Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
51. Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Saat ini Awan, Keinan, Surya, dan Wulan sedang berkumpul di ruang keluarga. Awan menemani Keinan bermain di karpet bawah di depan televisi. Sementara Surya dan Wulan duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Bunda jangan ngangkat yang berat-berat gitu. Kasihan dedek bayinya," seru Keinan ketika melihat Shofi yang datang dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.


"Apa sih, Kei. Cuma minuman ini, nggak berat kok," kata Shofi seraya meletakkan nampan yang dia bawa ke atas meja.


"Tapi kan kata Tante Dokter kemarin Bunda nggak boleh capek-capek. Nggak boleh ngangkat yang berat-berat juga," ngotot Keinan.


"Iya. Tapi kan ini nggak berat, Kei. Cuma minuman aja kok," kekeuh Shofi juga yang sudah mendudukkan dirinya di sofa di sebelah Surya dan Wulan.


"Awas aja ya kalau sampai Kei lihat Bunda ngangkat yang berat-berat. Nanti Kei aduin sama Tante Dokter," ancam Keinan dengan jari telunjuk kanannya yang mengacung.


Shofi justru tertawa kecil melihat Keinan dengan wajah yang serius dan kedua mata yang melotot seperti itu. Bukannya terlihat garang, Keinan justru terlihat sangat lucu. Sehingga membuat Surya, Wulan, dan Awan juga ikut tersenyum melihat tingkah Keinan tersebut.


"Siap, Bos kecil. Bunda nggak akan ngangkat yang berat-berat kok," balas Shofi kemudian.


Shofi kemudian menoleh ke arah Surya dan Wulan.


"Diminum dulu, Pa, Ma," kata Shofi mempersilahkan kepada kedua mertuanya tersebut.


"Iya, Shofi. Makasih," balas Surya dan Wulan.


"Minuman Mas Awan sama Keinan biar disini aja atau mau aku bawain kesitu, Mas?" tanya Shofi kepada Awan.


"Biar disitu aja, sayang. Nanti kalau dibawa kesini malah tumpah lagi," jawab Awan.


"Oh, oke deh," balas Shofi.


Surya dan Wulan kemudian meminum teh yang sudah dibuatkan oleh Shofi tersebut.


"Kei sayang banget ya sama dedek bayi yang ada di perut Bunda?" tanya Surya seraya meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja.


"Sayang dong, Opa. Kei kan udah lama banget pengen punya adik. Dan sekarang keinginan Kei bisa terwujud. Ya Kei seneng banget lah. Kei pokoknya bakalan selalu jagain dedek bayi yang ada di perut Bunda. Biar nanti dedek bayi bisa lahir dengan sehat," jawab Keinan dengan wajah yang berbinar.


Surya, Wulan, Awan, dan Shofi tersenyum bangga mendengar semua perkataan Keinan tersebut.

__ADS_1


"Masya Allah, pinternya cucu Oma ini," puji Wulan.


"Iya dong, Oma. Anaknya Papa Awan," ucap Keinan dengan membusungkan dadanya.


Dan hal itu sukses membuat Surya, Wulan, Awan, dan Shofi kembali tertawa karena melihat tingkah Keinan tersebut.


Awan mengusap lembut kepala Keinan. Awan merasa sangat bersyukur melihat kebahagiaan dan kehangatan keluarganya saat ini setelah kehadiran Shofi dan Keinan. Dan kebahagiaan mereka juga semakin lengkap dengan kehadiran calon buah hatinya dengan Shofi yang sedang dikandung oleh Shofi saat ini.


☘️☘️☘️


Shofi dari tadi terus bergerak gelisah dalam tidurnya. Membuka kedua matanya perlahan, Shofi pun kemudian bangun dari tidurnya dan mendudukkan dirinya. Melihat jam yang tergantung di dinding, ternyata sudah jam setengah dua dini hari.


"Anaknya Bunda lapar, ya?" tanya Shofi pelan seraya mengusap lembut perutnya.


Ya, sedari tadi Shofi gelisah dalam tidurnya karena tiba-tiba saja Shofi merasa sangat ingin untuk makan nasi goreng.


"Ya udah. Yuk kita turun buat bikin nasi gorengnya," ucap Shofi pelan, tidak ingin mengganggu tidur Awan dan Keinan.


"Mau kemana, sayang?" tanya Awan yang ternyata juga sudah terjaga dari tidurnya.


"Eh, Mas Awan kebangun ya? Duh, maaf ya, Mas," sesal Shofi merasa tidak enak hati.


"Kenapa kamu harus minta maaf sih, sayang. Nggak pa-pa kok. Kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Awan sekali lagi yang sudah mulai terkumpul kesadarannya.


"Hehe, mau turun ke bawah, Mas. Tiba-tiba kerasa laper, pengen makan nasi goreng,"jawab Shofi dengan tersenyum.


"Oh, anaknya Papa lapar, ya? Ya udah yuk, kita turun ke bawah. Papa masakin nasi goreng spesial khusus buat Bunda sama calon anaknya Papa," kata Awan bersemangat.


"Eh, nggak usah, Mas. Mas Awan istirahat aja. Aku bisa kok masak nasi goreng sendiri," tolak Shofi tidak ingin merepotkan.


Tanpa mengindahkan perkataan Shofi, Awan kemudian langsung turun dari tempat tidur. Awan berjalan menghampiri Shofi kemudian membantu istrinya itu untuk berdiri.


"Sayang, usia kehamilan kamu udah jalan tiga bulan loh. Dan selama ini kamu nggak pernah minta yang macam-macam sama Mas. Jadi kali ini, biarkan Mas menuruti keinginan calon buah hati kita ini. Oke?" kata Awan dengan mengusap lembut pipi Shofi menggunakan tangan kanannya.


Shofi tersenyum lembut. Tangan kiri Shofi terangkat kemudian melapisi tangan kanan Awan yang sedang mengusap pipinya lembut.

__ADS_1


"Ya udah, ayo deh kalau gitu," ucap Shofi pada akhirnya.


Awan tersenyum senang.


"Ayo!" ajak Awan yang kemudian merangkul pinggang Shofi.


Shofi ikut tersenyum seraya balas melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu juga. Keduanya kemudian melangkah keluar dari kamar dengan berangkulan.


"Mas jamin kamu pasti bakalan suka dengan nasi goreng spesial buatan Mas nanti," kata Awan penuh percaya diri.


"Oh ya? Hmm, jadi nggak sabar nih pengen ngerasain seenak apa nasi goreng spesial buatan Mas," balas Shofi juga.


"Dijamin enak deh, sayang. Kan buatnya dengan penuh rasa cinta," kata Awan memulai gombalannya lagi.


Shofi tertawa mendengar gombalan dari suaminya itu.


"Iya deh, iya. Aku percaya kok sama Mas. Duh,,, kan jadi udah ngiler akunya. Nggak sabar nih pengen makan nasi goreng spesial buatan Mas Awan," kata Shofi dengan menelan ludahnya sendiri.


"Hahahaha. Sabar sebentar ya, sayang. Nggak akan lama kok Mas masaknya."


Shofi menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban. Tidak lama kemudian, sepasang suami istri itupun tiba di dapur.


"Kamu duduk aja, sayang. Biar Mas masakin dulu nasi gorengnya buat kamu," kata Awan.


"Nggak mau. Pengen lihat cara Mas Awan masak nasi gorengnya," rengek Shofi.


Awan tersenyum. Semenjak Shofi hamil, dirinya jadi bisa melihat beberapa sifat Shofi yang selama ini belum pernah Awan lihat sebelumnya. Salah satunya ya sifat manja istri cantiknya itu, seperti saat ini.


Cup. Awan mencium kening Shofi penuh sayang. Diusapnya kepala istrinya itu. Melihat wajah Shofi yang merengek manja seperti anak kecil seperti ini membuat Awan begitu gemas.


"Ya udah kalau gitu. Kamu boleh lihat dan nungguin Mas masak nasi goreng spesial buat kamu," kata Awan.


"Yeay," pekik girang Shofi.


Awan kemudian mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi gorengnya. Senyum sedari tadi tidak pernah hilang dari wajah cantik Shofi. Shofi memperhatikan dengan seksama kelincahan suaminya itu saat sedang memasak.

__ADS_1


Shofi merasa sangat bersyukur karena memiliki suami yang serba bisa seperti Awan. Awan juga selalu mampu menghadirkan keceriaan dan kehangatan untuk orang-orang di sekitarnya, terlebih lagi untuk keluarganya.


__ADS_2