
✉️: Assalamu'alaikum, Ham. Hari Minggu besok kakak main ke rumah kamu boleh kan? Kangen nih sama Keinan 😁. Sekalian pengen ketemu sama ibu kamu juga. Dulu sering banget kamu bawain gado-gado dari ibu, tapi belum pernah kesampaian bilang terima kasih secara langsung sama ibu. Tiap kali mau main ke rumah kamu selalu aja gagal mulu 😔
Hamzah tersenyum membaca pesan dari Awan. Dari dulu kakak tingkatnya itu memang orang yang suka berbicara panjang lebar. Bahkan chat wa pun bisa sepanjang itu. Tapi Awan memang tipe orang yang supel dan mudah mengakrabkan diri dengan orang lain.
✉️: Boleh banget dong, Kak. Besok hari Minggu jam 10 pagi aku tunggu di depan toko bangunan 'Century', ya. Kakak tau kan? Yang sesudah pasar itu.
✉️: Iya, kakak tau kok. Oke, Ham. Jam 10 pagi kita ketemu di depan toko bangunan 'Century', ya.
✉️: Oke, kak.
☘️☘️☘️
Hari Minggu pagi.
Sesuai kesepakatan, jam 10 pagi Hamzah sudah menunggu Awan di depan toko bangunan 'Century' yang kebetulan hari ini tutup karena hari Minggu. Dan Hamzah tidak perlu menunggu lama karena beberapa saat kemudian Awan pun sudah sampai disana dengan mengendarai sepeda motornya.
"Assalamu'alaikum, Ham," sapa Awan.
"Wa'alaikumsalam, Kak."
"Udah lama nunggunya?"
"Enggak kok, Kak, belum lama. Ya udah, kita langsung ke rumah aja yuk, Kak!"
"Oke, Ham. Ayo!"
Hamzah kemudian naik ke motornya dan mulai memacu motor kebanggaannya itu. Awan pun kemudian mengikuti Hamzah yang sudah melaju di depannya.
Sekitar lima menit kemudian mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah Hamzah.
"Om Ganteng!!!" teriak Keinan senang begitu melihat Awan turun dari sepeda motornya.
Awan pun tersenyum bahagia melihat bocah kecil yang beberapa hari ini selalu dirindukannya itu. Awan kemudian langsung menghampiri Keinan.
"Assalamu'alaikum, Keinan sayang," sapa Awan seraya membungkukkan tubuhnya.
"Wa'alaikumsalam, Om Ganteng," balas Keinan yang kemudian mencium punggung tangan kanan Awan.
Lagi-lagi Awan tersenyum melihat tingkah menggemaskan Keinan. Awan pun mengusap lembut kepala Keinan. Hamzah tersenyum melihat interaksi Awan dengan keponakannya itu.
"Keinan lagi apa?" tanya Awan.
__ADS_1
"Lagi main mobil-mobilan, Om."
"Keinan nggak main keluar sama teman-teman Keinan yang lain?"
"Males ah, Om," jawab Keinan dengan mengerucutkan bibirnya.
"Loh kenapa? Kok males?" tanya Awan lagi, bingung.
"Mereka selalu ngejekin Keinan karena Keinan nggak punya ayah," jawab Keinan lirih dengan wajah murung.
'Yaa Allah,' lirih batin Awan, terkejut sekaligus merasa iba secara bersamaan.
Awan menoleh ke arah Hamzah, bertanya melalui tatapan matanya. Hamzah kemudian menganggukkan kepalanya pelan, membenarkan.
Awan sempat terkejut. Tetapi kemudian Awan kembali melihat ke arah Keinan seraya tersenyum manis.
"Ya udah, nggak pa-pa. Hari ini Keinan main sama Om aja, ya?"
"Oke, Om," balas Keinan tersenyum senang.
"Disini aja kita, Ham. Sekalian nemenin Keinan main," kata Awan.
"Oh, oke deh, Kak."
"Minum dulu yuk, semuanya," kata Aminah.
"Loh, ibu?" kaget Awan begitu melihat Aminah.
"Eh, nak Awan?" Aminah pun sama kagetnya setelah melihat Awan ada disana.
Aminah meletakkan nampan di atas meja. Awan pun kemudian langsung berdiri dan mencium punggung tangan kanan Aminah.
"Assalamu'alaikum, Bu Aminah," sapa Awan seraya tersenyum.
"Wa'alaikumsalam, nak Awan," balas Aminah ikut tersenyum juga.
"Jadi Bu Aminah ini ibunya Hamzah, ya?"
"Iya. Berarti nak Awan ini kakak tingkat yang sering diceritakan oleh Hamzah itu, ya? Om Ganteng-nya Keinan?"
"Hehe, iya Bu. Duh, nyesel banget Awan, Bu, kenapa dulu tiap kali mau kesini selalu nggak jadi terus. Coba kalau enggak, kemarin pas di pasar kan Awan pasti udah tau kalau Bu Aminah ini ternyata ibunya Hamzah. Dan awan pasti dengan senang hati akan nganterin ibu pulang," sesal Awan.
__ADS_1
Aminah tersenyum lembut kemudian mengusap lengan Awan.
"Nggak pa-pa kok, nak. Sekarang kan juga udah tau. Dan lagi, kemarin kan nak Awan juga nemenin ibu sampai becak ibu datang. Itu aja ibu udah terima kasih banget sama nak Awan," balas Aminah.
"Loh, jadi kemarin yang nolongin ibu pas di pasar itu Kak Awan, ya?" tanya Hamzah terkejut.
"Iya, Ham. Nak Awan ini yang kemarin udah nolongin ibu pas di pasar waktu itu," jawab Aminah.
"Subhanallah. Takdir Allah SWT memang selalu diluar dugaan kita semua, ya," kata Hamzah kemudian.
"Bener banget, Ham. Kayaknya, ini artinya kita jodoh deh, Bu. Ya enggak, Bu?" kata Awan menggoda Aminah dengan menaik-turunkan alisnya beberapa kali.
Aminah dan Hamzah tertawa menanggapi candaan dari Awan tersebut.
"Dasar kamu ini, nak, ada-ada aja. Masak iya kamu berjodoh dengan ibu yang udah tua gini. Kalau sama anak perempuannya ibu mungkin iya," kata Aminah masih dengan sisa-sisa tawanya.
"Nah, kalau gitu berarti Awan sama anak perempuannya ibu aja. Ya Bu, ya? Boleh kan, Bu?" tanya Awan lagi masih menggodai Aminah.
Aminah dan Hamzah sama-sama terkejut. Mereka tau Awan hanya bercanda, tapi entah kenapa seperti ada sesuatu yang berbeda yang mereka rasakan.
"Ehem," Hamzah berdehem untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba tercipta. "Udah-udah, kok malah jadi ngelantur kemana-mana sih."
"Lah, emang kenapa? Kakak serius loh ini," kata Awan dengan nada polosnya.
"Kak, anak perempuannya ibu itu cuma satu. Ya bundanya Keinan itu," jawab Hamzah.
"Eh. Maaf-maaf. Maaf ya, Bu, kalau bercandanya Awan udah kelewatan," sesal Awan.
"Udah, nggak pa-pa kok, nak Awan. Yuk kita duduk lagi. Nemenin Keinan main," balas Aminah, mencoba mencairkan suasana juga.
Awan dan Hamzah mengangguk. Mereka bertiga kemudian duduk kembali di teras rumah bersama dengan Keinan. Awan kemudian kembali asyik bermain dengan Keinan.
"Kak Shofi kemana, Bu?" tanya Hamzah kepada Aminah pelan.
"Ke warung depan. Beli tepung sama gula," jawab Aminah.
"Nggak akan jadi masalah lagi itu, Bu?" tanya Hamzah lagi masih dengan memelankan suaranya.
"Hmh, semoga aja enggak, Dek. Ibu capek seperti ini terus. Kasihan kakak kamu. Dia nggak salah apa-apa," jawab Aminah lirih dengan membuang nafasnya lelah.
Awan diam-diam mencuri dengar pembicaraan Hamzah dengan ibunya itu. Tetapi Awan sengaja menunjukkan kalau dia masih tetap fokus bermain dengan Keinan dan seolah-olah tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.
__ADS_1
Jujur Awan sebenarnya merasa sangat penasaran. Tetapi Awan juga tidak ingin menciptakan suasana canggung lagi seperti tadi. Itu kenapa Awan memilih berpura-pura tidak mendengar.