
Akhir pekan ini Awan bersama keluarganya secara resmi melamar Shofi. Acara lamaran hanya diadakan secara sederhana saja, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Dari pihak Awan hanya sepuluh orang saja yang datang. Awan sendiri, Surya, Wulan, Langit, Anjani, Bintang, Inara, Pak RT, serta dua orang tetangga di sebelah kanan dan kiri rumah Surya.
Sementara dari pihak Shofi juga hanya Shofi, Aminah, Hamzah, Keinan, Pak RT, Pak Haji Muhsin serta istrinya Bu Hajah Maryam, dan juga dua orang tetangga Aminah.
Acara lamaran sederhana tersebut alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar. Dan sudah diputuskan juga, sesuai kesepakatan bersama, acara ijab kabul akan diadakan dua bulan kemudian.
☘️☘️☘️
Setelah melamar Shofi secara resmi, sekarang tugas untuk menjemput Keinan sepulang sekolah diambil alih oleh Awan. Seperti juga hari ini.
Namun sayangnya, siang ini Awan sedikit terlambat untuk menjemput Keinan karena kebetulan bersamaan dengan datangnya pasokan bahan baku dari supplier kafe miliknya. Mau tidak mau Awan harus mengurusi dulu pasokan bahan baku yang datang tersebut dan menandatangani surat pengiriman barang setelah selesai melakukan pengecekan terhadap barang-barang yang dikirim.
Setelah semua proses pengecekan bahan baku yang datang selesai, Awan pun kemudian dengan tergesa-gesa berlari ke seberang jalan, hendak menjemput Keinan di sekolahnya.
Dan setelah sampai di taman bermain, dimana Keinan selalu menunggu dirinya maupun Hamzah, langkah Awan terhenti begitu mendengar percakapan antara Keinan dengan seorang laki-laki dewasa.
"Gimana? Keinan udah percaya kan sekarang? Aku adalah ayah kandung kamu, Keinan," kata laki-laki dewasa tersebut yang seketika langsung membuat tubuh Awan menegang.
☘️☘️☘️
Keinan celingukan mencari keberadaan Om Ganteng-nya. Tapi bahkan sampai teman-temannya sudah pulang semua pun Keinan belum juga melihat keberadaan Om Ganteng-nya itu.
"Mungkin Om Ganteng telat," lirih Keinan.
Keinan kemudian berjalan menuju ke taman bermain di sekolahnya tersebut. Ya, Keinan akan menunggu Om Ganteng-nya itu dengan duduk di ayunan seperti biasanya.
Tapi, tidak lama setelah Keinan duduk di ayunan, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki dewasa yang menghampiri Keinan.
"Keinan? Kamu Keinan, kan?" tanya laki-laki tersebut dengan menatap Keinan penuh pengharapan.
Keinan mendongakkan wajahnya. Dilihatnya seorang laki-laki sedang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Om siapa?" tanya Keinan.
"Ini ayahnya Keinan, ayah Bayu," jawab laki-laki tersebut yang ternyata adalah Bayu, seraya berjongkok di depan Keinan.
Ya, Bayu jadi pulang ke Indonesia. Dan dia mendapatkan alamat sekolah Keinan, juga foto-foto Keinan, dari ibunya, Winna. Itu kenapa Bayu bisa berada di sekolah Keinan saat ini dan bisa langsung mengenali Keinan.
Keinan nampak mengerutkan keningnya.
"Ayahnya Keinan?" tanya Keinan masih bingung dan belum percaya.
"Iya. Ini ayahnya Keinan. Ayah kandung Keinan. Ayah Bayu," jawab Bayu dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca karena terharu.
"Apa buktinya kalau Om adalah ayahnya Keinan?" tanya Keinan yang masih belum bisa percaya.
"Tunggu sebentar," kata Bayu.
Bayu kemudian mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Mengotak-atik sebentar benda pipih tersebut kemudian memperlihatkan sebuah foto kepada Keinan.
Keinan dapat melihat foto bundanya dan juga laki-laki yang sedang berada di hadapannya saat ini. Keduanya sedang memegang buku kecil dan berfoto dengan pose tersenyum. Keinan juga dapat melihat bundanya yang sedang memakai kebaya berwarna putih dan laki-laki di depannya itu memakai jas warna hitam.
"Gimana? Keinan udah percaya kan sekarang? Aku adalah ayah kandung kamu, Keinan," kata Bayu lagi meyakinkan Keinan.
Keinan nampak masih bingung. Tetapi kemudian Keinan melihat Awan yang sedang berdiri tidak jauh dari ayunan. Keinan seketika melompat turun dari ayunannya.
"Papa Awan," pekik Keinan yang sontak membuat Bayu bahkan Awan sendiri pun tersentak kaget.
Keinan kemudian berlari menghampiri Awan dan langsung menghambur memeluknya. Bayu seketika membalikkan badannya dan melihat ke arah Keinan yang sedang memeluk seorang laki-laki, yang tadi dipanggil dengan sebutan 'Papa Awan' oleh Keinan.
Awan pun kemudian mengangkat tubuh kecil Keinan dan menggendongnya. Ah, Bayu sudah bisa menebak kalau laki-laki itu pasti yang bernama Awan. Calon suami baru Shofi, sekaligus calon ayah baru Keinan. Dan yang semakin membuat Bayu terkejut, bahkan Keinan pun sudah memanggil laki-laki tersebut dengan sebutan 'Papa Awan'.
Padahal, tanpa Bayu ketahui, ini juga adalah pertama kalinya Keinan memanggil Awan dengan sebutan 'Papa Awan'. Ya, Keinan seketika refleks memanggil Om Ganteng-nya dengan sebutan 'Papa Awan'. Hati Keinan masih belum bisa menerima dan mempercayai kalau laki-laki yang sudah menyapanya tadi menyebut dirinya sebagai ayah kandung Keinan.
Bayu kemudian berjalan menghampiri Awan dan Keinan.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu ya yang bernama Awan?" tanya Bayu. "Perkenalkan, saya Bayu, ayah kandung Keinan," lanjut Bayu seraya mengulurkan tangan kanannya.
Awan menyambut uluran tangan Bayu.
"Ya, saya Awan. Calon ayah baru untuk Keinan," balas Awan dengan mantap.
Dan dapat Awan rasakan kalau Bayu sedikit meremas tangan kanannya. Tetapi Awan bersikap tetap tenang. Rasa sakit di tangan kanannya itu tidak seberapa bagi Awan.
Bayu pun kemudian melepaskan jabatan tangan mereka berdua.
"Bagaimana saya bisa mempercayai bahwa Anda adalah ayah kandung dari Keinan? Bisakah Anda menunjukkan buktinya kepada saya?" tanya Awan.
Bayu kemudian mengeluarkan lagi ponselnya dan menunjukkan foto pernikahannya dengan Shofi kepada Awan.
"Ini adalah foto pernikahan saya dan Shofi. Foto ini diambil sesaat setelah kami melangsungkan ijab kabul," kata Bayu seraya mengangkat ponselnya dan menunjukkan foto pernikahannya itu kepada Awan.
Awan menelan ludahnya kasar. Jujur ada sedikit rasa cemburu yang Awan rasakan saat ini. Awan dapat melihat senyum kebahagiaan Shofi dalam foto tersebut. Tetapi sesaat kemudian, rasa cemburu itu berubah menjadi rasa marah. Ya, Awan merasa marah karena mengingat semua penderitaan yang sudah dialami oleh Shofi dan Keinan selama ini, setelah ditinggalkan oleh laki-laki di hadapannya itu.
"Oke, saya sudah percaya sekarang. Tapi maaf, saya harus membawa Keinan pergi dan mengantarnya pulang ke rumah," kata Awan, mencoba bersikap sopan.
"Biar saya yang mengantarkan Keinan pulang. Saya adalah ayah kandung Keinan. Dan saya masih ingin melepaskan rasa rindu saya kepada putra saya," pinta Bayu.
'Cih,' Awan berdecih dalam hati. 'Rindu? Kenapa baru sekarang, setelah empat tahun berlalu?'
Tetapi Awan hanya menyuarakan cibirannya itu di dalam hatinya saja.
"Maaf, hal itu diluar kewenangan saya. Kalau memang Anda masih rindu dengan Keinan, Anda dapat datang ke rumah ibu Aminah sendiri nanti," kata Awan, menolak secara halus.
Bayu tersentak. Tidak menyangka kalau Awan akan menjawab demikian dengan begitu tenangnya.
"Kalau gitu kami permisi dulu. Selamat siang," pamit Awan kemudian.
Awan langsung berbalik dan membawa Keinan dalam gendongannya untuk pergi meninggalkan Bayu yang masih diam terpaku saat ini.
__ADS_1