Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
9. Om Ganteng ( 2 )


__ADS_3

Selesai acara makan siang mereka, Hamzah yang tadi sempat menyinggung masalah Keinan membuat Awan teringat akan sesuatu hal.


"Oh iya, Ham, kakak boleh tanya sesuatu nggak?"


"Tanya apa, Kak?"


"Masalah Keinan. Maaf banget nih sebelumnya, bukannya bermaksud kepo atau apa, tapi kakak cuma penasaran aja. Hari itu, pas pertama kali ketemu sama Keinan, kakak nggak sengaja denger ucapannya Keinan. Dia minta sama Allah Subhanahu wata'ala buat dikasih ayah baru gitu. Memangnya, kalau boleh kakak tau, ayahnya Keinan kemana? Sudah meninggal kah?" tanya Awan, menyuarakan rasa penasarannya selama ini.


Hamzah yang awalnya sempat terkejut pun akhirnya hanya bisa terdiam. Saat ini dirinya sedang berpikir, menimbang antara harus bercerita atau tidak tentang masalah ini.


"Kalau memang nggak bisa cerita jangan dipaksain, Ham. Kakak paham kok kalau masalah ini adalah masalah pribadi yang tidak bisa diceritakan sama semua orang," kata Awan, mencoba memahami kegundahan Hamzah.


Hamzah tersenyum kecut.


"Sebenarnya bukannya nggak bisa cerita, Kak. Hanya saja, ini adalah luka hati terbesar kakakku dan juga Keinan," jawab Hamzah pada akhirnya.


"Luka hati terbesar?" tanya Awan semakin bingung dan penasaran.


"Ayahnya Keinan pergi. Dia menceraikan kakakku, bahkan ketika Keinan masih berumur satu bulan."


"Astaghfirullah hal adziim," lirih Awan terkejut tetapi juga iba di waktu yang bersamaan.


"Dari dulu, Kak Shofi nggak pernah tertarik dengan yang namanya hubungan asmara. Apalagi setelah ayah meninggal, Kak Shofi yang kemudian bertindak sebagai tulang punggung keluarga. Sampai akhirnya laki-laki itu berhasil meluluhkan hati Kak Shofi. Satu tahun kemudian mereka memutuskan untuk menikah. Dan akhirnya mereka dikaruniai seorang putra, yaitu Keinan."


Awan diam dan mendengarkan cerita dari Hamzah dengan serius. Apalagi melihat raut wajah Hamzah yang begitu sendu.


"Sayangnya, kehidupan bahagia rumah tangga mereka harus berakhir begitu saja. Tiba-tiba saja laki-laki itu bilang ke Kak Shofi kalau wanita yang dia cintai selama ini sudah kembali. Dan laki-laki itu memutuskan untuk menceraikan Kak Shofi begitu saja."


Tangan Awan seketika terkepal erat, ikut merasakan emosi yang sedang dirasakan oleh Hamzah saat ini. Bayangan tentang bagaimana hancurnya hati kakaknya Hamzah waktu itu seolah-olah bisa dirasakan oleh Awan saat ini. Rasanya hati Awan begitu sakit.


"Laki-laki bodoh dan pengecut seperti apa yang bisa meninggalkan istri dan bayinya sendiri hanya demi wanita lain?" tanya Awan emosi.


Hamzah justru tertawa hambar.


"Hah, entahlah, Kak. Tapi setidaknya aku dan ibu bersyukur karena akhirnya Kak Shofi bisa terlepas dari laki-laki pembohong seperti itu. Sejak awal, jujur aku dan ibu memang tidak bisa mempercayai laki-laki itu. Wajahnya seakan menyimpan banyak kebohongan yang dia sembunyikan dari orang lain."


"Jadi itu kenapa Keinan sampai berdo'a meminta seorang ayah baru?"


"Iya, Kak. Wajarlah untuk seorang anak seusia Keinan. Melihat teman-temannya yang lain memiliki seorang ayah dan mendapatkan limpahan kasih sayang dari ayahnya, sangat wajar jika Keinan juga mengharapkan hal tersebut."

__ADS_1


"Kakak kamu nggak berniat untuk menikah lagi kah? Dan memberikan seorang ayah baru untuk Keinan?"


Hamzah menggelengkan kepalanya lemah.


"Belum. Sepertinya luka itu masih sangat membekas di hati Kak Shofi, Kak."


Awan terdiam. Ya, tentu dia sangat bisa memahami hal tersebut.


☘️☘️☘️


"Assalamu'alaikum," salam Hamzah begitu turun dari motornya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Shofi dan Keinan yang sedang bermain di teras rumah.


"Yeay, Om Hamzah pulang," pekik girang Keinan.


Keinan kemudian berlari menghampiri Hamzah yang sedang duduk di lantai sembari melepas sepatunya.


"Om Hamzah tadi kemana? Kok sampai sore baru pulang?" tanya Keinan penasaran.


"Tadi habis kuliah Om mampir ke kafenya Om Awan dulu," jawab Hamzah.


"Iya."


"Yah, kok nggak ngajak Keinan sih, Om? Keinan kan juga pengen ketemu sama Om Ganteng lagi," gerutu Keinan dengan bibir yang mengerucut.


Hamzah tertawa kecil kemudian mengusap kepala Keinan pelan, gemas melihat tingkah lucu keponakannya itu. Tapi kemudian Hamzah jadi teringat dengan perkataan Awan sebelum dia pulang tadi,


'Besok-besok kalau kamu dan Ayesha sibuk dan nggak bisa jemput Keinan, biar Keinan ke kafe kakak aja dulu, Ham. Kakak suka dengan anak kecil, apalagi seperti Keinan itu. Pasti seru bisa ngobrol dan menghabiskan waktu bareng dia.'


Hamzah kemudian iseng bertanya kepada Keinan.


"Emangnya Keinan mau ketemu sama Om Awan lagi?"


"Mau-mau, Om," jawab Keinan antusias seraya menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Kenapa?"


"Om Ganteng baik. Keinan suka."

__ADS_1


"Iyakah?"


"He-em," jawab Keinan dengan menganggukkan kepalanya lagi.


"Oh iya, tadi Om Awan bilang sama Om, kalau besok-besok pas Om Hamzah telat jemput Keinan, Keinan boleh nunggu di kafenya Om Awan. Keinan mau?" tanya Hamzah lagi


"Mau Om, mau. Keinan mau nunggu Om Hamzah di kafenya Om Ganteng," jawab Keinan bersemangat.


"Iya deh. Nanti Om Hamzah bilangin ke Om Awan-nya, ya."


"Iya, Om."


Shofi mengernyit mendengarkan pembicaraan Keinan dengan Hamzah. Apalagi melihat raut wajah Keinan yang begitu ceria dan bersemangat. Shofi jadi penasaran dengan sosok Om Ganteng yang sedang mereka berdua bicarakan itu.


"Keinan, beresin mainannya dulu, nak," panggil Shofi kemudian.


"Iya, Bunda. Kei beresin mainannya Kei dulu ya, Om," pamit Keinan kepada Hamzah.


"Iya. Sana beresin dulu."


Keinan mengangguk kemudian berlari menghampiri mainannya dan langsung mulai membereskan mainan-mainan tersebut.


"Om Ganteng siapa, Dek?" tanya Shofi begitu Keinan pergi.


"Oh, namanya Awan, Kak. Dia kakak tingkat Hamzah dulu di kampus. Kebetulan dia punya kafe di depan sekolahnya Keinan. Dan kemarin itu, pas aku sedikit telat jemput Keinan, Kak Awan yang nemenin Keinan buat nungguin aku. Meskipun waktu itu Kak Awan belum tau kalau Keinan itu keponakan aku," jawab Hamzah.


"Jangan terlalu didekatkan, Dek. Kakak nggak mau kalau sampai Keinan terlalu berharap dan akhirnya harus kecewa. Kamu paham kan maksud kakak apa?" tanya Shofi sekaligus memperingatkan Hamzah.


Hamzah nampak tersentak sejenak.


"Iya, Kak. Hamzah paham maksud kakak. Tapi Kak Awan orang yang baik kok, Kak. Hamzah bisa jamin itu. Jadi tolong biarkan Keinan sedikit lebih dekat dengan dia ya, Kak," jawab Hamzah yang diakhiri dengan permintaan.


Shofi menghela nafas pelan.


"Ya udah, terserah kamu aja. Tapi tolong ingat batasannya. Kakak yakin kamu tau mana yang baik dan enggak," kata Shofi pada akhirnya.


"Iya, Kak. Pasti itu," balas Hamzah yakin seraya tersenyum.


Shofi ikut tersenyum kecil. Dalam hatinya Shofi sedikit terkejut juga. Jarang-jarang dia melihat Keinan sampai se-antusias ini terhadap seseorang. Shofi hanya berharap semoga putranya itu tidak kecewa di kemudian hari karena salah menilai, seperti yang pernah Shofi alami dulu.

__ADS_1


__ADS_2