Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
39. Nafkah Lahir Dan Batin


__ADS_3

"Shofi, aaarrggghhh,,," geram Awan tertahan di ceruk leher Shofi ketika pelepasan itu dia dapatkan.


"Mas Awan, mmmhhh,,," Shofi pun ikut menahan de sahannya, merasakan ledakan kenikmatan hebat yang baru saja dia rasakan.


Nafas Awan dan Shofi memburu. Keringat membasahi tubuh mereka berdua. Saat ini keduanya sedang berusaha untuk menormalkan deru nafas masing-masing.


Awan mengangkat sedikit tubuhnya kemudian mencium kening Shofi penuh sayang. Diusapnya buliran keringat di kening Shofi menggunakan tangan kanannya.


"Sakit?" tanya Awan lembut.


Shofi menggelengkan kepalanya pelan.


"Cuma agak perih," lirih Shofi.


"Maaf ya kalau Mas nggak bisa 'nahan'. Rasanya bener-bener terlalu dahsyat. Padahal kamu udah pernah ngelahirin Keinan loh, sayang. Tapi tadi itu bener-bener sempit banget, susah juga buat masuknya. Makanya Mas nggak bisa nahan lama-lama. Terlalu nikmat rasanya."


"Maaasss,,," ucap Shofi dengan memanjangkan kata, terlalu malu mendengar semua perkataan dari Awan tersebut.


Awan justru tertawa kecil melihat wajah istrinya yang memerah itu.


"Tapi beneran loh, sayang. Rasanya beneran sempit banget," kata Awan lagi.


"Ya mungkin karena udah empat tahun lebih kan, Mas. Makanya kayak nutup lagi, gitu," balas Shofi asal yang justru sukses membuat Awan semakin tergelak.


"Mas Awan iiihhh,,, udah dong. Kan aku jadi malu," rajuk Shofi.


"Kenapa harus malu sih, sayang? Justru Mas ini lagi seneng banget loh. Kamu udah berhasil membuat Mas merasa menjadi laki-laki yang sangat beruntung karena mendapatkan kamu dalam kehidupan Mas. Kamu harusnya bangga dong."


"Maaasss, udah dong..."


Dan sesaat kemudian, kedua mata Shofi membulat sempurna karena terkejut ketika merasakan bagian tubuh Awan yang masih berada di dalam dirinya kembali mengeras di bawah sana.


"Mas?" tanya Shofi dengan mengernyitkan keningnya.


"Hehe, siap untuk yang selanjutnya, sayang?" Awan bertanya balik dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.


"Ta-tapi ---"

__ADS_1


"Rasanya benar-benar terlalu nikmat, sayang. Makanya Mas langsung jadi ketagihan," potong Awan cepat.


"Mas,,, aaahhh..."


Perkataan Shofi terpotong dan langsung berubah menjadi de sahan ketika Awan kembali bergerak dan mengayun perlahan. Mengajak Shofi untuk kembali meniti ke puncak halal surga dunia. Melewati malam panjang yang indah dan luar biasa itu bersama-sama.


☘️☘️☘️


Subuh pagi harinya.


Shofi terbangun dengan merasakan rasa pegal di sekujur tubuhnya. Belum lagi rasa kebas dan perih di bagian bawah tubuhnya. Rasanya baru sebentar saja dirinya dan suaminya itu tertidur. Tetapi mau tidak mau mereka berdua harus bangun sekarang karena sudah masuk waktu untuk sholat subuh.


Shofi kemudian membangunkan Awan perlahan. Sedikit susah, tapi akhirnya suaminya itu mau bangun juga. Setelah melalui drama penolakan yang berujung kegagalan, akhirnya Awan dan Shofi pun kemudian mandi bersama untuk kembali mensucikan tubuh mereka.


Selesai mandi dan melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah, Shofi kemudian ijin untuk turun ke bawah, hendak membantu memasak untuk sarapan pagi mereka nanti.


Sesampainya di dapur, dapat Shofi lihat Wulan dan Bik Sani yang sedang sibuk dengan aktivitas memasak mereka.


"Pagi, Ma," sapa Shofi seraya menghampiri ibu mertuanya itu.


"Dasar pengantin baru. Pinter banget kalian memanfaatkan kesempatan mumpung Keinan lagi nggak ada," kata Wulan.


Shofi jadi salah tingkah sendiri. Merasa malu dan juga canggung.


"Maaf, Ma," lirih Shofi merasa bersalah.


"Ya udah, sana bantuin Bik Sani siapin sayur sama lauknya," kata Wulan kemudian.


"Iya, Ma," balas Shofi.


Shofi kemudian menghampiri Bik Sani dan membantunya untuk mempersiapkan sayur dan lauk, seperti perintah Wulan tadi.


Jujur saja Shofi merasa sangat tidak enak hati kepada ibu mertuanya itu. Dirinya bangun sedikit terlambat sehingga terlambat juga untuk turun dan membantu memasak untuk sarapan pagi mereka.


Belum lagi dirinya yang merasa seperti tertangkap basah karena ketahuan memanfaatkan kesempatan mumpung Keinan sedang tidak ada di rumah. Rasanya Shofi benar-benar malu saat ini.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Hari demi hari berlalu. Hubungan Awan dengan Shofi juga semakin hangat dan mesra. Apalagi setelah akhirnya mereka berdua bisa saling memiliki satu sama lain seutuhnya.


Sekarang Shofi sudah mulai bisa menghilangkan rasa canggungnya terhadap semua perlakuan mesra Awan terhadap dirinya. Meski terkadang, sesekali, Shofi juga masih tetap saja tersipu malu dengan wajah yang memerah. Dan hal itu pasti langsung sukses membuat Awan tertawa puas.


Siang itu, setelah melaksanakan ibadah sholat Dzuhur di musholla kantor SR Group, Shofi dikejutkan dengan sebuah notifikasi pesan masuk pada ponselnya. Shofi kemudian membuka pesan masuk tersebut.


"Astaghfirullah hal adziim," pekik pelan Shofi merasa sangat terkejut seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


Shofi terkejut karena ternyata itu adalah pesan masuk dari layanan m-banking miliknya. Dan Shofi juga lebih terkejut lagi setelah mengetahui bahwa dirinya menerima transfer uang dengan nominal yang cukup besar dari nomor rekening kakak iparnya, Anjani.


Shofi kemudian segera menghubungi nomor telepon Anjani.


📞: Assalamu'alaikum, Shofi.


📞: Wa'alaikumsalam, Kak. Kak Jani ini uang apa? Kok banyak banget.


📞: Oh, itu hasil pembagian dari pemasukan uang kontrakan bulan ini, Shofi. Awan udah cerita sama kamu kan masalah usaha kontrakan dia sama Bang Langit itu?


📞: Udah sih, Kak. Tapi kenapa uangnya ditransfer ke rekening aku, Kak? Kenapa nggak ke rekening Mas Awan langsung aja?


📞: Kan kamu istrinya Awan. Jadi wajar dong kalau penghasilan suami kamu itu kamu yang menerima.


📞: Tapi kan Kak ---


📞: Nggak ada tapi-tapian. Dari dulu Awan memang sudah bilang juga sama kami kalau setelah dia menikah nanti, maka semua penghasilan dia akan diserahin ke istrinya, sama seperti Bang Langit dan Papa Surya yang juga seperti itu. Dan kakak juga udah tanya lagi kok kemarin sama Awan. Memastikan sama dia. Dan Awan meminta pada kakak untuk mentransfer uang hasil pembagian uang kontrakan kepada kamu. Jadi kamu terima aja, ya. Anggap aja itu nafkah dari suami kamu.


📞: Tapi Kak, aku ---


📞: Udah. Nggak usah ada kata 'tapi' lagi. Kalau ada yang mau kamu tanyain, kamu langsung tanya aja tuh sama suami kamu itu. Udah dulu ya, kakak mau jemput Bintang sama Inara dulu di rumah makan Bang Langit. Kakak tutup dulu ya, Shofi. Assalamu'alaikum.


📞: I-iya, Kak. Wa'alaikumsalam.


Tut.


Sambungan telepon pun terputus. Shofi mengesah pelan. Shofi masih berusaha untuk bisa menghilangkan rasa keterkejutannya itu.


Sesaat kemudian Shofi tersenyum simpul. Ada rasa bahagia dan haru yang Shofi rasakan saat ini. Dirinya baru saja menerima nafkah dari suaminya. Ah, suaminya itu memang paling pintar dalam hal memberi kejutan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2