
Setelah hampir 2 jam dalam pesawat Akhirnya Alina dan yang lain sampai di
Bandar Udara Internasional Ngurah Rai.
"Benarkan dugaan Aku kau bawa kami ke sini, Makasih Alina" ucap William
"Entah sengaja atau enggak tapi kita punya tujuan yang sama" ucap Alina sembari tersenyum hangat
"finally get to Bali, Thank you Alina. Jadi gak sabar mau ke pulau Dewata!" ucap William
"Kamu juga tinggal dekat situ?" tanya Alina
"Di sekitar situ dan dulu waktu aku masih kecil dan pulang ke Indonesia aku dan sepupuku suka main ke pulau Dewata" jelas William
"Kita besok ke sana ya, sekarang mending kita ke hotel. kita istirahat dulu, kemas barang barang terus kita makan'' ucap Tristan
"Sip" ucap mereka bersamaan
Merekapun pergi ke sebuah hotel bintang lima dan memesan Presidental Suit yang berisi 5 kamar tidur yang difasilitasi band up, big size tempat tidur dan pemandangan yang langsung ke arah laut, 1 ruang kumpul, satu ruang makan beserta dapur dan dilengkapi oleh peralatan masak.
setelah mereka selesai membereskan barang mereka, Tristan segera membeli makanan untuk menemani mereka dan menghabiskan waktu untuk mengobrol Sekalian mengobrol bersama.
"Ding.. Dong (suara bel)"
dengan cepat Tristan melangkah ke luar kamar dan segera mengambil makanan yang dipesannya dan setelah mengambil makanan dia kembali ke ruang kumpul.
"Makana datang" ucap Tristan yang membawa makanan
"Asik.." teriak mereka senang
"Oh iya gimana sih kamu selamat ini New York?" ucap Ziva membuka pembicaraan
"enggak gimana-gimana sih, cuma pergi ke kampus terus jalan-jalan sama Adit dan Claudia" ucap Alina sembari memasukkan satu gigit pizza ke dalam mulutnya
"jadi Rebbeca Michella Wiliam Adam dan Danny ketemu di mana Kok bisa jadi sahabat?" tanya Leo menyambar
"kalau mereka teman kampus Kak, awalnya Rebecca Michelle nyamperin aku di kelas terus mereka ngajak aku keliling kampus Eh gak sengaja ketemu William Adam dan Danny. jadi setelah Selama 2 bulan terakhir mereka teman aku di kampus" ucap Alina menjelaskan
"Jadi kamu masih mau tetap untuk tinggal di New York?" tanya Anggi penasaran
seketika Alina menatap Aditya yang sedari tadi menatap dirinya. Alina menatap sendu, Alina takut kalau ucapan yang akan diucapkannya menyakiti hati Aditya.
"kayaknya aku akan tetap tinggal di New York untuk saat ini, beberapa bulan lagi aku lulus dan semoga aku bisa bantu Kak Tristan mengelola perusahaan baru Papa apa di New York. dan sepertinya aku akan tinggal lebih lama di New York karena aku tidak mau meninggalkan Adit dan Claudia, mereka sudah menganggap aku sebagai ibunya dan aku sudah menganggap mereka sebagai anak aku, aku nggak mau meninggalkan mereka.'' Alina menatap sendu kearah Adit dan Claudia
"Oh iya Dit, ada cerita apa aja di Nederland?" tanya Tristan
__ADS_1
"nggak ada cerita apa-apa Kak, aku nggak banyak bergaul di sana setelah kuliah aku langsung ke rumah dan palingan kalau nggak ke rumah aku ngurus bisnis" ucap Adit
"enggak kepikiran cari cewek baru gitu?" banyak Tristan
''maksudnya Kak?'' Aditya bingung dengan ucapan Tristan barusan
''maksudnya aku, enggak ada niatan cari cewek baru gitu Netherland kan banyak cewek cantik"jawab Tristan ngasal
"sampai saat ini belum kak, entahlah kenapa" Aditya tersenyum kecut
"emang Aditya dulu pernah dekat sama siapa'' ucap Rebecca yang tidak tahu apa-apa
''dia suka sama sahabat yang dari kecil udah kenal deket sama dia tapi sayangnya si cewek nggak peka" jawab Leo menimpali
''kasihan banget lo Dit, sabar ya biasanya cewek yang susah buka hati akan setia sampai mati" ucap Michella
"gue jadi penasaran sama siapa ceweknya'' Adam tiba-tiba bersuara
''astaga Al teman kamu polos banget sih!" ucap bunga yang tersenyum melihat kepolosan kelima teman baru Alina
"mereka belum tahu apa-apa Kak, udah bahas yang lain aja, mending kita mikir setelah ini kita mau kemana enggak mungkin kan kita satu harian di hotel ini"ucap Alina menanyakan pendapat
"Bun Bun, Claudia mau ke pantai boleh gak? tadi Claudia lihat Pantai dari balkon kamar, cantik banget" ucap Claudia
"Ia Bun Bun, Adit juga mau ke pantai. Adit mau buat Istana pasir" sahut Adit
*Dengan cepat Adit dan Claudia mengangguk*
"Ya udah setengah ini kita pergi ke pantai ya" Sahut Alina
"Asik.. Aku ke pantai" Teriak Adit dan Claudia
"Kalian mau bawa ice cream?" tanya Tristan
"Mau handsome brother" sahut Adit dan Claudia semangat.
Tidak lama mereka bergegas menuju ke area pantai yang tempatnya tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap
Siang ini pantai tampak lumayan sepi, jarang orang di temui di sekitar pantai. Alina sedang duduk memandangi lautan sedangkan yang lain sedang asik bermain air dan sebagian membuat istana pasir.
"Andai Papa di sini pasti Al sekarang lagi main Jet Ski, Al kangen Papa. Al ingin ikut Papa, Al bingung mau menjalani hari-hari Al tanpa Papa gimana" ucap Alina sembari menatap ke arah laut
"Kakak juga rindu Papa" sahut Tristan yang tiba-tiba muncul
__ADS_1
"Eh.. ternyata ada kakak, kenapa gak ikut sama yang lain buat istana pasir?" tanya Alina mengalihkan pembicaraan
"Sebenarnya tadi aku dari sana tapi aku lihat adik kesayangan aku di sini lagi melamun" ucap Tristan sembari mengacak rambut Alina
"Apaan sih Dewa penghancur!" merapihkan rambutnya
"Kakak tau kok kalau kamu lagi kangen Papa, setiap kita liburan ke laut kan kalian selalu meninggalkan aku dan Mama untuk naik wahana extreme di laut. kadang aku sama Mama sampai marahin kamu gak mau berhenti menaiki wahana itu padahal Papa kelihatannya udah capek" tawa Tristan sembari tersenyum hangat ke arah Alina
"Aku nakal ya kak" ucap Alina sembari tersenyum kecut
"Nakal banget malah" ucap Tristan
"Sangking nakalnya aku gak biarin Papa buat istirahat, mungkin itu salah satu penyebab Papa punya penyakit jantung. Secara tidak langsung aku sudah membunuh Papa secara perlahan. Aku.."
"Maksudnya kakak gak kayak gitu Al, kamu gak salah kok. mungkin itu sudah takdir kita untuk di tinggal pergi Papa duluan, jangan salahkan diri kamu ya Al. karena kamu gak salah" ucap Tristan memotong perkataan Alina, Tristan berusaha untuk menghibur Alina.
"Tapi kak.."
"Gak ada tapi tapi, kamu gak salah dan ini semua sudah takdir gak ada yang perlu di salahkan untuk ini semua" ucap Tristan sembari memeluk tubuh Alina.
*Alina menangis di pelukan Tristan, cukup lama Alina berada di pelukan kakaknya itu. setelah merasa cukup tenang Alina berhenti menangis dan segera menghapus air matanya*
"Jangan salahkan diri kamu sendiri ya, sebelum Papa pergi ninggalin kita Papa sempat berpesan kepada kita. Kakak rekam suara papa kok" ucap Tristan antusias
"Serius kak? Al mau denger Please" mohon Alina
*dengan segera Tristan mengambil Handphonenya dan memberikan sebuah rekaman suara yang berdurasi dua menit*
...*Rekaman suara*...
"Hai Putri kesayangan Papa, mungkin kalau kamu denger suara papa ini Papa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Maafin Papa karena gak pernah membuat kamu bahagia, maafin Papa karena selalu mengganggu kamu tapi percayalah kalau Papa sudah berusaha untuk menjadi Papa yang terbaik untuk kamu, Papa sayang kamu Putri Papa yang manja. Maaf karena Papa gak pernah memberi tau tentang penyakit jantung Papa karena Papa gak mau senyum manis kamu untuk Papa tergantikan dengan tangisan karena akan di tinggalkan, Papa tidak mau itu terjadi. Percayalah sayang kalau kamu menangis terus Papa juga akan ikut menangis nanti, kamu gak mau kan lihat Papa sedih jadi tolong air matanya di hapus ya dan tolong buat rumah kita penuh dengan tawa kamu lagi. Kamu harus sering akur sama kakak kamu walaupun dia punya sifat jahil seperti Papa percaya kalau dia menyayangi kamu, kalau dia marah ke kamu percaya kalau dia itu sayang sama kamu makanya kakak kamu gak mau melihat kamu membuat kesalahan yang sama dua kali. Papa titip Mama ya sayang, Jangan biarkan Mama terus menangis karena kita tau kalau Mama itu cengeng, kamu tau kan?. Jadi Papa tolong jangan buat Mama kamu sedih ya.
Papa denger dari kakak kamu kalau kamu sudah mengangkat Anak namanya Adit dan Claudia, mereka Cantik dan ganteng. Jaga mereka ya sayang, mereka sudah menjadi tanggung jawab kamu sekarang. semoga dengan kedatangan mereka bisa membuat rumah penuh dengan tawa.
Papa sayang banget sama kalian semua Papa pasti akan merindukan kalian, Papa tunggu kalian di surga yang sayang. Jangan nangis terus, Papa mencintai kalian..." ucapan Papa Mirren terhenti dan terdengar suara pemompa jantung berhenti berdetak dan di gantikan dengan teriak dan tangisan dari Mama Sabri
...*Rekaman suara berhenti*...
"Papa!!"
"Maafin Al karena gak ada di samping Papa, Al juga sayang banget sama Papa, Al berjanji akan membuat Mama tersenyum" ucap Alina sembari menahan tangisnya
"Kita harus buat Mama tersenyum lagi" ucap Tristan
"Pasti kak, pasti kita bisa" ucap Alina yakin
__ADS_1
"Kita bangkit sama sama ya Al, Jangan biarkan kesedihan membuat kita menjadi lemah" ucap Tristan dan di anggukin Alina
___________________________________________