
Awan, Hamzah, dan Keinan masih bermain bersama di teras rumah sembari mengobrol.
"Kak Awan udah lama ya punya kafe itu?" tanya Hamzah.
"Ya lumayan lah, Ham. Udah tiga tahunan inilah," jawab Awan.
"Wah, hebat ya Kak Awan. Bisa berwirausaha dan mandiri," puji Hamzah.
"Belum sehebat itu kok, Ham. Kan kamu juga tau sendiri, dari masih kuliah dulu kakak emang udah dididik sama Papa kakak untuk nerusin bisnis restoran keluarga. Tapi karena Abang sama Papa kakak udah berkecimpung disana, makanya kakak mutusin untuk mencoba buat usaha sendiri. Biar Abang aja yang bantuin Papa ngurusin restoran keluarga."
"Itu yang aku salut dari Kak Awan sejak dulu. Nggak mau menimbulkan masalah yang nggak perlu. Berani mencoba sesuatu yang baru dan selalu berusaha keras serta tidak mudah menyerah."
"Udah-udah, helm kakak nggak muat nanti. Kepala kakak jadi tambah gede ini," canda Awan.
Dan seketika tawa Hamzah dan Awan pun pecah.
"Oh iya, pacar kakak orang mana? Kenalin dong sama Hamzah," tanya Hamzah setelah tawanya mulai reda.
Awan menyengir seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Eh, jangan bilang kalau sampai sekarang Kak Awan masih belum punya pacar juga?" tanya Hamzah lagi dengan membulatkan kedua matanya.
"Hehe, emang belum punya, Ham."
"Beneran?" tanya Hamzah masih tidak percaya.
"Iya-iya, kalau masalah itu kakak akui kakak kalah deh, Ham, dari kamu sama Ayesha," kata Awan memberengut.
"Bukan gitu, Kak. Sorry deh. Cuma heran aja gitu. Dari pertama kali kenal sama kakak sampai kakak lulus kuliah, belum pernah aku lihat Kak Awan punya pacar. Padahal banyak banget cewek yang suka bahkan dengan terang-terangan ngejar kakak. Masak iya sampai sekarang kakak masih belum punya pacar juga?"
"Ya mau gimana lagi? Jodohnya belum datang, hahahaha," lagi-lagi Awan menjawab dengan bercanda.
"Hilih, terus yang ngantri sebanyak itu apa namanya?"
"Bukannya gitu, Ham. Kalau kakak sih, kalau bisa nih ya, nggak usah deh pake acara pacar-pacaran segala. Kalau udah ketemu satu yang cocok ya udah langsung nikah aja. Maunya kakak sih gitu, hehe."
"Kalau gitu Hamzah do'ain semoga segera ketemu deh 'satu yang cocok' itu tadi."
"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin," kata Awan meng-amin-kan.
Sesaat kemudian,
"Assalamu'alaikum," salam Shofi yang baru saja pulang dengan berjalan kaki.
"Wa'alaikumsalam," jawab Hamzah, Awan, dan juga Keinan bersamaan.
Mereka bertiga lalu mengalihkan perhatian ke arah Shofi yang baru saja datang.
__ADS_1
"Loh,,," Awan tidak melanjutkan perkataannya karena terkejut melihat Shofi.
"Eh,,," Shofi pun juga sama terkejutnya seperti Awan.
"Yeay, Bunda udah pulang," teriak Keinan yang membuyarkan keterkejutan Shofi dan Awan.
Keinan kemudian bangun dari duduknya dan langsung berlari menghampiri Shofi.
"Kakak udah pulang? Dari mana tadi?" tanya Hamzah.
"Iya, Dek. Dari warung Bu Hajah tadi," jawab Shofi.
"Oh iya, Kak, kenalin ini Kak Awan. Kakak tingkat Hamzah yang kemarin Hamzah ceritain itu. Kak Awan, ini kakakku Kak Shofi," kata Hamzah memperkenalkan Awan kepada Shofi dan sebaliknya juga.
'Ternyata kamu ...' kata batin Awan dan Shofi, sama.
Sekilas Awan bisa melihat sikap salah tingkah Shofi. Tidak ingin menambah kecanggungan di antara mereka, maka Awan pun kemudian mengulurkan tangan kanannya kepada Shofi.
"Kenalin Mbak, nama saya Awan, kakak tingkatnya Hamzah dulu di kampus," kata Awan kembali mengulang perkenalan dari Hamzah tadi.
"Ah, eh, iya," sedikit salah tingkah Shofi pun kemudian menyambut uluran tangan dari Awan. "Saya Shofi, kakaknya Hamzah."
Deg. Deg. Deg.
Serasa ada getaran tersendiri yang dirasakan oleh Awan ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Shofi yang begitu lembut. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Shofi saat ini. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa berdebar-debar.
"Om Ganteng, ini bundanya Keinan. Cantik kan?"
"Cantik kok. Sama seperti Keinan yang juga ganteng," jawab Awan seraya mengusap lembut kepala Keinan, keduanya kemudian tersenyum.
Dan tiba-tiba saja,
"Heh, dasar janda gatel. Suka banget sih manfaatin kecantikan kamu itu buat godain suami orang," teriak seorang ibu-ibu yang begitu datang langsung marah-marah.
Awan langsung berdiri kembali karena merasa kaget. Begitu juga dengan Shofi, Hamzah, dan Keinan yang juga langsung menoleh ke arah ibu-ibu tersebut.
"Bu Dewi? Maaf, tapi ini ada apa ya, Bu?" tanya Aminah yang juga langsung keluar dari dalam rumah begitu mendengar ada suara orang berteriak.
"Bu Aminah, itu ajarin dong Bu anaknya. Jangan sukanya godain suami orang terus. Mentang-mentang dia janda dan juga cantik, terus bisa seenaknya aja gitu godain suami orang," kata Bu Dewi masih dengan emosi yang meluap-luap.
"Maaf Bu, tapi ini sebenarnya ada apa? Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh anak saya sampai Bu Dewi bisa bilang seperti itu?" tanya Aminah lagi masih belum mengerti duduk permasalahannya.
"Bu, anak Bu Aminah ini udah ngerayu suami saya tadi di warungnya Bu Hajah Maryam sampai akhirnya suami saya bayarin semua barang belanjaan dia. Masih mau bilang kalau dia nggak godain suami saya, Bu?" jawab Bu Dewi masih emosi.
"Tapi Bu---"
Shofi memegang lengan Aminah, menghentikan perkataan ibunya itu.
__ADS_1
"Maaf, Bu Dewi. Tapi demi Allah, saya nggak pernah godain suami ibu apalagi merayu beliau untuk membayari barang belanjaan saya. Tadi memang suami ibu bermaksud untuk membayari belanjaan saya, dan itupun karena keinginan beliau sendiri, tidak ada hubungannya dengan saya. Tapi asal Bu Dewi tau, saya langsung menolak niat baik beliau tadi. Saya yang membayar belanjaan saya sendiri, Bu," kata Shofi menjelaskan.
"Halah, itu sih pinter-pinternya kamu yang ngomong aja," cibir Bu Dewi masih tidak terima.
"Assalamu'alaikum semuanya," salam seorang anak kecil berusia sekitar 15 tahun.
Dia adalah Salwa, putri Bu Hajah Maryam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aminah dan yang lainnya bersamaan.
"Teh Shofi, ini Salwa mau nganterin uang kembaliannya teteh tadi," kata Salwa seraya mengulurkan sejumlah uang.
"Oh iya. Makasih ya, Salwa. Maaf udah ngerepotin Salwa sampai harus nganterin kesini," balas Shofi setelah menerima uang kembalian dari Salwa.
"Sama-sama, teh. Nggak ngerepotin kok teh," kata Salwa lagi.
"Bu Dewi lihat sendiri? Saya membayar barang belanjaan saya dengan uang saya sendiri, Bu," kata Shofi kepada Bu Dewi.
"Saya masih nggak percaya. Orang tadi Bu Anik lihat sendiri kok kalau suami saya bayarin semua barang belanjaan kamu," sangkal Bu Dewi masih menolak untuk percaya.
"Eh, Bu Dewi ya. Tadi memang suaminya Bu Dewi mau bayarin belanjaannya teh Shofi. Tapi teh Shofi-nya nolak. Teh Shofi bayar sendiri belanjaan dia terus buru-buru pamit sampai uang kembaliannya pun lupa nggak diambil. Makanya Salwa anterin kesini," Salwa pun kemudian ikut menjelaskan.
Bu Dewi pun akhirnya terdiam setelah mendengar penjelasan dari Salwa.
"Huh, tetep aja, kamu itu jangan suka tebar pesona dan godain suami orang lain dong. Ya udah, saya pamit dulu kalau gitu," kata Bu Dewi pada akhirnya kemudian langsung berbalik dan pergi meninggalkan rumah Aminah tersebut.
Salwa pun juga kemudian pamit pulang. Aminah menghela nafas lelah.
"Selalu saja seperti ini," lirih Aminah.
"Udah, Bu, nggak usah dipikirin lagi. Kita masuk ke dalam yuk!" ajak Shofi seraya menggandeng tangan ibunya itu.
"Maaf ya, Mas. Mas harus melihat semua kejadian yang tidak mengenakkan tadi," kata Shofi merasa tidak enak hati kepada Awan.
Awan yang sedari tadi terdiam dan mengamati semua yang sudah terjadi pun kemudian memperlihatkan senyumannya.
"Santai aja, Mbak. Nggak pa-pa kok," balas Awan.
"Saya dan ibu masuk dulu, ya. Silahkan dilanjutkan ngobrolnya. Permisi," pamit Shofi kemudian.
"Iya, Mbak, silahkan," kata Awan.
Shofi kemudian mengajak Aminah untuk kembali masuk ke dalam rumah.
"Sorry ya, Kak," sesal Hamzah juga.
"Nggak pa-pa, Ham. Santai aja lah," balas Awan. "Kejadian seperti ini sering terjadi ya, Ham?"
__ADS_1
"Ya, begitulah, Kak. Status Kak Shofi yang seorang janda sering dipandang sebelah mata oleh para warga. Terutama para ibu-ibu yang merasa kalau suami mereka jadi tergoda sama Kak Shofi," jawab Hamzah.
Awan kembali terdiam. Entah kenapa ada perasaan marah yang dirasakan oleh Awan, melihat apa yang sudah dialami oleh Shofi tadi.