AKAN TERUS BERUSAHA

AKAN TERUS BERUSAHA
Kesediaan


__ADS_3

Pagi hari ini Adalah hari pemakaman Papa Mirren dan hari ini juga adalah hari terakhir kalinya mereka melihat Papa Mirren.


Satu demi satu air mata membasahi semua Pipi mereka.


"Semangat Jalan Papa, Semoga Papa di terima di sisi Allah" ucap Alina


"Papa pasti di terima di Sisi tuhan kalau kita selalu mendoakan Papa" ucap Tristan


"Ia kak.. Mah.." Panggil Alina yang melihat Mama Sabri terus terduduk di samping Makam Papa Mirren.


"Mama jangan sedih terus ya.. kita harus bisa buat Papa tenang jangan buat Papa sedih dan Khawatir karena kita terus menangisi Papa" ucap Alina sembari menghapus air mata Mama Sabri


"Ia sayang.. kamu juga jangan nangis terus ya, kita doakan Papa semoga Papa di terima di sisi Allah" ucap Mama Sabri


"Amin" ucap mereka semua bersamaan


"Ya sudah ayo kita pulang" ucap Tristan


"Pah.. Alina pulang dulu, Kalau Papa rindu Alina datanglah ke mimpi Alina dan nanti kalau Alina rindu Papa, Alina akan kunjungi Papa kok, Alina pulang ya pa" ucap Alina sembari mencium Nisan Papa Mirren.


Mereka semua pun pulang ke rumah keluarga Alina. mereka pun duduk di ruang keluarga


"Ma.. Alina boleh nanya sesuatu?" ucap Alina


"Tanya apa Sayang" ucap mama Sabri


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Papa, Selama ini Alina tidak tau kalau Papa punya sakit, tapi kenapa tiba-tiba Papa bisa..." Alina tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya


"Selama ini Papa sebenarnya punya penyakit jantung kronis, Selama ini Papa bertahan untuk tidak operasi karena Papa Takut untuk operasi dan kesempatan Papa untuk selamat dari Operasinya hanya 30%" ucap Mama Sabri


"Hiks.. Hiks.. Kenapa Al baru tau Ma? Tanya Alina


"Papa yang minta supaya kamu tidak tau, Papa tidak mau kamu khawatir sayang" ucap Mama Sabri sembari menghapus air mata Alina


"Tapi Alina berhak untuk tau Mah.." ucap Alina sembari menangis


"Bun Bun jangan menangis" ucap Adit, Adit mendekati Alina lalu Adit menghapus air mata Alina


"Ia Bun Bun jangan menangis, nanti kalau Bun Bun nangis aku akan sedih" ucap Claudia sembari memeluk tubuh Alina


"Ia Sayang bunda gak akan nangis lagi kok" Alina mengelus rambut Adit dan Claudia

__ADS_1


"Bun Bun apakah kau tau, dulu aku juga sangat sedih saat kehilangan Ayah dan Bunda ku tapi aku berusaha untuk kuat karena aku masih punya Claudia untuk aku bahagiakan, Bun Bun juga harus kuat karena Bun Bun masih punya Grandma yang harus Bun Bun bahagian" ucap Adit sembari tersenyum hangat


"Ia sayang bunda akan terus tersenyum, Asal kalian harus bersama dengan Bunda" ucap Alina


"Kami akan selalu bersama Bun Bun, Janji" ucap Claudia.


*Pa.. doain Alina, Kak Tristan dan Mama di sini ya, Alina janji akan selalu membuat Mama bahagia, Alina berjanji tidak akan sering sering bertengkar dengan kak Tristan. Terimakasih karena sudah bersama Alina selama 23 tahun. Alina gak tau hidup Alina tanpa Papa, tapi Alina janji akan selalu berusaha bahagia walaupun tanpa Papa.." gumam Alina


"Kak Tristan" ucap Alina


"Iya?" ucap Tristan yang tersadar dari lamunannya


"Kak aku ingin ke villa" ucap Alina


"Kenapa?" tanya Tristan bingung


"Papa pernah bilang kalau Papa punya sesuatu untuk aku tapi aku baru bisa mengambilkan saat Papa sudah pergi meninggalkan kita" ucap Alina menahan tangisnya


"Kapan kau mau ke sana?" Tanya Tristan


"Lusa saja kak, Aku gak sanggup untuk ke sana" ucap Alina


"Kak aku ingin ngomong berdua sama kakak" ucap Alina dan Alina beranjak pergi lalu Tristan mengikuti dari belakang. Mereka pun berhenti di taman belakang rumah.


"Kak.. Alina bingung dengan hidup Alina, Alina gak tau keputusan Alina benar atau enggak tapi Alina mohon banget kasih Alina pendapat" ucap Alina


"Pendapat tentang Apa Alina?" Tristan semakin bingung


"Aku takut kau marah kak" ucap Alina


"Apa sebenarnya yang kau bicarakan Alina, Aku tidak mengerti" ucap Tristan.


*Alina menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar*


"Cepat katakan Alina" ucap Tristan sembari mencengkram bahu Alina


"Alina akan menjauh dari Aditya" ucap Alina sembari menundukkan kepalanya


"Kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi Alina?" tanya Tristan


"Al gak mau nyakitin perasaan Aditya terus kak, Alina mau memberikan Aditya bertemu perempuan yang lebih baik" Ucap Alina

__ADS_1


"Apa kamu sudah mempertimbangkannya?" tanya Tristan


"Sudah kak, Walaupun Alina akan sakit, Alina akan tetap bertahan dengan pendirian Alina" ucap Alina


"Ya sudah kalau itu keputusan yang kau ambil" ucap Tristan sembari mengelus rambut Alina


"Kita masuk sekarang yuk kak" ucap Alina sembari menarik tangan Tristan.


...*Mereka pun masuk ke dalam rumah*...


Saat Alina makan dia sama sekali tidak menyentuh nasinya dia hanya mengaduk aduk nasi sembari menatap bangku yang sedang di duduki Tristan yang biasanya dipakai Papa Mirren. Tak terasa air mata Alina turun mengingat semua kenangan Papa Mirren.


*Maafin Alina karena tidak ada di samping Papa di saat saat terakhir Papa, Andai saja Alina bisa mengulang waktu Alina hanya mau di samping Papa. Aku tau Papa sayang sama Al tapi Al juga berhak untuk tau Pa, Al juga mau ada di samping Papa, Al juga mau ngerawat Papa, Al mau tidur disampainya Papa, Al mau seperti dulu..* Batin Alina


"Hiks.. Hiks.." Alina senggugukan


"Al.." Panggil Mama Sabri


*Dengan cepat Alina menghapus air matanya*


"Ia ma.." jawab Alina sembari tersenyum


"Makanannya jangan di mainin" Ucap Mama Sabri


"Ia ma.. Al hanya tidak lapar saja" ucap Alina


"Kamu mau kamu sakit, kamu mau kejadian sebulan yang lalu terulang lagi?" tanya Mama Sabri


*Alina menggeleng, lalu Alina menyuap satu sendok nasi kedalam mulutnya*


"Al.. selesai makan nanti aku mau ngomong sama kamu ya" ucap Aditya


*Alina melihat sekilas ke Arah Aditya, Lalu Alina mengalihkan pandangannya*


"Wil.." Panggil Alina


"Iya?" jawab Wiliam


"gak papa ngetes aja, aku kira nama kamu sudah di ganti" ucap Alina sembari tersenyum manis


"kau ini" ucap Wiliam

__ADS_1


Mereka semua melanjutkan makan dengan Hikmat, tidak ada pembicaraan lagi di meja makan, hanya ada suara hentakan piring yang terbentur dengan sendok


__ADS_2