Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
30. Selangkah Lebih Dekat


__ADS_3

✉️: Assalamu'alaikum, Shofi. Lusa aku balik ke London. Jadi aku mau minta ijin, besok aku ingin bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan Keinan, sebelum aku balik ke London, mumpung akhir pekan juga.


Shofi bimbang setelah mendapat pesan dari Bayu tersebut. Lama sekali, Shofi belum membalas pesan dari Bayu itu. Dia masih menimbang untuk mengijinkan atau tidak Bayu menghabiskan waktu bersama dengan Keinan.


Sampai akhirnya, tiba-tiba saja ponsel Shofi berdering. Shofi melihat layar ponselnya. Telepon dari Awan rupanya. Shofi kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya tersebut.


📞: Assalamu'alaikum, Mas.


📞: Wa'alaikumsalam, Shofi. Belum tidur?


📞: Belum, Mas.


📞: Keinan?


📞: Kalau Keinan udah bobok, Mas. Sejak jam delapan tadi. Mas Awan tumben telepon jam segini? Udah hampir jam sepuluh malam loh ini.


📞: Hehe, nggak tau kenapa, dari tadi kepikiran kamu sama Keinan terus.


📞: Hmm. Udah dong, Mas. Nggak usah godain terus.


📞: Hahahaha, beneran loh ini. Orang nggak lagi godain kok. Mas ngomong yang sebenarnya ini. Tadi habis makan malam sama anak-anak di kafe. Biasa, kita kalau akhir bulan kan, setelah Mas bagi gaji mereka, terus kita makan malam dulu bareng-bareng setelah kafe tutup. Sekalian sharing-sharing gitu. Eh, setelah Mbak Maya, Adit, Dedi, Danu, sama chef Yudha pulang kok Mas justru malah kepikiran kamu sama Keinan terus. Makanya ini Mas telepon kamu.


📞: Oh, gitu ya. Kirain modus aja.


📞: Modus juga nggak pa-pa dong. Modusin calon istri sendiri ini. Jadi gimana, kamu lagi ada masalah ya, Shofi? Perasaan Mas kok kayak nggak tenang gitu soalnya.


📞: Feeling Mas kok kuat banget sih?


📞: Eh, jadi beneran lagi ada masalah, ya? Ada masalah apa, Shof? Coba cerita sama Mas. Siapa tau Mas bisa bantu.


📞: Hmh, emang tadi niatnya aku mau minta pendapat sama Mas Awan juga sih. Kebetulan juga Mas telepon ini. Gini Mas, ini Mas Bayu chat aku, dia minta ijin untuk ketemu dan menghabiskan waktu sama Keinan akhir pekan besok. Soalnya hari Minggu dia udah mau balik ke London katanya. Menurut Mas Awan gimana?


📞: Hmm, kalau menurut Mas sih ya udah nggak pa-pa, kamu ijinin aja. Biar gimanapun juga kan dia tetep ayah kandungnya Keinan juga. Jadi wajarlah kalau dia pengen menghabiskan waktu bersama dengan putranya sendiri. Kan nggak pernah ketemu juga selama ini.


📞: Tapi aku nggak tenang kalau biarin Keinan pergi berdua aja sama dia, Mas. Keinan-nya juga belum tentu mau. Kalau aku harus ikut, aku nggak nyaman ketemu sama dia cuma berdua sama Keinan, Mas.


📞: Mau Mas temenin?

__ADS_1


📞: Mmm, rencana aku juga gitu sih tadi. Mau minta tolong sama Mas Awan buat nemenin kita besok.


📞: Oke. Besok Mas temenin kalian. Besok jam sepuluh pagi Mas jemput ke rumah ya, biar nggak kesiangan juga.


📞: Iya, Mas. Makasih banyak ya, Mas.


📞: Sama-sama. Ya udah, udah malem. Kamu buruan tidur gih, istirahat.


📞: Iya, Mas. Mas Awan juga langsung istirahat, ya. Jangan begadang. Aku tutup ya, Mas. Assalamu'alaikum.


📞: Iya, Shofi. Wa'alaikumsalam.


Tut.


Sambungan telepon pun terputus. Shofi tersenyum. Semenjak ada Awan, dirinya jadi merasa lebih ringan dalam menghadapi suatu masalah. Karena ada Awan, yang selalu peka dan selalu bisa memberikan solusi untuk dirinya.


Shofi kemudian mengetik pesan balasan untuk Bayu.


✉️: Besok jam sepuluh pagi kita ketemu di taman kota. Tapi aku dan Keinan dianterin sama Mas Awan. Menghindari fitnah juga.


☘️☘️☘️


"Keinan, salim sama ayah Bayu dulu, nak," kata Awan kepada Keinan yang sedang digandengnya.


Keinan melihat kepada Awan. Awan tersenyum lembut seraya menganggukkan kepalanya pelan. Keinan kemudian melangkah perlahan menghampiri Bayu.


"Assalamu'alaikum, ayah," lirih Keinan seraya menyalami tangan kanan Bayu dan mencium punggung tangannya.


Senyum Bayu mengembang sempurna. Kedua mata Bayu bahkan terlihat berkaca-kaca.


"Wa'alaikumsalam, Keinan," balas Bayu yang kemudian merengkuh tubuh kecil Keinan dan memeluknya penuh sayang seraya menciumi kepala putra kandungnya itu.


Dan akhirnya seharian itu Keinan pun menghabiskan waktunya bersama dengan Bayu, ayah kandungnya. Tetapi juga ditemani oleh Awan dan Shofi. Mereka berempat makan siang bersama, membeli baju dan mainan di mall, dan juga bermain di arena bermain yang ada di mall tersebut.


Seringkali, Keinan yang masih merasa belum terbiasa dengan Bayu, justru lebih memilih untuk bermain bersama dengan Awan. Meski hati Bayu sedikit sakit, tetapi Bayu mencoba untuk memahami. Keinan memang belum terbiasa dengan kehadiran dirinya. Tetapi Bayu sudah cukup bersyukur karena Bayu bisa menghabiskan waktunya seharian ini bersama dengan Keinan, putra kandungnya. Sebelum dirinya harus kembali ke London besok.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Satu bulan sebelum pernikahan.


Hari Minggu ini Shofi dan Keinan datang berkunjung ke rumah Awan. Wulan bilang kalau ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Shofi. Saat ini Wulan, Awan, dan Shofi sedang duduk bersama di ruang keluarga. Sementara keinan diajak bermain oleh Surya.


"Langsung aja, Mama cuma mau bilang sama kamu kalau nanti tetep akan diadakan acara resepsi pernikahan disini walaupun nggak meriah-meriah banget. Biar bagaimanapun juga ini kan pernikahan pertamanya Awan. Jadi harus tetep ada pesta walaupun cuma kecil. Biar semua kerabat, tetangga, dan kenalan kita juga pada tau," kata Wulan dengan nada tegas.


"Iya, Ma," balas Shofi yang juga mulai membiasakan memanggil dengan sebutan 'Mama', sesuai keinginan Wulan minggu kemarin.


"Jadi nanti setelah kalian ijab kabul di masjid dekat rumah kamu itu, kita semua langsung lanjutin acara resepsi pernikahan disini. Biar sekalian aja acaranya," lanjut Wulan.


"Iya, Ma," balas Shofi lagi.


"Terus Mama juga mau bilang sekalian ini sama kamu, pokoknya nanti setelah kalian berdua menikah Mama maunya kalian semua tinggal disini. Jadi nanti kamu sama Keinan yang ikut tinggal disini. Kamu bersedia, kan?" tanya Wulan masih dengan suara tegasnya.


"Tentu, Ma. Shofi bersedia kok. Kemarin Shofi sama Mas Awan juga udah bicarain masalah ini. Dan kita juga emang udah sepakat untuk tinggal disini nanti setelah kita menikah," jawab Shofi tetap sopan.


"Bagus deh kalau gitu."


"Mama nggak usah khawatir. Awan, Shofi, sama Keinan nanti akan tinggal disini kok, nemenin Mama sama Papa. Ya palingan sesekali aja kita datang ke rumah ibu, syukur-syukur bisa nginep juga disana," kata Awan juga mencoba memberi pengertian kepada mamanya itu.


"Kalau itu sih Mama nggak masalah. Ya udah, Mama mau nyusulin Papa sama Keinan dulu," ucap Wulan yang kemudian bangun dari duduknya kemudian melangkah menuju ke halaman samping, dimana Surya dan Keinan sedang bermain saat ini.


"Iya, Ma," balas Awan dan Shofi bersamaan.


Setelah Wulan meninggalkan ruang keluarga tersebut, Awan menyentuh lembut tangan Shofi yang sedang berada di atas pangkuan Shofi.


"Tolong maafkan sikap Mama yang masih ketus ke kamu," pinta Awan dengan raut wajah penuh penyesalan.


Shofi menoleh ke arah Awan kemudian tersenyum lembut.


"Nggak pa-pa kok, Mas. Mama merestui niat kita, Mama juga sayang banget sama Keinan, itu udah lebih dari cukup buat aku, Mas."


"Terima kasih banyak untuk pengertian kamu, Shofi. Dan percayalah sama Mas, tidak butuh waktu lama bagi Mama untuk bisa menerima kamu sepenuh hati, setelah kita terbiasa tinggal bersama nanti. Mas tau bagaimana sifat Mama," ucap Awan kemudian.


"Iya, Mas."


Awan dan Shofi sama-sama tersenyum lembut. Hubungan mereka berdua sudah selangkah lebih dekat lagi untuk saat ini karena keduanya sudah mulai bisa untuk saling terbuka dengan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2