
"Aku bisa tanpamu. Aku dan Keinan bisa bertahan tanpa kehadiran kamu dalam kehidupan kami," tegas Shofi seraya menatap tajam ke arah Bayu.
Bayu kembali tersentak mendengar perkataan Shofi yang begitu penuh penekanan tersebut.
"Empat tahun, dan kenapa baru sekarang kamu datang menuntut pengakuan sebagai ayah kandung Keinan? Kenapa nggak dari dulu-dulu?"
Bayu terdiam dengan menundukkan wajahnya. Ya, dia akui kalau dia sudah sangat bersalah karena selama empat tahun ini dia sama sekali tidak pernah menemui Keinan. Dan baru hari ini dia datang untuk berjumpa dengan putra kandungnya itu.
"Empat tahun aku dan Keinan menjalani kehidupan kami tanpa kamu. Kamu pasti nggak tau kan bagaimana susahnya kami menjalani empat tahun kehidupan kami selama ini? Terpaksa pindah rumah karena desakan para warga yang merasa terganggu dengan statusku yang seorang janda. Bahkan di tempat tinggal yang baru pun, kami masih juga mengalami hal yang hampir sama."
Baik Bayu maupun Awan terdiam, mendengarkan Shofi yang sedang berbicara, mengeluarkan isi hatinya saat ini.
"Kamu nggak tau kan bagaimana aku sering dilabrak ibu-ibu yang marah karena merasa suami mereka sudah tergoda karena aku? Kamu nggak tau kan bagaimana Keinan sering diejek oleh teman-temannya karena dia tidak memiliki seorang ayah? Kamu nggak tau kan bagaimana sedihnya Keinan karena merasa iri kepada teman-temannya yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah? Dan kamu juga nggak pernah tau kan gimana terlukanya hati aku melihat kesedihan pada wajah Keinan?"
Kedua mata Shofi sudah mulai berkaca-kaca saat ini. Hatinya terasa begitu sesak mengingat bagaimana perjalanan hidupnya dengan Keinan selama empat tahun kemarin, setelah ditinggal oleh Bayu.
"Kamu nggak tau, dan nggak mau tau, bagaimana susahnya kehidupan yang aku dan Keinan sudah jalani selama empat tahun ini. Dan sekarang, tiba-tiba kamu datang, dan dengan entengnya kamu menuntut sebuah pengakuan sebagai ayah kandung dari Keinan. Hey, kamu masih waras kan? Dimana hati nurani kamu yang sudah meninggalkan aku dan Keinan begitu saja empat tahun lalu? Dan sekarang kamu tiba-tiba datang dengan menuntut sebuah pengakuan seperti ini. Maaf, kamu sudah sangat-sangat terlambat."
"Empat tahun aku dan Keinan bisa bertahan hidup tanpa kamu. Dan sekarang pun kami juga tidak membutuhkan kehadiran kamu dalam kehidupan kami," tekan Shofi sekali lagi.
"Lalu kenapa kamu mau menikah lagi dengan orang lain?" tanya Bayu.
Shofi seketika menoleh ke arah Bayu dengan tatapan yang semakin menajam. Begitu juga dengan Awan yang seketika menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya erat. Keduanya merasa marah dan tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bayu tadi.
Shofi langsung berdiri dari duduknya.
"Apa hak kamu menanyakan hal itu kepadaku? Aku mau menikah lagi ataupun tidak, itu sama sekali bukan urusan kamu. Kamu tidak punya hak apapun untuk ikut campur dalam kehidupanku," kata Shofi meradang.
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya ---"
"Cukup!" potong Shofi kepada Bayu yang hendak membela diri. "Maaf, tapi sepertinya sudah tidak ada yang perlu untuk kita bicarakan lagi. Permisi."
__ADS_1
Shofi kemudian langsung berbalik dan melangkah cepat meninggalkan Bayu.
"Shofi. Tunggu dulu, Shofi. Dengarkan dulu penjelasan ku," panggil Bayu yang sudah berdiri dari duduknya.
"Ah, sial!" umpat Bayu seraya meninju udara di depannya.
Bayu kembali mendudukkan dirinya di kursi taman kemudian meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
Awan merasa bersyukur karena Bayu sama sekali tidak berniat untuk mengejar Shofi. Awan kemudian meninggalkan tempat persembunyiannya di belakang pohon. Dan dengan langkah cepat Awan kemudian berusaha untuk menyusul Shofi.
'Ah, dia disini rupanya.'
Awan menghembuskan nafas lega begitu melihat Shofi yang sedang duduk menangis di kursi taman di dekat air mancur. Awan kemudian berjalan menghampiri Shofi.
"Assalamu'alaikum," sapa Awan lembut.
Shofi tersentak dan langsung mengangkat wajahnya yang sudah penuh dengan air mata itu.
"Wa'alaikumsalam. Mas Awan?" kaget Shofi begitu mengetahui kalau itu adalah Awan.
"Sebenarnya Mas pengen banget bisa memeluk kamu dan menenangkan kamu. Tapi karena sekarang belum boleh, ya udah deh Mas pinjemin aja punggung Mas buat kamu."
Shofi mengernyitkan keningnya, masih belum bisa mencerna perkataan dari Awan tersebut.
Awan kemudian memutar tubuhnya menjadi membelakangi Shofi.
"Nih, Mas pinjemin punggung Mas buat kamu. Kamu boleh menangis sepuas hati kamu di punggung Mas," kata Awan menjelaskan.
Sesaat Shofi mencoba mencerna perkataan Awan. Beberapa detik kemudian Shofi pun tersenyum kecil, dengan air mata yang kembali mengalir di kedua pipinya. Menuruti perkataan Awan tadi, Shofi pun kemudian menjatuhkan kepalanya, menempelkan keningnya di punggung Awan dan kembali menumpahkan tangisannya.
Shofi menangis sesenggukan di punggung Awan. Menumpahkan semua rasa sesak yang sedang dia rasakan saat ini. Awan mengepalkan kedua tangannya erat. Rasanya hati Awan sangat sakit melihat Shofi yang menangis sampai seperti itu.
__ADS_1
Sudah sekitar lima belas menit Shofi menangis sesenggukan di punggung Awan. Shofi bahkan sampai mencengkeram ringan baju Awan dari belakang. Seakan menyalurkan semua emosi yang sedang dia rasakan saat ini. Awan tetap diam. Membiarkan Shofi menangis sepuasnya dulu, agar hatinya bisa merasa lebih lega.
Tidak lama kemudian, tangisan Shofi pun mulai mereda. Tersisa isakan-isakan kecil saja yang masih bisa Awan dengar. Shofi kemudian mengangkat kepalanya dari punggung Awan. Awan pun perlahan memutar tubuhnya kembali dan menghadap ke arah Shofi.
"Sudah puas? Sudah merasa lega?" tanya Awan seraya mengangsurkan sapu tangannya kepada Shofi.
Shofi menerima sapu tangan Awan.
"Sudah, Mas. Makasih," jawab Shofi dengan menghapus air matanya menggunakan sapu tangan pemberian Awan tadi. "Maaf ya, Mas. Baju Mas Awan jadi basah," sesal Shofi kemudian.
"Nggak pa-pa kok. Cuma baju doang," balas Awan dengan tersenyum.
"Mas kok bisa tau aku disini?"
"Hehe, maaf, Mas tadi ngikutin kamu."
Shofi membulatkan kedua matanya karena terkejut mendengar jawaban dari Awan tersebut.
"Tadi sebenarnya Mas berniat untuk menjemput kamu. Tapi kemudian Mas melihat mantan suami kamu itu menemui kamu. Mas tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu, makanya Mas nekat ngikutin kamu dari belakang. Maaf ya," kata Awan menjelaskan.
"Jadi Mas mendengar semua pembicaraan kami tadi?"
"Iya. Maaf ya, Mas nggak bermaksud buat nguping pembicaraan kalian kok. Beneran deh," kata Awan berusaha meyakinkan Shofi.
"Hmm, nggak pa-pa kok, Mas. Aku paham kok. Justru dengan begini, Mas jadi sudah tau kan apa yang kami bicarakan tadi. Jadi aku nggak perlu jelasin apa-apa sama Mas Awan," balas Shofi dengan tersenyum.
"Meski Mas nggak denger pun, kamu juga nggak perlu ngejelasin apapun sama Mas kok. Karena Mas percaya sama kamu," kata Awan bersungguh-sungguh.
Senyum Shofi semakin lebar. Shofi kemudian menyentuh punggung tangan kanan Awan dan memegangnya dengan lembut.
"Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih sudah hadir dalam hidup aku dan Keinan. Terima kasih sudah menjadi sandaran baru bagi hati aku dan Keinan yang rapuh ini. Aku dan Keinan sangat beruntung karena bisa berjumpa dengan Mas Awan. Terima kasih banyak, Mas," ucap Shofi tulus.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu berterima kasih, Shofi. Mas juga merasa sangat beruntung bisa berjumpa dengan kamu dan juga Keinan. Dan Mas juga merasa senang, jika Mas memang bisa menjadi sandaran baru bagi kalian berdua," balas Awan seraya tersenyum lembut.
Awan dan Shofi saling melemparkan senyum. Keduanya sama-sama merasa bersyukur karena bisa berjumpa dan akhirnya mencoba melangkah bersama untuk saling melengkapi satu sama lain.