After I Die

After I Die
Ilmu Hitam


__ADS_3

Suara derak piring dan gelas mengusik suasana pagi yang mencekam, Kina bangkit dari tempat tidur dengan langkah berjinjit, takut menimbulkan suara, ia mengintip dari balik pintu kamarnya, jendela ruang tamu sudah terbuka lebar, aroma nasi habang mulai tercium dari warung depan rumah mereka, Kina mengerutkan keningnya bingung


Bagaimana bisa ?


Kapan mereka kembali ?


Ayahnya datang dari dapur seraya membawa beberapa piring untuk di pakai di warung, pria paruh baya itu melirik sang anak yang melonggokkan kepala dari kamar, seperti tikus takut ketahuan kucing


“Nak, tidak sekolah?"


Ayahnya menegur, Kina tersentak kaget, buru-buru membuka pintu kamar lebar-lebar, tubuhnya yang basah oleh keringat semakin basah, mengambil handuk yang tersampir di belakang pintu


“Kapan ayah dan ibu pulang?" Kina tidak menjawab malah balik bertanya


“Jam sepuluh, kau sudah tidur, Nak“


Kina kebingungan, seingatnya ia terjaga sepanjang malam dan malam tadi ia mengalami hal-hal mengerikan dan teror yang membuat jantungnya serasa lepas, apakah itu mimpi?


Bagaimana mungkin ia mengalami mimpi yang sedemikian nyata?


Melihat Kina yang melamun, sang ayah segera menegur “Cepat mandi"


Ayahnya berlalu menuju warung depan rumah, saat sayup-sayup terdengar suara teriakan ibunya dari sana


“Iya, ini mau mandi" Ia menyahut dengan gugup, bergegas ke bilik kamar mandi di ujung dapur, sedikit linglung, namun ia ingat jika jam sudah menunjukkan jam tujuh, setengah jam lagi ia harus berada disekolah atau dia akan mendapat hukuman dari guru karena terlambat


Kina melakukan semua kegiatannya selama lima belas menit, ia bergegas memasang bajunya dan mampir ke dapur warung milik sang ibu, mencicipi sedikit nasi dan memberi salam kepada ayah dan ibunya, lalu berangkat dengan sepeda menuju sekolahnya


Jalan Desa Damung sangat ramai, seharusnya memang seperti inilah, mengingat saat ia pulang pagi itu benar-benar sunyi


Beberapa petani tengah memanggul cangkul berpapasan dengannya, ibu-ibu yang membawa bakul-bakul sayur, suara riuh bebek yang dilepas menuju kolam bersaing, anak-anak berlarian, dan dengan derak suara dari rantai sepedanya yang hampir tidak pernah di beri oli

__ADS_1


Sepedanya melaju hingga sampai di persimpangan jalan di tengah desa, di tengah persimpangan itu berdiri sebuah menara kayu setinggi tiga meter dengan lonceng besar, letaknya persis di tengah desa, sebelah kanan adalah jalan menuju sekolahnya, sedangkan di kirinya adalah jalan menuju rumah keluarga Mursa dan kuburan desa, ia membelokkan sepedanya ke kanan namun sebuah teriakan laki-laki dari persimpangan kiri membuatnya urung


“MAYAT! ADA MAYAT!"


Laki–laki bertubuh gempal itu berlari pontang panting, dia adalah Sada, seorang peternak sapi yang rumahnya tak jauh dari rumah keluarga Mursa, teriakannya menarik perhatian warga desa, mereka semua berhenti dan mendekat penasaran


“Mayat?"


“AKU MELIHATNYA!! MAYAT MADA BANGKIT DARI KUBUR!!"


Ia berteriak lagi, seluruh warga desa yang berkumpul hening, Kina melirik sekilas saat Eda datang ke kerumunan, mendengar teriakan dari Sada membuat wajahnya pucat pasi


Mada adalah ayah dari Eda yang telah di makamkan kemarin


“Bagaimana mungkin? ada mayat yang bangkit dari kubur?"


“Benar kami melihatnya, kuburannya terbuka mayatnya berada di gerbang pemakaman!" Sahut seorang peternak sapi yang lain, ia membawa sabit dan sebuah keranjang rumput yang berisi setengah, napasnya masih tersengal


“KUTUKAN! INI PASTI KUTUKAN DARI IBLIS!" Sada kembali berteriak, memprovokasi


“Ilmu hitam! Dia pasti menganut ilmu hitam!"


Suara riuh saling bersahutan, beberapa orang tidak percaya, sambil melirik-lirik ke arah Eda yang diam mematung, Kina menanggalkan sepedanya dan mendekat, Eda gemetaran, kakinya hampir tidak mampu menopang tubuhnya, buru-buru ia menahan tubuh Eda dari belakang, mempertahankan posisi berdiri


Mereka mulai membuat opini menyudutkan Eda, semakin lama semakin banyak warga yang berkumpul, hingga muncullah Pak Mursa, sang ketua desa dengan rokok terselip di bibirnya, pria yang berumur setengah abad itu tetap terlihat tenang dan berwibawa, ia berdehem, membuat seluruh warga desa diam


“Sada, antarkan kami ke sana!" Ia berucap tegas, Sada mengangguk dan buru-buru memimpin jalan, kina membantu Eda berjalan, persetan dengan sekolah, tidak apa-apa bolos sehari, toh ia bersama Eda


Beberapa warga mengikuti mereka, sedangkan sisanya kembali ke kegiatan masing-masing


Mereka melewati rumah nenek niba, Kina menemukan Nukas tengah duduk di teras sendirian, tangannya memegang rumput liar

__ADS_1


Kina tersenyum namun sedetik kemudian ia menarik senyumannya saat melihat sesosok wanita berambut putih dari balik pintu yang terbuka sedikit, mengamati Nukas dengan senyum lebar


Kina membuang muka


“Tidak mungkin, pasti salah lihat” Ia menengok lagi, sosok itu tidak ada, hanya Nukas yang duduk dengan pandangan kosong


Ia ingin berhenti, namun tatapan warga desa seolah melarangnya, Eda disampingnya tidak berkata apa pun, membiarkan tubuhnya di tuntun oleh Kina


Mereka masuk ke dalam hutan dengan mengikuti jalan setapak, hingga terlihat dari kejauhan dua buah beringin yang daun dan akarnya saling menyentuh, diatasnya di gantung sebuah papan sederhana dengan bertuliskan pemakaman umum


Di bawah tulisan itu sesosok mayat dengan kain putih tergeletak, mereka mendekat dengan perlahan, kain putih itu telah sepenuhnya ternoda tanah, dan beberapa sobekan di sana-sini. Sosok itu tak bergerak


Eda tak dapat menahan dirinya, ia gemetar hebat


Pak Mursa memeriksa mayat tersebut dengan tenang, suasana hening beberapa saat, antara penasaran dan takut, menunggu kata-kata yang keluar dari mulut kepala desa


“Tidak apa-apa, mungkin ini ulah anjing yang kelaparan“


Pak Mursa berusaha membuat alasan selogis mungkin, walaupun bertentangan dengan fakta yang ada, tidak ada satu pun luka di tubuh mayat tersebut


Warga desa hanya menerima informasi itu bulat-bulat tak berani menyanggah, seolah mereka tahu ada sesuatu yang akan terjadi jika menyanggah


“Kalian bubarlah" Ia menunjuk para wanita yang membawa bakul sayur, serta anak-anak di belakang


“Dan kalian bantu aku memakamkannya“ Ia menunjuk Sada dan peternak sapi lainnya, mereka lalu melakukannya tanpa protes, Eda dan Kina hanya diam menatap pemakaman itu dari kejauhan


Kina mulai memikirkan beberapa hal, sejak ia keluar malam itu, terjadi banyak hal aneh di sekitarnya


apakah ini sebuah kebetulan? ataukah memang ada sesuatu?


Ia menatap Eda yang menghela napas panjang, memejamkan matanya, raut wajahnya yang pucat itu mengeras, memendam amarah, menarik tangannya yang di pegang Kina kasar

__ADS_1


“Kau, pantas di salahkan“


Ia berucap lirih melirik Kina sekilas, lalu berbalik pergi dengan langkah terseok, Kina tidak mengerti apa yang diucapkan Eda, namun satu hal yang ia ketahui ucapan itu di tunjukkan untuknya.


__ADS_2