
Kina tersentak ketika merasakan tubuhnya dibanting dengan kasar ke tanah, ia membelalakkan matanya dengan tubuh gemetar, di sekelilingya saat ini adalah tumpukan mayat yang hampir membusuk, napasnya tercekat di tenggorokan, ia melihat Eda di dekatnya, tubuhnya sudah kaku, dengan mata terbelalak lebar, ia juga melihat mayat Arna dengan lidah terjulur, lehernya diikat tali tambang dengan keras, tak jauh dari Arna mayat Pak Mursa juga tergeletak di tanah. Di kakinya ada tubuh Nukas yang setengah membusuk, ada mayat Narsih yang tidak jauh berbeda, dan ayahnya Eda yang hampir tinggal tulang.
Kina merasakan tubuhnya gemetar dengan hebat, ia memejamkan matanya. Ada tujuh orang di sini, termasuk dengan dirinya, itu berarti tujuh tumbal telah terkumpul dan ritual telah siap dilaksanakan.
Kina menelan ludah, warga desa mengelilinginya, dengan obor yang menyala-nyala di tangan. Ia tidak melihat ayah dan ibunya, tapi ia melihat Dayuti dan kakaknya, tepat di hadapannya Ni Lewun dengan tubuh yang hampir membusuk mengelilingi Kina sambil meneteskan darah segar, mulutnya komat-kamit.
Kina melihat jerigen minyak di tangan Sada, warga desa melempari Kina dengan berbagai macam bunga dan air, lalu masing meletakkan sesajen.
Gadis itu menelan ludah, ia mengepalkan tangannya dengan erat. “Nenek sialan! Apa yang kau mau sebenarnya?! Untuk apa hidup abadi tapi mengorbankan nyawa orang lain?! Kalian semua sesat!”
Kina berteriak dengan murka, ia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi saat ini, matanya menatap nyalang ke arah Ni Lewun yang tetap merapal sesuatu dibibirnya, ia menggertakkan giginya dengan kesal.
“Sejak awal, yang asli hanya kita.” Ni Lewun memandangi Kina sambil tersenyum kecil, dupa di tangannya di letakkan di atas sebuah bangkai ayam yang hampir membusuk dan berbelatung.
Kina memandangi sekeliling, para warga desa perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi mayat hidup, tungkai-tungkai tangan terlepas dan berjatuhan ke tanah, daging-daging itu terkelupas dan mengeluarkan aroma yang sangat busuk.
Hanya Ni Lewun, Bu Mursa yang terikat di tangan Sada yang tubuh besarnya itu menghitam dan ayahnya yang berdiri dengan mata kosong yang tubuhnya baik-baik saja.
Mulut Kina menganga, ia merasakan napasnya tersendat, tidak menyangka dengan perkataaan Ni Lewun, jadi semua warga desa ini sebenarnya adalah mayat hidup? Mereka hidup di siang hari, lalu berubah menjadi mayat di malam hari, itu semua menjelaskan mengapa ada hukum desa, mengapa mereka tidak boleh keluar dari rumah ketika malam menjelang, semua itu untuk menghindari agar keturunan para tetua desa mengetahui hal ini, mencegah mereka mengenali warga desa yang berbubah menjadi mayat.
“Kau menghidupkan mereka?” Tanya Kina tidak percaya, sudah berapa lama ini berlangsung? Sejak dulu kah? Ia tidak mengerti, apa ibunya tahu tentang ini semua karena itu ia dibawa pergi ke kota oleh bibinya? Itu berarti semua perlakuan ibunya ini adalah untuk melindungi dirinya, sikap ibunya yang kasar dan suka memaki karena ingin membuatnya tidak betah dan kembali ke kota, mengapa Kina begitu bodoh dan tidak menyadarinya?
__ADS_1
“Mereka sudah hidup sejak desa ini dibangun, bagaimana mungkin aku membiarkan mereka mati dan menghilang begitu saja?” Ni Lewun menyahut dengan santai, ia menatap warga desa disekelilingnya.
“Mereka pengikut setiaku, jiwa dan tubuh mereka milikku bahkan sampai mereka mati,” lanjutnya dengan seringai lebar dibibirnya yang keriput itu.
“Kau gila! Orang mati adalah orang mati! Mana bisa hidup lagi!”
Kina menangis tersedu-sedu, ia memelihat warga desa duduk bersimpuh melingkarinya, mereka obor diletakkan ke tanah, api perlahan-lahan merayap mengeliling Kina.
Gadis itu menelan ludah, ia akan dibakar hidup-hidup bersama tumbal lainnya, ia melihat Sada mengucur minyak tanah ke jejak-jejak darah yang tadi dituang Ni Lewun, ia menarik napas, tubuhnya tidak terikat tali yang kuat, diam-diam ia sudah melonggarkannya.
Ia hanya punya satu kesempatan kali ini, sekarang atau tidak selamanya, kesempatan untuknya untuk terus hidup atau mati dibakar bersama para tumbal dan Ni Lewun kembali mendapatkan tubuh mudanya lagi, ia dengan cepat melompat kearah Sada menendang jerigen minyak itu dan merebut obor, melemparkannya ke tubuh Sada.
“ARGH!”Sada menjerit, ia jatuh ke tanah dan berguling, api dengan cepat menyambar minyak tanah yang mengucur dengan deras dari jerigen, api dalam sekejap membesar.
Kina menjauh dengan napas tersenggal, mayat hidup itu tidak bergerak, seolah membiarkan tubuh mereka dilalap api, Kina melihat Ayahnya yang berdiri dengan kaku, api menari-nari melahap tubuhnya, ia tersenyum kearah Kina.
Kina menggelengkan kepalanya, teriakan demi teriakan bersahut-sahutan memekakan telinga, api semakin membesar melahap tubuh mereka, Kina berlari tanpa menoleh, ia terus melangkah sampai keluar dari desa.
Pekikan kesakitan itu masih terdengar menyayat hati, Kina berdiri di jembatan yang tadi ia lalu bersama Eda, air matanya tidak lagi bisa keluar, langit malam yang gelap telah berubah menjadi merah membara, api membakar desa mereka, Kina terduduk sambil memeluk dirinya sendiri, ia menggigil ketakutan, dalam semalam ia kehilangan banyak orang yang dikenalnya hanya karena ambisi seorang wanita yang ingin hidup abadi.
Kina menggigit bibirnya, ia melihat air yang mengalir deras di bawah jembatan, kalau ia mengakhiri hidupnya sekarang tidak akan ada yang terjadi lagi kan? Setelah ia mati, tidak adalagi keturunan para tetua desa, walaupun Ni Lewun selamat dalam kebakaran itu, ia tidak akan bisa hidup lama dengan tubuh busuknya.
__ADS_1
Kina mengangguk-anggukan kepalanya, ia tidak sudi menjadi tumbal oleh wanita itu, lebih baik ia sendiri yang merenggut nyawanya sendiri, mati lebih baik daripada harus menciptakan sebuah ilusi kebahagiaan semu untuk semua orang.
Gadis itu tersenyum, ia mengusap pipinya, berdiri di atas jembatan, batu-batu terjal di sungai itu terlihat, ia menguatkan hatinya walaupun kakinya tidak bisa tidak gemetar.
“Berhenti kau anak laknat!” Ni Lewun dengan tubuh menghitam berlari kearahnya, Kina tersentak dan menoleh, sudah ia duga tabib itu tidak akan mati dengan mudah, ia menggeleng pelan.
“Kuharap setelah aku mati, tidak akan ada lagi tumbal selanjutnya.”
Setelah mengatakan itu, Kina melompat ke sungai, air dingin dan batu-batu menyapa tubuhnya, ia melihat Ni Lewun yang meraung di atas jembatan, setelah itu merasakan air masuk ke paru-parunya, sesak dan sakit dikepalanya akibat tersandung batu.
Ia sakit, kematiannya sebentar lagi, namun ia merasa damai.
Damai dan dingin.
Semuanya telah berakhir setelah aku mati.
###
Terima Kasih untuk siapapun yang telah membaca cerita ini sampai tamat, silahkan tinggalkan kritik dan saran di kolom komentar jika berkenan. Jika suka membaca cerita saya, silahkan kunjungi akun instagram saya untuk info cerita saya yang lain.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.
__ADS_1
ig : @Winart12.