After I Die

After I Die
Manusia Iblis


__ADS_3

Empat jam sebelum kejadian ditemukannya Pak Mursa tewas.


Di sebuah ruangan yang temaram, dimana dinding-dinding kayu disusun rapat bersama batu bata, suara rantai berderit-derit, peluh berjatuhan ke lantai yang terbuat dari tanah, seorang laki-laki  lehernya terikat di tengah-tengah ruangan, mulutnya diikat oleh kain, matanya menatap nyalang ke arah bayangan wanita berambut panjang yang berdiri di ambang pintu.


Dia adalah Eda.


Sewaktu ia selesai bertanya mengenai apa yang terjadi padanya dan Kina, ia pulang ke rumahnya dan tiba-tiba pandangannya gelap, bangun-bangun ia menemukan lehernya di rantai di tempat yang sangat asing.


Ini sudah hari ketiga, ia merasa hampir gila.


Suaranya teredam oleh kain yang melilitnya, pandangannya terbatas saking gelapnya ruangan yang mengurungnya, ia tidak bisa membedakan apakah hari sudah malam atau sudah siang, suhunya sangat dingin menggigit ke tulang, aroma pengap ruangan membuatnya muntah cairan asam lambungya sendiri, selama tiga hari ini ia tidak memasukkan satu pun makanan ke mulutnya, ia curiga, orang yang melakukan ini padanya sebenarnya hanya ingin membunuhnya secara perlahan.


Siluet wanita itu bergerak mendekat, untuk pertama kalinya selama tiga hari  Eda melihat wanita itu


dalam jarak yang dekat,dengan santai tangan wanita itu memegang lilin dan meletakkannya di meja, Eda tertegun, matanya membulat, ia kaget, jantungnya terasa dihantam palu yang keras, berdebar tidak karuan, terasa sesak dan nyeri.


“Mph … Hmp ..?!” Eda berusaha bersuara namun teredam kain menyebalkan yang melilit itu.


Wanita itu menarik rambut Eda dengan kasar, memaksanya mendongak, laki-laki itu terhenyak, ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini.


“Tahu apa kesalahanmu?” Wanita itu buka suara dengan suara dingin, rambut Eda ditarik keras, ia mendesis kasar.


“Berani sekali banyak tingkah di depan ratu,” ucap wanita itu lagi, kakinya menendang perut Eda, membuat laki-laki itu tersungkur ke tiang, meringkuk memegangi perutnya.


“Untung bisa dibereskan secara cepat.”


Eda memejamkan matanya, ia tidak tahu apa maksud wanita di depannya ini, ia hanya merasa ia tidak melakukan sesuatu yang salah. Jika diingat-ingat, apakah sang ratu yang dimaksud itu adalah Nenek Niba?


Ia tidak melakukan apa pun di malam itu, ia hanya mengikuti Kina masuk kesana, bukankah Nenek Niba sudah mati dibakar di ritual pembersihan desa? Dan lagi mengapa wanita ini menculik dan menyiksanya? Apa tujuannya?


Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, sebelum sebuah tamparan mendarat di pipinya, tidak hanya satu kali namun berkali-kali, pipinya terasa panas dan membengkak.

__ADS_1


“Ni, tugas saya sudah selesai.” Suara seorang wanita muncul dari balik pintu, wanita yang dipanggil Ni itu mendengus lalu terkekeh.


“Saya serius, Ni. Biarkan saya pergi bersama adik saya,” lanjut wanita itu lagi, Eda tidak bisa menebak siapa pemilik suara itu, suaranya seperti dilapisi kain tebal, membuatnya terdengar aneh.


Ni Lewun, sang pelaku penamparan Eda itu menjambak rambut Eda lagi, lalu merenggutnya kesal. “Kamu pikir itu saja sudah cukup? Tugasmu masih banyak, sialan!”


“Apa lagi? Ini sudah yang keempat!” Wanita itu mengerang marah, tangannya menghentak dinding dengan kesal. “Saya sudah membunuh Ayahnya, Bu Mursa dan anaknya Narsih, lalu Pak Mursa, siapa lagi yang harus saya


bunuh?!”


Pipi Eda masih terasa berdenyut dan panas, tapi karena tamparan yang berkali-kali itu, kain yang melilitnya terlepas, dengan menatap nanar Ni Lewun yang masih berdebat dengan wanita misterius itu.


“Jadi kau yang melakukan semua ini?! Kau menipu semua orang! Kau ratunya!” Eda gemetar, ia menyusutkan tubuhnya ke tiang, hatinya berdenyut sakit, ini mungkin kedua kalinya ia merasakan rasa sakit luar biasa setelah kematian ayahya, di depannya saat ini, adalah orang paling ia percaya dalam hidupnya tetapi orang ini juga yang menjadi otak pembunuhan ayahnya.


“Sudah kuduga … ayah tidak bunuh diri … Narsih tidak bunuh diri … Nukas juga ... Kalian melakukannya?!”


Ni Lewun menoleh dengan sorot mata dingin, cahaya lilin dari meja sudut ruangan menambah kesan wajahnya yang berang. Ia tertawa terkikik-kikik, menjambak rambut Eda dan menghempaskannya ke tiang di belakang tempatnya terikat.


“Kenapa kau melakukan ini? Mayat hidup itu … kau … kau … yang mengendalikan mereka!”


“Benar, itu aku.” Ni Lewun tersenyum lebar. “Sejak awal kalian tinggal di desa ini hanya untuk menjadi tumbalku.”


Tangan Ni Lewun mencekik Eda, membuat laki-laki itu meronta-ronta dengan mata melotot lebar, tangannya berusaha melepaskan cengkraman Ni Lewun yang kuat.


“Yang ingin … khhkk …. abadi … khkk … itu … kau … khkkk …. Manusia iblis ….”


Ni lewun tidak henti-hentinya tertawa sejak tadi, semakin lama semakin melengking dan meyakiti telinga, tubuhnya yang ringkih itu tersentak-sentak, sedangkan wanita yang tadi masih berdiri di ambang pintu tanpa suara.


“Akh … Khkk ….” Eda merasakan napasnya diujung  tanduk, tubuhnya melemas, ia jatuh ke tanah ketika Ni Lewun melepas cengkramannya, Eda terbatuk-batuk dengan tubuh lemas.


“Kau beruntung,” Ni Lewun mengambil kain dan melilit kembali kain ke mulut Eda dengan kasar. “Urutan kematianmu yang ketujuh. Sabarlah sebentar lagi.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Aku butuh tujuh tumbal keturunan langsung keturunan pendiri desa, menurutmu siapa lagi yang akan tewas selain dirimu, Nak?”


Eda mematung, matanya melotot tidak percaya, Ni Lewun berdiri sambil menghela napas panjang, bunyi langkah kasar datang dari luar, seorang laki-laki bertubuh besar datang dengan tubuh basah.


“Sesuai rencana, Pak Mursa ditemukan tewas oleh warga, Ni.”


Ni Lewun tersenyum, ia mengambil pisau berkarat yang bersarang di dinding, menyelipkannya ke belakang punggungnya. “Ayo, kita laksanakan ritual selanjutnya.“


***


Dayuti melihatnya dengan jelas, matanya bahkan tidak berkedip, pisau itu teracung ke udara, dengan gemetar ia berdiri dan mengendap perlahan-lahan, menjauh dari kerumunan.


Entah apa yang ada di pikiran sang tabib, yang jelas hati kecilnya mengatakan ia harus pergi dari tempat ini sekarang juga.


“Kumpulkan para warga di bawah menara, kita harus menemukan pengikutnya!”


Ni Lewun berkata dengan dingin, Sada mengangguk kaku sambil menelan ludah.


 “Apa yang akan kau lakukan, Ni?!”


“Memburu pengikut Nenek Niba,” ucap Ni Lewun lagi, Sada dengan sigap menyeret seorang wanita dengan tangan besarnnya menuju tengah menara, seperti diberi mantera sihir, para laki-laki menyeret satu persatu istri dan anak mereka dengan kasar menuju menara, sontak saja, desa Damung yang sunyi dihiasi dengan teriakan ketakutan dan jeritan anak-anak.


Ni Lewun mengikuti dengan langkah tenang, ia menjadi sosok yang paling ditakuti dalam sekejap, tangannya masih memegang pisau yang terhunus.


Dayuti menyaksikan semua itu dengan tubuh gemetar hebat, ia langsung berlari dengan terhuyung-huyung di tengah hujan deras, sebagian warga kaget dan semakin ketakutan, mereka satu persatu mulai lari dan menyelamatkan diri.


Dayuti berlari, satu tujuan yang ada di kepalanya saat ini, rumah Kina.


***

__ADS_1


__ADS_2