
Aroma manis menguar di udara, memenuhi setiap sudut rumah kayu kecil di pinggiran desa, bunyi sendok berdenting dengan mangkuk kaca, Dayuti buru-buru keluar dari kamarnya, ia baru saja selesai mengeringkan rambutnya, dan mendapati punggung kakaknya yang membelakanginya menghadapi kompor dengan mata berbinar.
“Apa itu kolak pisang?” Dayuti tidak bisa menahan rasa antusias, ia merapat kearah kakaknya itu dan melihat asap mengepul keluar dari panci di depan kakaknya.
Sayuti melirik sang adik tersenyum kecil, ia mengambil sendok dan mengambil wadah plastik.
“Antarkan ini ke Pak Mursa, dia yang memberi pisang kemarin.”
Dayuti menatap keluar jendela, memeluk dirinya sendiri sambil bergidik, padahal seingatnya malam tadi langit sangat cerah, gemerlap bintang memenuhi langit dengan indah, berbanding terbalik dengan saat ini, bunyi desau gerimis terdengar jatuh ke atap rumah kecil mereka, jendela yang tak jauh dari mereka terbuka lebar, menyambut angin dingin masuk.
“Antar saja, kasihan. Sejak kematian Nukas, Bu Mursa ….” Sayuti tidak melanjutkan kata-katanya, tapi tangannya bergerak memperlihatkan jari telunjuknya yang berputar diudara.
“Bilang aja dia kurang waras.” Dayuti mendengus, Sayuti buru-buru menepuk pundak adiknya sambil melotot tajam.
“Hush … Jangan ngomong sembarangan!”
Dayuti terkekeh, memang benar apa yang dikatakannya, semua orang desa pun tahu hal itu, Bu Mursa yang sekarang bertingkah layaknya orang gila, ia kadang menangis bergulung-gulung di tanah, kadang tertawa terbahak-bahak di teras, kadang duduk di teras dengan mata yang kosong sambil memegang rantang nasi yang biasa dibawa Nukas untuk membeli nasi habang.
Yang Dayuti tahu ketika ia dan kakaknya pertama kali datang ke desa ini, pasangan itu tidak pernah memiliki anak dalam pernikahan mereka, mereka hidup damai, tiba-tiba saja Narsih datang ke desa sambil membawa anak berumur lima tahun, lalu melemparkan tanggung jawabnya begitu saja kepada bu Mursa untuk merawat Nukas.
Wanita itu pasti terpukul, suami yang dicintainya memiliki istri dan anak dari hubungan terlarang di belakangnya, ia mau tidak mau merawatnya dengan berjuta kemarahan menumpuk dihatinya.
Namun ketika wanita itu mulai merasakan ikatan ibu dan anak yang terbentuk oleh aliran waktu, lagi-lagi nasib buruk datang kepadanya, anak itu tewas dengan mengerikan.
Manusia mana yang masih waras dengan keadaan seperti ini, ia pasti menyesal memperlakukan Nukas dengan seadanya.
“Cepat, nanti hujannya tambah deras!” Sayuti menyodorkan mangkok plastik yang sudah tertutup rapat kearah Dayuti, adiknya itu dengan langkah malas menyambutnya dan mengambil payung yang berada di belakang pintu.
__ADS_1
“Iya deh,” sahutnya pelan, Dayuti memasang sandalnya, bunyi kecipak air terdengar ketika langkahnya menginjak tanah. Air merendam sebatas mata kaki membuat ia harus berjalan pelan-pelan, takut kakinya tergelincir di tanah yang licin ini, bisa-bisa kolak yang dibawanya akan raib bercampur lumpur.
Rumah Pak Mursa tidak jauh, bersebelahan dengan rumah besar yang luluh lantak akibat ritual desa kemarin, Dayuti merinding seketika, mengingat suasana pagi ini sangat sunyi ia takut jika menemui penampakkan di puing-puing rumah itu.
Tidak butuh waktu yang lama, ia tiba di depan ruma Pak Mursa, rumah itu tidak besar tidak juga kecil, ada beberapa tanaman hias dibiarkan mati mengering di teras, Dayuti melepas sandalnya dan naik ke teras, payungnya ia letakkan ke lantai.
Keningya berkerut, kakinya menginjak debu yang sangat tebal, ia merasakan firasat buruk tiba-tiba, tapi buru-buru ia menepisnya, mencoba berpikir positif, mengingat Bu Mursa yang mulai kurang waras itu ia menjadi memakluminya.
“Permisi … Pak Mursa ....”
Dayuti mengetuk pintu tiga kali, tidak ada sahutan dari dalam, ia melirik jendela yang tertutup rapat, mencoba mengintip dari balik kaca, namun yang di dapatinya hanyalah kegelapan, sepertinya dibalik kaca itu tirainya tidak dibuka.
Dayuti kembali mengetuk pintu, kali ini agak keras, ia mulai tidak sabar, tangannya yang memegang kolak itu terasa panas, hatinya juga entah mengapa mulai berdebar kencang tanpa alasan, ia menelan ludah.
“Loh? Dik? Mencari Pak Mursa juga?” Suara seseorang muncul dari belakang, tampak Sada datang dengan topi caping lebar, ia membawa keranjang berisi rimpang jahe. Dayuti menghela napas lega, ia merasa tenang seketika.
Sada memamerkan rimpang jahe yang sebagian masih berlumpur, dia ingat jelas jika sang kepala desa itu menyuruhnya membawakan jahe untuk istrinya.
Dayuti mengintip keranjang di tangan Sada, tampaknya laki-laki itu baru saja mencabutnya di tengah hujan seperti ini, gadis itu mengangguk paham.
“Pak! Pak Mursa!” Sada berteriak dengan suara kerasnya, ia menggedor pintu dengan keras, tetap tidak ada sahutan, sunyi dan sepi, seolah rumah itu tidak ada penghuninya, mereka berdua saling pandang.
“Kok, perasaanku gak enak ya, kak.”
Sada menggedor lagi, ia mencoba mengabaikan celutukan Dayuti, perasaannya pun sama, dadanya berdebar, tubuhnya terasa dingin, mungkin karena hujan membasahi dirinya, tapi tangannya tanpa sadar gemetar, rasanya ada sesuatu yang buruk telah terjadi.
Sada menggedor lagi, kali ini lebih keras.
__ADS_1
“Krekk!”
Pintu terbuka pelan, rupanya tidak terkunci, Dayuti dan Sada saling pandang dengan raut penasaran sekaligus was-was, mereka membuka pintu dengan pelan.
“Permisi … Pak Mur …” Belum sempat Dayuti berkata, seluruh tubuhnya membeku.
“AAKH!”
Tepat di depan wajah mereka sebuah kaki menjuntai.
Dayuti terkesiap, tangannya gemetaran, mangkuk plastik di tangannya terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai, isinya berhamburan di bawah kakinya.
Sada mendongak, di atas sana Pak Mursa tergantung dengan tali tambang yang diikat di kerangka atap rumah, seperti keadaan Nukas dulu, matanya melotot dengan penuh kesakitan, lidahnya terjulur dan lehernya patah.
Pak Mursa tewas.
Di bawah mayat yang menjuntai itu, Bu Mursa duduk dengan tubuh basah kuyup dan berlumpur, genangan air berwarna hitam terdapat di sekeliling rumah itu, menimbulkan bau tanaman busuk yang menyengat.
“Nukas kapan pulang? Ibu kesepian di sini ….” Bu Mursa bergumam lirih, terisak dengan menyedihkan memainkan rantang ke lantai seperti anak kecil, sibuk dengan dunianya sendiri.
“Hoek!” Dayuti buru-buru keluar dan jatuh ke halaman, mual melanda perutnya saat itu juga, mengabaikan dirinya yang basah kena tetesan air hujan, tubuhnya gemetar hebat.
“Tidak mungkin!”
Sada sama kagetnya dengan dirinya, laki-laki itu masih berdiri di ambang pintu, bedanya jika Dayuti lebih ketakutan, Sada lebih tampak seperti marah besar. Matanya menatap sekeliling dengan awas, genangan air hitam itu ternyata tidak hanya ada di dalam rumah Pak Mursa saja, tetapi juga ada di sekeliling rumahnya.
Dayuti tidak mengerti, tapi ia dapat menyimpulkan sesuatu, kegilaan di desa ini belum berakhir.
__ADS_1