
...Sesampainya di Rumah...
"Alina Apa kau benar-benar ingin meninggalkan Mama mu" ucap Mama Sabri sembari menangis.
Semua orang sekarang mereka sangat sedih karena Alina sudah bersiap untuk pergi ke New York.
"Mah dengerin Alina ya.. Alina akan kembali ke sini, ke rumah kita kalau waktu nya sudah tepat. Alina janji Alina akan selalu mengabari keadaan Alina ke kalian" ucap Alina sembari tersenyum hangat
"Tapi Al kamu akan hidup dengan siapa di sana kita tidak punya keluarga di sana?" tanya Papa Mirren khawatir
"Tenanglah pah.. Alian sudah besar sekarang, Alina bisa mengurus hidup Alian." Ucap Alina meyakinkan bahwa Alina akan bisa mengurus hidupnya sembari menggenggam tangan Mama dan Papanya.
"Kak.." panggil Alina
"Iya.." ucap Tristan menahan air matanya
"Aku akan merindukan mu, Aku tidak akan punya teman untuk ku ganggu lagi. Kenapa kau tidak melarang ku kak.. Apa kau senang kalau melihat aku pergi?" tanya Alina sembari memeluk tubuh Tristan.
"Apa kau senang berpisah dengan ku?" tanya Tristan balik
"Ya tidak lah.. kenapa kakak menanyakan itu kepada ku?" tanya Alina sembari cemberut di pelukan Tristan
"Seperti itulah perasaan ku sekarang, Aku tidak rela berpisah dengan mu.. Namun Ini sudah jadi keputusan mu, dari dulu aku tidak pernah membantah perkataan mu Alina.. kakak juga pasti akan merindukan mu" ucap Tristan sembari membalas pelukan Alina.
"Apa kau tidak akan merindukan kami Alina?" Tanya Leo
Alina melepas pelukan Tristan dan beralih melihat keempat sahabatnya yang sedang berdiri di belakang tubuh Alina
"aku pasti akan merindukan kalian kalian sahabat terbaikku.. Kak Leo jaga Anggi ya, aku percaya Kakak bisa menjaga diri dengan baik. Arga jaga Ziva baik baik ya, Aku tau kok kalau kamu suka sama Ziva" ucap Alina sembari menggoda Ke empat sahabatnya itu.
Mereka semua terdiam entah apa sekarang yang ada di pikiran mereka.
"Mah Pah.. Alina pergi dulu kalian baik-baik di sini Alina pasti akan merindukan kalian" ucap Alina sembari memeluk kedua orang tuanya.
"kamu juga hati-hati Alina Jangan mudah percaya kepada orang baru. kabari Mama kalau udah sampai" ucap Mama Sabri
"apa kau tidak mau Papa antar ke bandara?" tanya Papa Mirren
"Tidak perlu Pah.. Alina akan lebih mudah meningkatkan kalian di sini. Alina pergi dulu.." ucap Alina menuju Mobil dan bergegas menuju bandara.
...**18 Jam kemudian...
...NEW YORK**...
*Perjalanan hidup ku yang baru akan di mulai dari sini, Aku akan berusaha untuk melepaskan masa lalu ku dan membangun masa depan yang lebih baik di sini. Aku janji kepada mu Adit, aku Alina Ophelia tidak akan melirik laki laki lain di sini karena aku yakin sebenarnya aku memilih perasaan yang sama dengan mu.* ucap Alina dalam hati dan menguatkan hatinya.
"Hai teman teman, Aku Penulis Novel ini cuma mau bilang setiap Alina ngomong di New York anggap di menggunakan bahasa None ( bahasa resmi New York ) Please mohon mengerti"
"Permisi pak, Apa kau tau alamat ini?" Tanya Alina kepada supir taksi
"Iya Nona tempat yang anda beri ini lumayan dekat dari sini, Mari saya Antara" ucap supir taksi tersebut
Tak perlu waktu lama supir taksi tersebut membawa Alina sesuai Alamat yang ia tunjukkan.
"Sudah sampai Nona, Apa ini rumah anda? ini besar sekali?" ucap supir taksi tersebut berdecak kagum
"Bukan pak ini rumah orang tua saya, ini uang nya pak" ucap Alina sembari memberikan uang
"Sama saja nona" ucap supir taksi sembari menerima uang dari Alina.
Tanpa menyahuti ucapan supir taksi tersebut Alina masuk ke dalam rumahnya.
"Sekarang aku bingung mau ngapain. Gini nih kalau pergi ke luar negeri tanpa planning apapun" keluh Alina kepada dirinya sendiri.
"Rumah ini lumayan besar untuk satu orang, Apa aku cari pembantu ya? Gak usah deh lagian Aku di sini mau hidup mandiri bukan berfoya-foya." ucap Alina lagi
"Sepertinya rumah ini harus segera di bersihkan, lumayan banyak debu di sini" Alina langsung membuka kain putih yang menutupi Sofa, lemari, Meja.
Lama Alina membersihkan rumah itu. Rumah itu memiliki dua lantai dan satu kolam renang yang di lengkapi taman di sekitar kolam renang.
"Capek" Ucap Alina sembari meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Lapar juga lagi, mending sekarang aku mandi lalu cari makan dan sekaligus membeli bahan makanan" ucap Alina sembari jalan ke kamar mandi.
"Oh ia aku kan belum mempersiapkan apapun, masa sekarang aku harus mandi tanpa sampo dan juga sabun sih. Andai ini Indonesia pasti sekarang aku bisa beli ke warung" ucap Alina kesal dan hanya membilas tubuhnya saja tanpa menggosok tubuhnya.
15 Menit berlalu Alina memutuskan untuk pergi mencari tempat makan dengan berjalan kaki.
"Sekarang sudah jam 7 malam tapi masih ramai, Syukurlah" ucap Alina sembari terus berjalan.
Tut.. Tut.. Tut.. (dering hp Alina)
"Halo" ucap Alina menjawab sambungan telepon tersebut
"Halo Alina, kamu sudah janjikan kalau sudah sampai mau mengabari kami" ucap Tristan khawatir
__ADS_1
"Astaga kak Alina lupa, Sorry habisnya keasikan beres beres rumah" ucap Alina sembari memukul pelan dahinya
"Oh ia kakak lupa panggilkan pembantu untuk kamu, Kamu mau berapa?" tanya Tristan
"Gak usah kak, Alina bisa menyelesaikan semuanya sendiri kok. Mama Papa mana kak?" tanya Alina mengalihkan pembicaraan
"Ini lagi memelototi aku" ucap Tristan bergidik ngeri
"Mah.. Pah.. jangan gitu dong sama kak Tristan, Walaupun dia Dewa penghancur tapi dia sekaligus dewa pelindung buat aku" ucap Alina
"Gak nyambung Alina ini soal pembantu" ucap Tristan penuh penekanan
"Nyambung kok kak aku baru mau bilang Kalau Kakak itu dewa pelindung aku juga sekarang buktinya kakak memenuhi kebutuhan aku sekarang" ucap Alina meyakini Papa dan Mamanya
"Kamu baik baikkan sampai di sama?" tanya Mama Sabri khawatir
"Kalau anak mama ini tidak baik baik saja, mana mungkin sekarang aku bisa mengangkat telepon dari mama" ucap Alina kesal
"Apa kamu sudah makan?" tanya Papa Mirren
"Lagi cari makan Pah.. kalian sudah makan?" tanya Alina balik
"di sini sudah sarapan Alina bukan makan malam lagi" jawab Tristan mencibir
"Itu mulut gak bisa di rem dikit apa, Adiknya jauh bukannya di tanya Udah makan atau lagi apa, ini malah di ejek terus. Kalau aku di situ Udah aku jitak" ucap Alina kesal
"Adik ku sayang kamu udah makan?" tanya Tristan berusaha untuk berbicara baik
"Bodoh.." ucap Alina
"Kamu mengatai aku bodoh?" tanya Tristan kesal
"iya.. tadikan Papa sudah menanyakan itu. Gak bisa cari pertanyaan lain apa?" Cibir Alina
"Sudah sudah sekarang kalian malah jadi ribut gini, Alina minta maaf kepada kakak mu" ucap Mama Sabri
"Maaf kak seharusnya aku tidak mengatakan kamu bodoh walaupun itu kenyataannya" ucap Alina sembari tertawa
"Kamu ini.." ucap Tristan kesal
"sudah sudah, Alina kamu butuh apa di sana?" tanya Papa Mirren
"Tidak perlu apapun Pah..."
"Tristan belum memberikan Alina mobil Pah.." ucap Tristan memotong perkataan Alina
"Tidak.." belum sempat menyelesaikan perkataannya Tristan malah memotong kalimat Alina lagi.
"Oke besok mobil Lamborghini Veneno akan ada di depan rumah mu'' ucap Tristan lagi
"Pah tolong bilang kak Tristan kalau aku tidak butuh mobil mewah itu" Alina mengadu kepada Papa Mirren
"Alina apa yang di lakukan kakak mu benar, jangan menolaknya ya" ucap Papa Mirren
"Terserah deh.." ucap Alina lagi
"Pah.. Mah.. Kak.. Alina matikan Telfonnya dulu ya ada yang butuh pertolongan Alina sekarang" tanpa mendengar perkataan orang tuanya Alina langsung memutuskan panggilan telepon tersebut.
Di Depan Alina sekarang ada seorang Anak laki laki yang sedang di pukuli, entah kesalahannya apa yang dia perbuat sampai di pukuli Seperti ini
"Stop.. Apa yang kalian lakukan, Dia masih kecil" teriak Alina
"Dia mencuri roti ku, dia harus di beri hukum atas perbuatannya" ucap salah satu laki laki tua yang menggunakan celemek
"Hanya sebuah roti, tapi kau tega memukuli dia seperti ini. Berapa harga roti itu biar aku bayar lima kali lipat!" ucap Alina marah sembari melempar uang ke kaki pria tua itu
"Kenapa kau membela pencuri ini, dia telah mencuri milik orang lain" bentak pria tua itu
"Kau tidak tau alasan dia Mencuri jadi tidak perlu menghakiminya, itu uang mu dan cepat pergi" Alina mengusir laki laki tua tersebut dan membawa anak laki laki itu untuk beristirahat sejenak. Sesampainya di pinggir Taman.
"kau tidak apa apa?" tanya Alina
*Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya*
"Gak usah takut, Aku tidak akan melukai mu" ucap Alina
"Kau janji" Tanya Anak laki laki itu
"Janji, Siapa nama mu?" tanya Alina
"Adit" ucap Anak laki laki itu
"Adit?" tanya Alina tidak percaya
"Iya nama ku Adit Apa ada yang salah?" tanya Anak laki laki yang bernama Adit
__ADS_1
"Kau hanya mengingatkan aku kepada sahabat ku saja. Kenapa kau mengambil roti ini? Apa kau lapar?" tanya Alina lagi
"Aku memang lapar tapi roti ini tidak untuk ku" ucap Adit kecil
"Kalau bukan buat mu lalu untuk siapa?" tanya Alina
"Adik ku.. Namanya Claudia. Dia mengeluh lapar kepada ku, jadi aku sebagai kakak tidak bisa melihat dia kelaparan" ucap Adit menangis
"Dimana orang tua kalian?" tanya Alina
"Orang tua kami Sudah meninggal jadi hanya aku yang bisa mengurusnya sekarang" ucap Adit kecil sembari menundukkan kepalanya
"Berapa umurmu dan umur adikmu?" tanya Alina
"umurku Tiga tahun dan Adik ku 1 tahun" ucap Adit
"di mana sekarang adik mu?" tanya Alina khawatir
"Di rumah kami" ucap Adit
"Boleh aku melihatnya?" tanya Alina
*Adit tidak menjawab namun dia menarik tangan Alina menuju suatu rumah yang hampir rubuh tersebut*
"Ini rumah ku maaf kalau jelek" ucap Adit
"Rumah mu bagus" ucap Alina sembari tersenyum
"Kau tidak perlu memuji rumah ku, aku bisa membedakan mana yang jelek dan mana yang bagus. Ayo masuk" ucap Adit
*Alina tidak menjawab perkataan Adit melainkan dia hanya mengikuti langkah Adit"
"kakak Apa kau sudah membawakan aku makanan aku sangat lapar" Keluh anak kecil perempuan itu
"Ini makan lah" ucap Adit
"Terimakasih kakak, siapa dia?" tanya Anak kecil perempuan itu
"Hay adik manis nama Aku Alina, siapa namamu?" tanya Alina sembari mensejajarkan tubuhnya dengan anak perempuan itu
"Perkenalkan namaku Claudia" ucap Claudia sembari tersenyum
"Apa kau mau ikut dengan ku?" tanya Alina
"Apa maksudmu apa kau mau memisahkan aku dengan kakak ku?" tanya Claudia sembari memeluk kakaknya
"Adit apa kau mau hidup dengan ku. Aku janji akan memenuhi kebutuhan kalian." ucap Alina sembari tersenyum manis
"kau tidak akan menjual kami kan?" tanya Adit
"Tidak akan.." ucap Alina sembari tersenyum
"Mau" ucap Claudia
Adit tersenyum melihat tingkah Adiknya tersebut.
"kita ke rumah Sekarang. Nanti aku belikan makanan dan baju secara online" ucap Alina sembari melangkah keluar rumah sekaligus membawa Adit dan Claudia pergi.
Sesampainya di rumah Alian
"Apa ini rumah mu?" tanya Adit
"Iya.." jawab Alina bingung
"Berapa orang di dalamnya?" tanya Adit lagi
"Hanya aku" jawab Alina polos
"Kau sendiri namun rumah mu sebesar ini?" tanya Claudia tidak percaya
"Sekarang ini tidak hanya lagi rumah ku melainkan rumah kalian juga sekarang" ucap Alina sembari menuntun Adit dan Claudia masuk
"Di rumah ini ada lima kamar di atas ada tiga dan di bawah ada dua. Apa Claudia mau tidur dengan ku?" tanya Alina
"Mau.." ucap Claudia Senang
"Apa Adit mau tidur bersama ku juga?" tanya Alian
"Apa aku boleh tidur terpisah dengan mu. Aku anak laki laki jadi tidak boleh ketergantungan" ucap Adit
"Boleh kamu tidur di samping kamar ku" ucap Alian.
Ding.. Dong.. ( suara bel rumah )
"Itu pasti Makanan dan baju Kalian" ucap Alina berlari ke depan pintu dan segera masuk kembali
__ADS_1
"kita makan dulu baru itu kalian mandi dan setelah mandi kita tidur" ucap Alina sembari membuka bungkus makanan.
____________________________________________