
“Kapan ritual pembersihan desa di adakan?” Eda bertanya pada Ni Lewun yang saat ini tengah menumbuk biji pepaya kering sebagai obat, hari ini adalah satu hari semenjak hilangnya Nukas, ia tidak ingin melihat banyak korban berjatuhan.
“Saat bulan sudah penuh, kita akan mengadakannya, tiga hari lagi.”
Eda menghela napas panjang, itu terlalu lama, bagaimana jika ada yang mati lagi dalam tiga hari ini?
Eda mengkhawatirkan Kina, bayangan hitam di belakang temannya itu semakin hari semakin besar.
Eda memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang biasa, ia dapat melihat bayangan kematian seseorang. Kemampuan ini didapatnya secara turun-temurun, sebagai salah satu keluarga pendiri desa.
Awalnya ia melihat bayangan kematian ayahnya, ia tidak bisa melakukan apa-apa, takut menyalahi takdir, ia hanya diam dan menunggu ayahnya meregang nyawa.
Ia juga melihat bayangan kematian pada Nukas, dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Kali ini harus melakukan sesuatu sebelum Kina benar-benar bernasib sama dengan mereka. Ia peduli dengan Kina, meski kadang, mulutnya sangat ketus, tapi ia tidak bisa mengabaikan Kina.
Teman kecilnya itu, benar-benar keras kepala, keingintahuannya tidak bisa dibendung, mendekati tahap tidak waras.
“Tidak perlu khawatir, aku melihat mereka tidak akan datang dalam beberapa hari ke depan.” Ni Lewun mengambil biji pepaya yang telah halus ke dalam mangkuk. Penglihatan Ni Lewun memang tidak pernah diragukan warga desa, semua yang keluar dari dalam mulutnya selalu terjadi dan tidak pernah meleset sedikit pun.
Warga desa Damung sangat percaya hal-hal mistis, mereka tidak mengenyam bangku pendidikan, hanya tahu cara bercocok tanam dan beternak, tidak ada niat untuk keluar desa, hanya hidup begini-begini saja tanpa kemajuan.
“Ya ... aku tidak akan khawatir.”
Kadang ia selalu berpikir, mengapa mereka sebegitu takutnya dengan para mayat itu? Apakah mereka tidak bisa melakukan sesuatu untuk melawannya?
Hidup seperti ini, terisolasi dari dunia luar, seperti terperangkap dalam kebodohan.
Eda duduk di atas kursi rotan, sebagai pengganti ayahnya, ia telah banyak berpikir mengenai kehidupan di desa ini. Awalnya ia tidak terlalu peduli, tetapi lambat laun ia sadar, hukum yang dibuat terlalu mengekang dan membatasi.
Bagaimana kalau hukum itu bukan untuk melindungi warga desa tetapi melindungi hal lain. Sesuatu yang tidak diketahui warga desa.
Mungkin saja.
__ADS_1
Ia memperhatikan Ni Lewun yang cekatan menumbuk biji di dalam lesung, tidak ada niat membantu sama sekali, dia bukan tipe baik hati, lagi pula Ni Lewun walaupun berusia senja, tubuhnya masih gesit seperti orang muda.
“Ni!”
“Ni Lewun!” suara teriakan panik dari luar terdengar, suara Sada.
“Ada apa?” Ni Lewun menyahut lembut, bangkit berdiri dan menemukan Sada di halamannya dengan napas tersengal-sengal.
"Nukas!"
“Nukas! Nukas di temukan!” serunya, Eda merasakan jantungnya berdegup kencang.
“Di mana dia? Bagaimana keadaannya?”
“Di atas pohon kariwaya, di dekat pemakaman desa! Dia ... dia ....” Sada tidak bisa melanjutkan ucapannya, seakan tersangkut di tenggorokannya, laki-laki itu tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Ni Lewun diam, wajahnya menjadi suram.
Eda sudah tahu jawabannya, ia langsung teringat dengan Kina, tanpa berkata apa-apa, ia langsung berlari menuju pemakaman di pinggir desa.
Di atas sana, Nukas tergantung oleh seutas tali, di dahan yang paling tinggi, bocah itu tewas mengenaskan.
Warga desa menjadi gempar, berbondong-bondong ke pemakaman desa, mayat Nukas tergantung di atas sana, matanya melotot, lidahnya terjulur, wajahnya penuh kesakitan.
“Nukas!” Kina menjerit, ibunya memegang erat tangannya, menahan agar anaknya tidak berbuat nekat.
Kina merasakan sakit yang amat sangat di hatinya, sedih dan pedih. Nukas tewas mengenaskan, siapa yang begitu tega menghabisi nyawa bocah berumur lima tahun dengan begitu sadis? Rasa-rasanya Kina ingin mati menyusul Nukas saja dari pada tinggal di desa penuh teror ini.
Eda mendekat dan menenangkan Kina, ia tanpa ragu memeluk teman kecilnya itu, Kina menangis tersedu-sedu, mengalahkan tangis Bu Mursa yang tak jauh dari sana.
Barka dan Sada dengan susah payah menurunkan mayat Nukas, mayat itu diletakan di atas kain putih.
Pak Mursa tidak dapat membendung air matanya, dalam seminggu ia telah kehilangan dua orang yang dikasihinya, istri dan anaknya. Tangannya gemetar menutup mata Nukas, meluruskan leher anaknya yang patah, memeluknya dengan erat, menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Betapa sakit hatinya melihat anak satu-satunya meregang nyawa dengan tragis, ia telah gagal menjadi seorang kepala keluarga, gagal melindungi istri dan anaknya, gagal menjadi seorang kepala desa.
Anaknya tersayang, yang bahkan belum sempat ia ajari membaca dan menulis.
Ia menyesal, sangat menyesal, tidak pernah tahu keadaan Nukas sehari-hari, apakah anaknya sudah makan? Ia tidak tahu. Apakah Nukas kedinginan? Ia tidak tahu. Baju, baju yang dipakai Nukas, ia bahkan belum pernah membelikannya, anaknya tidak hidup dengan layak.
Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Kina sudah bersimbah air mata di pelukan Eda, tidak dapat menerima kematian Nukas.
“Maafkan ayah, Nak.” Seperti kaset rusak kata-kata itu diulang-ulang oleh Pak Mursa, menciumi wajah Nukas secara membabi-buta.
Kina menatap tubuh kaku Nukas yang sudah membiru, ia benar-benar kehilangan. Meski meraung-raung, Eda dan ibunya tak melepaskannya, membuat ia menjauh dari Nukas.
Hari itu adalah hari paling pilu bagi Kina, langit pun ikut mendung saat pemakaman Nukas dilangsungkan, warga desa pun hanya ikut diam merasakan segala kesedihan Pak Mursa.
Kina tak lagi memberontak, hanya menatap kosong tanah yang masih basah itu.
Pikirannya melayang ke mana-mana.
Ini semua menjadi aneh, ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang ia lewatkan entah apa itu. Saat ia berada di sini logikanya seolah menghilang.
Apakah mungkin mayat yang jalannya belum benar, tubuhnya bahkan tidak simetris, menggantung Nukas setinggi itu? Ini tidak masuk akal.
Tidak. Sejak awal semuanya memang tidak masuk akal.
Kina merasa ini semua bukan perbuatan mayat hidup, dari hari ke hari ia semakin ragu dengan apa yang terjadi.
Bagaimana kalau ada seseorang di belakang dan memanfaatkannya, berdiri dibalik panggung teror ini, merencanakan sesuatu yang tidak pernah diduga.
Pelaku yang sebenarnya pasti ada di dekat mereka semua.
“Eda.” Kina berbisik ke telinga Eda, “Bagaimana kalau selama ini kita salah? Ada orang yang sengaja ... berlindung di balik mayat-mayat itu?”
__ADS_1
Eda diam membeku, ia memikirkan hal yang sama, matanya menatap satu persatu warga desa, semuanya menunjukkan ekspresi berkabung.
“Jika itu benar, maka kita semua dalam bahaya.”