After I Die

After I Die
Kematian Pertama


__ADS_3

Matahari masih belum menampakkan diri di balik rimbunnya hutan yang mengelilingi desa Damung, tetesan embun masih terasa menyentuh tubuh yang terbalut jaket putih kumal itu, Kina melangkah menuju rumah dengan langkah tertatih, matanya menatap awas setiap sudut jalanan desa yang ia lalui, perasaannya gelisah, entah apa yang ia takutkan, ini baru pertama kali ia melalui malam di tempat tinggal orang lain


Apakah ibunya akan mengetahuinya? apakah akan di sumpah serapahi lagi?


Sepanjang perjalanan pulang ia terus berprasangka buruk dan merasa cemas


Kina menghela napas panjang, semakin mengeratkan jaket milik Dayuti yang membungkus tubuh kurusnya, sepanjang ia berjalan menuju rumahnya belum ada satu pun warga yang di temuinya di jalan, belum ada bunyi ayam berkokok yang biasanya ramai menghiasi riuhnya pagi, tidak ada para petani atau penggembala ternak yang biasanya akan turun ke sawah atau ladang di pagi buta


Dingin, dingin sekali, langkah kakinya semakin memberat seiring mendekati rumahnya, sayup-sayup di balik rimbunnya pohon balangeran yang menjulang tinggi di pinggiran jalan ia mendengar suara rintihan, ia terpaku dan melirik ke sana, tidak ada apa pun yang terlihat kecuali pohon balangeran tersebut


Kina diam sesaat, matanya menangkap sesuatu yang mengalir dari pohon itu jatuh menuju jalanan yang lebih rendah, cairan hitam kental yang berbau busuk


Kina terkesiap, segera ia mengabaikan rintihan tersebut dan melangkah dengan cepat menuju rumahnya yang mulai terlihat dari kejauhan


Ibunya menunggunya, berdiri di depan pintu sambil bersedekap di kursi teras sang ayah hanya duduk sambil menyesap kopinya dengan santai


Mati aku, ibu benar-benar marah


Kakinya telah memasuki halaman depan, Kina melirik heran warung masak habang ibunya, masih tutup dan tidak ada Ci Dawi yang bisanya menyalakan tungku untuk menanak nasi


Kina berkeringat dingin berdiri di hadapan ibunya yang menatapnya tajam, ayahnya tidak berkomentar apa-apa, masuk ke dalam rumah sambil membawa kopinya


Ini masih terlalu pagi untuk memakinya


“ANAK NAKAL, KEMANA SAJA KAU MALAM TADI!?“

__ADS_1


Ibunya berteriak, telah mengeluarkan sumpah serapahnya, matanya melotot, Kina hanya menunduk takut, menggulung ujung jaket Dayuti yang dipakainya


“DASAR BODOH, KAMU PIKIR KAMAR ITU DI SEDIAKAN BUAT APA KALAU BUKAN ISTIRAHAT? MALAM ITU WAKTUNYA TIDUR! BUKAN KELUYURAN TIDAK JELAS SEPERTI GADIS DI KOTA ! KAMU ITU ANAK DESA!!“


Suara ibunya nyaring melengking, tidak ada pukulan atau tamparan, cukup dengan makian ibunya saja telah membuatnya sakit sampai ke tulang-tulang


Kina tidak dapat menahan air matanya yang mengalir deras, hidungnya bahkan mulai beringus


“APA YANG KAMU LAKUKAN DI KOTA SEPERTI INI JUGA!? SENANG KELUAR MALAM?! MAU JADI APA KAMU!“


Kina menggigit bibirnya menahan isakan tangisnya keluar, ini masih pagi dan masih di depan pintu, suara makian ibunya tidak tanggung-tanggung, membuat beberapa tetangga datang melihat, sekedar ingin tahu, tapi rasa malu yang di dapat Kina cukup membuat wajah dan telinganya memerah


Aku malu bu, tolong hentikan


Seandainya saja, ibunya bertanya dengan lembut, atau menangis khawatir, seperti yang sering dilakukan bibinya ketika Kina terlambat pulang ke rumah, mungkin perasaan Kina akan menghangat, tapi hal seperti itu mungkin tidak akan pernah terjadi


Ibunya terdiam sesaat, mengatur napas, Kina masih tidak berani menatap sang ibu atau sekedar menggumamkan kata maaf, ia masih menggigit bibirnya, menangis dalam diam


Para tetangga mulai menjauh kembali ke urusannya masing-masing


Suara lonceng menggaung dari kejauhan, dua kali, Ibunya menghela napas panjang, mengusap dada, dan mengipasi wajahnya yang merah dengan tangan


“Cepat ganti pakaianmu kita harus melayat“


Titah ibunya dingin, Kina mengangkat kepalanya, baru disadarinya jika ibunya telah berpakaian serba hitam dan juga ayahnya yang baru saja keluar dari rumah, Kina bergegas masuk ke kamarnya, tak berani bertanya apa pun meski ia penasaran setengah mati

__ADS_1


Kina mandi dan mengenakan pakaian hitam yang terlihat tersedia di atas kasurnya, ia melakukannya dengan cepat takut ibunya menunggu terlalu lama


Takut akan diteriaki lagi


Sepuluh menit, hanya butuh sepuluh menit ia telah mengekori langkah kaki kedua orang tuanya menuju rumah duka, beberapa tetangga yang ia temui di jalan hanya diam, dengan wajah datar, mereka melangkah tanpa suara, seluruh aktivitas desa terpusat pada satu tempat, rumah duka yang tengah dihiasi kain-kain hitam di setiap sudutnya


Rumah itu adalah rumah Eda, teman masa kecilnya, seingat Kina mereka berteman dengan baik sebelum Kina ikut bibinya ke kota


Sejak sebulan yang lalu ia tiba, Kina belum juga menjumpai Eda untuk sekedar bertukar kabar


Eda adalah laki-laki dengan tubuh kurus dengan wajah oriental namun berkulit coklat, ia sedikit pendiam dan sulit di tebak, dari dulu ia sering sekali mengenakan kacamata bergagang merah yang selalu di gantungnya dilehernya


Namun kali ini ia melihat sosok lain dari Eda, laki-laki itu tengah menangis meraung-raung, bukan di depan jasad ayahnya yang terbujur kaku di tengah ruangan, tetapi di sudut ruangan dekat jendela, ia menjerit-jerit sambil menggumamkan kenapa pada jendela yang terbuka lebar


Seluruh pelayat mengabaikannya, Kina pun mencoba melakukan hal yang sama, ia duduk di dekat pintu kamar Eda, mereka mulai membacakan doa-doa dengan tenang, diiringi isak tangis Eda, namun mereka sama sekali tidak terganggu dan tetap melanjutkan kegiatan doa itu


Proses pemakaman berlanjut mereka membawanya ke pemakaman umum desa, dengan iring-iringan doa di sepanjang jalan, tak ada yang keluar dari mulut mereka selain doa-doa itu, wajah mereka kaku dan dingin, begitu pula dengan orang tuanya, mereka berjalan menuju ujung jalan desa, sedikit masuk ke dalam hutan, melewati rumah nenek Niba, suasana berlangsung sakral


Kina menatap rumah itu, rumah kayu besar itu tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda kehidupan, ia bertanya-tanya dimana dan apa yang dilakukan Nukas sekarang?


Mereka sampai di pemakaman umum, Eda berhenti menangis ia diam dan hanya menatap kosong ke arah makam ayahnya yang telah di tutup tanah, ia sekarang sebatang kara, ibunya sudah lama tiada


Satu persatu mulai meninggalkan pemakaman ketika proses penguburan selesai, begitu pula dengan Kina, ia mengikuti di belakang kedua orang tuanya, ia melirik sekilas ke belakang, Eda masih berdiri disana seolah tahu kalau Kina memperhatikannya, laki-laki itu mengangkat kepalanya dan memandang Kina dengan tatapan penuh kebencian


Apa?

__ADS_1


Kina tersentak, bertanya-tanya dalam hati kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga teman kecilnya menatapnya penuh kebencian?


__ADS_2