Aku Bisa Tanpamu

Aku Bisa Tanpamu
48. Penyesalan Bayu


__ADS_3

Saat ini Bayu dan Alya sudah sampai di kamar hotel yang disediakan oleh pihak manajemen fashion show yang diikuti oleh Alya dan rekan-rekan satu agensinya. Sebagai model utama dari pihak agensinya, tentu saja Alya mendapatkan fasilitas yang berbeda dengan para model lainnya. Itu kenapa Alya bisa membawa Bayu ikut serta.


Alya melempar tas yang tadi dipakainya ke sofa kemudian menjatuhkan tubuhnya dan duduk di sofa dengan raut wajah yang masih penuh dengan emosi. Bayu pun kemudian juga ikut mendudukkan dirinya di sebelah istrinya yang sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada tersebut.


"Jangan emosi gitu dong, sayang. Nanti kita cari jalan keluar yang lain ya untuk bisa mendapatkan hak asuh Keinan," bujuk Bayu seraya memegang lembut pundak istrinya itu.


"Udahlah, sayang. Aku udah capek ini. Mereka mainnya licik banget, sih. Pakai mengancam dengan kehancuran karir aku segala. Siapa yang nggak emosi coba?" kata Alya berapi-api.


"Kamu tau sendiri kan sayang, aku udah susah payah ya merintis karir aku ini dari nol. Bahkan aku juga sampai berkorban dengan merelakan kamu menjalin hubungan dengan Shofi selama aku fokus mengejar impian aku dulu. Dan kalau sampai aku harus kehilangan karir aku ini cuma demi dapetin Keinan, aku nggak akan pernah rela. Aku nggak mau," tegas Alya.


"Tapi sayang, kita kan udah sepakat sebelumnya. Siapa tau nanti Keinan bisa jadi pancingan buat kamu, terus akhirnya kamu bisa hamil anak kita juga, sayang," kata Bayu masih berusaha untuk membujuk Alya.


"Aku setuju karena waktu itu kamu bilang kalau kita bisa mendapatkan hak asuh Keinan dengan mudah. Kamu bilang kalau Shofi bisa kita takuti dengan ancaman akan membawa masalah ini ke meja hijau. Kamu bilang Shofi trauma dengan pengadilan jadi kita bisa dengan mudah menekan dia. Tapi nyatanya apa? Bukannya kita yang mengancam mereka tapi justru malah mereka yang mengancam kita," balas Alya.


"Semua memang diluar rencana kita, sayang. Nanti kita pikirin cara yang lain ya untuk bisa dapetin hak asuh Keinan," bujuk Bayu lagi.


"Cukup ya, sayang. Udah. Kita lupakan saja keinginan kamu untuk mengambil alih hak asuh Keinan itu. Aku udah nggak mau lagi. Apalagi kalau sampai harus mengorbankan karir aku. Aku nggak rela. Pokoknya aku nggak mau. Kita stop aja masalah ini sampai disini," balas Alya.


"Tapi sayang, Keinan ---"


"Udah, Bayu, cukup!" potong Alya cepat.


Bayu tersentak kaget mendengar nada suara Alya yang semakin meninggi itu. Bahkan Alya juga tidak memanggil Bayu dengan sebutan 'sayang' lagi melainkan langsung dengan nama Bayu saja. Bayu tau benar kalau itu berarti saat ini Alya sudah benar-benar marah.

__ADS_1


"Aku nggak mau bahas masalah ini lagi. Kalau kamu masih tetap nekat ingin mengambil alih hak asuh Keinan, terserah kamu. Tetapi itu berarti kamu ngelepasin aku. Hubungan kita berdua berakhir," tegas Alya.


"Alya! Jangan ngomong kayak gitu dong, sayang," kaget Bayu.


"Ya udah, kalau gitu kamu nurut dong sama aku," balas Alya.


Bayu terdiam. Dirinya sadar kalau saat ini tidak ada gunanya untuk berdebat dengan istrinya itu. Tidak ketika emosi Alya sedang memuncak seperti sekarang ini. Atau akibatnya akan benar-benar fatal.


Bayu tau kalau Alya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Kalau dia bilang berakhir, maka itu artinya dia benar-benar rela mengakhiri semuanya. Dan tentu saja Bayu tidak ingin hubungannya dengan Alya harus berakhir begitu saja. Bayu masih sangat mencintai Alya.


"Udah ah, aku capek. Aku mau mandi dulu. Nanti masih ada gladi bersih juga untuk acara puncak fashion show lusa. Masalah Keinan ini udah benar-benar menyita waktu aku beberapa hari ini. Mana hasilnya nihil lagi. Huh,,," dengus Alya kesal seraya berdiri dari duduknya.


Alya kemudian langsung melangkah menuju ke kamar mandi yang terdapat di dalam kamar hotel tersebut. Meninggalkan Bayu sendiri di sofa.


Bayu tau benar bagaimana sifat Alya. Alya tipe orang yang tidak mau repot dengan suatu masalah dan lebih suka mencari jalan aman. Alya juga bukan tipe orang yang mau mengalah dan berkorban demi mendapatkan sesuatu. Tetapi meskipun begitu Bayu juga tetap mencintai istrinya itu.


Tiba-tiba saja bayangan Shofi yang bersikap begitu lembut terhadap Awan melintas di pikiran Bayu. Tanpa sadar dan tanpa bisa dicegah, kenangan-kenangan semasa dirinya menjalani hubungan pernikahan dengan Shofi dulu juga kembali terngiang di pikiran Bayu.


Ah, Bayu baru menyadari kalau ternyata rumah tangga yang dulu dia jalani bersama dengan Shofi terasa sangat berbeda dengan rumah tangga yang sekarang ini Bayu jalani bersama dengan Alya.


Bersama dengan Shofi dulu, Bayu merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang suami yang begitu dihormati dan dihargai. Bayu juga merasakan begitu banyak limpahan kasih sayang dan kebahagiaan. Itu kenapa dulu Bayu sempat terlena.


Tetapi dengan Alya sekarang, justru Bayu yang lebih banyak mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada Alya. Bahkan seringkali Bayu juga yang harus mengalah demi mengikuti semua keinginan Alya.

__ADS_1


Belum lagi Alya yang begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang model. Waktu kebersamaan mereka berdua semakin berkurang banyak. Dan sayangnya seringkali kebersamaan mereka yang hanya terbatas itu tidak bisa mereka maksimalkan dan manfaatkan dengan baik untuk saling mencurahkan cinta dan kasih sayang di antara satu sama lain.


Lagi-lagi Bayu membuang nafasnya kasar. Entah darimana datangnya, tetapi tiba-tiba saja muncul secuil rasa penyesalan dalam hati Bayu. Kenapa dulu dirinya bisa melepaskan wanita sebaik Shofi begitu saja.


☘️☘️☘️


Di lain sisi.


Awan, Shofi, dan Keinan baru saja sampai di rumah Surya dan Wulan. Setelah turun dari mobil, mereka bertiga pun kemudian bergegas untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," salam Awan, Shofi, dan Keinan bersamaan.


"Wa'alaikumsalam. Huaaahhh, akhirnya cucu sayangnya Oma balik juga," seru Wulan begitu riangnya seraya bergegas menghampiri Awan, Shofi dan Keinan.


"Oma," seru Keinan juga tak kalah riangnya.


"Keinan sayang," kata Wulan yang langsung berjongkok kemudian memeluk Keinan dengan erat, mencurahkan rasa rindunya selama beberapa hari ini karena tidak dapat bertemu dengan Keinan.


Wulan menciumi puncak kepala Keinan beberapa kali. Wulan juga menciumi pipi kanan dan kiri Keinan dengan gemasnya.


Shofi tersenyum melihat bagaimana Wulan mencurahkan rasa rindunya kepada Keinan. Shofi merasa sangat bersyukur karena ibu mertuanya itu sangat menyayangi Keinan. Ibu mertuanya itu juga tidak pernah membedakan perlakuannya terhadap Keinan dengan Bintang dan Inara.


Awan merangkul lembut pinggang Shofi. Shofi menoleh ke arah suaminya itu. Keduanya kemudian saling melemparkan senyum lembut.

__ADS_1


__ADS_2