
Karena sekarang hari libur, Awan dan Shofi sengaja mengajak Keinan untuk berjalan-jalan di salah satu mall terbesar di kota mereka. Mereka berdua mengajak Keinan untuk bermain di game center yang terdapat di mall tersebut.
Keinan terlihat begitu gembira bermain aneka macam permainan yang ada di game center tersebut dengan ditemani oleh Awan. Sementara Shofi mengikuti putra dan suaminya itu dengan senyum yang juga tak pernah lepas dari wajah cantiknya tersebut.
"Pa-Pa, kita cobain yang itu, yuk," ajak Keinan dengan berseru riang seraya menunjuk ke arah permainan lempar bola basket.
"Lempar bola? Itu sih Papa jagonya, Kei. Ayo kita kesana, sayang," sambut Awan yang juga tak kalah bersemangatnya.
"Ayo, Pa. Kei mau lihat seberapa jagonya Papa," tantang Keinan.
"Oke, siapa takut," balas Awan.
"Ayo, Bun," ajak Keinan kepada Shofi juga.
"Iya, sayang," balas Shofi seraya tersenyum lembut.
Shofi kembali mengikuti langkah putra dan suaminya itu menuju ke arena permainan selanjutnya yang dipilih oleh Keinan. Dan kali ini pilihan Keinan jatuh pada permainan lempar bola basket.
Awan yang lebih dulu memainkan permainan tersebut. Dan ternyata sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Awan tadi, Awan dapat memainkan permainan tersebut dengan sangat baik ( meskipun di permainan-permainan yang sebelumnya Awan juga selalu bisa memainkan dengan baik pula ).
"Yeay, masuk lagi," pekik Keinan senang seraya bertepuk tangan begitu lagi-lagi Awan dapat memasukkan bola dengan satu kali lemparan.
"Sekarang Keinan yang coba, ya," kata Awan kepada Keinan.
"Tapi ajarin Kei ya, Pa," pinta Keinan.
"Pasti dong, sayang," balas Awan.
Keinan kemudian mengambil satu buah bola.
"Angkat dulu yang tinggi lalu arahkan ke keranjangnya ya, sayang. Nggak usah buru-buru. Kalem aja," kata Awan memberikan arahan.
"Oke, Pa," balas Keinan.
Keinan kemudian mengangkat bolanya tinggi dan mengarahkannya ke arah keranjang, seperti yang diarahkan oleh Awan tadi.
__ADS_1
Woosshh!!!
Keinan pun melempar bolanya. Namun sayangnya lemparan Keinan meleset. Bola yang dilempar oleh Keinan tidak berhasil masuk ke dalam keranjang.
"Yah, nggak masuk," keluh Keinan dengan raut wajah yang cemberut.
"Nggak pa-pa, Kei. Namanya juga belajar. Kegagalan adalah awal dari kesuksesan kamu. Jangan putus asa. Ayo coba lagi. Papa yakin kamu pasti bisa kok," kata Awan menyemangati Keinan seraya menepuk pundak putranya itu.
Senyum Keinan kembali mengembang. Semangat kembali menggelora dalam diri bocah kecil itu setelah mendengar kata-kata penyemangat dari papanya itu.
Keinan mengangguk mantap. Kembali diambilnya satu buah bola lagi.
"Nggak usah buru-buru. Fokus. Arahin bolanya ke keranjang," arahan dari Awan lagi.
Keinan pun lalu mengikuti semua arahan dari Awan dan kembali melempar bolanya ke arah keranjang. Namun sayangnya lagi-lagi Keinan masih gagal dan belum bisa memasukkan bola tersebut ke dalam keranjang.
"Nggak pa-pa. Udah ada kemajuan kok daripada yang pertama tadi. Yuk, coba lagi. Setelah ini pasti bisa masuk," kata Awan yang kembali memberikan semangat kepada Keinan.
Keinan menganggukkan kepalanya. Keinan pun kemudian mengambil satu buah bola lagi.
"Iya, Pa."
Keinan kembali melemparkan bola yang ada di tangannya ke arah keranjang. Dan, hup. Akhirnya bola yang dilempar oleh Keinan pun berhasil masuk ke dalam keranjang.
"Yeay!!!" pekik riang Keinan karena akhirnya berhasil juga memasukkan bola ke dalam keranjang.
"Nah, kan masuk. Anak Papa memang hebat. Pantang menyerah. Papa bangga sama kamu, Kei," puji Awan seraya mengusap lembut kepala Keinan.
"Makasih, Pa, udah ngajarin dan nyemangatin Keinan," kata Keinan dengan tersenyum senang.
"Sama-sama, sayang," balas Awan ikut tersenyum juga.
Shofi yang berdiri tidak jauh dari tempat Awan dan Keinan pun ikut tersenyum melihat interaksi antara suami dan putranya itu. Shofi benar-benar merasa bersyukur karena Awan mampu mendidik Keinan dengan sangat baik.
Shofi bangga karena Awan bisa menempatkan dirinya dengan sangat baik dan pas dalam menghadapi Keinan. Awan sangat tau kapan dirinya harus bersikap lembut, kapan dirinya harus bersikap tegas, dan kapan dirinya harus bersikap selayaknya seorang teman terhadap Keinan.
__ADS_1
Dan ternyata, tidak jauh dari tempat Awan, Shofi, dan Keinan sedang berdiri saat ini, diam-diam Bayu menyaksikan semua yang sudah terjadi. Bayu dapat melihat dengan jelas kebahagiaan keluarga kecil Awan, Shofi, dan juga Keinan, putra kandungnya sendiri, tersebut.
Bayu mengepalkan tangannya erat. Ada rasa tidak terima yang dirasakan oleh Bayu ketika melihat keharmonisan keluarga kecil yang sedang berlangsung di depannya itu.
"Seharusnya aku yang ada di posisi kamu saat ini, Wan. Bukan kamu. Kebahagiaan dan kehangatan itu, seharusnya semua itu adalah milikku. Bukan milik kamu," kesal Bayu dalam hatinya.
Alya yang baru saja kembali dari toilet terkejut melihat Bayu yang nampak begitu emosi terhadap sesuatu. Alya kemudian mengikuti arah pandangan Bayu saat ini.
Dan begitu terkejutnya Alya begitu melihat kalau ternyata saat ini suaminya itu sedang memperhatikan Awan, Shofi, dan Keinan di depan sana yang nampak sedang begitu bahagia. Tertawa dan bercanda bersama-sama.
"Oh, jadi begitu. Sekarang kamu menyesal karena sudah meninggalkan Shofi dulu. Iya kan, sayang?" tanya Alya dengan nada suara menyindir.
Bayu berjengit karena terkejut. Kesadarannya seketika kembali begitu menyadari kehadiran Alya di sebelahnya.
"Sa-sayang? Udah ke toiletnya?" tanya Bayu tergagap, berusaha mengalihkan pembicaraan juga.
"Nggak usah pura-pura deh. Aku tau kok dari tadi kamu terus memperhatikan mantan istri kamu itu. Kenapa? Sekarang kamu merasa menyesal karena sudah meninggalkan dia dulu?" sindir Alya sekali lagi.
Bayu terkesiap mendengar semua perkataan Alya. Bayu tidak menyangka kalau Alya akan memergoki dirinya seperti ini. Bahkan Alya juga bisa menebak dengan sangat tepat apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"Kamu ngomong apa sih, sayang?" elak Bayu, berusaha bersikap setenang mungkin. "Jangan ngomong yang enggak-enggak deh."
"Halah, nggak usah ngeles deh. Udah ah. Capek aku. Terserah kamu aja deh mau gimana. Aku udah nggak peduli lagi," balas Alya dengan acuh tak acuh.
Alya kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan Bayu yang masih terpaku dengan keterkejutannya.
Sesaat kemudian Bayu tersadar. Bayu kemudian segera mengejar Alya yang sudah berlalu terlebih dahulu.
"Sayang. Tunggu dulu dong, sayang. Dengerin penjelasan aku dulu. Kamu udah salah paham, sayang," kata Bayu seraya berjalan dengan cepat mengejar Alya.
"Udah, Bay. Cukup. Aku nggak mau denger penjelasan apapun dari kamu lagi," tolak Alya ketika Bayu sudah berhasil mensejajari langkahnya.
"Sayang, kamu udah salah paham. Dengerin penjelasan dari aku dulu dong," bujuk Bayu tidak menyerah.
Benar-benar pemandangan yang begitu bertolak belakang. Di satu sisi keluarga kecil yang begitu bahagia dan harmonis. Sementara di sisi lain adalah sepasang suami istri yang sedang berselisih paham.
__ADS_1