Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
20. Memberitahu Mama Wulan


__ADS_3

Setibanya Awan dan Shofi di depan restoran milik Surya, Shofi pun terkejut. Pasalnya itu adalah restoran yang sering dirinya dan teman-temannya jadikan pilihan untuk tempat makan siang mereka.


"Loh, Mas, jadi ini restoran milik papanya Mas Awan, ya?" tanya Shofi terkejut setelah dia membuka helmnya.


Awan tersenyum lebar, sudah menduga keterkejutan Shofi dari awal.


"Iya. Yuk masuk. Mas kenalin sama papanya Mas," kata Awan yang mulai membiasakan memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Mas'.


"Iya, Mas," balas Shofi.


Awan dan Shofi kemudian melangkah beriringan masuk ke dalam restoran milik Surya tersebut.


"Eh, Mas Awan. Selamat datang," sapa salah seorang pelayan di restoran tersebut yang memang sudah mengenal siapa Awan.


"Makasih. Papa ada kan?" balas Awan sekaligus bertanya.


"Ada kok, Mas. Silahkan langsung masuk aja ke ruangan bos. Atau mau saya anterin?"


"Nggak usah, makasih. Duluan ya kalau gitu."


"Iya, Mas. Silahkan," kata pelayan tersebut mempersilahkan.


"Ayo, Shofi," ajak Awan kepada Shofi.


"I-iya, Mas."


Awan kemudian mengajak Shofi untuk langsung menuju ke ruangan Surya.


Tok. Tok. Tok.


"Assalamu'alaikum, Pa," sapa Awan seraya membuka pintu ruangan Surya, setelah terlebih dahulu mengetuknya tadi.


"Wa'alaikumsalam. Eh, kamu, Wan. Ayo masuk!" balas Surya mempersilahkan.


Awan kemudian masuk ke dalam ruangan Surya dengan diikuti oleh Shofi di belakangnya.


"Assalamu'alaikum, Om," salam Shofi.


"Loh, ada nak Shofi juga tho. Wa'alaikumsalam. Mari-mari silahkan masuk."


Surya kemudian bangun dari duduknya dan menyambut kedatangan Awan serta Shofi.


"Kita duduk di sofa sini aja yuk!" ajak Surya.


Awan dan Shofi menganggukkan kepalanya. Keduanya kemudian mengikuti Surya yang sudah terlebih dahulu mendudukkan dirinya di sofa yang berada di dalam ruangan Surya tersebut.

__ADS_1


"Duduk sini," kata Awan meminta Shofi untuk duduk di sebelahnya.


"I-iya, Mas," jawab Shofi pelan.


Shofi kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Awan. Sementara Surya duduk di sofa tunggal di sebelah mereka.


"Wah, kejutan banget ini kalian berdua datang ke tempat Papa. Sudah ada kabar baik, kah?" tanya Surya.


"Alhamdulillaah, Pa. Shofi sudah menerima pinangan Awan," jawab Awan dengan tersenyum senang.


"Alhamdulillaah," ucap Surya yang juga ikut merasa bahagia. "Oke, berarti setelah ini kita jalankan rencana selanjutnya untuk memberitahu Mama kamu, Wan."


Dan Shofi hanya bisa membulatkan kedua matanya melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Surya tersebut. Awan melihat ke arah Shofi kemudian tersenyum.


"Nggak usah kaget. Kan Mas tadi udah bilang sama kamu kalau Papa udah tau tentang masalah kita dan beliau sangat mendukung niat baik kita," kata Awan.


"Eh, i-iya, Mas."


Entah kenapa hari ini Shofi sering sekali tergagap dalam berbicara. Mungkin karena efek dari kegugupannya.


"Tenang saja, nak Shofi, Om sudah tau semuanya. Dan Om juga sangat merestui niat baik kalian berdua untuk menikah. Jangan khawatir, Om janji akan membantu kalian untuk meyakinkan mamanya Awan nanti," kata Surya.


"Terima kasih banyak, Om," ucap Shofi, merasa sangat bersyukur di dalam hatinya.


"Sama-sama, nak Shofi. Kalian berdua belum makan, kan? Sebentar ya, Om minta pegawai Om buat bawain makanan untuk kita."


Sementara Shofi hanya menganggukkan kepalanya pelan. Surya kemudian berjalan ke arah pintu. Memanggil salah satu pegawainya kemudian memintanya untuk membawakan makanan untuk mereka bertiga.


☘️☘️☘️


Malam harinya, selesai makan malam.


"Ma, duduk dulu," kata Surya seraya memegangi tangan Wulan yang hendak berdiri untuk membereskan piring kotor.


"Hmm? Ada apa sih, Pa?" tanya Wulan bingung, tetapi tetap menuruti perintah suaminya itu untuk kembali duduk di kursinya.


"Ada yang ingin Awan bicarakan dengan Mama dan Papa," kata Awan angkat bicara.


Wulan mengernyitkan keningnya. Kenapa justru Awan yang ingin berbicara?


"Ada apa sih ini sebenarnya? Mau ngomongin apa kamu, Wan? Kok jadi serius banget gini sih," tanya Wulan penasaran.


Awan menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Awan lalu mengucapkan basmalah dalam hatinya.


"Awan mau menikah, Ma," kata Awan.

__ADS_1


Wulan sampai melongo saking terkejutnya.


"Alhamdulillaah. Akhirnya, Wan, mau nikah juga kamu," kata Wulan begitu gembira mendengar perkataan Awan tadi.


"Coba bilang ke Mama, siapa namanya? Anak mana? Mama kenal enggak sama gadis itu?" tanya Wulan kemudian seraya tersenyum.


"Namanya Shofi, Ma. Dia adalah bundanya Keinan," jawab Awan.


Duarrr.


Senyum itu seketika menghilang dari wajah Wulan. Wulan merasa sangat terkejut saat ini. Rasanya seperti ada petir yang tiba-tiba menyambar di siang hari.


"Jangan bercanda kamu, Wan," kata Wulan pelan.


Wulan sangat berharap semua yang didengarnya tadi hanyalah sebuah candaan dari Awan saja.


"Awan nggak bercanda, Ma. Awan mau menikah dengan Shofi, bundanya Keinan," ulang Awan begitu yakinnya.


Wulan kembali membulatkan kedua matanya. Dirinya benar-benar merasa sangat terkejut saat ini.


"Nggak. Ini nggak mungkin," tolak Wulan. "Mama pasti salah denger. Ini semua pasti nggak bener."


Dengan lunglai Wulan kemudian berdiri dari duduknya. Sedikit sempoyongan Wulan mulai berjalan meninggalkan meja makan tersebut.


"Ini semua nggak mungkin," lirih Wulan seraya berjalan pergi.


"Ma, dengerin Awan dulu, Ma. Awan nggak bercanda, Ma. Awan serius mau menikah dengan Shofi, Ma. Ma, Mama," panggil Awan berkali-kali, berusaha meyakinkan mamanya itu.


Surya segera menghentikan Awan yang hendak berlari mengejar sang mama.


"Jangan. Biar Papa aja," cegah Surya.


"Bantu Awan ngeyakinin Mama ya, Pa. Awan minta tolong banget sama Papa," pinta Awan.


"Pasti, Wan. Kan Papa juga udah janji sama kamu sama Shofi. Papa akan bantu buat ngeyakinin Mama kamu sekuat tenaga Papa," jawab Surya.


"Makasih, Pa," kata Awan.


"Iya, sama-sama. Udah, kamu ke kamar kamu aja sekarang. Sholat, terus berdo'a. Minta sama Allah SWT, semoga hati Mama kamu dilembutkan dan pikiran Mama kamu dibukakan."


"Iya, Pa."


Surya kemudian segera beranjak menyusul Wulan ke kamar mereka.


Awan menyugar rambutnya. Membuang nafasnya kasar kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Beri kemudahan, Yaa Allah," pinta Awan lirih.


__ADS_2