
Setelah kepergian Bayu dan Alya, Awan kemudian mengajak Shofi dan Keinan untuk pulang ke rumah Aminah. Malam ini mereka akan menginap dulu disana.
Awan memahami, Shofi pasti tidak ingin kalau sampai Surya dan Wulan mengetahui tentang masalah ini. Shofi pasti tidak ingin membuat kedua orang tuanya itu merasa khawatir juga. Itu kenapa Awan memutuskan bahwa untuk beberapa hari ini mereka bertiga akan menginap dulu di rumah Aminah. Biar Shofi juga bisa menenangkan diri terlebih dahulu.
Awan sudah menghubungi Surya dan Wulan. Meminta ijin untuk mereka bertiga menginap di rumah Aminah selama beberapa hari. Dan beruntungnya kedua orang tuanya itu pun mengijinkan dan tidak merasa keberatan.
Selama dalam perjalanan, baik Awan, Shofi, maupun Keinan hanya terdiam.
"Assalamu'alaikum," salam ketiganya begitu tiba di rumah Aminah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Aminah yang sedang menyapu teras rumah. "Wah, kesayangan nenek datang nih," ucap Aminah senang.
"Nenek," sapa Keinan pelan kemudian salim dan mencium punggung tangan kanan Aminah.
"Keinan sayang," balas Aminah dengan tersenyum.
Aminah mengerutkan keningnya melihat Keinan yang tidak seceria biasanya. Dilihatnya wajah Awan yang juga hanya tersenyum seadanya. Dan Shofi, bahkan tidak ada senyuman sama sekali di wajah putri sulungnya itu.
Awan dan Shofi kemudian juga menyalami Aminah bergantian.
"Tumben kakak jam segini udah pulang?" tanya Aminah.
"Tadi ada urusan, Bu. Kakak langsung masuk dulu ya, Bu. Agak capek soalnya," jawab Shofi sekaligus meminta ijin.
Aminah semakin merasa heran. Sikap Shofi benar-benar tidak seperti biasanya. Aminah menoleh ke arah Awan. Dilihatnya menantunya itu menganggukkan kepalanya pelan. Aminah mengerti maksud dari Awan.
"Ya udah, Kak. Kakak istirahat aja di kamar. Kalian nginep disini kan nanti?"
"Iya, Bu. Nanti kita nginep disini kok," jawab Shofi lagi. "Ayo Kei, ganti baju dulu," kata Shofi kemudian kepada Keinan.
"Kamu langsung istirahat aja dulu, sayang. Biar Mas yang ngurusin Keinan," kata Awan kepada Shofi.
"Ya udah kalau gitu. Makasih ya, Mas," ucap Shofi.
"Iya, sayang. Sama-sama," balas Awan.
__ADS_1
"Kakak masuk dulu ya, Bu," pamit Shofi.
"Iya, Kak," balas Aminah. "Ibu siapin makan siang untuk kalian, ya. Kalian belum makan, kan?"
"Belum, Bu. Makasih ya Bu sebelumnya. Kita masuk dulu," pamit Awan juga.
"Iya, Wan."
Shofi kemudian masuk ke dalam rumah. Awan dan Keinan mengikuti di belakangnya.
Beberapa saat kemudian, Awan dan Keinan keluar dari kamar dan bergabung dengan Aminah di meja makan.
"Shofi mana, Wan?" tanya Aminah.
"Shofi di dalam kamar, Bu. Dia nggak makan, nggak lapar katanya," jawab Awan.
Awan dan Keinan duduk di kursi meja makan di depan Aminah. Awan kemudian mengambilkan nasi dan lauknya untuk makan siang Keinan.
"Biar Keinan makan dulu ya, Bu. Nanti Awan ceritain semuanya ke ibu," ucap Awan yang bisa membaca kekhawatiran serta rasa penasaran ibu mertuanya itu.
"Papa ngobrol aja sama nenek. Kei bisa makan sendiri kok, Pa," kata Keinan menyahuti.
"Anak Papa emang pinter," puji Awan.
Awan menyerahkan piring makan Keinan.
"Makasih, Pa," ucap Keinan seraya menerima piring berisi makan siangnya dari Awan.
"Sama-sama, sayang. Jangan lupa berdo'a, ya," kata Awan.
"Siap, Papa," sahut Keinan.
Keinan kemudian membaca do'a sebelum makan. Setelah itu Keinan pun mulai memakan makan siangnya dengan tenang.
"Sebenarnya ada apa, Wan? Apa yang sudah terjadi?" tanya Aminah penasaran.
__ADS_1
"Bayu dan istrinya tadi datang ke sekolah Keinan, Bu," jawab Awan hati-hati.
"Apa? Mau apa lagi mereka?" tanya Aminah terkejut.
Awan kemudian menceritakan semua yang sudah terjadi tadi kepada Aminah. Dan Aminah menjadi semakin terkejut lagi begitu mendengar semua cerita dari Awan tersebut.
☘️☘️☘️
"Sayang," panggil Awan seraya menghampiri Shofi yang baru saja selesai menidurkan Keinan.
"Iya, Mas."
Awan kemudian duduk di tepi tempat tidur, di sebelah Shofi. Digenggamnya kedua tangan Shofi dengan lembut.
"Masih kepikiran masalah yang tadi, ya?" tanya Awan kepada istrinya itu.
Shofi tidak menjawab. Tetapi Awan bisa melihat raut wajah istrinya itu yang kembali murung. Bahkan kedua mata indah Shofi sudah mulai berkaca-kaca.
Awan kemudian menarik Shofi ke dalam pelukannya. Awan mencium puncak kepala Shofi. Diusapnya lembut punggung wanita yang sangat dia cintai itu.
"Bagaimana kalau mereka benar-benar membawa masalah ini ke jalur hukum, Mas? Aku nggak mau berurusan dengan pengadilan lagi. Rasa sakit waktu itu seakan bisa aku rasakan lagi, Mas. Aku nggak mau kembali menjalani proses panjang yang melelahkan itu lagi," keluh Shofi di dalam pelukan hangat suaminya itu.
"Jangan khawatir, sayang. Mas akan berusaha untuk mencari jalan keluar yang lain," kata Awan.
"Aku nggak mau kehilangan Keinan, Mas. Aku nggak akan pernah menyerahkan Keinan ke mereka," ucap Shofi lagi.
"Iya, sayang. Mas juga nggak akan pernah melepaskan Keinan. Keinan akan tetap bersama dengan kita. Mas janji sama kamu, mereka berdua nggak akan pernah bisa mengambil Keinan dari kita. Kamu percaya sama Mas kan, sayang?"
Shofi mengangguk pelan di dada Awan.
"Tapi rasanya hati aku masih belum bisa tenang, Mas."
"Sssttt. Mas paham banget perasaan kamu saat ini, sayang. Tapi Mas minta sama kamu, jangan dipikirkan terlalu berlebihan ya. Mas nggak mau kalau kamu sampai jadi sakit karena memikirkan masalah ini. Jangan khawatir, sayang. Kamu nggak sendirian. Kamu punya Mas sekarang. Dan Mas akan selalu ada di sisi kamu, menemani kamu. Mas akan membantu menyelesaikan semua permasalahan yang kamu hadapi semampu dan sebisa Mas, sekuat tenaga Mas. Jadi kamu jangan takut, sayang. Kita hadapi semuanya sama-sama. Ya sayang, ya," kata Awan panjang lebar mencoba menenangkan hati istrinya itu.
"Iya, Mas," lirih Shofi di dada Awan.
__ADS_1
Awan semakin mengeratkan pelukannya kepada Shofi. Kembali diciuminya puncak kepala istrinya itu.
Shofi sedikit merasa lega. Lagi dan lagi, Shofi merasa bersyukur karena sudah memiliki Awan saat ini. Kehadiran Awan membuat Shofi merasa lebih kuat. Berada dalam pelukan hangat Awan seperti saat ini juga membuat hati Shofi menjadi lebih tenang.