
Hari Minggu ini Awan meminta ijin kepada Shofi untuk mengajak Keinan dan Hamzah untuk datang ke rumahnya. Sengaja memang Awan juga mengajak Hamzah, agar tidak menimbulkan kecurigaan sang mama. Itupun juga atas usulan sang papa, untuk mengambil hati mamanya lebih dulu melalui Keinan.
"Assalamu'alaikum," salam Awan, Hamzah dan Keinan begitu tiba di rumah Awan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Wulan, mama Awan, yang saat ini sedang menyirami bunga dan tanaman hiasnya. "Eh, ada tamu rupanya."
Wulan mematikan kran airnya kemudian menghampiri Awan, Hamzah, dan Keinan.
"Iya, Ma. Ini Hamzah, temen Awan yang dulu suka ngasih gado-gado pas Awan masih kuliah itu. Mama masih ingat kan?"
"Oohhh, Hamzah yang itu, iya-iya Mama masih ingat," jawab Wulan tersenyum lebar.
"Assalamu'alaikum, Tante," salam Hamzah yang kemudian mencium punggung tangan kanan Wulan.
"Wa'alaikumsalam, nak Hamzah," balas Wulan.
"Nah kalo yang kecil ini namanya Keinan, Ma. Dia keponakannya Hamzah," kata Awan lagi, memperkenalkan Keinan.
Keinan kemudian maju dan mencium punggung tangan kanan Wulan.
"Assalamu'alaikum, Oma. Maaf, tapi boleh kan Keinan panggil Oma aja?" salam Keinan sekaligus bertanya.
"Wa'alaikumsalam, sayang. Tentu saja boleh dong, sayang," jawab Wulan seraya mengusap kepala Keinan.
"Terima kasih, Oma. Perkenalkan nama aku Keinan," seru Keinan tersenyum senang.
"Iya Keinan sayang, sama-sama. Duh, kamu gemesin banget sih, sayang," kata Wulan yang gemas melihat tingkah Keinan. "Keinan udah sekolah belum?"
"Sudah, Oma. Tapi masih TK kecil."
"Duh, TK kecil aja udah pinter gini, gimana kalau makin besar nanti."
"Do'ain Keinan ya, Oma, biar bisa jadi anak yang cerdas dan shalih," pinta Keinan.
"Aamiin Yaa robbal 'aalamiin. Pasti Oma do'ain kok. Yaa Allah, Keinan, kamu lucu banget sih sayang, pinter lagi, Oma jadi gemes banget ini," kata Wulan yang kemudian menciumi pipi kanan dan kiri Keinan.
Awan dan Hamzah tersenyum melihat interaksi antara Keinan dengan Wulan yang langsung bisa akrab tersebut.
'Alhamdulillaah. Papa memang terbaik. Paling paham gimana meng-handle Mama. Semoga semuanya berjalan sesuai dengan rencana nantinya. Aamiin Yaa Allah,' do'a Awan dalam hati.
Dan begitulah. Seharian itu Keinan banyak menghabiskan waktu bersama dengan Wulan dan juga Awan. Bercerita tentang banyak hal, bercanda, dan bermain bersama. Wulan juga terlihat sangat menyukai Keinan.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Malam harinya.
Saat ini Surya, Wulan, dan Awan sedang makan malam bersama.
"Wan, besok-besok ajak Keinan main kesini lagi, ya. Mama suka banget sama Keinan. Anaknya pinter, lucu, nggemesin banget. Ya, lumayan lah, itung-itung buat ngobatin kangennya Mama sama Bintang sama Inara juga," kata Wulan panjang lebar.
"Iya, Ma. Insya Allah," balas Awan.
Surya terlihat mengerutkan keningnya.
"Keinan siapa, Ma?" tanya Surya bingung.
"Itu loh, Pa. Keponakannya Hamzah. Hamzah temennya Awan yang dulu sering ngasih gado-gado itu loh."
"Oohhh, Hamzah yang itu."
"Iya, Pa. Tadi dia main kesini sama keponakannya, namanya Keinan. Anaknya pinter banget deh, Pa. Lucu, nggemesin banget. Udah gitu sopan banget lagi."
"Iyakah? Wah, Papa jadi penasaran nih."
"Besok-besok deh, Pa. Kalau pas Keinan main kesini lagi, Awan kabarin Papa," kata Awan.
"Boleh. Oke, Papa tunggu. Papa jadi penasaran ini, kayak gimana sih anaknya kok sampai Mama kamu excited banget gini," balas Surya.
"Hmm, iya deh, Ma, iya. Udah ah, Mama jangan buat Papa jadi makin penasaran deh," gerutu Surya.
Wulan tertawa mendengar perkataan suaminya itu. Diam-diam, tanpa sepengetahuan Wulan, Surya dan Awan saling melemparkan senyum mereka.
☘️☘️☘️
Beberapa hari kemudian.
"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Awan seraya menggandeng tangan Keinan memasuki rumahnya.
Wulan yang sedang menonton televisi pun kemudian menolehkan kepalanya.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Keinan?"
Wulan segera bangun dari duduknya kemudian menghampiri Awan dan Keinan.
"Assalamu'alaikum, Oma," sapa Keinan seraya mencium punggung tangan kanan Wulan.
"Wa'alaikumsalam, Keinan sayang," jawab Wulan, mengusap lembut kepala Keinan. "Loh, Wan, Hamzah-nya mana? Kok nggak sama Keinan?"
__ADS_1
"Tadi Hamzah chat Awan, Ma. Dia minta tolong untuk jemput Keinan dulu, soalnya dia tiba-tiba ada tugas praktikum sampai sore. Kebetulan kan Keinan sekolahnya di TK depan kafe Awan itu, makanya Hamzah minta tolong sama Awan," jawab Awan menjelaskan.
"Oh gitu. Ya udah nggak pa-pa. Keinan laper enggak? Yuk kita makan siang sama-sama," ajak Wulan.
"Tapi Keinan nggak mau ngerepotin, Oma," lirih Keinan.
"Keinan nggak ngerepotin Oma kok. Kan mumpung udah waktunya buat makan siang. Kebetulan juga Keinan ada di rumah Oma. Jadi, Keinan mau kan makan siang bareng Oma?"
Sedikit ragu-ragu, tetapi akhirnya Keinan pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, Oma. Keinan mau."
"Nah, gitu dong. Yuk, sayang!"
Wulan kemudian menggandeng tangan Keinan dan mengajaknya untuk menuju ke meja makan. Wulan, Awan, dan Keinan pun kemudian makan siang bersama.
Selesai makan siang bersama, Wulan kemudian mengajak Keinan untuk duduk di ruang keluarga. Mengobrol sekalian juga untuk beristirahat sejenak. Sementara Awan naik ke kamarnya untuk melaksanakan ibadah sholat Dzuhur.
"Keinan berangkat sama pulang sekolah selalu sama Om Hamzah, ya? Orang tuanya Keinan kerja kah?" tanya Wulan yang duduk di sebelah Keinan.
"Keinan berangkat sekolah dianterin sama Bunda, Oma. Sekalian Bunda berangkat kerja. Pulangnya baru Keinan dijemput sama Om Hamzah," jawab Keinan.
"Oh gitu. Terus ayahnya Keinan?" tanya Wulan lagi.
Raut wajah Keinan berubah menjadi murung. Dan Wulan dapat melihat hal itu. Wulan mengerutkan keningnya, penasaran. Tetapi Wulan juga memilih untuk menunggu jawaban dari Keinan saja.
"Keinan nggak punya ayah, Oma. Ayahnya Keinan udah pergi," jawab Keinan lirih dengan wajah sendu.
Wulan terkejut mendengar jawaban dari Keinan itu.
"Ayahnya Keinan udah meninggal?" tanya Wulan hati-hati.
Keinan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Belum, Oma. Tapi ayahnya Keinan udah pergi ninggalin Keinan sama Bunda. Keinan juga nggak tau, soalnya waktu itu Keinan masih bayi. Dan sampai sekarang Keinan juga belum pernah ketemu sama ayahnya Keinan," jawab Keinan pelan.
"Astaghfirullah," lirih Wulan.
"Keinan nggak punya ayah, Oma. Itu kenapa Keinan sering diejekin sama temen-temen Keinan. Tapi kan itu semua bukan maunya Keinan. Kalau boleh milih, Keinan juga mau punya ayah. Keinan juga pengen disayang sama ayah kayak temen-temen Keinan yang lain," lanjut Keinan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Hati Wulan rasanya mencelos mendengar semua perkataan bocah kecil di sampingnya itu. Wulan seakan bisa merasakan semua kesedihan yang sedang dirasakan oleh Keinan saat ini. Wulan kemudian menarik tubuh kecil Keinan dan memeluknya penuh sayang.
'Yaa Allah, anak sekecil ini tetapi sudah harus mengalami semua penderitaan ini.' keluh batin Wulan.
__ADS_1