
Hari sudah berganti Namun Alina tetap belum bangun dari Pingsannya, Semua yang ada di sana bertambah khawatir karena sesekali Alina menyebut Nama Aditya. Entah mimpi apa yang di alami Alina namun dari mata Alina yang tertutup, Alina selalu meneteskan air matanya.
"Apa Aditya belum bisa di hubungi?" Tanya Papa Mirren yang semakin khawatir
"Belum Pah" Jawab Tristan singkat.
Dari semalaman Mama Sabri, Tristan, Papa Mirren, Leo, Ziva, Arga dan juga Anggi tidak bisa tidur karena sangat menghawatirkan kondisi Alina.
"Ini sudah lebih 19 jam tapi kenapa Adit tidak bisa di hubungi" Tanya Leo frustasi
"Biar mama telefon Bunda Ana dulu mana tau Handphone Adit memang sengaja di matikan" ucap Mama Sabri sembari menelfon Bunda Ana
*Nada dering ponsel terus berbunyi sampai akhirnya ada suara sapaan dari ujung telfon*
"Halo.." ucap Bunda Ana
"Syukurlah kau mengangkat telfon ku" ucap Mama Sabri cukup tenang
"Ada apa sebenarnya.." tanya Bunda Ana khawatir
"Apa Adit sedang bersama mu?" Tanya Mama Sabri lagi
"Dia sedang berada di dalam kamarnya, sejak Alina memutuskan telfonnya Adit sangat irit untuk berbicara dia hanya mengatakan hal-hal yang paling saja" ucap Bunda Ana sedih
"Apa yang sebenarnya terjadi di sana?" tanya Bunda Ana lagi
"Alina tidak makan dan minum selama 4 hari ini dokter mengatakan itu sangat tidak bagus untuk tubuh manusia normal, dan semalaman Alina pingsan dan sampai sekarang dia masih belum sadar. Namun dia selalu menyebut nama Adit" ucap Mama Sabri sembari meneteskan air matanya
"Aku akan memberi tau Adit.." Bunda Ana mematikan telfonnya dan berlari menuju kamar tidur Aditya.
......Nederland......
"Adit..." Teriak Bunda Ana sembari mengetuk pintu kamar Adit
"Masuk Bunda kamar Adit tidak di kunci" ucap Adit sembari duduk di kursi kamarnya dan memijat kepalanya
*Bunda Ana langsung membuka pintu dan bergerak cepat dan duduk di samping Adit*
"Adit ada yang ingin bunda bicarakan dengan mu" ucap bunda Ana
"Bun.. Jangan sekarang ya" ucap Adit
"Kalau tidak sekarang nyawa Alina tidak akan terselamatkan" ucap Bunda Ana tegas
"Apa maksud Bunda?" tanya Adit bingung
"Sudah 4 hari Alina tidak makan dan minum dia drop Adit dan semalaman Alina pingsan dan selalu menyebut namamu" ucap Bunda Ana tegas
*Tidak ada jawaban dari Aditya namun dia Hanya meneteskan air matanya*
"Kamu mau kan ngomong sama Alina kalau Alina sudah bangun nanti" tanya Bunda Ana
"Alina sudah dewasa Bun.." ucap Adit
"Apa maksud kamu Adit" Bunda Ana marah karena perkataan Aditya tadi
"Alina sudah dewasa dia pasti bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri bunda.. Lagian Adit dan Alina sekarang hanya sebatas Mantan sahabat jauh dari kata sahabat dan tidak bisa juga dikatakan sebagai teman" ucap Adit sembari menghapus air matanya.
"Aditya tolong jauhkan keegoisan mu, Kalau kamu begini terus mungkin saat kamu kembali ke Indonesia kamu tidak akan pernah bertemu Alina lagi, entah itu Alina masih hidup ataupun sudah mati karena keegoisan kalian berdua!" ucap Bunda Ana lantang.
Selama ini Bunda Ana tidak pernah marah kalau Adit dan Alina berantem namun beda cerita dengan sekarang. Sekarang kondisinya Keegoisan Mereka Bisa Menghancurkan Satu Sama Lain.
"Adit dengerin Bunda.. Saat ini tolong redakan Keegoisan kalian, Tolong bicara baik-baik, Kamu gak mau kan Kalau hubungan kalian hanya sampai di sini saja?" Bujuk bunda Ana
"Adit bingung bunda.."Ucap Adit menangis
"Bingung kenapa Adit?" Tanya bunda Ana
"Adit bingung harus bersikap bagaimana di Depan Alina.. Adit sedih karena ninggalin Alina namun itu demi kebaikan kami bersama Bunda" ucap Adit frustasi
"Adit apa kamu mau mendengarkan saran Bunda?" tanya Bunda Ana
"Apa Bunda..?" tanya Adit bingung
.....
.....Rumah Sakit.....
"Ma.. Pah.. kalian pulang saja ya biar Tristan dan yang lain di sini" ucap Tristan khawatir dengan kondisi kedua orangtuanya
__ADS_1
"Mama gak mau pulang" ucap Mama Sabri tegas
"Ma dengerin Tristan dong, Tristan bisa kok jaga Alina. Nanti kalau ada perkembangan dari Alina, Tristan akan Telfon Mama dan papa kok" ucap Tristan membujuk
"Benar mah.. mending kita pulang sekarang kamu gak tau kan dari semalaman kau gak istirahat karena khawatir dengan kondisi Alina" bujuk Papa Mirren
"Yah sudah Mama pulang, Tapi kalian harus memberi tau perkembangan Alina supaya Mama tidak khawatir" ucap mama Sabri dan pergi bersama Papa Mirren.
.....10 Menit kemudian.....
"Adit.." ucap Alina sembari membuka matanya perlahan
"Al.. akhirnya kamu sadar juga" ucap Ziva senang
"Aku panggil dokter dulu" ucap Anggi melangkah pergi
"Apa yang sakit Al.." tanya Leo
"Kepala aku, perut aku" keluh Alina sembari memegang kepala dan Perutnya yang rata
"Apa sesakit itu?" tanya Ziva panik
*Alina hanya menganggukkan kepalanya*
Dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Alina, Dokter itu bernafas lega.
"Akhirnya kau sadar juga, Kondisinya sudah membaik tapi kau harus segera makan dan minum obat my" perintah dokter itu
*Alina menggelengkan kepalanya*
"Biar kami yang membujuk Alina dokter" ucap Ziva.
Dokter segera keluar dari ruangan Alina
"Al makan ya" bujuk Tristan
*Enggak kak.. Alina gak lapar" ucap Alina
"Kata mu tadi perut mu sakit" Ucap Leo
"Gak jadi sakit" ucap Alina cemberut
"Al ada yang ingin ngomong sama kamu" ucap Arga
"Siapa, Apakah Adit tidak jadi pergi ke Nederland" tanya Alina bersemangat
"Dia jadi pergi ke Nederland tapi dia ingin Video call berdua dengan mu" ucap Arga memberikan sebuah laptop ke pangkuan Alina.
Tristan membantu Alina untuk duduk. setelah itu Tristan membawa Ziva, Arga, Leo, dan juga Anggi ke luar ruangan.
.....Vidio Call.....
"Halo Alina.." ucap Adit yang tiba-tiba muncul
"Adit kau mengagetkan aku" Alina kesal sekaligus tersenyum melihat tingkah Adit yang masih sama seperti dulu
"Oh ia Al.. Aku dengar kamu lagi ada di rumah sakit, Apa itu benar?" Tanya Adit pura pura tidak tau
"Iya.." jawab Alina singkat
"Enak dong gak kuliah, gak mikirin tugas.." ledek Adit
"Enak apaan ia sih gak ada tugas, gak kuliah tapi kan harus terbaring lemah di kasur jelek ini" umpat Alina yang kesal karena untuk pertama kalinya dia tidur di kasur rumah sakit
"Kamu mau aku bikin gak sakit?" tanya Adit
"Caranya?" tanya Alina balik
"Tadi aku udah persen makanan kesukaan kamu mungkin sebentar lagi sampai" ucap Adit sembari tersenyum.
*Tok.. Tok.. Tok* suara ketukan pintu
"Masuk" ucap Alina
"Ini ada pesanan makanan untuk kamu tapi gak tau dari siapa" ucap Tristan memberikan boks makanan lalu pergi begitu saja.
"Apa ini dari kamu?" tanya Alina kepada Aditya
*Adit menganggukkan kepalanya*
__ADS_1
"Coba buka.." ucap Adit
"Gak mau!" bantah Alina
"Buka aja dulu" ucap Aditya
*Alina membuka boks makanan itu*
"capcay.." ucap Alina
"Kamu suka gak?" tanya Adit
"Dulu.." ucap Alina
"Sekarang?"Tanya Adit
"Enggak" jawab Alina ketus
"Gimana kalau kamu makan terus di sini aku juga makan biar kita makan bareng" ucap Adit
*Alina menggelengkan kepalanya*
"Ayo lah Alina.. Biar aku makan juga. Tau tidak tadi aku tidak memakan makanan pesawat sama sekali" ucap Adit sembari cemberut
"Kenapa?" tanya Alina khawatir
"Gak enak.. jadi sampai di rumah aku meminta Bunda untuk memasakkan aku makanan kesukaan kamu... Ayam bakar" Adit menggoda Alina
"Kamu jahat seharusnya tidak ku izinkan bunda Ana pergi biar aku bisa makan masakan bunda" ucap Alina kesal
"Kamu bisa makan masakan bunda" ucap Adit
"Caranya?" tanya Alina tidak percaya
"Desember tanggal 11 bunda akan ke Indonesia mungkin tanggal 12 baru sampai. Kamu bisa datang ke bunda dan Makan masakan bunda nanti, sekarang kamu makan itu dulu" bujuk Adit
"Kamu sedang tidak berbohong kan?" tanya Alina
"Tidak kok kamu makan ya" Adit masih terus membujuk Alina
*Alina menganggukkan kepalanya dan langsung memakan makanan yang dibawa orang yang di suruh Adit*
"Adit di sana sedang musim apa?" Tanya Alina sembari menyuap makanan ke mulutnya
*Adit tidak menjawab pertanyaan Alina karena mulutnya penuh dengan makanan*
"Pelan pelan Adit" ucap Alina sembari tersenyum
"Hehe enak soalnya, Ngomong ngomong soal musim di sini sedang musim gugur.. Banyak dedaunan yang jatuh.." Ucap Adit
"Waktu yang so sweet.." ucap Alina sembari memajukan mulutnya
*Adit terkekeh melihat tingkah Alina yang seperti anak kecil*
"Oh ia kamu bilang bunda akan ke sini bukan?" tanya Alina
"Iya Alina.." ucap Aditya
"kamu akan ikut bersama bunda ke Indonesia kan?" Ucap Alina tersenyum
*Kini Adit terdiam bukan karena ada makanan di dalam mulutnya tapi karena dia bingung untuk menjawab pertanyaan Alina itu*
"Adit.. kamu akan ikut bunda kan?" tanya Alina sekali lagi
*Adit menggelengkan kepalanya*
"Serius Adit?" ucap Alina lagi
"Aku gak akan ikut bunda, Aku hanya akan pulang kalau sudah tujuh atau sembilan tahun di Nederland. Maafin aku" ucap Adit sendu
"Kenapa harus tujuh atau sembilan tahun lagi?" tanya Alina balik
"Kalau aku sudah bisa move on aku akan kembali ke Indonesia kok" ucap Adit tersenyum hangat
"Kamu gak ingat kalau aku ingin belajar mencintai kamu?" tanya Alina lagi
"Alina cinta tidak bisa di ajarkan, rasa cinta itu datang sendiri" ucap Adit sembari tersenyum
*Dengan cepat Alina mematikan Video call nya*
__ADS_1
___________________________________________