
"Shofi nggak ikut makan malam, Wan?" tanya Aminah ketika hanya melihat Awan dan Keinan saja yang datang ke meja makan malam ini.
"Enggak dulu katanya, Bu. Belum lapar. Tapi nanti biar Awan yang bawain makan malamnya ke kamar untuk Shofi, Bu. Ibu nggak perlu khawatir," jawab Awan seraya duduk di kursi meja makan diikuti oleh Keinan di sebelahnya.
"Keadaan Kak Shofi gimana, Kak?" tanya Hamzah terlihat khawatir.
"Kakak kamu nggak pa-pa kok, Ham. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri aja."
"Kak Awan udah punya rencana kah?" tanya Hamzah lagi.
"Hmm, malam ini kakak mau pergi ke rumah Bang Langit. Papa nungguin disana."
"Aku ikut ya, Kak. Kebetulan aku off malam ini," pinta Hamzah.
Awan nampak berpikir sejenak.
"Oke. Kamu boleh ikut nanti," kata Awan pada akhirnya.
"Ya sudah. Ayo kita makan malam dulu semuanya," kata Aminah kemudian.
"Iya, Bu," balas Awan dan Hamzah bersamaan.
Mereka berempat kemudian memulai makan malam mereka tanpa kehadiran Shofi malam ini.
☘️☘️☘️
Awan dan Hamzah sudah tiba di rumah Langit. Saat ini keduanya sudah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Langit dan Surya.
"Jadi sebenarnya ada apa sih, Wan? Papa tau, pasti telah terjadi sesuatu. Kamu tiba-tiba meminta ijin untuk menginap di rumah Bu Aminah selama beberapa hari. Apa yang sebenarnya sudah terjadi, Wan?" tanya Surya.
Awan membuang nafas pelan. Papanya itu terlalu peka dan tidak mudah untuk dibohongi.
"Dasar Papa. Dari dulu Awan selalu nggak bisa nyembunyiin sesuatu dari Papa," gerutu Awan.
"Papa tau benar gimana sifat kalian. Itu kenapa Papa selalu bisa tau misalkan terjadi sesuatu yang nggak beres pada kalian," kata Surya.
"Iya deh. Jadi gini, Pa, Bang, kemarin itu Bayu, mantan suaminya Shofi dulu, datang bersama dengan istrinya yang sekarang. Mereka berdua tiba-tiba datang dan bermaksud untuk mengambil alih hak asuh atas Keinan. Mereka ingin agar Keinan bisa ikut tinggal bersama dengan mereka. Dan ketika Shofi menolak dengan keras permintaan mereka, mereka kemudian mengancam bahwa mereka akan membawa masalah ini ke jalur hukum."
Awan kemudian menceritakan semua yang sudah terjadi kemarin lusa itu kepada Surya dan Langit. Anjani yang baru saja selesai menidurkan Bintang dan Inara pun kemudian ikut bergabung dengan pembicaraan mereka berempat.
"Istrinya Bayu namanya siapa, Wan?" tanya Anjani.
__ADS_1
"Alya, Kak. Dia itu seorang model dari London yang ikut acara fashion show brand terkenal di ibukota kemarin itu," jawab Awan.
Anjani kemudian nampak mengotak-atik ponselnya sebentar.
"Alya yang inikah?" tanya Anjani seraya menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan foto Alya kepada Awan.
"Eh, iya Kak. Dia Alya istrinya Bayu. Katanya sih dulu teman kampusnya Shofi juga, seperti yang udah Awan ceritain tadi," jawab Awan.
"Hmm," Anjani nampak berpikir sejenak.
Beberapa saat kemudian,
"Aah, sepertinya kakak punya ide deh, Wan, untuk menghadapi mereka berdua," kata Anjani kemudian.
"Sungguh, Kak? Ide apa, Kak?" tanya Awan antusias.
Anjani kemudian menyampaikan idenya tersebut kepada Awan, Hamzah, Surya, dan Langit.
Raut wajah Awan dan yang lainnya mulai cerah kembali setelah mendengar penjelasan dari Anjani tadi. Mereka semua berharap semoga ide dari Anjani itu berhasil untuk menyelesaikan masalah Bayu dan Alya ini.
☘️☘️☘️
"Assalamu'alaikum," salam Awan dan Hamzah.
"Wa'alaikumsalam," balas Aminah dan Keinan yang masih menonton televisi bersama.
"Loh, Keinan kok belum bobok?" tanya Awan.
"Sengaja nungguin Papa sama Om Hamzah. Malam ini Kei mau bobok sama Om Hamzah aja ya, Pa?" jawab Keinan seraya salim kepada Awan dan Hamzah bergantian.
Awan dan Hamzah juga kemudian menyalami Aminah dan mencium punggung tangan kanannya bergantian.
"Hmh, tumben?" tanya Awan kemudian dengan kening yang mengerut bingung.
"Sekali-sekali lah, Pa. Kei kan udah lama banget nggak bobok bareng Om Hamzah lagi. Boleh kan, Om?" jawab Keinan yang kemudian juga meminta persetujuan dari Hamzah.
"Boleh kok, sayang," jawab Hamzah dengan tersenyum.
"Udah, Papa buruan masuk ke kamar sana. Bunda juga belum tidur tuh, nungguin Papa dari tadi," kata Keinan kemudian.
"Oh ya?" tanya Awan meyakinkan.
__ADS_1
"Iya. Buruan masuk sana, Pa. Kasihan Bunda nungguin dari tadi," jawab Keinan.
"Ya udah deh kalau gitu. Titip Keinan malam ini ya, Ham," kata Awan kepada Hamzah.
"Siap, Kak. Aman pokoknya," balas Hamzah.
"Oke. Kakak masuk dulu kalau gitu. Awan langsung masuk ke kamar sekarang ya, Bu," pamit Awan kepada Aminah juga.
"Iya, Wan," balas Aminah.
Awan kemudian melangkah menuju ke kamarnya, dimana Shofi sedang menunggu dirinya saat ini, begitu kata Keinan tadi.
Keinan kembali mendudukkan dirinya di sebelah Aminah. Hamzah pun kemudian juga ikut duduk di sofa di sebelah Keinan.
"Tumben kamu Kei, mau bobok sama Om?" tanya Hamzah.
"Kan Kei udah lama nggak bobok sama Om. Sekali-sekali lah, Om. Mumpung Kei lagi nginep disini. Mumpung Om pas libur kerja juga kan," jawab Keinan.
"Dih, bohong banget. Pasti ada maksud lain kan?" tanya Hamzah lagi.
"Hehehe, Om tau aja sih," jawab Keinan dengan cengingisan.
"Dasar kamu itu. Terus kenapa dong? Alesan sebenarnya apaan? Coba kasih tau sama Om."
Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan Shofi yang tertawa terpingkal-pingkal dari arah kamar Shofi dan Awan.
"Aaahhh... Udah, Mas. Ampun. Please,,, jangan lagi, Mas. Berhenti. Mas Awan. Aaahhh... Ha-ha-ha-ha... Mas Awan udah... Mas Awan..."
Hamzah dan Aminah mematung seraya melihat ke arah pintu kamar Shofi dan Awan. Sementara Keinan tersenyum lebar.
"Hehe, itu dia alasannya, Om. Kei nggak mau ganggu Papa yang lagi kasih hukuman ke Bunda," kata Keinan.
"Hukuman?" tanya Hamzah dan Aminah bersamaan seraya menoleh kembali ke arah Keinan.
"Iya. Hukuman dari Papa buat Bunda. Dari kemarin kan Bunda murung terus tuh. Nah, setelah dapat hukuman dari Papa akhirnya Bunda bisa ketawa lagi kan sekarang," jawab Keinan dengan polosnya.
"Kalau ada Keinan, Papa pasti nggak leluasa mau kasih hukuman sama Bunda. Soalnya biasanya Kei yang ngerasa nggak tega lihat Bunda sampai teriak minta ampun gitu karena digelitikin sama Papa. Kalau Kei nggak ada kan Papa bisa leluasa kasih hukuman buat Bunda. Biar Bunda juga bisa tertawa dan ceria lagi," lanjut Keinan.
Hamzah dan Aminah saling pandang. Keduanya kemudian sama-sama tersenyum. Kejadian sebenarnya pasti tidak hanya sebatas itu saja. Keinan memang masih polos, apa yang dia sampaikan tentu saja hanya sebatas apa yang dia ketahui.
Tetapi Hamzah dan Aminah merasa bersyukur karena Awan benar-benar bisa menjaga Shofi dengan baik. Awan bisa mengatasi kesedihan Shofi dengan caranya sendiri.
__ADS_1