After I Die

After I Die
Damai


__ADS_3

Damai.


Satu kata untuk menggambarkan situasi desa saat ini.


Ini sudah hari ketiga sejak ritual pembersihan desa diadakan, situasi desa normal layaknya desa pada umumnya, tidak ada lagi hukum desa yang membatasi kegiatan mereka di malam hari, warung-warung kopi di malam hari mulai membuka lapaknya, lampu obor dinyalakan di setiap sudut jalan menambah semarak suasana malam, setiap warga mulai duduk-duduk di teras, bersukacita dan menikmati suasana gelap yang dulunya mencekam, memandangi bintang-bintang di langit.


Gema lonceng juga tidak lagi berbunyi, seolah menandakan aturan desa yang mengikat mereka terhapus bersama api yang telah menjadi asap, semua orang di desa Damung tidak ada yang membicarakannya, mereka semua tutup mulut.


Kina kembali dalam kehidupan normalnya, ia kembali mencuci piring bekas pelanggan warung mereka, malam ini cukup banyak yang datang berkunjung untuk membeli nasi habang atau sekedar duduk-duduk minum kopi sambil bersenda gurau, suara ibunya kadang-kadang terdengar ikut nimbrung, pembicaraan mereka normal saja, hanya masalah itik yang merambah ke sawah hasil panen, sama sekali tidak ada yang aneh.


Semuanya terasa sangat normal, mungkin beginilah seharusnya kehidupan desa yang tenang dan damai.


Tiba-tiba ia teringat Eda, laki-laki itu juga tidak pernah muncul lagi di hadapan Kina sejak ritual pembersihan desa, hal itu mau tidak mau membuatnya heran dan bertanya-tanya, apa sikap ketus dan cueknya kembali lagi? Mungkin ia harus berkunjung ke rumah laki-laki itu untuk memastikan apakah dia baik-baik saja.


Kina meletakkan piring terakhir diatas rak, menyeka tangannya dengan serbet, gadis itu menghela napas panjang, ia masih memiliki keinginan pergi ke kota jauh dilubuk hatinya, namun untuk saat ini mungkin akan ia tunda dulu, mengingat ekspresi garang ayahya ketika ia mengatakan ingin pindah ke kota.


Kina keluar dari warungnya, ia berniat kembali ke kamarnya saja untuk istirahat, besok ia berencana mengunjungi Eda bersama Dayuti, sekalian mengajaknya pergi ke sekolah.


Angin malam berhembus menerpa tengkuknya, Kina tiba-tiba merasa menggigil, ia mengusap lehernya dan merapatkan jaketnya, buru-buru masuk ke dalam rumah.


Meskipun suasana desa Damung telah menjadi ramai di malam hari, namun Kina masih memiliki rasa paranoid di hatinya, malam tetaplah malam, biar lampu obor menyala di setiap sudut jalan, ada banyak sisi gelap dimana-mana, itu membuatnya bergidik takut.


Katakanlah ia penakut, itu memang benar adanya, Kina rasa tidak ada manusia yang tidak ketakutan setelah diteror terus menerus oleh mayat hidup, ia masih waras saat ini mungkin sebuah keberuntungan.


Kina baru saja ingin menarik selimutnya untuk tidur ketika pintu diketuk pelan, lalu terbuka menampilkan sebagian wajah ibunya. “Ada yang ingin ibu bicarakan.”

__ADS_1


Kina mengangguk, bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang, ia merasa hatinya berdesir aneh, ibunya mendekat kearahnya dan duduk diatas tempat tidur disampingnya sambil tersenyum kecil.


“Kina, maafkan ibu,” ucap wanita itu sambil menggenggam tangan Kina, Kina menatap mata wanita itu, hatinya terasa trenyuh, mata itu bukan mata yang sama ketika ia pertama kali melihatnya di kota, mata tegas dan tajam itu kini terlihat kuyu dan lemah, seakan banyak kesakitan yang ia tanggung.


“Ibu ….”


“Ibu tidak bermaksud melakukan semua itu padamu,” lanjut wanita itu lagi, suaranya bergetar lirih, tangannya yang memegang Kina bergetar.


Kina tidak mengerti maksud ibunya, jauh di dalam hatinya ia sudah memaafkan ibunya jika itu mengenai Nukas. ia sadar, orang yang mati tidak akan kembali lagi, hidupnya memang harus maju menginggalkan masa lalu.


Melihat wanita itu mulai meneteskan air mata membuat hatinya berdenyut nyeri, tidak tega, ia mengangguk pelan, ikut meneteskan air matanya juga. “Ibu, aku sudah memaafkanmu, jangan menangis.”


Wanita itu buru-buru mengusap pipinya, tersenyum kecil, ia membawa Kina ke pelukannya, mengusap-ngusap punggung anaknya.


Kina yang di peluk tiba-tiba merasakan tubuhnya membeku, air mata langsung merembes dengan deras, ia mengangkat tangannya, balas memeluk ibunya, untuk pertama kalinya ia merasakan pelukan ibunya yang hangat, terasa sangat nyaman, membuat segala kegelisahannya menguap ke udara.


Kina bahagia dengan hal sekecil ini, perasaaan itu membuncah dan tidak bisa ia tahan-tahan, ia tersedak, menangis terharu karena bahagia.


Pelukan itu terlepas, Kina merasa tidak rela, ibunya tersenyum menatapnya, lalu tangan lentiknya itu bergerak membelai wajahnya, Kina tidak melakukan apa pun, menikmati perlakuan kasih sayang ibunya.


“Kamu tahu … ibu menyayangimu lebih dari apa pun.”


Ibunya kembali memegang tangan Kina, gadis itu mengangguk-angguk dengan senang, menyiratkan ia menyetujui ucapan ibunya.


“Kamu juga menyayangi ibu, ‘kan?” Tanya wanita itu sambil menatap lurus kearah mata Kina.

__ADS_1


Kina tanpa pikir panjang mengangguk sambil tersenyum. “Ya, aku menyayangi ibu.”


Wanita itu tersenyum dan bernapas lega, ia terkekeh pelan. “Ibu punya permintaan, maukah kamu mengabulkannya?”


Kina terus mengangguk dengan hati yang terasa ringan. “Apa itu?”


Ibunya yang ada di depannya saat ini bersikap semanis gula, Kina hanya berpikir sikap ibunya itu akan terus seperti ini terhadapnya. Kina merasakan suasana kamarnya menjadi lebih dingin, ia dan ibunya saling pandang beberapa saat.


“Jangan ikut campur masalah desa,” ucap ibunya dengan dingin, raut wajahnya berubah dalam sekejap.


Kina merasakan tangannya tiba-tiba telah diikat oleh tali tambang ke kaki ranjang, ia mendongak dengan panik.


“Ibu, apa yang kau lakukan? Kenapa aku diikat?!” Kina berteriak, wanita itu menangkap sebelah tangannya, mengikatnya lagi ke kaki ranjang di sebelahnya, memaksa Kina terbaring di ranjang paksa.


“Ibu bilang, jangan ikut campur masalah desa.”


Kina memberontak, kedua tangannya terikat kuat, ia menendang ke udara, kakinya ditangkap dengan cepat oleh ibunya, ia menjerit, lagi-lagi kakinya mendapat perlakuan yang sama, terikat di setiap kaki ranjang.


“Ibu!” Kina menjerit, meronta-ronta tanpa daya diatas ranjang, selimut yang tadinya dipakainya tergulung, bantal-bantal jatuh ke lantai, Kina menggeleng ketika wanita itu mendekat sambil membawa selembar kain, menarik kepalanya kasar dan mengikatnya ke mulutnya.


Kina berteriak, suaranya dengan cepat teredam kain yang mengikat mulutnya, kepalanya terjatuh, terkulai di ranjang, air matanya berlomba-lomba merembes membasahi pipinya.


Kina tidak mengerti, mengapa ibunya melakukan ini padanya? Apa sebenarnya yang terjadi? Tadi ibunya bersikap sangat manis dan hangat, kenapa tiba-tiba ia dipasung dengan kejam seperti ini? Apa salahnya?


Apa salahnya pada ibunya?

__ADS_1


Wanita itu memandangnya dengan wajah sedih, ia mengelus wajah Kina lagi, duduk di samping wajah putrinya.


“Maafkan, ibu.”


__ADS_2