After I Die

After I Die
Firasat Buruk


__ADS_3

Dayuti merasakan napasnya menderu, hidungnya tidak lagi mampu menarik udara lagi, ia membuka mulutnya, meraup oksigen sebanyak-banyaknya, seperti orang kesetanan, kakinya tidak sedikit pun menurunkan kecepatan berlarinya, terus saja melangkah menerobos hujan deras.


Ia melihat beberapa warga dari kejauhan, menyeret istri dan anak mereka, mengabaikan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang, dengan gesit ia memutar langkahnya menuju kebun pisang, berlari dengan sembunyi-sembunyi.


Ia tidak tahu apa yang akan  terjadi, hanya saja jika ia sampai tertangkap warga desa, mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


Di bawah guyuran hujan, Dayuti membiarkan tubuhnya yang menggigil, bibirnya membiru, ia melewati semak perdu, mengabaikan goresan duri yang mengenai kakinya, matanya menyipit ketika menemukan rumah Kina hanya tersisa beberapa langkah darinya.


Jendela kamar Kina tertutup rapat, ia menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada satu orang pun yang melihatnya, bersikap layaknya pencuri, ia menelan ludah dengan gugup.


Sayup-sayup di tengah desau hujan, Dayuti mendengar teriakan ibu dan ayahnya Kina, ia memanjat jendela, mengetuk-ngetuknya, namun tidak ada jawaban, dengan tidak sabar ia membuka dengan paksa.


Jendela terbuka, Dayuti melongokkan kepalanya ke dalam.


“Kina?!” Dayuti berbisik dengan mata melotot kaget, ia tidak menyangka pemandangan yang pertama kali ia lihat di kamar temannya adalah temannya itu terpasung di ranjang dengan keadaan yang menyedihkan.


Kina menoleh mendengar suara bisikan Dayuti, matanya berair tanpa bisa ditahan-tahan, seolah melihat sesosok malaikat di jendelanya, tubuhnya meronta-ronta memohon untuk dilepaskan.


Dayuti dengan hati-hati melangkah mendekat, ia akhirnya mengerti mengapa hatinya selalu merasakan firasat buruk, mungkin inilah sebabnya, dengan tangan gemetar ia membuka satu persatu tali tambang yang mengikat tubuh Kina.


Kina mengerang, ia di pasung hampir dua hari, tubuhnya serasa mati rasa, matanya bengkak akibat terlalu banyak menangis, setelah ikatannya terlepas, ia langsung bangkit dan memegang tangan Dayuti dengan sorot mata penuh ketakutan.


“Yu … Yu … ti ….” Kina terbata-bata, gemetar karena takutnya sedangkan Dayuti gemetar karena kedinginan.


“Pak Mursa tewas … Eda menghilang,” ucap Dayuti tanpa basa-basi, memandangi wajah Kina yang memucat. “Suasana desa saat ini sangat aneh, Ni Lewun … dia mengumpulkan warga di bawah menara.”


Kina melihat kegelisahan Dayuti dari matanya, ia juga mendengar suara samar ibunya berteriak dengan ayahnya, ia melirik jendela yang terbuka lebar.

__ADS_1


“Lari, kita harus lari.”


Dayuti hanya mengangguk-angguk mengiyakan, Kina dengan langkah terhuyung berjalan ke pintu, menguncinya dari dalam, ia tidak bisa tinggal bersama orang tua yang memasung anaknya sendiri seperti orang gila,


entah apa yang akan terjadi dengannya atau apa yang akan dilakukan Ni Lewun pada warga, instingnya mengatakan kalau mereka harus pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini, sembunyi.


Dayuti melongokkan kepalanya, ia melompat ke bawah diikuti Kina, dua orang gadis itu dengan langkah terseok, berlarian melintasi kebun pisang, sesekali menatap awas ke sekitar, memastikan tidak ada warga yang memergoki mereka.


“Kenapa … ibumu memasungmu?” Dayuti bertanya di tengah larinya, mereka cukup jauh berlari, masuk ke dalam hutan, berlindung di bawah pohon beringin yang tua, sejauh mata memandang hanya ada tetesan air dan semak


belukar yang tinggi, mereka bersembunyi di sana.


“Aku tidak tahu, dia bilang agar aku tidak ikut campur masalah desa,” sahut Kina dengan napas terengah, ia melirik Dayuti dengan keadaan tak jauh berbeda darinya.


“Apa yang terjadi, kenapa Pak Mursa tewas? Eda menghilang?” Kina balik bertanya dengan beruntun.


menjelaskannya walau berantakan, Kina menangkap penjelasan Dayuti dan mengangguk. Jika mereka masih ada, itu berarti Eda ada bersama mereka, apa temannya itu akan bernasib sama seperti Nukas?


“Aku tiba-tiba merasakan firasat buruk ketika melihat pisau yang dipegang Ni Lewun, aku takut dengan pikiranku sendiri.” Dayuti mengusap wajahnya, menyeka air hujan yang menetes dari rambutnya. “Entah kenapa aku berpikir, jika dia akan membunuh seseorang.”


Kina menghela napas, ia dan Eda memang sejak awal merasakan banyak keanehan dengan banyaknya orang yang mati, ia mendongak, melihat daun-daun beringin yang lebat, untungnya saat ini mereka berasa di bawahnya,


sehingga mereka tidak kebahasahan.


“Kina, aku takut dengan pikiranku.” Dayuti berkata lagi,sambil memeluk lututnya.


Kina menelan ludah, hawa dingin membuat tubuhnya gemetaran. “Aku juga takut dengan pikiranku.”

__ADS_1


“Apa Eda akan tewas? Di mana dia sekarang?”


Kina terdiam, bibirnya terkatup rapat, tiba-tiba saja ia teringat waktu ia dan Eda menaiki menara, mengawasi para mayat hidup itu, mereka muncul dari rawa.


“Rawa,” kata Kina tiba-tiba, Dayuti menoleh dengan bingung. “Eda ada di sana.”


“Dari mana kau tahu?”


“Aku yakin itu, dia pasti berada di sekitar sana.”


Kina berdiri, keningnya berkerut, di dalam kepalanya penuh dengan berbagai spekulasi tentang apa yang terjadi saat ini, ia mulai menaruh curiga dengan Ni Lewun, tapi buru-buru ia menepis pikirannya itu, yang paling


penting sekarang adalah menyelamatkan Eda, sebelum laki-laki itu bernasib sama seperti Nukas.


“Rawa berlawanan dari tempat ini, kita harus memutar.” Dayuti ikut berdiri, ia idak tahu dari mana keyakinan Kina berasal, tapi ia mau tidak mau mempercayainya, melihat orang yang mereka kenal tewas mengenaskan di


hadapan mereka sendiri adalah mimpi paling buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya, ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi lagi.


Kina mengangguk, melihat sekeliling, mereka tidak bisa masuk atau menyelinap ke desa, Ni Lewun tengah mengumpulkan warga, entah apa yang akan dilakukan tabib itu, ia harus mengantisipasinya agar ia tidak tertangkap, mereka harus memutar, masuk melintasi hutan bambu yang lebat dan berisiko


tersesat atau terluka.


Tapi sekali lagi, mereka tidak punya pilihan, mereka berdua saling pandang lalu mengangguk, mata mereka yang awalnya di penuhi sorot putus asa dan ketakutan, kini dibinari dengan sorot mata penuh kemarahan.Sudah cukup dengan segala kegilaan yang ada di desa ini, Kina tidak akan berpikir dua kali lagi, ia tidak peduli akan berpisah dengan orang tuanya, gadis itu tidak bisa tinggal lebih lama lagi, ia muak dengan semua yang terjadi.


Ia akan pergi sejauh-jauhnya dari tempat mengerikan ini, entah bersama Eda dan Dayuti atau seorang diri. Kina akan tetap pergi.


Kina dan Dayuti melangkah menerobos hujan, apa pun yang akan terjadi hari ini, mereka berdua tidak bisa membiarkan ada satu orang lagi yang akan tewas di hadapan mereka, mereka harus mencegahnya.

__ADS_1


"Eda, kuharap kau tetap hidup."


__ADS_2