AKAN TERUS BERUSAHA

AKAN TERUS BERUSAHA
Berkelahi


__ADS_3


Ini hari ke lima Alina menyendiri..


Bukan merasa lebih baik Alina justru Marasa dirinya semakin sakit..


kesunyian adalah musuh terbesarnya sampai saat ini..


Alina selalu tersenyum kecut saat melihat sebuah Surat tulisan Papa Mirren yang ditujukan langsung untuk Alina..


"Apa maksud tulisan mu ini Pa..''


Pertanyaan itulah yang selalu terlintas di fikiran Alina untuk saat ini.


*Tut.. Tut... (Dering telpon Alina)*


Alina melihat nama yang tertera di layar Handphonenya 'Dewa Penghancur'. ternyata Tristan lah yang sedang meneleponnya, Tanpa berfikir Alina langsung menjawab panggilan telepon yang sedari tadi berdering


"hiks.. hiks.. Ha-Halo Bun Bun" suara anak perempuan yang sepertinya sedang menangis


"Claudia kenapa sayang, Aunty Bunga mana?" tanya Alina khawatir


"Aunty sedang menenangkan Paman Wiliam dan Ayah Aditya" ucap Claudia


"Mereka bertengkar Bun Bun, Hiks.. Pipi Paman Wiliam berdarah Bun Bun" ucap Claudia


"Bunda akan ke sana sekarang sayang, kamu sama kak Adit pergi ke kamar ya sayang. mereka hanya main main sayang" ucap Alina menenangkan Claudia


"Iya Bun Bun, cepatlah pulang" ucap Claudia mematikan telfonnya.


tanda tanya besar mengalir di pikiran Alina saat ini, bertengkar? Aditya dan William? mengapa? pertanyaan itu terus muncul di benak Alina sampai saat ini.


sebenarnya rasa pusing telah di menghampiri kepala Alina sejak 4 hari yang lalu, sejak Alina memutuskan untuk tidak makan.


Dengan segera Alina memanggil taksi menyusuri jalan yang lumayan sepi, 20 menit kemudian Alina sampai di depan kamar president suite yang telah mereka pesan.


saat Alina masuk, Alina kaget karena melihat sofa yang berantakan dan vas bunga yang pecah.


sampai saat ini pertengkaran belum juga berakhir, Alina masih melihat William dan Aditya saling membalas pukulan


"STOP!! APA YANG KALIAN LAKUKAN SEBENARNYA?!" ucap Alina yang sontak membuat semua melihat ke arahnya


''APAKAH DENGAN CARA SEPERTI INI KALIAN MENYURUHKU PULANG?!''

__ADS_1


''HAL GILA APA YANG KALIAN LAKUKAN SAAT INI, AKU KELUAR INGIN MENENANGKAN DIRI TAPI SAAT AKU INGIN KEMBALI KALIAN MALAH BERANTEM?!"


Tidak ada satu pun yang berani untuk menjawab pertanyaan Alina.


''APA YANG KALIAN LAKUKAN SEBENARNYA! APA KALIAN TIDAK MEMIKIRKAN ADIT DAN CLAUDIA YANG MASIH DIBAWAH UMUR MELIHAT KALIAN SALING MEMUKUL.


KALIAN TIDAK PUNYA HATI ATAU BAGAIMANA?!" Alina beranjak dari tempat itu the masuk ke dalam salah satu kamar dan yang ia yakini kalau Adit Dan Claudia berada di dalam.


"sayangku pintunya ini Bun Bun.." ucap Alina, dengan segera hadits membuka pintu.


Alina memeluk tubuh mungil Adit dan Claudia.


"kalian tidak apa-apa kan sayang?'' Alina khawatir melihat kondisi Claudia yang sedari tadi menangis


"Bun Bun Hiks.. kenapa mereka bertengkar?" tanya Claudia menghapus air matanya


''mereka tidak bertengkar sayang, mereka hanya sedang bermain'' ucap Alina mencoba menenangkan Claudia


"permainan mereka sangat payah Bun Bun, mereka tega menyakiti satu sama lain hanya demi permainan" ucap Adit marah


"kalian tenang di sini dulu ya, Adit bujuk Claudia dulu ya.. Bunda mau ke depan, bunda akan mengatakan kepada mereka dan menghentikan permainan mereka" ucap Alina sembari mengelus kepala Adit. dengan cepat Adit menganggukkan kepalanya, setelah itu kalian yang beranjak Pergi dan menutup pintu kamar.


''kak bunga, hanya kakak yang akan ku percaya sampai saat ini.. apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Alina sembari menatap tajam kearah William dan Aditya


''apa yang kalian lakukan sebenarnya?'' tanya Alina, namun tidak ada satu orang pun yang menjawab.


''Aditya kamu sahabat aku kan, jadi Tolong jujur padaku apa sebenarnya yang kalian lakukan?'' ucap Alina


''ini tidak ada sangkut-pautnya dengan mu!'' ucap Aditya dingin


''Tolong ambilkan air es dan hantu kecil kepadaku.." ucap Alina.


dengan cepat Ziva membawakan semangkuk air es dan handuk kecil kepada Alina.


''William berdirilah aku akan mengompres mu'' ucap Alina sembari membopong tubuh William dan mendudukkan di atas sofa.


setelah membasuh luka William, Alina menatap Aditya yang masih duduk di lantai.


''Aditya sekali lagi aku bertanya kepadamu apa yang kalian lakukan!'' tanya Alina menatap dingin


''kenapa tidak coba bertanya kepada William sahabat baru Mu itu!!" ucap Aditya sembari membuang mukanya


"William.."

__ADS_1


''Dia memakimu Alina, aku tidak terima dengan makiannya terhadapmu. sumpah serapah telah dia lontarkan untuk menyumpahi mu. Aku benci laki-laki yang tidak bisa menghargai keputusan wanita!'' ucapin Wiliam menatap tajam ke Aditya


''aku tau sekarang akar permasalahannya.. kau memaki ku hanya karena aku akan meninggalkan kalian. Awoo.." ucap Alina merintih kesakitan


''Alina kamu kenapa?''tanya Tristan yang langsung memegang pundak Alina


''Gak.. Gak papa kak" ucapan Alina yang masih menahan rasa sakit


''Al kamu pucat.." ucap Ziva dan Anggi bersamaan


"tidak usah memperdulikan untuk saat ini, jangan mengalihkan pembicaraan kita selesaikan permasalahan ini sekarang" ucap Alina mencoba untuk menahan rasa sakit.


"Kak Tristan.. Kita pindah ke New York ya kak, Alina mau kita mulai hidup baru di New York. kita akan membahagiakan Mama di sana.." ucap Alina menatap mata Tristan pekat


"Perusahaan Papa yang kakak pegang di sini? tanya Tristan


"Biarkan orang kepercayaan kakak yang mengurusnya di sana, dan kita harus tetap pergi ke New York" ucap Alina yang masih memegang perutnya


"Mama?'' tanya Tristan lagi


"Kita akan membujuk mama kak" ucap Alina


"Kakak ikut Kamu" ucap Tristan setuju.


Alina menatap ke arah Ziva, Arga, Leo, dan Anggi yang masih syok dengan percakapan Tristan dan Alina.


"Kalian tidak akan kehilangan aku kok.. sekarang teknologi sudah maju, kalian bisa telfon aku, bisa Vidio call sama aku." ucap Alina


"Intinya satu bulan ini kita habiskan waktu bersama dan setelah itu kita akan sangat jarang ketemu, aku tidak akan pulang ke Indonesia" ucap Alina sembari menundukkan kepalanya.


"Aditya, Aku memaafkan mu atas sumpah serapah yang kau ucapkan untuk ku. Aku ta..."


"Aku tidak akan pernah meminta maaf kepada mu!!" ucap Aditya berdiri dari duduknya


"Aku menyesal karena telah pulang ke Indonesia, kalau bukan karena mendengar Papa Mirren meninggal, aku tidak akan pernah pulang. Aku menyesal karena memutuskan untuk pergi ikut bersama kalian ke Bali" ucap Aditya


"kau!!'' ucap Wiliam memukul pipi Aditya.


Dan saat itu juga terjadi pertengkaran antara Wiliam dan Aditya lagi.


Alina mencoba menghentikan mereka namun sayangnya Alina jatuh pingsan karena rasa sakit yang sedari tadi di tahannya


_________________________________________

__ADS_1


__ADS_2