AKAN TERUS BERUSAHA

AKAN TERUS BERUSAHA
PERGI


__ADS_3

"Al.." teriak Adit


Langkah Alina terhenti dan berbalik arah


"Maafin aku.. Mungkin kamu gak nyaman karena ada aku yang selalu tiba tiba muncul" ucap Adit lalu tertunduk


*Alina saat ini hanya bisa tersenyum karena dia merasa tenaganya sudah tidak ada lagi*


"Maaf Aku.." Adit menghentikan perkataannya dan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar.


"Aku akan pergi.." Ucap Adit.


Lagi dan lagi Tiga kata yang menghancurkan hati Alina


"Adit!!" ucap Ziva emosi


"Maafin gue. Tadi gue telat ngumpul karena gue mengundurkan diri, Besok gue pergi ke Nederland" ucap Adit sembari menatap wajah ketiga orang yang sedang ada di depannya itu.


"Dit Lo menghindari masalah Lo kalau gini ceritanya" Ucap Arga yang semakin geram


"Gue gak kuat hidup seperti ini Ga.." Ucap Adit sembari menatap mata Alina.


Saat ini mata Alina sudah penuh dengan air mata namun dia takut untuk menumpahkannya.


"Sembilan tahun.. Sembilan tahun dit.." Alina tersenyum lirih


"Maafin gue Al.." sekali lagi Adit meminta maaf


"Belanda? Alina tersenyum sinis


"Maaf karena aku lari dari masalah"Ucap Adit yang terus menatap Alina.


"Kita pergi dulu kalian bicara berdua" ucap Arga sembari menarik tangan Ziva.


kini Alina dan Adit tinggal berdua.


"Sembilan tahun dit.. Kamu ninggalin kenangan kita begitu saja dan membiarkan aku sendiri tanpamu. Aku tidak bicara dengan mu satu hari saja aku sudah hampir mati dan kini kamu bakal ninggalin aku bertahun tahun?" Tanya Alina.. kini air matanya tidak bisa terbendung lagi..


"Aku gak mau melakukan ini Al tapi Aku gak bisa ngilangin kamu dari hati dan fikiran aku" ucap Adit


"Apa kalau kamu pergi kamu akan melupakannya aku?" Tanya Alina


*Adit menggelengkan kepalanya*


"Terserah kamu, itu sudah keputusan kamu. Aku gak bisa ngelarang, toh saat ini kita bukan sahabat lagi.." ucap Alina dan memutuskan untuk pergi ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil Alina terus menangis..


Dia takut karena akan di tinggalkan Adit namun dia tidak bisa melarang karena itu sudah keputusan yang diambil Oleh Aditya


Tok.. Tok.. Tok..(suara ketukan dari kaca mobil Alina)


*Alina membuka matanya dan melihat ke arah luar, Adit sedang berdiri. Alina membuka kaca mobilnya setengah


"Bunda ingin menemui mu" ucap Adit


"Apa Bunda Ana akan ikut ke Nederland?" Tanya Alina


*Aditya Menganggukkan kepalaku*


"Aku akan mampir ke rumah mu hanya untuk mengucapkan selamat tinggal" ucap Alina sembari langsung menutup kaca mobil dan melanjutkan mobilnya dengan kecepatan sedang..

__ADS_1


15 Menit kemudian Alina sampai di depan rumah Aditya dan dia tidak melihat mobil Adit mengikuti mobilnya, entah karena Alina terlalu cepat atau memang Adit pergi ke tempat lain.


"Bun.." ucap Alina semakin lemas, bahwa dia berjalan saja sudah gemetar


"Al.. kamu gak papa?" Tanya bunda Ana khawatir.


"Gak papa Bun.. cuma lemas aja dikit" ucap Alina tersenyum Manis


"Bunda ambilin Air dan obat dulu ya" ujar Bunda Ana


"Gak usah Bun.. Alina kesini cuma mau bilang hati hati ya di Nederland.. Semoga Bunda dan Adit selalu bahagia dimana pun kalian tinggal maaf besok Alina gak bisa antar ke bandara, Nanti kalau udah sampai telfon aku ya" ucap Alina dan langsung memeluknya erat Bunda Ana..


"Kamu sedang ada masalah sama Adit?" Tanya Bunda Ana.


"Bunda Alina pulang dulu'' ucap Alina dan memutuskan untuk pergi.


Saat ini Alina sedikit berbeda di dalam mobilnya yang di parkir di pinggir jalan, saat ini rasanya kepalanya sangat besar makanya dia tidak berani membawa mobilnya lagi dan memilih untuk istirahat sebentar.


"Sembilan tahun sembilan bulan dua puluh sembilan hari.. hanya sebatas itulah persahabatan kita? Kita dulu sering sekali berjanji akan hidup bersama sebagai sahabat sampai tua, Ternyata benar kata orang tidak ada persahabatan antara laki laki dan perempuan karena salah satu akan ada yang cinta dan kemungkinannya 50 banding 50. Bisa jadi di tolak dan bisa jadi juga di terima" ujar Alina sendirian.


*Tersenyum sinis*


"Cinta? Kenapa Adit bisa mikir dia cinta Sama Aku sih?"Tanya Alina menggerutu sendiri.


"Diam lah otak jangan berfikir terus kepala ku rasanya ingin pecah" Keluh Alina sembari membentur benturkan kepala ke Setir mobil


Tok.. Tok.. Tok.. sekali lagi ada orang yang mengetuk kaca mobil Alina


*Alina melihat dan ternyata Adit sedang berdiri di depan kaca mobil Alina*


"Izinin aku masuk Al.. Mungkin ini pertemuan terakhir kita" ucap Adit lirih


*Tanpa menjawab Alina langsung membukakan pintu mobil dan menyuruh Aditya untuk masuk ke dalam mobilnya dan dengan sigap Adit langsung masuk ke dalam mobil Alina*


"Aku beliin kamu roti, air dan obat untuk kamu. Please satu kali aja kamu jangan membantah aku" Aditya membukakan bungkus rotinya dan menyuapi Alina.


"Aku udah berjanji sama diri aku sendiri, Aku gak akan Makan ataupun minum lagi, Biar saat aku mati nanti kamu bisa melupakan aku dan mencari yang lain" ucap Alina sembari menyenderkan kepalanya di tempat duduknya.


"Aku tidak akan pernah menyentuh Minuman yang kamu bawa untuk ku. Katanya dalam empat sampai tujuh hari manusia tidak minum orang itu akan meninggal. "Ucap Alina sembari menatap mata Aditya


"Aku gak mau itu terjadi Alina" ucap Aditya tegas


"Aku ingin Aku Mati Adit" ucap Alina lantang


"Al.. jangan menyiksa tubuh lagi ya.. Aku akan Menguap kamu" Adit menyuap Alina namun Alina langsung memiringkan kepalanya seolah menolak suapan Adit.


"Alina Ophelia dengerin Aku.. Please satu kali aja, setelah ini Kamu tidak mau mendengarkan aku lagi tidak apa-apa. Aku Mohon sama kamu Makan Roti yang aku bawa ya habis itu kamu minum obat yang aku bawa" ucap Adit sembari menyuapi Alina.


*Lama Alina berfikir*


"Aku gak lapar aku hanya dehidrasi, Aku mau minum saja" Ucap Alina


*Adit tersenyum lalu memberikan Alina minum dengan tangannya sendiri, Alina tidak bisa menolak lagi karena sesungguhnya dia tidak ingin berdebat*


"Kamu Mau apa ke sini?" tanya Alina setelah menghabiskan setengah botol air.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat ting.."


"Kamu gak mau berusaha untuk membuat aku cinta sama kamu?" Alina memotong perkataan Aditya.


*Aditya seketika langsung tersenyum saat Alina mengucapkan kata-kata itu, kata-kata yang membuatnya tersenyum bahagia.*

__ADS_1


"Kamu mau berusaha?" tanya Aditya tidak percaya.


*Alina tersenyum sendiri menganggukkan kepalanya*


"Tapi aku minta maaf sama kamu Al'' ucap Adit lagi


"Maaf? untuk?" tanya Alina bingung


"Aku akan tetap Pergi ke Nederland, untuk tujuh sampai sembilan tahun" ucap Adit


"maaf dit aku gak janji untuk tetap menunggu mu..." Alina menghentikan perkataannya dan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafas kasar.


"Mungkin saat kamu kembali Aku sudah menikah atau malah Aku sudah punya anak" ucap Alina sembari melirik Adit yang menutup matanya seperti tidak kuat untuk mendengarkan kata kata Alina


*Aditya menghapus cepat Air matanya*


"Aku ikhlas kalau kamu bersama yang lain Al.. Nanti kalau kamu mau menikah undang aku ya, Pasti aku akan datang ke pernikahan kamu.." ucap Adit lalu pergi dari mobil Alina.


Dengan perlahan Alina menjalankan mobilnya menuju ke rumah nya.


Sesampainya di rumah jam sudah menunjukan pukul 5 sore


"Alina pulang.." ucap Alina sembari menuju kamarnya tanpa memperdulikan Mama Sabri, Tristan dan juga Papa Mirren yang sudah menunggu di ruang keluarga.


Tok.. Tok.. Tok.. suara ketukan di pintu kamar Alina


"Al ini kakak, Apa kakak boleh masuk?" ucap Tristan


"Masuk Aja kak" ucap Alina sembari menghapus air matanya dengan cepat


"Tumben lampu kamar kamu tidak di hidupkan apa lampunya mati?" Tanya Tristan


"Jangan di hidupkan kak, Alina sengaja tidak menghidupkan lampunya karena Alina ingin seperti dulu saat ini" ucap Alina


"Kamu kenapa.. Mama bilang kamu belum makan dari semalam?" Tanya Tristan lembut kepada Alina


"Gak Mood kak" Jawab Alina


"Siapa yang bisa menggangu fikiran adik aku saat ini" ucap Tristan penuh penekanan


"Gak siapapun kak Al hanya ingin diet saja" ucap Alina kembali


"Jujur saja sama kakak Al" Tristan berusaha untuk membujuk Alina


"Adit cinta sama Al kak" ucap Alina lirih


"Masalahnya dimana Al?" tanya Tristan bingung


"Kita berdua sudah janji tidak akan saling mencintai kak. Namun Adit melanggarnya dia berusaha untuk mengubur perasaannya terhadap Alina karena Al menyukai Adit hanya sebatas sahabat kak.. Sampai akhirnya Al berusaha untuk membantu Adit mengubur perasaan Adit dalam dalam dengan cara tidak menemui Adit" ujar Alina


"Apa kamu kuat hidup tanpa Adit?" tanya Tristan


*Alina menggelengkan kepalanya*


"Al itu tandanya kamu tidak hanya cinta Adit sebagai sahabat saja, kamu juga suka Adit tapi kamu berusaha untuk menutupinya, Kalian harus saling menguatkan hati kalian Al" ucap Tristan lagi


*Alina senyum tidak berdaya*


"Percuma kak.. Adit akan ke Nederland selama tujuh atau sembilan tahun kak.." ucap Alina lirih


"Kamu mengizinkan Aditya pergi?" tanya Tristan semakin bingung

__ADS_1


"Al gak punya hak untuk menahan Adit kak, kita hanya sebatas teman sekarang tidak lebih. Kak Alina mau sendiri" ucap Alina dan langsung menuju kamar mandi untuk merendam dirinya.


___________________________________________


__ADS_2