
Hari ini mereka sudah berkumpul di Bandara Internasional John F. Kennedy, 20 menit lagi pesawat akan lepas landas.
"Semoga kekhawatiran ku tak terjadi" ucap Alina
"Tidak akan terjadi apapun Alina, Berfikir positif lah.. kita akan Di dalam pesawat selama 23 jam jangan berfikir yang negatif karena kalau kau selalu berfikir negatif hasilnya juga akan negatif" ucap William menenangkan Alina
"Ia akan aku usahakan" ucap Alina.
"Lebih baik kita naik dalam pesawat sekarang karena beberapa menit lagi akan lepas landas" ucap Adam
*Mereka semua mengangguk, Lalu mereka semua menuju ke dalam pesawat dan duduk di bangku yang sudah mereka dapatkan*
Perjalanan ke Indonesia sangat lancar tidak ada masalah sama sekali namun Alina merasa sangat tidak tenang walau sedetik pun, Alian mereka ada sesuatu yang terjadi.
Alina dan yang lain mendarat setelah 23 jam perjalanan, Mereka tersenyum lega karena Mereka semua sampai dengan selamat namun senyuman Alian hilang setelah Alina melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Tristan, Mama Sabri, Ziva, Anggi, Arga, Leo, Aditya dan Bunda Ana.
"Kenapa mereka menelfon ku?" tanya Alina khawatir
"Siapa yang menelfon mu Alian?" tanya Bunga
"kak Tristan, Mama, kelima Sahabat ku, Bunda Ana dan Aditya" ucap Alina sangat khawatir
"Lebih baik sekarang kau telfon Tristan dan bilang ke dia kalau sekarang kau sudah berada di Indonesia" ucap Bunga dan Alina menganggukkan kepalanya.
Alina berjalan menjauhi yang lain karena ingin menelfon Tristan.
Tut.. Tut.. Dering telfon,
"Halo kak Tristan" ucap Alina namun tidak ada jawaban dari Tristan
"Halo kak.. Ada apa menelfon ku?" tanya Alina
"Kau dari mana saja Alina? Kenapa Handphone mu tidak bisa di hubungi?" tanya Tristan
"Handphone ku memang sengaja aku matikan Kak, karena aku sedang berada di pesawat. Aku sekarang sudah berada di Indonesia dan sebentar lagi aku akan sampai di rumah. Aku juga membawa teman teman ku dan juga Adit, Claudia dan kak Bunga" ucap Alina namun tidak ada jawaban dari Tristan
"Kak..." panggil Alina
"Hiks.. Hiks... Al cepatlah pulang" ucap Tristan
"kakak kenapa kak? kenapa kau menangis?" tanya Alina
"Papa..." ucap Tristan
"Papa kenapa kak?" tanya Alina
"Papa... Papa meninggalkan kita untuk selamanya Al" ucap Tristan sembari menangis
"Apa maksud mu kak?! Papa baik baik saja!" ucap Alina
"Cepatlah Alina Aditya dan Bunda Ana juga sudah berada di sini beberapa jam yang lalu" ucap Alina
"Kenapa kak!!" ucap Alina namun Tristan menutup telfonnya.
Saat ini Alina tidak bisa menahan tangisnya lagi, Alian terduduk sembari menangis.
"Bun Bun.. Kau kenapa?" tanya Adit.
"Ayo kita pulang" ucap Alina sembari berlari mencari taksi.
"ALINA" Teriak Wiliam
"Lebih baik kita ikuti saja Taksi Alina" ucap Bunga dan mengikuti Arah Alina.
15 Menit kemudian Alina sampai di depan rumah nya. Alina tertegun melihat papan Bunga yang bertuliskan 'SELAMA JALAN UNTUK MIREEN' dan melihat sudah banyak Orang di rumah Alina.
"Bun Bun Apa sebenarnya yang terjadi?" ucap Claudia bingung
Namun Bunga, Rebbeca Michella Wiliam Adam dan Danny sudah mengerti apa yang terjadi sebenarnya
*Alina berjongkok di hadapan Claudia dan Adit*
"Papanya Bunda saat ini sudah berada di Surga" ucap Alina sembari menangis namun Alina juga memaksakan diri untuk tersenyum
"Apakah Papanya Bun Bun akan menemui Papa kami?" tanya Adit
"Ia sayang, mereka pasti akan bertemu" ucap Alina
__ADS_1
"Ayo kita masuk" ucap Alina sembari menggenggam tangan Adit dan Claudia
mereka semua masuk ke dalam rumah Alina.
Saat sudah berada di ruang keluarga Alina melihat peti dan terdapat tubuh Papa Mirren di dalamnya. Alina berlari mendekati peti itu.
"Papa..." ucap Alina sontak semua orang menatap Alina yang sedang berlari mendekati Papa Mirren
"Papa bangun.. Jangan tinggalkan Alina Papa!!" ucap Alina
"Papa Bangun.. Jangan bohongi Alina Seperti ini" Teriak Alina sembari menggoyangkan tubuh Papa Mirren
"Alina tenang lah" ucap Tristan sembari memegang Pundak Alina
"Bagaimana Alina bisa tenang Kak?! Bagaimana?! katakan ke Alina bagaimana Cara Alina Bisa tenang saat melihat Papa Seperti ini!!" ucap Alina sembari menangis tersedu sedu
"Al.. Jangan menangis seperti itu, Papa sudah tenang sekarang" ucap Tristan
"Jadi ini alasan kakak pulang cepat dari New York, karena Papa sedang sakit? kenapa kakak tidak memberi tau aku kak! Aku juga ingin berada di saat saat terakhir Papa" ucap Alina lalu terjatuh di pelukan Tristan
"Maafin kakak Al, Kakak berfikir kalau papa akan baik baik saja dan kakak tidak mau melihat mu sedih" ucap Tristan
"Tapi Alina berhak tau kak" ucap Alina
"Al.." ucap Mama Sabri memegang pundak Alina
"Ma.. maafin Alina karena tidak ada di saat mama butuh dukungan dari Alina ma" ucap Alina
"Enggak sayang, jangan menangis seperti ini seharusnya sekarang kita berdoa untuk Papa ya" ucap Mama Sabri menahan tangisnya
"Alina mau sendiri dulu ma.." ucap Alina lalu dia berlari ke Kolam renang rumahnya
"Kenapa kalian membohongi aku? Kenapa kalian tidak memberi tau aku yang sebenarnya? Aku juga berhak untuk tau semuanya" ucap Alina sembari menangis.
Alina terduduk di lantai dekat kolam renang.
"Tenanglah Alina" ucap William yang sudah berdiri tepat di belakang Alina
"Maaf, karena kau melihat aku menangis" ucap Alina sembari memaksakan senyuman nya
"Hiks.. Hiks.. Apa yang harus aku lakukan sekarang Wil.. sekarang Papa ku sudah meninggalkan ku. Hiks.. Hiks.. Selama ini Papa ku adalah Papa terbaik ku dan sekarang Papa sudah pergi ninggalin Aku untuk selamanya" ucap Alina sembari menangis
"Al.. kamu boleh nangis untuk saat ini tapi ingatlah kamu masih punya mama yang harus kamu bahagiain, Kamu juga harus bisa dukung Mama kamu karena saat ini yang paling terpuruk adalah Mama kamu karena kehilangan kekasih hidupnya" ucap Wiliam menenangkan Alina
"Apakah aku boleh meminjam pundak mu?" tanya Alina
"Silahkan" ucap Wiliam
*Alina meletakan kepalanya di pundak Wiliam*
"Pa.. Papa tenang ya di sana, Alina akan selalu jaga mama di sini" ucap Alina
"Gitu dong" ucap Wiliam.
Seseorang datang mendekati Alina dan Wiliam
"Al.."
Alina melihat ke arah belakang dan terlihat Aditya di sana
"Iya" ucap Alina
"Kamu di suruh masuk" ucap Aditya
"Iya.." ucap Alina lalu beranjak untuk mendekati Aditya bersama dengan Wiliam.
mereka pun pergi ke ruang keluarga namun saat ini tamu sudah berkurang tidak sebanyak tadi.
"Ia kak " ucap Alina
"Al.. Besok pagi Papa akan di makamkan" ucap Tristan
"Tapi kak, Alina baru banget sampai, Alina masih ingin melihat Papa lebih lama" ucap Alina
"Papa sudah dari semalam di sini Alina, Malam ini kamu bisa melihat Papa" ucap Tristan dan Alina mengangguk mengerti.
Alina mendekati tubuh Papa Mirren
__ADS_1
"Pah.. yang tenang ya di sana, Suatu saat kita akan bertemu di tempat yang lebih nyaman, Papa jangan khawatir dengan kondisi Mama karena Al dan Kak Tristan akan Ada bersama dengan Mama, Jangan khawatir dengan kondisi ku Pah karena aku sudah bisa menemukan jalan keluar yang terbaik" ucap Alina sembari mengelus tangan Papa Mirren.
Satu persatu para tamu pulang dari rumah keluarga Alina.
"Bun Bun jangan menangis terus" ucap Claudia
"Iya Bun Bun kalau kau menangis terus kau bisa sakit dan kami tidak mau itu" ucap Adit
"Ia sayang.. Sini dekat sama Bunda" ucap Alina dan spontan Adit dan Claudia mendekati Alina
"Pa.. kenalin ini Claudia dan Adit, mereka anaknya Al dan mereka juga cucu papa" ucap Alina
"Adit, Claudia kenalin ini grandpa Kalian" ucap Alina memperkenalkan Papa Mirren ke Adit dan Claudia
"Hai Grandpa, kenalin aku Adit dan ini Adik aku Claudia, Kata Bun Bun kau akan pergi ke surga aku mau nitip salam untuk Bunda dan Ayahku di surga sana" ucap Adit
"Grandpa Nama aku Claudia, Aku juga nitip salam untuk Bunda dan Ayahku katakan kepada mereka aku sangat merindukan mereka" ucap Claudia
"Pasti Grandpa akan menyampaikan salam kalian ke Bunda dan Ayah kalian" ucap Alina
"Ia Bun Bun" ucap Adit dan Claudia bersamaan
"Ma.." ucap Alina
"Iya sayang" ucap Mama Sabri
"Kenalin ma.. Ini Adit dan Claudia mereka anak Alina sekarang" ucap Alina
"Apakah kalian mau memanggilku Grandma?" Tanya Mama Sabri
"Apakah boleh?" tanya Adit dan Claudia bersamaan
"Boleh banget, sini peluk Grandma" ucap Mama Sabri, Adit dan Claudia berjalan mendekati Mama Sabri lalu memeluk Mama Sabri
"Kalian lucu sekali" ucap Mama Sabri
"Terimakasih Grandma" ucap Claudia
"Apakah kalian sudah makan?" tanya Mama Sabri
*Adit dan Claudia menggelengkan kepalanya*
"Ayo ikut dengan Grandma supaya Grandma masakin" ucap Mama Sabri
"Ia Grandma" ucap Adit
"Al kau juga makan ya" ucap Bunga.
"Al belum lapar kak, Al masih ingin di samping Papa" ucap Alina yang masih setia disamping Papa Mirren dan memegang tangan Papa Mirren.
"Tapi kamu belum makan apapun saat di pesawat Alina" ucap Bunga
"Tidak apa-apa kak bahkan aku pernah tidak makan sampai empat hari, tapi aku tidak apa apa" ucap Alina
"Al.. makan ya" ucap Ziva
"Ternyata kalian berada di sini" ucap Alina dan berlari ke arah Ziva, Arga, Anggi dan Leo
"Kami dari semalam sudah berada di sini Alina" ucap Leo
"Kenapa kalian tidak memberi tau aku?" tanya Alina
"Maafin kami Al" ucap Anggi
"sudahlah.. Terimakasih sudah mau menemani Mama ku maaf karena aku terlambat" ucap Alina
"Tidak papa kok Alina" ucap Kak Leo
"Apa kalian sudah istirahat?" tanya Alina
"Sudah, sebaiknya sekarang kau yang istirahat" ucap Arga
"Aku hanya ingin bersama Papa" ucap Alina sembari berjalan menuju Peti Papa Mirren.
Alina terus menatap wajah Papa Mirren dan Alina teringat kenangan indah bersama Papa Mirren
___________________________________________
__ADS_1