After I Die

After I Die
Sebuah Luka


__ADS_3

Malam telah larut, di saat semua warga desa Damung tengah tidur lelap dalam hangatnya selimut masing-masing, di antara suara burung hantu bersahut-sahutan riuh rendah di atas dahan pohon, diikuti suara jangkrik dan serangga kecil di rerumputan, sebuah suara tangisan terdengar lirih dari sebuah rumah kayu besar di pinggiran hutan, dengan temaramnya cahaya lampu tembok di sudut ruangan, seorang wanita berambut panjang berdiri dengan memegang sebuah cambuk di tangan kanannya


“A..Am….pun..”


Bocah laki-laki itu jatuh terduduk, air matanya mengalir deras jatuh ke lantai ubin yang dingin, tangannya berusaha menahan tubuhnya di dinding agar tidak terbaring, baju di punggungnya terkoyak dan terasa perih diikuti luka memanjang dengan darah yang mengalir


Wanita berdiri di belakang Nukas, ia tidak berkata apa pun, raut wajahnya tak terbaca, datar dan dingin, Nukas terbatuk, tersedak air liurnya sendiri ketika tangan wanita itu kembali mengayunkan sebuah cambuk ke punggungnya, tidak sekali dua kali, namun beberapa kali, cukup untuk seorang bocah berumur tujuh tahun itu menjerit kesakitan sambil meringkuk menghadap dinding


“Maaf…Hiks..Hiks..Nukas minta maaf..”


Dengan tersendat-sendat Nukas berusaha mendongak menatap wajah wanita itu, namun wanita itu sepertinya tidak suka di tatap, ia menendang kepala bocah itu.


“Am..pu…n”


Nukas terbata-bata, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, napasnya tersendat, kepalanya pusing karena terlalu banyak menangis, perih dan pedih, tubuhnya tidak bisa mentoleransi rasa sakit sebanyak ini.


Semenjak tinggal di rumah ini wanita yang sangat ia sayangi ini bersikap sangat aneh, ia tidak boleh melakukan sesuatu yang membuat wanita itu marah, dan hari ini pastilah ia melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukannya.


Suara lecutan cambuk terdengar lagi, Nukas tidak dapat menahannya lagi, ia menjerit sekuat tenaga, menangis sejadi-jadinya, tubuhnya berusaha merangkak berusaha menjauh dari wanita itu, namun rambutnya dijambak ke belakang.


“Sa..k…it.. berhenti…”


Ia meronta-ronta, tangan kecilnya menegang tangan wanita itu, berharap rasa sakit itu berkurang, mendongak paksa menatap wajah wanita itu, ia berteriak ketika melihat wajah itu berubah, mengelupas seperti ular yang berganti kulit, kemudian memerah, seolah meleleh terbakar, pemandangan menjijikkan untuk wanita tercintanya itu, ia menjerit lagi dengan kencang ketika kulit wajah itu berjatuhan ke lantai dan wajahnya


“A..mpu…N..”


Kata terakhir yang ia ucapkan ketika tubuhnya terhempas ke dinding hingga membuat ia hilang kesadaran seketika


*


Hari ini tepat satu hari setelah ia berkelahi dengan Arna, ia masuk ke kelas dengan malas, lingkaran hitam di matanya tercetak jelas karena ia kurang tidur malam tadi, bayang-bayang wajah Nukas, nenek Niba dan sumur tua itu berputar di kepalanya, setelah Nukas menunjuk sumur itu, ia langsung di usir bocah tersebut, membuatnya bertanya-tanya penasaran


Ia duduk di kursi yang ia tempati di hari pertama masuk kelas, suasananya masih sama, berdebu dan masih banyak sampah, Arna muncul dan duduk di kursi milik Dayuti


Dayuti muncul tak lama kemudian, menenteng sebuah tas kain berisi banyak buku, ia menatap Arna yang duduk di kursinya sebentar dan langsung duduk di depan Kina tanpa kata-kata


Berbeda dengan Arna yang memakai baju serba pendek, rok di atas lutut, baju yang ketat, rambut panjang terurai, serta aroma parfum menyengat, yang sama sekali tidak cocok dikenakan di sekolahan kampung seperti ini, penampilan Dayuti terkesan ala kadarnya untuk anak seorang guru, rambut pendeknya hampir menutupi sebelah matanya yang terlihat sayu, pakaiannya tidak terlalu rapi namun masih nyaman di pandang, tas yang ia bawa di tangannya hanya tas kain usang berwarna biru pudar


Kina tidak terlalu peduli, begitu pula dengan Dayuti, mereka hanya diam saja sampai waktu istirahat tiba, ketika semua orang di kelas keluar, Dayuti membalikkan tubuhnya dan menatapnya. Tatapannya terlihat berbeda

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan di rumah nenek Niba dua hari yang lalu?“


Kina mengerutkan keningnya, bingung


“Dari mana kamu tahu aku ke sana?“


“Aku melihatnya” Dayuti menyahuti singkat, ia menarik kursinya mendekat


“Apa kamu tinggal di desa ini? aku tidak tahu tentangmu“


Kina hampir mengenal semua warga desa


“Aku baru pindah bersama kakakku dua bulan lalu, di depan rumah keluarga Mursa”


Kina mengangguk, pantaslah Dayuti melihatnya, rumahnya pasti rumah kontrakan milik Pak Mursa


“Anak itu.. sedikit aneh“ lanjut Dayuti ia mengetuk-ngetuk telunjuknya ke meja.


“Nukas?“


“Ya, aku tidak pernah melihatnya bersama orang dewasa, kecuali ibu Mursa, dimana ibunya?”


“Entahlah, daripada aneh, aku merasa kasihan dengannya, dia terlihat tidak terurus“


Kina mengingat – ingat penampilan Nukas, pakaian yang ia pakai benar-benar tidak layak, bajunya kebesaran dan hampir menutupi celana pendeknya, sandal yang ia pakai pun terlihat sudah lusuh


“Kalau ibunya tidak ada, Apa keluarga Mursa tega membiarkan anak kecil tinggal merawat nenek tua seorang diri? itu tidak mungkin kan?“


“Aku.. tidak tahu”


Kina menyahut dengan terbata-bata, bingung menjawab pertanyaan Dayuti


Percakapan mereka berakhir ketika suara lonceng berbunyi, pertanda waktu istirahat telah usai, satu persatu murid mulai memasuki kelas, bersiap memulai pelajaran.


*


Senja kembali menyapa, Nukas datang kembali ke warung ibu kina sambil menenteng rantang dan selembar uang, penampilannya hari ini terlihat tidak baik, wajahnya pucat dan matanya sembab, entah habis menangis atau bangun tidur, ada sebuah perban di tangan kirinya, di belakangnya ibu Mursa mengikuti


Seperti biasa Ibu kina muncul dari dapur, membawa bubur buatannya untuk nenek Niba, mereka berbincang ketika Kina baru saja keluar dari tempat pencucian piring, dengan celemek dan sarung tangan yang basah

__ADS_1


Nukas bangkit dari kursi plastik dan berlari ke arahnya, wajahnya yang pucat terlihat berbinar bahagia memeluknya sambil tertawa, Ibu Mursa hanya tersenyum simpul melihatnya


“Nukas mau permen?"


Kina mengambil beberapa butir permen dari dalam wadah, matanya tak sengaja melihat punggung Nukas dibalik bajunya yang besar


Bekas luka?


Kina mengulurkan tangannya yang berisi permen ke arah Nukas, yang langsung di sambut sukacita. Ia melompat-lompat kesenangan


“Nukas tidak banyak bicara ya?“


Ibu Kina buka suara setelah puas memperhatikan tingkah polah Nukas


“Dia tidak bisa bicara"


Ibu Mursa menyahut dengan kekehan ringan, tangannya melambai ke arah Nukas menyuruhnya mendekat, bocah itu terlihat sedikit ragu, namun tetap mendekat dan memeluk bu Mursa.


“Bisu ?”


Ibu Mursa tidak menyahut namun menatap dengan sedih, Kina mengerutkan keningnya, seingatnya kemarin Nukas berbicara banyak bahkan memanggilnya dengan sebutan Kak nana


“Ia sedikit demam hari ini"


Ibu Mursa tidak mengalihkan pembicaraan, tangannya bergerak memangku bocah itu, kemudian mengelus pelan punggungnya


“Dimana ibunya?"


“Ibunya kerja di kota, malam hari baru pulang“


Ibu Mursa bangkit berdiri menggandeng tangan Nukas


“Kami pulang dulu, sudah larut“ mereka berjalan berdampingan keluar dari warung, menyisakan tanda tanya besar di kepala Kina


“Mereka tinggal di rumah nenek Niba?“


Kina menatap ibunya, meminta penjelasan


“Ya, mana ada istri yang mau tinggal serumah dengan madu yang sudah memiliki anak"

__ADS_1


__ADS_2