
"Kasus ini pasti bisa menjadi sebuah skandal yang sangat mungkin untuk bisa menghancurkan karir yang sudah kamu bangun dengan susah payah selama ini. Yakin kamu sudah siap untuk kehilangan karir cemerlang dan semua kebanggaan kamu dari para penggemarmu itu?" tanya Awan begitu menohok Alya.
Bayu terdiam. Begitu juga dengan Alya yang nampak begitu sangat terkejut. Ya, Bayu dan Alya mengakui kalau semua yang dikatakan oleh Awan itu adalah sesuatu yang masuk akal. Dan bisa dipastikan kalau hal tersebut dapat terjadi kedepannya sebagai imbas kalau mereka berdua nekat membawa kasus ini ke jalur hukum.
"Tapi kalau memang kalian berdua sudah siap dengan semua resikonya sih, ya nggak masalah. Kami juga sudah siap kok. Bahkan kami juga sudah mempersiapkan pengacara yang handal untuk melawan kalian," lanjut Awan.
"Dan dengan keadaan sekarang ini, kami sangat yakin untuk bisa menang dengan mudah dari kalian berdua. Kenapa? Yang pertama karena hak asuh Keinan dari awal memang sudah jatuh ke tangan Shofi. Dan itu adalah keputusan resmi dari pengadilan. Yang kedua, selama empat tahun ini Bayu juga sama sekali tidak ada itikad baik untuk sekedar menengok putranya. Bisa dikatakan bahwa tidak ada pertanggungjawaban sama sekali dari Bayu untuk putranya tersebut. Dan yang ketiga, kalau sampai terbongkar tentang siasat licik kalian berdua yang hanya menggunakan Shofi sebagai seorang 'pengganti' sampai akhirnya Bayu meninggalkan Shofi dan Keinan demi kamu, Alya. Menurut kalian bagaimana tanggapan media dan para netizen nantinya?"
Setiap perkataan Awan yang diucapkan dengan penuh penekanan itu mampu membuat Bayu dan Alya terpaku. Keduanya seakan terhanyut dengan setiap kata yang keluar dari mulut Awan itu, yang membuat nyali mereka berdua menjadi ciut.
"Boommm!!!" ucap Awan yang sangat tiba-tiba dan berhasil mengagetkan Bayu dan juga Alya yang langsung berjengit karena terkejut.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, menang dari kalian berdua adalah sesuatu yang sangat mudah. Tetapi apa kalian berdua yakin sudah siap untuk menanggung semua resiko yang akan terjadi kedepannya? Terutama kamu Alya. Karir cemerlang kamu dipertaruhkan secara tidak langsung sekarang ini. Sudah siap dengan semua resiko tersebut?" gertak Awan sekali lagi.
Hening. Mereka berlima masih terdiam dengan pemikiran masing-masing. Awan, Shofi, dan Keinan yang berharap semoga rencana mereka berhasil dan bisa membuat Bayu dan Alya mundur dari niat mereka untuk mengambil alih hak asuh Keinan. Sementara Bayu dan Alya yang bimbang serta ragu setelah mendengar semua perkataan dari Awan tadi.
Sampai akhirnya, beberapa saat kemudian, Alya yang terlebih dahulu berdiri dari duduknya.
"Cukup! Ayo sayang, kita pergi dari sini," ajak Alya kepada Bayu.
"Pergi? Tapi sayang ---"
"Udah, Bay. Lupakan keinginan kamu untuk membawa Keinan tinggal bersama dengan kita," potong Alya cepat.
"Tapi sayang, bukannya kita sudah sepakat sebelumnya?" tanya Bayu mencoba membujuk Alya.
"Iya memang. Tapi kalau karir aku yang dipertaruhkan demi mendapatkan Keinan, aku juga nggak rela."
__ADS_1
"Alya. Tenang dulu dong, sayang. Pasti masih ada jalan lain," bujuk Bayu lagi.
"Enggak, Bay. Kamu ikut aku pulang sekarang, atau kamu tetap memilih untuk memperjuangkan hak asuh Keinan. Tetapi itu berarti kita selesai. Keputusan ada di kamu," ucap Alya final.
Alya kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan meja tersebut. Bayu terpaku mendengar perkataan Alya. Sempat bimbang, tetapi akhirnya Bayu pun memilih untuk mengejar Alya.
"Alya. Tunggu sayang. Jangan terbawa emosi seperti itu," kata Bayu seraya berlari mengejar Alya yang sudah terlebih dahulu pergi.
Awan, Shofi, dan Keinan menghembuskan nafas lega. Ketiganya saling berpandangan. Senyuman seketika terkembang di wajah satu keluarga kecil itu.
"Syukur alhamdulillah. Rencana kita semua berhasil, sayang," kata Awan.
"Iya, Mas," balas Shofi yang juga merasa lega.
Awan kemudian mengajak Shofi dan Keinan untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Gimana, Wan, Shof?" tanya Langit dan Anjani hampir bersamaan begitu melihat Awan, Shofi, dan Keinan masuk ke dalam ruangan.
"Syukur alhamdulillah, rencana kita berhasil, Bang, Kak," jawab Awan dengan tersenyum senang.
"Alhamdulillaah," ucap syukur Langit dan Anjani yang ikut tersenyum lega.
Mereka berlima kemudian duduk bersama di sofa yang terdapat di dalam ruangan Awan tersebut.
"Terima kasih banyak ya, Kak Jani, Bang Langit. Tanpa ide dari Kak Jani ini, mungkin saat ini kami masih belum tau bagaimana caranya untuk bisa menghadapi masalah ini," kata Shofi mengucapkan rasa terima kasihnya.
Anjani kemudian menggenggam tangan Shofi yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu, Shofi. Tidak perlu berterima kasih juga. Kita ini kan keluarga. Kalau ada masalah, sudah semestinya bagi kita untuk saling membantu satu sama lain," ucap Anjani.
"Iya, Shofi. Tidak perlu merasa sungkan seperti itu. Kami justru senang bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang kalian hadapi ini," kata Langit juga.
"Tapi bener loh, Bang. Kalau nggak ada ide dari Kak Jani ini, saat ini mungkin kami masih belum tau bagaimana menghadapi masalah ini tanpa harus masuk ke meja pengadilan. Makasih banyak ya, Kak, Bang," ucap Awan yang juga ikut berterima kasih.
"Udah-udah, kenapa malah jadi pada sungkan gini, sih?" tegur Langit yang mulai merasa tidak nyaman dengan mode suasana serius seperti sekarang ini.
Seperti yang diketahui semua orang, dalam keluarga Awan memang sangat jarang terjadi suasana pembicaraan yang serius. Mereka lebih suka berbicara dan menanggapi semua permasalahan yang ada dengan bercanda dan tertawa. Agar beban di hati juga tidak semakin menjadi berat.
"Ah, akhirnya berguna juga gelar sarjana psikologi istriku ini. Mantap sayang. Urusan menghadapi orang dan memahami cara berpikir mereka, kamu memang ahlinya," puji Langit kepada Anjani, sekaligus berusaha untuk mencairkan suasana serius yang ada saat ini.
Anjani justru tertawa menanggapi pujian dari suaminya itu. Awan dan Shofi pun juga ikut mengulum senyum kecil.
"Hahahaha... Merinding tau nggak, Pa, denger pujian dari kamu itu," seloroh Anjani.
"Lah kok merinding? Orang lagi dipuji juga. Ini Papa tulus loh, dari hati yang paling dalam memuji kehebatan Mama," balas Langit.
"Ya nggak perlu berlebihan gitu juga. Biasa aja kali, Pa. Mama kan cuma kasih saran juga, siapa tau idenya Mama itu berhasil. Soalnya, publik figur kayak Alya gitu, apalagi yang udah tenar dan punya karir cemerlang, mereka pasti akan berpikir dua kali kalau sampai harus berurusan dengan hukum dan pengadilan. Karir mereka bisa jadi sangat terancam," kata Anjani menjelaskan dasar idenya kemarin.
"Tapi misalkan ide pertama itu nggak berhasil dan mereka berdua tetap nekat membawa masalah ini ke jalur hukum, Mama juga sudah mempersiapkan rencana cadangan, Pa. Mama udah menghubungi teman Mama yang berprofesi sebagai pengacara. Mama juga udah melobi teman Mama yang bekerja di kantor KPAI ( Komisi Perlindungan Anak Indonesia ) juga sebagai rencana cadangan untuk dukungan tambahan kita nanti, seandainya masalah ini benar-benar sampai ke pengadilan," lanjut Anjani.
"Kak Jani memang hebat. Aku salut banget sama cara berpikir Kak Jani yang penuh dengan pertimbangan yang matang itu," puji Shofi juga.
"Udah deh. Kok kamu malah jadi ikut-ikutan Bang Langit sih, Shof. Kepala kakak udah jadi gede banget ini," kelakar Anjani.
Langit, Anjani, Awan, dan Shofi pun kemudian tertawa bersama-sama. Sementara Keinan hanya tersenyum kecil, masih belum bisa memahami sepenuhnya pembicaraan orang dewasa di depannya itu.
__ADS_1