Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
37. First Kiss


__ADS_3

"Bunda, Papa badannya panas banget," teriak Keinan seraya berlari menghampiri Shofi yang saat ini sedang memasak bersama dengan Wulan dan Bik Sani di dapur.


Shofi, Wulan, dan Bik Sani langsung membalikkan badannya karena terkejut mendengar suara teriakan Keinan tersebut.


"Ayo, Bunda. Papa badannya panas banget," kata Keinan lagi dengan menarik tangan kanan Shofi.


"Papa kamu kenapa, sayang?" tanya Wulan khawatir.


"Tadi habis sholat subuh memang Mas Awan bilang kalau kepalanya agak pusing, Ma. Terus katanya mau tiduran lagi pas Shofi ijin mau turun ke bawah tadi," kata Shofi menjelaskan kepada Wulan.


"Ayo kita naik, kita lihat kondisi Awan. Lanjutin masaknya dulu ya, Bik," kata Wulan kemudian.


"Baik, Nyonya," balas Bik Sani.


Shofi menganggukkan kepalanya. Shofi dan Keinan kemudian mengikuti langkah Wulan yang sudah terlebih dahulu berjalan meninggalkan dapur. Ketiganya kemudian menaiki tangga dan menuju ke kamar Awan dan Shofi.


Wulan membuka pintu kamar kemudian langsung bergegas masuk ke dalam.


"Kamu kenapa, Wan?" tanya Wulan dengan berjalan menghampiri Awan yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan selimut menutupi sampai ke lehernya.


Awan perlahan membuka kedua matanya.


"Hmh. Awan nggak pa-pa kok, Ma," jawab Awan susah payah.


Wulan mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur Awan. Disentuhnya kening putranya itu menggunakan tangan kanannya.


"Yaa Allah, panas banget, Wan," keluh Wulan cemas.


Shofi segera membuka laci nakas di samping tempat tidur kemudian mengambil termometer dari dalam kotak obat.


"Diukur dulu panasnya ya, Mas," kata Shofi.


Shofi kemudian menarik pelan selimut Awan. Membuka sedikit baju tidur Awan kemudian meletakkan termometer tersebut di ketiak Awan.


Tit. Tit. Tit.


Tidak lama kemudian termometer tersebut pun sudah berbunyi. Shofi segera mengambilnya kembali.


"Astaghfirullah. Tiga delapan koma lima, Ma," kata Shofi memberitahu Wulan.


"Yaa Allah," keluh Wulan lagi.


"Mas minum obat dulu, ya. Biar panasnya cepet turun," kata Shofi yang kemudian meletakkan kembali termometer ke dalam kotak obat dan mengambil tablet parasetamol untuk menurunkan panas.


"Nggak usah minum obat. Entar juga turun sendiri kok. Kan tadi udah minum teh panas buatan kamu juga," tolak Awan.


"Ck, kamu itu kebiasaan, Wan. Susah banget kalau disuruh minum obat," decak kesal Wulan.

__ADS_1


"Ayo, Mas," kata Shofi seraya membantu Awan untuk bangun dari tidurnya.


"Nggak perlu, Shofi," Awan masih mencoba untuk menolak.


"Biar panasnya cepet turun, Mas," bujuk Shofi.


"Iya, Papa. Papa minum obat, ya. Biar nggak panas lagi," bujuk Keinan juga.


"Tuh, nggak malu sama anak kamu," tegur Wulan.


Shofi tersenyum kecil melihat Awan yang mengerucutkan bibirnya. Shofi kemudian mengangsurkan satu butir obat kepada Awan dan juga segelas air putih. Dengan enggan akhirnya Awan pun meminum obat tersebut.


Shofi kembali membantu Awan untuk berbaring kemudian kembali menyelimutinya.


"Mas istirahat aja dulu, ya. Aku mau mandiin Keinan dan nyiapin dia untuk sekolah," kata Shofi.


Awan menganggukkan kepalanya pelan.


"Mama juga keluar dulu. Kamu baik-baik istirahat, biar cepet sembuh," kata Wulan juga.


"Iya, Ma. Makasih," balas Awan pelan.


"Cepet sembuh ya, Papa," kata Keinan juga.


"Iya, sayang," balas Awan dengan tersenyum ringan.


☘️☘️☘️


"Loh, kamu nggak kerja, Shofi? Kok masih pake pakaian rumahan gitu?" tanya Surya heran begitu melihat Shofi datang bersama Keinan menghampiri meja makan.


"Enggak, Pa. Hari ini Shofi ijin libur kerja dulu. Tadi Shofi udah telepon Om Azril sama bagian personalia juga untuk pengajuan cuti dadakan," jawab Shofi dengan membantu Keinan untuk duduk di kursinya.


"Awan lagi sakit, Pa. Badannya panas banget tadi," kata Wulan juga, memberitahu Surya.


"Oh ya?" tanya Surya.


"Iya, tadi Mama udah cek sendiri. Jadi pagi ini Keinan biar kita berdua yang nganterin ke sekolah. Shofi biar jagain Awan," jawab Wulan sekaligus memberitahu suaminya tersebut.


"Oh gitu, oke-oke, nggak masalah. Kamu tenang aja, Shofi. Keinan biar Papa sama Mama yang nganterin ke sekolah."


"Iya, Pa. Makasih banyak ya, Pa, Ma," ucap Shofi.


"Hmm. Jagain Awan baik-baik. Dia itu kalau lagi sakit manjanya bisa ngelebihin anak kecil," kata Wulan memberitahu Shofi.


"Eh, i-iya, Ma," balas Shofi.


Jadi pagi itu Keinan berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Surya dan Wulan.

__ADS_1


Shofi membawakan sarapan untuk Awan kemudian juga menyuapi suaminya yang sedang sakit tersebut. Tetapi Awan hanya makan sedikit saja dengan alasan lidahnya terasa pahit. Shofi sudah memaksa dan membujuk, tetapi Awan masih tetap tidak bersedia untuk makan lebih banyak lagi.


Selesai menyuapi Awan, Awan meminta Shofi untuk menemaninya tidur dan istirahat. Sebisa mungkin Shofi berusaha menuruti keinginan suaminya tersebut. Alhasil pagi itu Awan tertidur dengan nyenyak di pangkuan Shofi.


Siang harinya Shofi kembali menyuapi Awan untuk makan siang. Dan lagi-lagi Awan hanya memakan beberapa sendok makanan saja.


"Mas, minum obat lagi yuk. Kan udah makan juga," kata Shofi yang sudah membawa sebutir obat dan segelas air putih di kedua tangannya.


"Nggak mau," rajuk Awan seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Mas, kan biar cepet sembuh," bujuk Shofi.


"Nggak perlu minum obat lagi. Nanti juga pasti sembuh sendiri kok."


"Jangan gitu dong, Mas. Mas harus minum obat, biar panasnya cepet turun. Ayolah, Mas. Cuma sebutir obat aja kok. Masak iya harus nungguin Keinan pulang dari sekolah dulu baru Mas mau minum obat. Kayak tadi pagi itu, Mas baru mau minum obat setelah disuruh oleh Keinan. Apa kali ini juga harus seperti itu lagi? Nungguin Keinan dulu baru Mas mau minum obat, gitu?"


Dan,


Cup.


Tiba-tiba Awan mendaratkan bibirnya secepat kilat di bibir Shofi, membuat Shofi seketika diam mematung karena terkejut.


"Berisik," gerutu Awan setelah mencuri ciuman kilat di bibir Shofi.


Awan kemudian mengambil alih obat dan gelas yang sedang dipegang oleh Shofi. Shofi yang masih mematung bahkan sampai tidak bereaksi apapun ketika obat dan gelas yang dia pegang sudah berpindah ke tangan Awan.


Awan kemudian meminum obat tersebut.


"Mmmhhh, paittt,,," gerutu Awan dengan mengernyitkan dahinya dan menyipitkan kedua matanya.


Shofi tersadar dari keterkejutannya begitu mendengar gerutuan dari suaminya tersebut.


"Emh, Mas ---"


Dan belum sempat Shofi melanjutkan perkataannya, Awan lalu meletakkan gelas yang dia bawa ke atas meja nakas kemudian kembali menghadap ke arah Shofi.


"Kamu harus tanggung jawab," ucap Awan.


Setelah berkata demikian, Awan kemudian kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Shofi. Kali ini cukup lama. Awan bahkan melu mat dan menghisap pelan bibir Shofi.


Shofi yang belum tersadar sepenuhnya dari keterkejutannya hanya bisa mengikuti permainan suaminya itu tanpa bisa menolak. Bahkan Shofi seakan terhanyut dalam kelembutan ciuman pertama dirinya dengan Awan tersebut.


Beberapa saat kemudian Awan pun menyudahi ciuman mereka berdua. Diusapnya lembut bibir Shofi menggunakan ibu jarinya. Nafas keduanya sedikit memburu. Mereka kemudian mencoba menormalkan deru nafas masing-masing.


"Manis. Mas suka," puji Awan dengan tersenyum lembut.


Wajah Shofi seketika langsung memerah mendengar perkataan dari Awan tersebut. Awan kemudian menarik Shofi ke dalam pelukannya. Shofi pun langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya tersebut karena merasa malu.

__ADS_1


Dapat Shofi dengar dengan jelas degup jantung Awan yang berdebar cukup kencang. Tidak jauh berbeda dengan yang sedang dirasakan oleh Shofi sendiri saat ini.


__ADS_2