknya sendiri.


DENG...


DENG...


Suara lonceng menggaung dari menara kayu, dua kali, dari kejauhan Kina yakin yang menggoyangkan itu adalah Eda. Kina menelan ludah, akhir-akhir ini suara lonceng menjadi pertanda buruk, tiba-tiba ia merasa gugup.


Warga desa terlihat terburu-buru, berlarian ke arah jalan yang mereka tuju, membuat Kina bertanya-tanya, ia mencegat seorang remaja laki-laki yang kebetulan datang dari arah berlawanan, “Ada apa?”


“Ada mayat di dalam sumur Nenek Niba!” sahutnya lantang, melepas tangannya dan berlari menjauh.

__ADS_1


“Sumur Nenek Niba?” Kina bergumam pelan melirik Nukas yang terlihat gemetar.


Disana, mama tidur disana.


Nukas di sampingnya tiba-tiba melempar rantang, membuat bubur berhamburan di tanah dan berlari menuju rumah Nenek Niba, Kina mengikutinya dengan panik, berteriak-teriak memanggil Nukas.


“Nukas, tunggu!” Kina berteriak.


"Hei, Nukas!" bocah itu mengabaikannya.


Rumah kayu yang mulanya sepi dan hampir tak pernah disambangi warga itu tiba-tiba dipenuhi warga, terutama sumur yang terletak di samping rumah, terlihat beberapa orang laki-laki tengah menarik sesuatu keluar dari dalam sumur.


Bu Mursa langsung menangkap tubuh Nukas yang tengah berlari menuju sumur, ia mengusap-usap punggung Nukas, menepuk-nepuk kepalanya, mencoba menenangkan bocah itu.


“Nak, tenang nak.”


Nukas membuka mulutnya, seolah ingin berteriak, namun yang terdengar hanyalah suara akhh yang tertahan, seperti tenggorokannya di tusuk paku.


"Tidak apa-apa, Nukas sama ibu saja."


Mengapa bocah ini masih pura-pura? Sebegitu takutkah dia bicara?


Kina masih penasaran alasan Nukas tapi ia tidak dapat berbuat banyak.


Bocah itu menangis, memberontak dari pelukan bu Mursa, semakin ia memberontak semakin erat wanita itu memeluknya.


Kina mengalihkan perhatiannya ketika warga desa berseru panik, sesuatu berhasil diangkat keluar, sesosok tubuh mengenakan gaun hitam panjang dan rambut terurai menutupi wajahnya, matanya yang melotot mengintip di celah-celah rambutnya. Tubuhnya membengkak, mengeluarkan bau tidak sedap, sepertinya sudah mati berhari-hari.


Warga desa yang ada di sekitar sana langsung menjauh sambil menutup hidung, ada juga yang muntah-muntah. Kina tetap bertahan di samping bu Mursa dan Nukas, diam mematung.


“Mm..aa..a...” Nukas terlihat berusaha keras untuk bersuara, namun suaranya terdengar seperti orang yang sedang mengulum air. Tangannya menggapai-gapai udara.

__ADS_1


“Narsih, itu Narsih!” Wanita itu memekik, membalikkan badannya dan memeluk kepala Nukas, bocah itu terdiam, tak berontak, seoalh mengerti sang ibu telah tiada, kemudian menangis sesegukan.


“Astaga Narsih! Istri Pak kades!”


“Narsih? Bukannya kerja di kota?”


“Ia sudah lama tidak terlihat.”


Warga desa mulai beropini, Kina melihat Pak Mursa memanggil-manggil nama istri keduanya dengan pilu, membelai rambut panjangnya, lalu memeluknya penuh kasih, mengabaikan bau yang menyengat dan tatapan jijik warga akan tubuh Narsih yang membengkak.


Sudah ada dua kematian di desa dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, semuanya tidak wajar. Apa kematian ini ada hubungannya dengan kematian Ayah Eda? Kina tidak tahu persis seperti apa kematiannya, yang ia dengar dari Bu Yuni kalau laki-laki itu tewas tenggelam di rawa, tak jauh dari belakang rumahnya.


Warga desa tidak bisa memanggil polisi karena desa Damung sangat terpencil, dan polisi tidak akan mungkin mau menginvestigasi kematian di dalam sumur atau tenggelam di rawa, paling-paling hanya di anggap kasus bunuh diri karena masalah rumah tangga.


Kina tidak pernah mengenal Narsih, tidak pernah bertemu juga sebelumnya, selain yang ia tahu wanita ini adalah ibu Nukas, beberapa waktu yang lalu bu Mursa bilang jika dia bekerja di kota, dan Dayuti mengatakan jika Nukas tidak pernah bersama orang dewasa selama ini.


Ini membingungkan, Kina tidak dapat megetahui apa wanita ini bunuh diri atau dibunuh.


Kina mengingat Nukas yang menunjuk sumur itu ketika ia bertanya di mana ibunya, apakah mungkin bocah ini sudah tahu? Sejak awal dia sudah tahu ibunya mati?


Kina bergidik dengan pemikirannya sendiri.


Ia mengedarkan pandangannya, melihat warga desa di sekelilingnya, kematian ini mungkin hanya akan menjadi angin lalu seperti kematian ayah Eda, lekang oleh waktu, tapi teror-teror itu, mayat-mayat hidup itu, sepertinya tidak akan berakhir, jika tidak melakukan sesuatu. Jika kematian ini berhubungan maka akan terjadi kematian berikutnya.


Langit masih cerah, masih ada satu jam sebelum batas waktu hukum desa, namun suasananya terasa menyesakkan dan pedih.


Matanya melihat rumah kayu yang kokoh berdiri, rumah Nenek Niba, terhenti di jendela yang terbuka lebar di ujung rumah dengan tirai renda warna putih, sedikit tertutup dengan tanaman yang merayap ke atas, tapi Kina masih dapat melihatnya, dibalik tirai yang bergoyang itu Nenek Niba menatap mayat Narsih sambil duduk di kursi goyangnya, raut wajahnya entah kenapa, Kina merasa nenek tua itu terlihat, sangat puas?


Nenek tua itu benar-benar tidak bisa mati, apakah mungkin dia pembunuhnya? Nukas dalam bahaya jika tinggal bersamanya.


"Sudah. lekas kuburkan, sebentar lagi senja," suara Ni Lewun memecah keheningan, Pak Mursa dengan wajah pias membawa Narsih pergi.

__ADS_1


__ADS_2